Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
73. Gagal Lagi


__ADS_3

"Rambutan Zia mana?" gumam Zia saat bangun dari tidurnya dan tidak menemukan rambutam botak yang semalam ia pandangi. Entah karena hormon atau apa, Zia merasa sedih saat tidak menemukan rambutan itu.


Zia memandangi Zidan yang masih tertidur, perlahan bibirnya melengkung ke bawah dan tangis Zia pecah saat melihat rambutan semalam sudah ada di lantai.


"Huaaaa.. hiks hiks.."


Zidan yang pada dasarnya sangat peka langsung terbangun saat mendengar suara tangis Zia.


"Kenapa?" tanya Zidan dengan paniknya, bahkan jantungnya berdetak cukup kencang sekarang.


"Rambutannn..." rengek Zia sembari menunjuk satu buah rambutan yang tergeletak di lantai.


Zidan mengikuti arah tangan Zia menunjuk. Seketika helaan napas lega Zidan keluarkan, "Iya itu emang rambutan kan," jawabnya dengan santai.


"Iyaa... rambutann... rambutannyaa kamu buang ya?" rengek Zia sembari terus memandangi rambutan malang itu.


"Engga. Jatuh kayanya, semalam aku taruh di nakas kok," ucap Zidan jujur. Memang semalam ia meletakkannya di nakas, mungkin karena sudah gundul membuat rambutan itu menggelinding.


"Kamu jahat," ucap Zia yang bangkit dari kasur dan memungut rambutan itu, bahkan sampai dielus elus dan ditiup agar debunya hilang.


"Lah?" Zidan menatap heran aksi istrinya itu. Kok jadi dia yang salah.


"Kalau rambutannya di kasur terus pasti ngga bakalan jatuh, kamu taruh nakas jadinya jatuh." Zia terus menyalahkan Zidan atas musibah jatuhnya rambutan botak itu.


Zidan sudah tau itu adalah bagian dari mood ibu hamil, langsung saja mengangguk, "Iya ini salah aku. Maaf ya."


"Ya udah jangan nangis dong," ucap Zidan lagi sembari mengusap air mata di pipi Zia. Zia mengangguk lalu duduk di kasur sembari memandangi rambutan itu.


"Yang lain masih ada kok. Itu kan udah jatuh, ganti aja nih," ucap Zidan memberikan sekantong rambutan hasil kerja bakti sahabatnya semalam.


Aneh memang. Zia meminta rambutan itu dicukur botak hanya untuk dipandangi, bahkan bangun tidur saja yang dicari rambutan. Zidan aja kalah sama rambutan botak.


"Aku mau pilih yang paling cantik," ujar Zia sembari sibuk memilah rambutan di kantong.


Mana ada rambutan cantik, gumam Zidan yang hanya menggelengkan kepalanya lalu mengusap rambut Zia. "Nanti kalo udah nemu yang cantik, ambil wudhu. Aku mau siapin alat solatnya dulu."


Zia hanya mengangguk. Setelah menemukan yang ia suka, Zia meletakkannya di kasur agar tidak jatuh seperti semalam. Setelahnya Zia beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Zidan memandang datar rambutan di tengah kasur itu. Gara-gara rambutan itu Zia menyalahkannya.


°°°°°°


Zia masih menjaga jarak dengan Zidan, bahkan sampai mereka sarapan pun Zia tidak berbicara sedikitpun pada Zidan.

__ADS_1


Bunda Dian sampai menyergitkan alisnya, baru kali ini ia melihat pasangan itu sedikit berjarak. "Kalian berantem?"


Zidan dan Zia menggelengkan kepalanya bersamaan.


"Zidan ngga sengaja jatuhin rambutan botak yang semalam Zia idamin," ucap Zidan. Bunda membulatkan mulutnya sembari mengangguk, ia paham pasti mood Zia sedang berubah ubah.


"Rambutannya masih Zia?" tanya Bunda yang diangguki Zia sembari mengeluarkan sebuah rambutan botak dari saku baju hamilnya.


"Bagus ya rambutannya?" ucap Bunda yang berusaha mengembalikan mood ibu hamil yang satu itu.


Zia mengangguk sembari tersenyum. "Iya bunda. Zia udah pilih yang paling bagus tauu."


"Oh ya? Emang ada banyak rambutan gundulnya?" tanya Bunda semakin memancing Zia untuk mengobrol.


