
"Bokap lo pulang kerja jam berapa?" tanya Zidan pada Zio. Di jam pulang sekolah ini mereka berada di dalam kelas sembari menunggu parkiran sepi.
"Ngga tau lah. Ngga pasti," jawab Zio, "Emang ngapa?" tanyanya. Tidak biasanya Zidan menanyakan hal tersebut.
"Zia minta ke rumah lo. Dia pengin liat adeknya," jawab Zidan yang diangguki mereka.
"Kalo siang atau sore sih mustahil, paling malem bokap baru pulang." Ucapan Zio diangguki Zidan.
"Bener nih? Gue takutnya nanti waktu Zia di sana malah papanya pulang. Gue ngga mau ya, istri gue diusir usir lagi kaya dulu," kata Zidan yang masih ingat betul bagaimana tidak sukanya papa Zia saat mereka berkunjung, bahkan tengan lantang mengusir anaknya sendiri.
"Bener. Kalo bisa gue pantauin deh biar aman," jawab Zio. Zio bisa saja melacak keberadaan papanya jika memang diperlukan nanti.
"Thanks ya, kakak ipar," ucap Zidan membuat Zio bergidik. dan mereka pun tertawa.
"Panggilan macam apa itu?"
¤¤¤¤
"Aduh senyumnya," kagum Zidan saat membuka pintu mobil dan turunlah Zia dengan senyum manisnya. Mereka sudah berada di depan rumah orangtua Zia.
"Apaan sih? malu tau," cicit Zia sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Udah belum mesra mesraannya? gue tutup lagi nih pintu," teriak Zio yang berdiri di tengah pintu.
"Iri? nikah sana." Zidan pun menggandeng tangan Zia memasuki rumah yang terakhir kali mereka datangi meninggalkan rekam jejak jelek di otak mereka.
"Mama di mana kak?" tanya Zia saat memasuki rumah.
"Di kamar adik, di sana," jawab Zio sembari menunjuk kamar di sebelah kamar orangtua mereka.
Zia mengangguk lalu berjalan ke sana diikuti Zidan yang membawa bingkisan dan Zio.
Ceklek.
Hal pertama yang Zia lihat adalah mamanya yang sedang menimang-nimang bayi yang Zia yakini itu adalah adiknya.
"Zia?" kaget mama Salma saat melihat putrinya. Zia mengangguk lalu mengampiri sang mama.
"Mama, Zia kangen," kata Zia memeluk mamanya dari samping, dan dari posisi ini Zia dapat melihat dengan jelas wajah mungil adiknya.
"Mama juga, sayang." mama Salma mengusap rambut Zia dengan satu tangan. "Nih liat adik kamu... Mirip kamu banget waktu bayi," tunjuknya.
Zia pun mengangguk sembari jarinya mengusap pipi merah adiknya itu. "Cantik banget."
"Cantik dong. Kan kakaknya aja cantik," jawab mama Salma.
__ADS_1
Zidan dan Zio sudah duduk di sofa yang tersedia sembari memperhatikan interaksi ibu dan anak itu. Zidan akan menyapa mertuanya nanti saja.
"Zia mau gendong?" tanya mama Salma yang dijawab gelengan kepala dari sang anak.
"Loh kenapa?" tanyanya lagi.
"Zia takut salah gendong, nanti adiknya sakit," Ucap Zia yang tidak berani menggendong bayi sekecil ini.
Mama Salma pun tersenyum, "Belajar dong Zia. Sini mama ajarin biar nanti kalo anak kamu udah lahir, kamu bisa gendong."
Dengan ragu pun Zia mengangguk. "Iya ma, gimana caraya?"
"Kamu duduk dulu biar enak gendongnya," titah mama Salma yang langsung ditiruti oleh Zia.
Zidan pun menghampiri iatri dan mertuanya karena dirasa ia juga butuh pengetahuan tentang itu. "Ma, ini ada sedikit bingkisan dari kami. Aku taroh di sini ya."
Mama Salma pun tersenyum, "Ya Allah makasih banyak loh... padahal ngga usah repot repot.. kalian dateng aja mama udah seneng banget.. Maaf ya mama lagi gendong ngga bisa nerimanya."
Zidan pun mengangguk lalu memperhatikan bagaimana mama mertuanya mengajari Zia cara menggendong bayi.
"Pegang bagian leher belakang sampe kepala, tangan yang satu di bokongnya.. Nah!" Zia dengan sangat hati-hati dan takut pun mencoba melakukan ucapan sang mama.
