Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
62. Terbongkar?


__ADS_3

"Oh iya, gue udah bisa ketemu Pak Ervan nanti malem." Ucapan Galen mendapat acungan jempol dari semua sahabatnya.


°°•°°


Seperti ucapannya pada para sahabatnya tadi siang, sekarang Galen tengah menunggu Pak Ervan di privat room kafe milik mamanya.


Galen harus datang lebih awal karena ia sangat menghargai waktu berharga milik Pak Ervan. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Pak Ervan datang dengan didampingi sang istri, Ayra.


"Selamat malam, Pak Ervan," sapa Galen kemudian saling berjabat tangan, Pak Ervan mengangguk. Galen kemudian berjabat tangan dengan Ayra dan mereka saling melempar senyum tipis.


"Ekhm."


Posesif amat, senyum dikit doang, batin Galen saat Pak Ervan berdehem karena sang istri tersenyum pada pria lain.


"Silahkan duduk Pak, Ra." Galen mempersilahkan tamu istimewanya itu untuk duduk.


"Langsung saja," ucap Pak Ervan saat mereka sudah duduk. Galen mengangguk, lalu memperbaiki posisi duduknya.


"Maaf Pak, saya teman dari Zidan dan Zia. Murid Trisatya yang Bapak tolong beberapa waktu lalu. Jika berkenan Bapak boleh memberitahu saya siapa pelaku yang menyebarkan foto mereka?" Galen mengucapkan semua kata itu dengan sangat hati-hati. Bisa berabe kalo ia salah bicara pada orang yang sangat berpengaruh di hadapannya ini.


Pak Ervan mengangguk mengerti akan maksud Galen, "Boleh."


"Bukannya aku udah titipin itu ke Om? Yang amplop pink itu Om ngga kasih ke mereka?" tanya Ayra bingung. Kenapa Galen malah menemui mereka untuk hal yang sama.


"Kasih kok Ay, saya kasih ke mantan kamu itu," ucap Pak Ervan dengan menegaskan kata mantan. Galen malah yang dibuat bingung, amplop pink apaan lagi.


"Maaf apa boleh ada orang lain di pertemuan ini?" izin Galen yang ingin sekali membawa pasutri yang sekarang tengah bernyanyi di luar.


"Siapa?"


"Zidan dan Zia, kebetulan mereka sedang bekerja di luar," jawab Galen menunjuk pintu ruang privat itu. Ayra melihat ekspresi wajah Pak Ervan yang terlihat tidak terlalu suka dengan usul Galen.


"Om, Zidan kan sama istrinya juga, jadi Om ngga perlu cemburu Oke? Nanti aku jaga jarak deh," bisik Ayra berusaha meyakinkan Pak Ervan.

__ADS_1


Pak Ervan tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk pelan.


Galen yang melihat itu segera menyuruh pelayan yang siaga berdiri si depan pintu untuk memanggilkan mereka.


Zidan dan Zia dibuat bingung saat seorang pelayan ruang VIP menghampirinya dan menyuruh mereka ke privat room.


Saat memasuki ruangan tersebut yang membuat kaget Zidan adalah ada Ayra di sana bersama Pak Ervan dan Galen juga. Semakin membingungkan saat Pak Ervan terlihat tengah menggenggam tangan Ayra di atas meja, seolah-olah menegaskan jika mereka mempunyai hubungan.


"Duduk Dan, Zi." Galen menyuruh mereka duduk di dekatnya. Tanpa sengaja Zidan duduk berhadapan dengan Ayra, melihat itu Pak Ervan dengan cepat meminta Ayra untuk bertukar tempat dengannya.


"Lo dapet amplop pink dari gue ngga?" tanya Ayra pada Zidan. Tentunya dengan jarak yang lumayan.


Zidan mengangguk, "Ada, disimpen sama Zia."


Zia yang baru ingat akan amplop itu segera berucap, "Iya ada di Zia, di dalem tas. Bentar Zia ambil dulu."


Zidan segera mencekal tangan Zia yang akan beranjak, "Gue aja," ucapnya yang tidak ingin melihat Zia capek karena berjalan bolak balik.


Ayra menatap punggung Zidan yang menjauh keluar dari ruangan, Zidan selalu seperti itu, sangat perhatian. Walaupun bukan padanya, tapi Ayra senang karena Zidan sepertinya mulai menerima Zia. Terlihat dari tatapn penuh sayang yang Zidan berikan pada Zia.


Zidan kembali dengan amplop pink di tangannya. "Yang ini kan?" Ayra mengangguk menanggapinya.


"Coba buka," ucap Ayra. Zidan kembali duduk di sebelah Zia dan membuka amplop tersebut.


