Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
98. Sebentar Lagi


__ADS_3

Gemericik air yang jatuh dari genteng sekolah membentuk alunan tak beraturan, bahkan lebih terdengar berkejaran. Siang itu, tepat di jam pulang sekolah, turun air langit. Hujan.


Dinginnya air hujan membuat kelima Inti Atlansa mengurungkan niat untuk menerobosnya, sekarang saja mereka kompak mengenakan jaket hitam kebanggaan untuk menghalau dingin agar tidak menembus kulit. Bukan cemen, hanya menjaga diri karena kegiatan mereka sedang banyak.


"Malam nanti Pak Ervan sama Ayra minta ketemu," ucap Galen sembari menyalakan lampu kelas dengan melemparkan batu kecil tepat mengenai saklar.


"Udah siap semua yang buat jeblosin ibl*s itu ke penjara?" tanya Zio yang mempunyai dendam kesumat pada Willy. Enak saja orang itu bisa bersenang-senang, adik kembarnya saja sedang sengsara. Tubuh mungil dan belia itu sedang membawa nyawa lain akibat ulah Willy.


"Berkas di Ayra udah lama siap. Saksi udah banyak yang memihak kita, walaupun ngga semua bisa kita temui. Sedikit lagi waktu kehancuran Tuan Willy," jawab Galen dengan perasaan yang menggebu. Apalagi Pak Ervan sudah mengajak mereka bertemu yang artinya hampir siap serang.


"Ngga sabar gue." Zidan mengucapkan itu dengan pikiran yang tertuju pada Zia. Semakin besar usia kehamilan Zia, semakin tipis waktu Zidan untuk meyakinkan papa mertuanya.


¤¤¤¤¤


Pukul 19.37 di basecamp Atlansa.


Kepulan asap rokok menjadi pemandangan biasa bagi siapa saja yang memasuki tempat itu, sama halnya dengan sekarang. Inti Atlansa kecuali Zidan tengah menghisap sebatang rokok, tentu saja tanpa para cewek. Selagi mereka pergi ke supermarket, para cowok menggunakan waktu itu untuk nyebat.


"Masih belum ke sini kan mereka?" tanya Galen pada Zio yang tengah mengawasi mereka lewat JPS di mobil Atlansa yang para cewek bawa.


"Aman. Mobil masih diem di depan supermarket," jawab Zio.


Mereka tidak merokok di dalam ruangan, melainkan di parkiran agar nanti saat para cewek kembali dari berbelanja, mereka tidak ikut menghirup asap rokok. Zio mengawasi keberadaan para cewek juga bukan karena mereka diam-diam merokok, tapi agar mereka bisa berhenti sebelum para cewek datang.


Intinya, mereka tidak mau perempuan yang mereka sayangi terkena dampak rokok.


"Udah lagi balik. Matiin," ucap Zio saat mobil Atlansa sudah mulao bergerak kemari.


Mereka spontan menginjak puntung rokok miliknya, tanpa peduli itu masih panjang atau tidak.


Lima menit kemudian.


Para cewek datang berbarengan dengan tamu mereka, Pak Ervan. Ayra tidak dianggap tamu karena memang Ayra adalah bagian dari mereka.


Mereka menata belanjaan yang sembilan puluh persen camilan dan minuman. Hanya sepuluh persen yang perlengkapan P3K dan persediaan basecamp lainnya.


"Silahkan Pak Ervan," ucap Galen mempersilahkan tamu penting mereka minum. Karena mungkin haus, Pak Ervan tanpa sungkan langsung meminumnya.


"Langsung saja, urusan saya dengan papa saya sudah selesai. Sekarang waktunya kita melangkah bareng," kata Pak Ervan membuka pembicaraan mereka malam ini.


"Alhamdulillah... Berarti tinggal kita rancang saja Pak gimana penangkapannya," jawab Galen yang mendapat anggukan kepala semua yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Kita laporkan dulu dengan barang bukti yang kita pegang, setelah itu tinggal polisi yang bergerak. Tentunya dengan kita juga," kata Pak Ervan.


"Selama laporan diproses, ada baiknya kita amanin semua saksi biar ngga dipengaruhi apa lagi diapa apain," tambah Ayra.


Mereka kembali mengangguk, "Bener tuh, kemarin aja ada saksi kasus korupsi yang dibunuh," ucap Langit.


"Saksi kita tempatnya nyebar-nyebar, ngga mungkin kan kita suruh mereka kumpul di satu tempat. Mereka punya keluarga yang harus dinafkahi," kata Zidan. Mengingat bagaimana rata-rata saksi mereka adalah kalangan menengah ke bawah yang berpenghasilan pas-pasan.


