
"Lo?"
"Kak-Kak Keyna," gugup orang tersebut. Ingin kabur tapi kedua tangannya sudah dicekal kuat oleh Keyna.
"Lo ngapain di sini?" tanya Keyna pada gadis berkaca mata itu.
Gadis itu gelagapan, pandangannya pun tak tentu arah. Padahal sudah mencoba berhati-hati, tapi masih saja ketahuan.
"Oke. Ikut kita sekarang," ujar Keyna saat tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya. Keyna membawa gadis itu ke taman rumah sakit.
"Sebelumnya makasih banget. Lo udah tolongin sahabat gue. Tapi gue masih heran, lo sebenernya siapa?" kata Keyna pada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Galen berdiri di sebelah gadis itu, berjaga-jaga jika gadis itu berniat kabur.
"Dia yang ngasih tau tentang Zia?" tanya Galen, ia seperti tidak asing dengan wajah gadis itu.
Keyna mengangguk, lalu kembali fokus pada cewek berkepang dua itu. "Lo orang baik. Kalo boleh tau nama lo siapa?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya, menolak memberitahukan namanya.
"Lo kenal orang yang mau nyelakain Zia?" tanya Galen to the poin. Menurutnya Keyna terlalu basa-basi.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, pandangannya sedari tadi menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.
"Tau dari mana semua detail kejadian tadi siang? Bahkan lo udah tau dari waktu yang lama," ucap Keyna masih yakin bahwa gadis itu bukan orang biasa.
"Jawab! Apa mau pake kekerasan dulu, baru mau jawab," gertak Galen yang membuat gadis itu semakin takut. Keyna memelototi Galen, memperingatkan bahwa ia terlalu berlebihan.
"Dea cuma disuruh orang," jawab gadis itu tanpa sengaja menyebutkan namanya.
"Ohh nama lo Dea, lo disuruh siapa?" ucap Keyna berusaha mengungkit lebih dalam tentang siapa penolong mereka.
"Dea ngga boleh kasih tau, nanti mama Dea ngga dibiayain lagi rumah sakitnya," ucap gadis itu kemudian menangis. Ia sudah tidak tahu mau berbuat apa sekarang.
"Kasih tau gue. Nanti soal biaya, gue yang gantiin bayar," ucap Galen merasa empati.
Dea menggelengkan kepalanya, "Intinya dia orang baik, dia sayang sama kalian."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Dea berlari masuk ke rumah sakit, Galen yang akan mengejarnya dicegah Keyna.
"Udah biarin," ucap Keyna sembari menahan lengan Galen. Galen pasrah kemudian duduk di samping Keyna.
"Kamu ngga pengen tau dia siapa? Siapa tau bisa bantu cari tau siapa pelakunya," ucap Galen yang masih tidak terima Keyna melepas gadis itu begitu saja.
"Dia ngga tau apapun, dia cuma disuruh orang. Dan aku kayanya tau siapa orangnya," ucap Keyna dengan senyum smirknya.
Galen menatap Keyna, Galen selalu tau kekasihnya itu paling pandai membaca gelagat orang dan paling jeli. Maka, tidak heran jika Keyna lebih tau banyak hal sebelum Galen mengetahuinya.
"Tapi itu baru kemungkinan. Nanti kalau waktunya tepat aku kasih tau," ucap Keyna kini terlihat serius.
"Aku percaya sama kamu. Siapapun orangnya, kalau menurut kamu lebih baik aku dan yang lain ngga tau, tetep rahasiain. Kalau emang saatnya kita harus tau, kamu harus jujur, jangan gegabah ngelakuin apapun sendirian," ucap Galen menangkup kedua pipi Keyna. Keyna tersenyum manis menanggapinya, ia beruntung mempunyai Galen yang sangat mengerti apa maunya.
"Heh! Dicariin malah pacaran di sini," ucap Dyu dari arah belakang mereka.
Keyna dan Galen yang kaget langsung menoleh dan di sana mereka mendapati Dyu dan Langit yang sepertinya akan pulang.
"Mau balik lo berdua?" tanya Galen bangkit dari duduknya dan menghampiri dua sahabatnya.
