Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
91. Tujuh Bulanan


__ADS_3

"Usah siap?" tanya Zidan pada Zia yang tengah merias dirinya di depan cermin.


Zia mengangguk. Bukannya segera turun karena acara tujuh bulanan akan segera dimulai. Zidan malah memeluk istrinya dari belakang, tangannya mengusap perut buncit dibalik gamis berwarna cream yang digunakan Zia.


"Cantik," puji Zidan saat mereka saling tatap di cermin. Zia tersenyum malu sembari membenarkan kerudung yang menutupi rambutnya.


Zia juga mengamati pakaian yang Zidan kenakan, baju koko yang senada dengan gamis yang ia gunakan. Suaminya ini tampak manis dan adem untuk dipandang.


"Make up Zia udah bener belum?" tanya Zia membuat Zidan membalikkan badan Zia lalu mengamati wajah Zia. Ini kali kedua Zidan melihat wajah Zia yang memakai make up. Pertama dulu saat ijab kabul, itu pun Zidan tidak terlalu memperhatikan wajah Zia karena suasana hatinya yang kacau.


"Udah cantik," jawab Zidan. Sebenarnya ia tidak paham make up itu benar atau tidak, yang Zidan tau adalah wajah Zia sudah cantik.


"Ya udah sekarang kita turun yuk. Acaranya bentar lagi mulai," kata Zidan yang diangguki Zia.


Dengan perlahan Zidan menuruni anak tangga dengan tangan yang memegang pinggang Zia. Orang-orang yang diundang dalam acara tersebut pun memperhatikan sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu. Terlihat jelas kebahagiaan dari senyum yang tidak pernah luntur dari pasangan muda itu.


Saat sudah di lantai bawah, Zia duduk bersila di sebelah kiri bunda Dian. Di sebelah kanannya, Zidan duduk bersebelahan dengan ayah Dimas. Semua yang hadir sudah duduk bersila membentuk lingkaran, tentunya semua teman Zidan dan Zia yang tidak pernah absen di setiap momen kehamilan Zia turut mewarnai hari bahagia pasangan tersebut.


Mata Zia memandangi setiap sudut ruangan yang sudah dihias dengan dengan berbagai balon berwarna putih, bunga artifisial yang juga berwarna putih, dan hiasan lain yang begitu cantik. Warna di sana terlihat netral karena memang jenis kelamin calon anak Zidan dan Zia belum diketahui. Zia takjub dengan dekorasi yang terlihat begitu cantiknya.


Acara pertama dibuka dengan sambutan tuan rumah, ayah Dimas. Setelah itu, sepatah kata dari Zidan selaku calon ayah dari calon anak yang akan didoakan.


Selanjutnya, dibacakannya ayat suci Al-Quran oleh Zidan sendiri. Saat itu juga Zia merasakan pergerakan di dalam perutnya, sepertinya baby suka dengan lantunan indah dari sang papa. Tidak ingin merasakan itu sendirian, Zia menunjukkannya pada bunda Dian dengan meletakkan tangan sang mertua di atas perutnya.


Bunda Dian yang merasakan itu pun tersenyum takjub. Mengusap perut sang menantu yang terasa sekali pergerakan di dalam sana.


Setelah Zidan selesai membacakan ayat suci Al-Quran, kini saatnya ceramah dari ustadz yang diundang dalam acara tersebut. Setelah kata demi kata yang disampaikan selesai, acara selanjutnya adalah pembacaan doa untuk calon buah hati Zidan dan Zia. Inti dari doa itu adalah agar lahir dengan selamat, berbakti pada kedua orangtua, menjadi anak yang soleh atau solehah, dan berguna bagi nusa bangsa dan agama.


Semua acara berjalan dengan lancar. Kini saatnya mereka memakan hidangan yang tersedia. Oh iya, di acara ini juga diundang puluhan anak yatim dari panti asuhan agar ikut mendoakan. Jadi sekarang, Zidan dan Zia tengah membagikan makanan pada anak yatim tersebut, juga membagikan amplop berisi uang.


"Udah semua. Sekarang kamu duduk, istirahat," kata Zidan lalu menggandeng tangan Zia menuju sofa yang berisi sahabat-sahabat mereka.


"Mau makan apa?" tanya Zidan setelah mendudukkan tubuh Zia di sebelah Keyna.


"Apa aja," jawab Zia. Zidan pun beranjak untuk mengambil makanan yang sekiranya Zia suka.

