
Setelah mengatakan kalimat itu Zidan berlari keluar dari kamar dengan membawa handuk. Zidan benar-benar tidak bisa melanjutkannya, takut akan kebablasan dan dia tidak jadi berangkat kerja.
Zia masih mematung di tempat. Perlahan tangan Zia menyentuh bibirnya yang tadi bersentuhan dengan bibir Zidan, rasanya cukup aneh tapi entah mengapa Zia suka. Jadi begini rasanya ciuman? Tapi Zidan bilang akan melanjutkan belajarnya nanti, berarti yang tadi belum selesai.
Dengan pipi yang sudah memerah, Zia membaringkan tubuhnya di kasur. Jika ia tidak ingat sedang hamil, pasti Zia sudah membanting tubuhnya tengkurap dan memukul mukul kasur. Kebiasaan kebanyakan cewek kalau salting. Meleyot.
Di luar kamar, Zidan sudah selesai mandi. Tubuhnya kini hanya dibalut handuk dari pinggang sampai lutut. Karena kelakuannya tadi, Zidan lupa membawa baju ganti ke kamar mandi.
Ceklek
Zia dengan spontan berdiri saat netranya menemukan Zidan tidak memakai baju, Sesaat setelah itu Zia sedikit mengaduh saat perutnya kram.
"Eh, duduk dulu," ujar Zidan segera berlari ke arah Zia. Zia dengan perlahan mendudukkan dirinya. Tangannya mengusap perut secara memutar agar kramnya mereda.
"Udah sering dibilangin masih aja kaya gitu. Kalo mau bangun miring kiri dulu, duduk pelan-pelan baru berdiri. Pelan-pelan Zia, perut lo udah ngga kecil lagi, jangan ceroboh."
Zia yang terus diomeli Zidan tidak terlalu mendengarkan. Matanya terlalu fokus pada perut Zidan yang menurut penglihatannya seperti ada empat kotakan yang begitu menarik penglihatannya. Matanya sampai tidak berkedip menatapnya, sampai tangannya sekarang ingin sekali memegang kotak-kotak itu.
Zidan masih duduk di sebelah Zia dengan tangan yang mengusap-usap perut Zia, "Masih kram?" tanya Zidan mengalihkan pandangannya dari perut ke wajah Zia.
Zidan melihat Zia yang tidak berkedip lalu mengikuti kemana arah mata Zia menatap.
"Mau pegang?" tanya Zidan saat Zia terlihat begitu terpesona dengan perutnya yang belum sixpack sempurna.
Zia belum tersadar sepenuhnya saat tangannya dipegang Zidan dan diarahkan ke perut Zidan, "Gimana?"
"Keras," jawab Zia dengan polosnya, tiba-tiba Zia tersadar dan dengan cepat menarik tangannya dari perut indah Zidan.
"ZIDAN SANA PAKE BAJU!" teriak Zia menunjuk lemari. Zidan terkekeh melihat muka Zia yang sedikit memerah.
"Bilang aja suka sama perut gue," ucap Zidan saat sesekali Zia melirik ke arah perutnya lagi. Zia langsung menggeleng dan menutup mukanya dengan bantal.
"Nggak!"
"Mau pegang lagi?"
"Enggak, Zidan." Zidan semakin gencar menggoda Zia. Setelah puas Zidan kembali ke kamar mandi untuk memakai bajunya.
°°°°°°
Pukul setengah tujuh malam.
__ADS_1
Zidan dan Zia sedang bersiap untuk berangkat ke kafe.
"Yakin ngga mau berhenti kerja aja?" tanya Zidan sembari mengenakkan jaketnya. Zidan khawatir Zia akan kecapean dan berpengaruh pada janinnya. Zia mengangguk lalu ikut memakai jaketnya.
"Kalo Zia ngga bantuin Zidan, nanti keperluan buat dede bayinya ada yang ngga kebeli. Zia juga bosen kalo di rumah terus," jawab Zia sembari mengikuti Zidan keluar dari rumah.
"Kalo ngerasain apa apa langsung bilang." ia mengangguk saja, Zidan selalu mengatakan itu setiap hari, Zia sampai hafal.
Zidan masih mengizinkan Zia bekerja karena memang mereka memerlukan uang yang lumayan untuk keperluan anaknya nanti. Sampai saat ini saja mereka belum membeli apapun. Zidan baru akan melarang saat usia kandungan Zia menginjak tujuh bulan nanti, saat perut Zia sudah susah untuk dibawa beraktifitas.
Sesampainya mereka di kafe, ternyata kafe cukup ramai dan beberapa dari mereka adalah murid Trisatya. Zia menarik napas sebelum menaiki panggung dengan dibantu Zidan, rasanya cukup canggung saat ada beberapa orang ia ia kenal sebagai siswa Trisatya ada di hadapannya.
Udah gede ya perutnya, malu maluin sekolah aja.