"Mereka masih bisa lakuin kegiatan mereka seperti biasa, hanya saja didampingi orang kepercayaan kita," ucap Galen membuat Pak Ervan mengangguk.


"Sudah ada orang yang dipercaya buat awasin mereka?" tanya Pak Ervan.


Galen mengangguk, "Ada, tapi ngga banyak. Tidak semua bisa kita percaya untuk kasus ini." Galen tidak yakin karena hari itu saja ia biaa kecolongan.


"Saya tambahin orang saya, orang-orang terbaik yang sudah saya percaya," kata Ervan.


"Terima kasih, Pak," ujar Zidan yang hanya diangguki Pak Ervan.


"Setiap satu rumah kami ada dua orang jaga, Pak Ervan mau menambahkan berapa?" tanya Keyna. Karena memang melindungi saksi adalah bagiannya.


"Dua lagi, cukup kan?" ujar Pak Ervan.


"Cukup Pak," jawab Keyna sembari menganggukkan kepala.


Pak Ervan menggelengkan kepalanya. "Ada satu kasus lagi yang bisa menambah berat papa nanti."


"Apa Pak?" tanya Sherena penasaran.


"Ada nanti. Itu urusan saya dan keluarga. Saya cuma kasih tau aja biar nanti ngga misscomunication." Pak Ervan mengucapkan itu dengan nada marah yang ditahan, berarti memang itu masalah intern keluarga.


Kemudian mereka kembali mendiskusikan langkah demi langkah nantinya, sampai semuanya akan terbongkar dan selesai.


"Ya sudah Pak. terima kasih banyak karena mau bekerja sama dengan kami yang banyak orang anggap bocah ini," kata Galen merendah.


"Bocah kaya kalian malah yang dibutuhkan sama negeri ini. Bocah yang melek hukum dan berani memperjuangkan keadilan," bangga Pak Ervan.


"Itu juga karena awalnya ada teman kami, Zidan yang terbawa Pak." Galen mengucapkan itu dengan melihat ke arah Zidan sejenak.


"Sama istri saya itu," kata Pak Ervan membuat Ayra nyengir saja.


Setelah itu mereka tampak sedikit lebih santai.

__ADS_1


"Ra, enak tuh jeruk?" tanya Sherena yang sudah merem melek walaupun baru saja memcium baunya.


"Enak kok. Mau?" tawar Ayra memberikan dua siung jeruk di tangannya pada Sherena.


Belum sampai satu detik jeruk itu menyentuh lidahnya, sudah sangat terasa asamnya. "Asem banget."


"Manis kok," sangkal Ayra.


"Iya manis." Itu yang menjawab bukan Sherena melainkan Pak Ervan.


"Sambil liatin wajah gue Sher nanti manis jadinya," canda Dyu yang langsung mendapat tatapan tajam nan sinis dari sang pawang.


"Pait, Yu jadinya," balas Sherena.


Mereka terus melempar candaan. Mencairkan suasana serius tadi dengan lelucon yang mungkin garing tapi terdengar lucu.


Zidan menarik kepala Zia ke dadanya saat istri imutnya itu mulai terlihat mengantuk. Kebetulan saat itu juga, Ayra juga sudah sangat mengantuk dan berakhir bersandar di bahu Pak Ervan.


Walau tanpa sengaja, itu terlihat seperti sebuah persaingan mantan dalam menunjukkan kemesraannya dengan pasangan masing-masing.


"Tidur aja kalo ngantuk," kata Zidan saat Zia dengan imutnya mencoba melebar lebarkan matanya agar tidak terlihat mengantuk.


"Zia ngga ngantuk," jawab Zia tadi baru dua detik mengucapkan itu, Zia sudah tertidur pulas di dada nyaman sang suami.


"Mau ditidurin di kamar aja?" tanya Keyna saat Zia dan Ayra sudah tertidur. Memang dua sahabat itu sama-sama jarang tidur malam.


"Saya bawa pulang aja," jawab Pak Ervan lalu mengangkat tubuh ramping Ayra dna berpamitan pulang.


"Lo Dan?" tanya Keyna saat Zidan masih asyik membelai rambut Zia.


"Biarin gini aja, Zia sekarang emang sering tidurnya kaya gini. Kalo tidur biasa malah bilangnya pegel pinggangnya," jawab Zidan pelan agar tidak mengganggu tidur Zia.


Keyna dan yang lain mengangguk. "Hamil tua ya gitu."


¤¤¤¤¤


Hai hai hai....


Aku up nih?


Siapa yang nungguin?

__ADS_1


jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah, dan follow yaa....


See you bye bye


__ADS_2