__ADS_1


Semenjak acara dimulai sampai sekarang, Zia tidak pernah melunturkan senyumnya.


Walaupun orangtua Zia tidak hadir, tapi ada tamu istimewa yang hadir di sini. Yaitu Ayra dan Pak Ervan, awalnya hanya perbincangan saat di puncak kemarin, tapi dengan suka rela Pak Ervan mau datang bersama sang istri tercinta.


Keyna memperhatikan Zia yang tengah mengusap perutnya yang tampaknya baru saja mendapat tendangan dari si kecil.


"Pengin ngerasain tendangannya," kata Keyna sembari mengusap perut Zia.


Zia pun tersenyum dengan tangan yang mengarahkan ke bagian kiri prutnya, dimana ia sedang mendapat tendangan dari dalam.


Dug!


"Wah! Berasa," takjub Keyna yang diangguki Zia. "Lumayan kenceng juga tendangannya, padahal bapaknya jagonya main basket."


Mereka tertawa mendengar ucapan Keyna, "Jago berantem tuh," saut Langit.


Zia hanya tersenyum saja, mau bagaimanapun pasti anaknya nanti tidak jauh jauh sifatnya dari Zidan.


"Nih, suka ngga?" ucap Zidan menyerahkan piring berisi nasi dan lauk lalu duduk di sebelah istrinya itu. Zia mengangguk lalu mulai memakannya dengan lahap.


"Nggapapa. Kan buat dua orang," jawab Zia dengan santainya sembari mengusap perutnya. Tampaknya hari ini bumil itu sedang tidak sensitif.


"Oh iya Ra, kapan nyusul mantan nih?" tanya Zio mengajak bicara pasutri yang sedari tadi hanya memperhatikan.


"Nyusul apaan?" tanya Ayra yang tengah memakan puding.


"Hamil."


Ayra melihat ke arah sang suami, "Bentar lagi, doain yaa," jawab Ervan mewakili.


"Nanya tips nya dari Zidan aja Pak. Biar sekali jadi," timpal Dyu yang mendapat pelototan mata peringatan dari Zidan.


"Bisa nanti dibicarain di belakang," canda Pak Ervan berpura pura memberi kode pada Zidan yang tersenyum canggung pada suami dari mantan pacarnya itu.


"Siapa tau orangtuanya ngga jodoh, anaknya yang jodoh," ucap Galen sekenanya.

__ADS_1


"Boleh juga tuh... Ngga jadi pasangan siapa tau jadi besanan," timpal Zio.


"Kalo sama sama cewek, kalo ngga sama sama cowok gimana?" tanya Keyna yang membuat mereka semua perpikir.


"Oh iya ya."


"Masih jauh, ngga usah pada dipikirin," ucap Zidan yang merasa pembicaraan mereka ngelantur.


Ayra dan Pak Ervan pun hanya tersenyum saja. Walaupun dalam hati, Ervan kurang setuju jika nanti berbesanan dengan mantan pacar istrinya itu.


Sementara Zia, calon ibu itu tidak terlalu mempedulikan obrolan mereka, makanan di depannya lebih menarik untuk dinikmati.


"Udah selesai Zia makannya?" tanya Sherena.


"Bentar lagi, emang kenapa Sher?" tanya Zia menunjukkan piringnya yang hanya tersisa tiga suap saja.


"Udah ngga sabar gue foto-foto di sana," tunjuk Sherena pada sudut ruangan yang memang sudah dihias sebagai tempat berfoto.


Zia menyuapkan suapan terakhirnya, "Udah nih. Ayok."


Zidan hanya geleng-geleng melihat istrinya yang antusias berfoto di sana. "Minum dulu."


Zia menerima gelas dari Zidan lalu meminum air putih itu dengan cepat lalu meminta bantuan untuk berdiri. Zidan pun membantu Zia berdiri, setalah itu empat cewek bersahabat itu berfoto ria di tempat yang sudah di dekor indah.


Para cowok yang sedari tadi hanya memperhatikan, kini diajak untuk berfoto bersama. Dengan senang hati mereka berfoto dengan formasi lengkap plus Pak Ervan.


¤¤¤¤¤


Hai hai hai...


Aku kemarin ngga update, kok ngga ada yang nyariin?


Tapi nggapapa, aku tetep update kok


Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah dan follow.

__ADS_1


Bye bYe


__ADS_2