Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
93. Bersama Mama


__ADS_3

Mama Salma kini tengah menemani Zia makan. Tubuh putrinya ini terlihat berisi membuatnya tersenyum, berarti Zia hidup dengan baik dengan suami dan mertuanya.


"Zia masih suka sandwich?" tanya mama Salma yang diangguki Zia. Melihat itu pun mama Salma beranjak dari duduknya untuk membuatkan makanan kesukaan putrinya.


Zia yang sedang makan pun melihat punggung sang mama, yang entah kenapa malah membuatnya meneteskan air mata. Zia sangat merindukan momen ini. Dengan cepat Zia mengusap air matanya sebelum mama menyadarinya.


"Nih, kamu makan yaa," ucap mama Salma sembari meletakkan beberapa potong sandwich di hadapan Zia.


"Makasih Ma," ucap Zia setelah mengangguk. Walaupun baru saja makan nasi, tapi Zia masih bisa memakan sandwich itu dengan lahap.


Mama Salma pun tersenyum melihat nafsu makan Zia, ia tau itu baik untuk janin di perut Zia. Dibandingkan dia, kemarin saat masih hamil dia malah terlalu banyak makan makanan cepat saji dan manis membuat berat badan baby Zira besar saat dilahirkan.


"Ma, nafsu makan mama waktu hamil baby Zira juga kaya Zia ngga? penginnya makan terus?" tanya Zia setelah menghabiskan satu potong sandwich.


Mama Salma menggelengkan kepalanya, "Ngga, sayang. Nafsu makan mama ngga sebaik kamu, walaupun ngga ngerasain gejala hamil yang berlebih. Tapi mama ngga nafsu makan sayur."


"Oh ya? padahal kata Bunda Dian bagus buat janin, Ma," kata Zia yang diangguki mama Salma.


"Iya, tapi mama ngga ngikutin saran dokter Dian. Malahan mama makan makanan yang ngga terlalu baik buat janin," jawab mama Salma jujur. Kurangnya perhatian dari suami ternyata mempengaruhi mood makannya.


"Zia juga dulu gitu, tapi Zidan suka kasih Zia makan sayur yang enak dan ngga ngebosenin jadinya Zia lama lama suka sayur," cerita Zia yang membuat mama Salma bersyukur anaknya mendapat suami yang baik dan pengertian.


"Mama seneng banget Zia mau ke sini. mama kira Zia udah ngga mau ke sini lagi setelah papa usir waktu itu," ucap mama Salma membuat Zia tersenyum lalu memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.


"Zia mah penginnya tiap hari main ke sini. Cerita sama mama kaya gini, apalagi sekarang mama di rumah terus ngga kaya dulu," ucap Zia jujur. "Tapi Zia kan udah punya suami. Papa juga larang Zia kan? jadinya Zia cuma bisa curi-curi waktu kaya gini."


"Mama sebenarnya pengin banget ketemu kamu dari lama, tapi selalu papa larang." Zia mengangguk mengerti akan hal itu.


"Maafin mama ya.... bahkan... bahkan mama ngga ada waktu kamu kehilangan salah satu calon anak kamu," ucap mama Salma yang tangisnya sudah pecah.


Zia kembali mengangguk, "Nggapapa kok Ma. Ada kak Zio yang selalu sampaiin pesen mama, walaupun Zia sebenarnya juga masih butuh banget mama di samping Zia. Apalagi di masa masa terburuk di hidup Zia."


Ibu dan anak itu saling mengungkapkan rasa yang sudah mereka pendam selama mereka berpisah.


"Putri kesayangan mama udah besar ya? udah mau kasih mama cucu," kata mama Salma dengan tangan yang mengusap kepala Zia.


"Aslinya Zia masih kecil Ma, tapi dipaksa dewasa sama keadaan," ucap Zia dengan suara yang bergetar membuat sang mama kembali memeluknya.

__ADS_1


"Nggapapa. Anak mama kuat kok. Buktinya masih bisa kuat sampai sekarang, mama tau ini ngga mudah. tapi kamu pasti bisa," ujar mama Salma menenangkan sang putri.


"Zia bakalan lebih kuat lagi kalo ada mama di setiap langkah Zia," cicit Zia di dalam pelukan mamanya.


