Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
131. Meminta Belajar Bela Diri


__ADS_3

Zia salut pada Adel yang sudah berubah baik tapi masih bisa berkata pedas untuk melawan seseorang. Zia juga ingin bisa melawan tanpa harus berlindung ke balik Atlansa.


"Kalau Zavian udah sedikit besar, aku boleh nggak latihan bela diri?" tanya Zia pada suaminya saat dalam perjalanan pulang dari sekolah.


Tentu saja Zidan terkejut, "Buat apa?"


"Ya biar bisa lindungin Zavian kalo misalkan cuma pergi sama aku doang, buat lindungin diri sendiri juga," kata Zia.


Zidan tampak bergumam sembari berpikir. Ada baik dan buruknya, "Ya udah boleh, tapi aku sendiri yang latih kamu."


Zia bersorak senang, ia juga ingin seperti Keyna dan Ayra. Agar ada gunanya ia bergabung sebagai angel Atlansa.


"Kalo nggak hamil lagi adiknya Zavian," tambah Zidan membuat senyum Zia luntur. Cubitan maut juga Zia berikan pada pinggang suaminya itu, membuat Zidan tertawa karena cubitan itu hanya sampai menyubit jaketnya saja.


Zidan mencepatkan laju motornya membuat Zia secara refleks memeluk pinggangnya.


"Zidann!" teriak Zia kesal.


"Apa? Sayang?" tanya Zidan balik berteriak karena bisingnya suara motor.


"Nanti malam jalan-jalan," minta Zia tepat di telinga Zidan.


Zidan mengangguk dengan pasti. "Kemana?"


"Kata Sherena ada pasar malem di taman deket rumahnya," kata Zia. Zidan kembali memgangguk, seperti orang pacaran saja. Padahal sudah punya anak.


Zidan semakin mengencangkan laju motornya agar cepat sampai rumah, ia sudah kangen putranya.


¤¤¤¤¤


Sesampainya di rumah, Zavian sudah menunggu mama dan papanya di depan rumah. Tentunya dengan digendong bunda Dian.


"Assalamualaikum," salam Zidan dan Zia hampir bersamaan.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Zidan dan Zia menyalimi tangan bunda Dian. Akan mengecup Zavian tapi sudah lebih dulu dijauhkan oleh bunda Dian.


"Nggak boleh. Kalian masih bawa kuman, ganti baju dulu cuci muka cuci tangan kaki juga." Bunda Dian masuk lebih dulu sebelum Zidan dan Zia masuk.


Zidan dan Zia saling tatap lalu berlari menaiki anak tangga. Saling berkejaran layaknya anak SMA pada umumnya.


"Huh... huh... capek," keluh Zia membanting dirinya ke kasur.


Zidan tertawa lalu menjatuhkan dirinya di samping Zia. "Makanya sadar diri. Emak-emak nggak usah lari-larian."


Zia cemberut. Dirinya jadi emak-emak juga karena Zidan.


"Ganti baju sana. Biar Vian bisa langsung nyus*," perintah Zidan yang lebih dulu bangkit dan mulai melepas bajunya.


Zia mengangguk lalu berganti pakaian, mencuci tangan, kaki, dan mukanya sebelum keluar dari kamar untuk menemui putranya.


"asi-nya masih Bun?" tanya Zia saat mengambil Zavian dari gendongan bunda Dian di ruang keluarga.


Bunda Dian menggeleng, "Setengah jam yang lalu abis. Belum laper lagi kayanya, masih anteng gini. Coba aja dikasih."


Zia mengangguk, duduk di sebelah mertuanya lalu menyus*i Zavian. Putra pertamanya itu mau meminumnya, berarti kalau ia pulang sedikit lebih lama bisa-bisa sudah merengek karena lapar.


Zia tersenyum, "Seperti yang Zia bayangin. menyenangkan."


"Tapi nggak dibuli kaya waktu itu kan?" khawatir bunda Dian. Sedari tadi ia memikirkan hal tersebut.


Zia menggeleng, "Kan ada Zidan sama yang lain. Mungkin kalau Zia sendirian bisa jadi dibuli."


"Zia nggak coba lawan mereka? biar Zia nggak keliatan lemah gitu," kata bunda Dian dengan pelan.


Zia tertunduk, terlalu takut untuk ia melawan.


"Kalo Zia udah bisa bela diri, kalo enggak sama aja Zia bakalan diserang habis-habisan," kqta Zudan yang sedang menuruni anak tangga.


Zia dan bunda Dian menoleh, Zidan pun duduk di sebelah istrinya. "Katanya Zia mau latihan bela diri. Boleh kan Bun? "

__ADS_1


"Boleh dong." Bunda Dian mengangguk. Menyetujui kalau menantunya juga butuh bela diri, apalagi hidup di lingkungan geng seperti Atlansa yang pasti akan bertemu musuh dimana-mana.


Zia tersenyum sumringah, akhirnya keinginannya untuk bisa seperti dua sahabatnya bisa terwujud. Padahal dari keluarnya sendiri tidak memperbolehkan.


"Tapi latihannya jangan terlalu lama, nanti Zavian nyariin," kata bunda Dian.


"Nggak akan lama kok, nggak jauh juga cuma di halaman belakang. Orang yang mau ngelatih aja Zidan, Bun," kata Zidan membuat bunda Dian mengangguk sembari membulatkan mulutnya. Boleh juga, jadi kalau Zavian mencari ASI bisa langsung berhenti latihan.


"Bagus Deh. Yuk makan siang," ajak bunda Dian saat melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul dua siang.


Zidan dan Zia mengangguk. Beranjak dari duduk mereka menuju ruang makan dengan Zavian yang sudah tertidur di gendongan mamanya.


¤¤¤¤¤


"Adik Zavian kapan nih?" tanya Zidan saat sedang menggendong anaknya. Sedangkan Zia sedang sedikit merias diri karena akan pergi ke pasar malam.


Zia yang sedang berusaha memahami materi fisika di bukunya pun langsung menoleh. Matanya tidak sengaja memelotot.


"Heh! Zavian baru berapa bulan? belum ada dua bulan masa udah minta lagi. Kamu yang hamil sama lahiran sana," kesal Zia.


Zidan tertawa mendengar kekesalan ibu anak satu yang terlalu imut untuk disebut sebagai ibu itu.


"Terus kapan?" tanya Zidan bercanda. Ia sendiri masih belum mau melihat Zia melahirkan lagi, yang kemarin saja masoh terngiang-ngiang di kepalanya.


Zia tampak berpikir, "Emmm... Sampe Zavian minta adek."


Zidan tersenyum menyeringai, "Nanti aku komporin begitu Vian bisa ngomong."


"Awas aja! aku ngambek nanti," ucap Zia yang sudah selesai dengan acara berdandan tipisnya.


"Ngambeknya kamu lucu, ngambek aja sana." Zidan meletakkan Zavian di kasur karena ia juga akan bersiap.


Zia duduk di sebelah Zavian yang tidak tidur, mengajak Zavian mengobrol, daripada mengobrol dengan Zidan yang arahnya entah kemana.


"Zavian minta Adek, mama," canda Zidan yang baru keluar dari walk in closet.

__ADS_1


"Berisik!" kesal Zia.


Setengah bulan lebih aku nggak update di sini, masih ada yang baca kah?


__ADS_2