Mereka nanti malam berencana akan mencari tau pelakunya, tadi mereka gegabah karena tidak menyandera salah satu dari mereka karena panik dengan keadaan Zia.
Langit sempat mengambil ponsel yang ia injak, yang ternyata tidak mati. Dari benda itu mereka akan berusaha mencari tau pelaku yang hampir mencelakai calon ponakan mereka.
°°°°
"Aman?" tanya seseorang pada Dea di salah satu ruang di rumah sakit. Dea mengangguk, gadis itu mendekat pada bankar orang yang telah mengorbankan diri demi Zia.
"Kak Zia udah sadar, bayinya juga ngga kenapa napa. Cuma tangannya aja yang dijahit," ucap Dea sesuai apa yang ia dengar tadi. Dea membantu orang itu duduk.
"Ngga ketauan kan? Mereka jeli orangnya," ucap orang tersebut sembari menerima segelas air yang disodorkan Dea.
"Maafin Dea, Dea ketauan sama Kak Keyna sama Kak Galen," ucap Dea dengan wajah yang sudah menunduk. Orang itu membulatkan matanya, tidak terlalu kaget sebenarnya karena ia paham seperti apa Keyna itu.
"Ngga ngasih tau mereka kan, Siapa gue?" tanya orang tersebut. Gelengan kepala dari Dea membuatnya lega.
__ADS_1
"Sekarang tugas lo udah selesai. Jaga rahasia ini baik-baik, kalau lagi di sekolah pura-pura ngga kenal aja sama gue," ucap orang tersebut, Dea hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau mereka nanya terus sama lo, terutama Sherena yang udah tau muka lo, lo ngehindar aja. Gue rasa Keyna udah mulai curiga ke gue, jadi lo aman dari Keyna, dan mungkin Keyna bakal bantu lo ngehindar dari Sherena dan yang lain, dan yang terakhir makasih banget udah bantu gue," ucap orang itu lagi, walau bahunya harus terluka karena mengecoh orang-orang yang menyekap Zia, ia tidak masalah. Yang terpenting Zia selamat.
Dea kembali mengangguk, walau sebenarnya ia bingung kenapa orang ini sebegitunya melindungi Zia.
°°°°°
Kini Zia hanya dengan Zidan di ruangannya. Zia tengah sibuk memakan buah apel dengan disuapi Zidan, tangannya tidak bisa digunakan untuk sementara.
"Zia tadi takut banget tauuu, masa orangnya mau celakain dia," ucap Zia melirik perutnya, Zidan pun mendengus, ia juga sama takutnya.
"Makasih ya, lo mau berkorban buat dia," ucap Zidan kembali menyuapi Zia buah apel.
Zia mengangguk lucu. "Kan tadi pagi udah janji, kita bakal perjuangin dia bareng bareng, " ucap Zia tidak terlalu jelas, karena sedang mengunyah buah apel.
"Lo ngga trauma kan?" tanya Zidan saat melihat Zia seperti biasa saja, padahal baru mengalami hal yang tidak biasa.
"Zia ngga trauma Zidan. Zia cuma takut aja, takut dia kenapa-napa waktu Zia pingsan tadi," jawab Zia dengan senyumannya.
Zidan mengangguk, ia hanya takut Zia trauma, yang itu akan mempengaruhi perkembangan bayinya jika Zia terus banyak pikiran.
"Lupain aja yang tadi, sekarang fokus buat tangannya biar cepet sembuh, sama makan yang banyak biar babynya sehat," ucap Zidan sembari menyodorkan minum saat Zia memintanya.
Sebenarnya Zidan juga sedang memikirkan pekerjaannya yang akan bertambah, ia harus mengerjakan semua yang biasa Zia lakukan di rumah, sekolah, pekerjaanya di kafe dan pasar serta mengurusi Zia juga. Rasanya pasti akan sangat lelah. Zidan harus pandai membagi waktunya.
Main tebak-tebakan yuk
Siapa orang yang ngelindungin Zia menurut kalian? Komen yaa
Happy Reading✨♥
Semoga suka dengan bab kali ini🌝
Jangan lupa like yaa👍
__ADS_1