"Banyak bangett.. ada satu plastik di kamar. Tapi Zia paling suka sama yang ini, merah merah unyu gitu Bun," cerita Zia sembari menunjukkan rambutan di tangannya. Wajahnya sudah tidak cemberut, sekarang wajah imut itu terlihat sumringah.


Bunda tersenyum sembari mengedipkan satu matanya pada Zidan yang menatapnya heran.


'Perasaan gue bujuk susah banget. Bunda gitu doang langsung sumringah tuh, emang aslinya sih,' gumam Zidan.


"Ya udah sekarang yang penting rambutannya masih ada dan cantik banget tuh. Udah bilang makasih belum sama Zidan yang udah cukurin rambutan itu?" tanya Bunda Dian yang dijawab gelengan dari Zia.


"Bilang dong. Minta maaf juga udah marahin Zidan," ujar Bunda. Zia mengagguk lalu beralih pada Zidan.


Zidan tersenyum melihat istrinya terlihat begitu menggemaskan. "Iya aku maafin kok."


Zidan mengangkat dagu Zia agar wajah istrinya itu menghadapnya. "Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


Zidan mendekatkan mulutnya ke telinga Zia, "Nanti malem aku jengukin baby," bisiknya.


Zia menyergitkan alisnya bingung. "Jangukin? gimana caranya? emang bisa? Zia mau juga dong."


S i a l. Zia mengucapkan itu dengan lantang. Kan Zidan yang malu pada bunda, apalagi sekarang bundanya sudah senyum senyum ke arah mereka.


"Bisa dong," ujar Bunda yang mewakili Zidan lalu terkekeh geli.


"Gimana bun? Zia pengen juga jengukin baby di perut Zia ini," tanya Zia yang sepertinya snagat antusias. Zidan sampai mengusap wajahnya karena malu, selama hampir dua tahun di kelas IPA Zia kemana aja, masa gitu aja ngga tau.


"Em.. sayangnya cuma Zidan doang yang bisa jengukin," jawab bunda membuat Zia kembali bingung.


"Stop bun," ucap Zidan yang sudah sangat malu.

__ADS_1


Zia kini kembali fokus pada Zidan, "Yaudah nanti Zidan jengukin, Zia mau liat."


Zidan membulatkan matanya, benarkah ini? Ia mendapat lampu hijau? Gas tidak ya?


"Asik ada yang mau dapet jatah nih," goda Bunda.


•°•°•°•


Kelima cowok inti Atlansa kini tengah duduk di kantin. Menikmati jam istirahat tanpa para cewek.


"Udah beberapa minggu ngga ada para ciwi rasanya sepi ya?" ucap Dyu dengan tangan yang menyangga dagunya karena bosan.


"Hooh. Ngga bisa ngapel di sekolah," saut Zio. Galen, Zidan, dan Langit hanya menyimak saja.


"Samperin ngga sih nanti?" usul Dyu.


"Ngapain?" tanya Zidan. Jangan sampai mereka ke rumah Zidan nanti malam. Bisa gagal kunjungannya.


"Ya ngobrol ajaa, kalo Zia ngga bisa keluar rumah ya kita yang bakal ke rumah lo. Udah lama juga kan kita ngga ngumpul santai," ucap Dyu yang disetujui yang lainnya. Benar juga, akhir akhir ini mereka berkumpul hanya untuk membahas kasus Zidan dan Zia.


"Gue ada acara nanti malem," ucap Zidan.


"Acara apaan? tumben banget lo? Kan kerja juga sampe jam lima doang," kata Langit. Tidak biasanya Zidan menolak saat diajak kumpul.


"Ya ada lah," ujar Zidan lagi. Tapi sejenak Zidan berpikir, sudah banyak yang mereka lakukan untuknya dan Zia. Pantaskah jika ia menolak berkumpul hanya karena sesuatu itu.


"Ya udah. Nanti ke rumah gue aja," putus Zidan kemudian. Zidan tidak ingin menjadi manusia tidak tau diri.


"Gitu dong. Sekalian gue mau jengukin istri," canda Dyu.


"Istri siapa?" tanya Zidan sembari menatap tajam ke arah Dyu.


"Istrinya Om Dimas."


°••°••°


Hai hai haiiii 👋


Kasih like, komen, vote, kasih hadiah jugaa.


Kalau boleh sih follow akun aku. ♥♥


Makasih semuanyaa ♥♥

__ADS_1


Bye bye👋👋


__ADS_2