Polos polos berhadiah. Dikiranya polos eh udah tekdung duluan.
Pantesan Ayra ngga mau gabung sama mereka lagi, sahabatnya sendiri aja jadi pelakor kaya gini.
"Udah ah! Kalian mau didenger sama Atlansa. Dia itu kan masih jadi kesayangan mereka." Peringatan dari salah satu temannya membuat tiga mulut pedas itu diam.
Zia sebenarnya tidak mendengar ucapan mereka, hanya gelagatnya saja yang bisa Zia simpulkan bahwa dirinya lah bahan pembicaraan mereka sekarang. Zia yang masih duduk di samping Zidan memilih mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu tatap dengan mereka. Lebih baik menikmati suara Zidan yang cukup menenangkan hatinya, apalagi saat ini Zidan membawakan lagu berjudul Bukti milik Virgoun.
°°°°°°
Zidan dan Zia pulang pukul setengah sepuluh, seperti biasa.
"Mau makan apa?" tanya Zidan sembari membuka keresek belanjaannya. Tadi mereka mampir membeli camilan untuk stok Zia yang hampir setiap jam merasa lapar.
Zia melihat semua isinya lalu menunjuk biskuit coklat yang menarik perhatiannya, "Mau itu."
Zidan memberikannya pada Zia lalu menaruh sisanya di kamar. Zidan tidak meletakkannya di dapur agar jika Zia lapar tengah malam tidak terlalu jauh mengambilnya.
Setelah semuanya rapi, Zidan merebahkan dirinya di samping Zia yang tengah asik ngemil.
"Udah beberapa hari lo ngga muntah ya?" Zia mengangguk, dirinya memang sudah tidak begitu merasakan mual yang parah, mualnya masih ada cuma masih bisa ditahan.
"Mual doang, itu juga kadang-kadang."
"Mau lanjutin belajarnya ngga?" tanya Zidan saat mengingat ucapannya tadi sore.
Zia menyergitkan alisnya, "Belajar apa? Zia ngga ada PR tadi."
__ADS_1
"Belajar ciumnya," jawab Zidan membuat Zia menghentikan kunyahannya.
"Tadi belum selesai? lanjutannya masih ada?" Zidan mengangguk dengan menahan tawa, sepolos itu kah wanita hamil di sampingnya ini.
Zia mengangguk lalu menaruh biskuitnya. "Nanti ciumannya rasa biskuit coklat," ucap Zidan sembari terkekeh.
Zidan dan Zia kini duduk berhadapan di tengah kasur, jantung keduanya sudah berdetak cepat padahal baru saling tatap. Belum melakukan apapun.
"Mulai ya?" Zia mengangguk. Zidan memegang tengkuk Zia dan mendekatkan wajah mereka. Zia menurut saja karena tadi sore juga seperti ini.
Jarak yang semula tiga puluh senti, menjadi dua puluh, lalu semakin dekat dan semakin dekat sampai hanya berjarak satu senti.
Zidan memiringkan kepalanya saat bibirnya tepat di depan bibir mungil Zia, "buka mulutnya."
Zia kembali menurut, saat ini Zia sudah memejamkan matanya entah dengan tujuan apa. Zidan dengan perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Zia.
Zidan ******* bibir Zia yang rasanya manis. Zidan terus melum*tnya tapi Zia hanya diam. Mungkin bingung harus melakukan apa. Zidan yang tidak merasakan aksi Zia, melepasnya sebentar.
"Bales Zi," Zia perlahan mengangguk, lalu mengikuti irama Zidan walaupun masih kaku. Jelas saja kaku, Zia saja baru tahu ada kegiatan semacam ini. Apaan coba makan bibir kaya gini.
Zidan merasa sebagai pedofil, walaupun umur mereka sama tapi Zia masih terlalu polos. Mengajari istri polosnya seperti ini tidak dosa kan?
Zia menepuk punggung Zidan saat merasa napasnya akan habis. Zidan yang cukup peka melepaskan ******nnya, muka Zia sudah terlihat memerah sembari mengatur napas yang memburu.
S i a l. Melihat Zia seperti ini membuat Zidan tegang sendiri. Zidan dengan napas yang memburu membaringkan tubuh Zia dengan perlahan lalu menindihnya. Tentu saja menyisihkan celah di bagian perut agar anaknya tidak tertekan.
"Zidan mau ngapain lagi? Belum selesai belajarnya?" tanya Zia setelah napasnya mulai kembali normal.
Zidan menggeleng, "Tanggung!"
°°°°°
Hallo semuanyaa 👋👋
Maaf kalo ngga ngefeel. Aku ngga pinter bikin adegan kaya gitu😐
Jangan lupa like, komen, vote, atau kasih hadiah juga boleh.
Satu lagi, kalian follow dong akun aku. 🤗Oke?
Selamat membaca♥♥
__ADS_1