Zidan menyergitkan alisnya saat melihat foto seorang pria yang sesikit lebih tua darinya, Zidan membalikkan foto itu mencoba mencari identitasnya. "Wiliam Adiyaksa?"


Galen sedikit terperanjak mendengar nama itu. Apakah ini artinya pelaku dari penjebakan Zidan dan Zia adalah musuh besar kakaknya Ayra.


"Alasan saya mau menyempatkan waktu saya untuk bertemu kalian adalah ini, dia adalah musuh kakak dari istri saya. Orang dibalik semua penjebakan Zidan dan Zia." Pak Ervan berucap saat tiga remaja di depannya terlihat kebingungan.


"Jadi?" Zidan menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Apa tujuan orang ini menjebak saya?"


Pak Ervan tidak menjawab, tapi malah mengkode Ayra untuk menjawabnya. Dengan sedikit gugup Ayra pun menjawab. "Maafin gue Dan, Wiliam ngelakuin itu sebenarnya buat ngehancurin gue. Dia nggunain lo sebagai kelemahan gue waktu itu. Maaf banget!"

__ADS_1


Zidan terdiam cukup lama, otaknya mencoba menerima ucapan mantan pacarnya itu. "sekarang Lo hancur?"


Ayra terdiam, bingung dengan apa yang ia rasakan sendiri, hancur iya, tapi juga tidak karena kehadiran Pak Ervan.


"GUE YANG HANCUR!" ucap Zidan dengan amarahnya. Ayra terperanjat karena ini pertama kalinya Zidan membentaknya. Zia juga sama, membuat Zia terus mengusap perutnya berharap anaknya tidak mendengar ayahnya yang tengah marah.


"Turunin nada bicara kamu sama istri saya," peringat Pak Ervan yang tidak terima istrinya dibentak seperti itu. Seenaknya saja membentak, tidak tahu saja bagaimana Ayra menjalani hidupnya setelah hari itu. Zidan kaget saat Pak Ervan menyebut Ayra sebagai istrinya, begitupun Zia. Tapi amarahnya lebih besar saripada rasa penasaran itu.


Zidan mengatur napasnya yang memburu, sungguh ia masih tidak terima. Selama ini dia korban tapi harus menanggung beban seolah dia pelakunya.


"Yang waktu itu lo bilang kalo itu rival kerja bokap Zia berarti itu boong? Itu sebenernya rival lo sendiri?" tanya Zidan saat sudah bisa mengontrol emosinya.


"Ngga gitu, Zidan. Dia itu licik. Dia mau satu kejadian bisa ngehancurin dua musuh sekaligus, papanya Zia dan gue." Ayra tanpa sadar sudah meneteskan air matanya. Rasa bersalah itu kembali menyeruak setelah dulu sempat mereda.


"Maaf banget..." lirih Ayra. Pak Ervan segera menarik tubuh ayra ke dalam pelukannya.


"Jangan menghakimi tanpa kalian cari tau alasannya. Kalian baru tau segitu saja sudah emosi, bagaimana dengan Ayra yang tau semuanya tapi harus tetep diam, kalian mikir ngga? Bukan cuma kalian aja yang tersiksa, Ayra juga. bahkan lebih," tegas Pak Ervan yang sudah mengetahui bagaimana Ayra harus menjalani ini semua sendiri. Berbanding terbalik dengan mereka yang bisa saling menguatkan, Ayra tidak ada tempat untuk itu selain dirinya.


Galen yang biasanya dengan cepat menyimpulkan suatu masalah, kini harus berpikir lebih untuk menegetahui titik terang semua ini. Sepertinya ada puzzle yang masih hilang, masalah ini belum selesai secara sempurna. Pelaku sudah mereka ketahui tapi belum dengan motif lengkapnya dan orang-orang yang masih Galen curigai. Galen sekarang jadi menambah daftar orang yang ia curigai, Ervan Kendrick. Karena kekuasaannya yang sangat besar bisa saja kan ia memanipulasi semua ini.


"Maaf Pak jika kelakuan teman saya menganggu Bapak. Zidan hanya terbawa emosi saja, bisa kita lanjutkan pembicaraannya?" Galen mencoba merayu Pak Ervan agar ia memperoleh petunjuk lebih.


Pak Ervan menggelengkan kepala, "Cukup. Saya tidak suka hal yang membuat istri saya menangis."


°°°°°°


Hai hai haiii 👋


Gimana nih? suka ngga sama bab ini? ♥


Makin penasaran atau udah bisa ketebak? 🤔


Maaf ya agak telat updatenya.

__ADS_1


Seperri biasa, like komen vote, kasih hadiah dan follow....♥♥


Byee♥♥


__ADS_2