"Ada kok. Mama selalu ada di hati Zia, begitupun Zia yang selalu ada di hati mama. di setiap doa mama juga." Ucapan mama Salma begitu menyentuh batin Zia.


Zia dengan perlahan pun mengurai pelukan mereka. Tangannya mengusap air matanya sembari tersenyum pada sang mama.


"Zia sayang sama mama, banget."


Mama Salma mengangguk, "Mama juga."


"Kalo Zia nanti kenapa napa waktu lahirin baby di perut Zia ini, mama mau kan bantu Zidan rawat anak Zia," ucap Zia yang membuat tangis sang mama kembali pecah.


"Shutt... Ngga boleh ngomong gitu. Kamu pasti nanti ngga kenapa napa kok. Kondisi kamu aja sehat gini, pasti bisa kok lewatinnya," kata mama Salma.


"Hidup ngga ada yang ta-"


Grep!


Tiba-tiba ada yang memeluk Zia dari belakang, dan itu ternyata Zidan.


Zia mengangguk sembari melepaskan tangan Zidan yang memeluk lehernya, "Iya maaf!"


"Tuh kan! Ngga boleh bilang kaya gitu. Berpikiran positif aja yaa, kalo baby Zira ada yang jaga nanti mama bakalan temenin kamu sampe cucu mama lahir," ucap mama Salma membuat senyum Zia merekah.


"Tenang aja Ma, nanti Zio nggapapa kok kalo harus jagain baby Zira waktu lahiran Zia," ucap Zio yang datang bersama baby Zira.


Mama Salma mengangguk, "Mama si berdoa kamu lahirannya siang hari aja biar mama bisa pergi pas papa udah berangkat kerja."


"Kalo baby mau keluarnya malem gimana?" tanya Zia.


"Ya nggapapa. Aku bakal usahain sebelum anak kita lahir, papa kamu udah ngga marah sama kamu," ucap Zidan yang diangguki Zio. Mereka sekarang bekerja sama dengan Ayra dan Pak Ervan. Dan tinggal tunggu tanggal mainnya saja karena semua bukti dan saksi sepertinya sudah terkumpul.


"Ya udah... Sekarang kita ke ruang baby Zira lagi yuk. Biar enak kita ngobrolnya," ucap mama Salma yang diangguki anak dan menantunya.


Kamar Baby Zira.

__ADS_1


Zia duduk di sofa yang menempel pada ranjang kecil sang adik, hingga tangannya bisa sembari menepuk nepuk, bahkan menoel noel pipi baby Zira yang tengah tertidur.


"HPL tanggal berapa?" tanya mama Salma.


"Kata Bunda tanggal satu bulan depan depannya lagi," jawab Zia membuat Mama Salma mengangguk.


"Enak ya mertuanya dokter kandungan, ada apa apa langsung bilang, ngga perlu jauh jauh ke rumah sakit," ucap Zio.


"Ya enak lah. Emak gue," saut Zidan membanggakan bundanya.


"Tapi pernah gitu ngga ada apa apa langsung panggil Dokter Dian?" tanya mama Salma.


"Pernah Ma. Waktu Zia perutnya kram karena Zi-emmpp." Zidan segera menutup mulut Zia agar tidak mengucapkan kalimat lanjutannya. Zidan ingat momen memalukan itu, saat ia diceramahi bundanya karena terlalu over.


"Hayoo... loh..." goda Zio saat melihat raut wajah malu Zidan.


"Karena apa?" tanya mama Salma penasaran.


"Karena....Zia bangunnya ngga hati-hati," jawab Zidan bohong.


"Kok Zia? Kan Zidan yang-" Zidan sekarang menutup mulut Zia dengan telapak tangannya. Sungguh, jangan sampai Zia mengucapkan itu di depan mama mertua, bisa malu berkepanjangan Zidan.


"Jangan bilang atuh, sayang. Malu," bisik Zidan membuat Zia dengan pasrah mengangguk, apalagi saat mendengar kata sayang jantungnya berdetak tidak karuan.


"Kayanya gue paham," ucap Zio yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Zidan.


M a m p u s. Jika Zio sudah paham, Zidan hanya bisa pasrah.


¤¤¤¤¤


Haiii Hai haii 👋👋


Aku up dini hari gini.♥♥..


Maaf yang nungguin, kalo emang ada yang nunggu.♥..


Semoga suka☺...

__ADS_1


Bye Bye👋👋


__ADS_2