"Gini Ma?" tanya Zia yang diagguki mama Salma.
"Namanya siapa Ma?" tanya Zidan sembari memperhatikan bayi mungil di gendongan sang istri.
"Ngga beda jauh sama Zio Zia, namanya Zira, Kenzira Amanda Alfarezi Putri," ucap mama Salma yang diangguki Zidan dan Zia.
"Assalamualaikum Baby Zira," ucap Zidan sembari mengusap pipi merah baby Zira.
"Udah ma. Zia takut adek jatoh," kata Zia yang merasa was was. Tangannya sudah tremor dan ia takut adiknya ini malah jatuh. Zidan melihat itu gemas sendiri, Zia terlihat menggemaskan dengan wajah paniknya, benar benar anak kecil yang akan segera mempunyai anak.
Mama Salma pun mengambil kembali Baby Zira dari gendongan Zia, "Sama mama lagi ya sayang, kakak kamu masih takut gendongnya."
"Zidan mau coba gendong?" tanya mama Salma membuat Zidan menunjuk dirinya sendiri lalu dengan ragu mengangguk.
"Boleh Ma."
Mama Salma pun mengajarkan hal yang sama seperti pada Zia tadi. Bahkan Zidan terlihat lebih luwes dalam menggendong baby Zira daripada Zia. "Lah luwes an kamu ini daripada Zia."
"Hehe.. tapi masih takut Ma," jawab Zidan yang memperhatikan wajah baby Zira. Sangat cantik.
"Belajar Dan. Bentar lagi kan bakalan gendong anak sendiri," kata Zio yang sedari tadi masih setia duduk si sofa.
"Kecil banget ternyata," kata Zia saat melihat baby Zira tampak kecil sekali saat dalam gendongan Zidan.
__ADS_1
"Itu gede termasuknya Zi. Lahirnya aja 3,7 kilo," saut mama Salma membuat Zia membulatkan mulutnya.
"Kecil kecil gitu ngeluarinnya susah," lanjut mama Salma.
"Oh ya? Ceritain dong ke Zia, Zia bentar lagi juga bakalan ngerasain, biar udah ada bekalnya," ucap Zia membuat mama Salma mengangguk.
"Ya intinya sih ngelahirin ya sakit. Tapi tenang aja Sayang, sakitnya emang luar biasa tapi setelah dengar tangisannya pasti rasa sakitnya bakalan ilang," cerita mama Salma yang diangguki Zia. Zia sudah sering mendengar kalimat ini dari bunda dan di tempat yoga.
"Menurut mama, Zia bisa ngga nanti ngelahirin anak Zia ini?" tanya Zia.
Mama Salma mengangguk yakin, "Pasti bisa dong. Zia aja bisa pertahanin janinnya sampai sekarang, dan itu ngga mudah. Pasti ngelahirin nanti juga Zia bisa, sebentar doang kok sakitnya," ucapnya berusaha memberikan dukungan moral agar Zia tidak terlalu takut nantinya.
"Iya, Zia pasti bisa," jawab Zia membuat mama dan Zidan tersenyum dengan Zidan masih menggendong adik iparnya.
"Kalo Zia pengen mama ada pas Zia lahiran nanti boleh?" tanya Zia dengan hati-hati.
Mama Salma berpikir sejenak lalu berucap, "Mama usahain ya? mama bakalan ada waktu Zia lahiran nanti kalo memang papa bisa dibujuk. Tapi mama ngga janji, jadi walaupun ngga ada mama, Zia harus tetep kuat ya?"
Dengan berat hati Zia mengangguk, kalau begini harapannya tipis untuk terwujud.
"Mama usahain banget beneran. Kalo perlu nanti mama mohon mohon ke papa," ucap mama Salma lagi membuat Zia mengangguk.
"Zia mau minta makan boleh?" tanya Zia membuat mereka tertawa.
"Ya boleh lah," kata mama Salma sembari mengusap rambut anak perempuannya itu. Tidak menyangka sebenarnya, putri polos dan manjanya ini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Baby Zira sama aku sama Zio aja Ma, mama temenin Zia makan aja," kata Zidan saat mama Salma akan mengambil baby Zira darinya.
"Beneran? ngga capek gendong terus?"
"Bener ma, sekalian belajar," jawab Zidan membuat mama Salma mengangguk lalu keluar ruangan untuk menemani Zia makan.
Zidan sengaja melakukan itu untuk memberikan banyak ruang temu kangen ibu dna anak itu, mumpung papa mertuanya tidak di rumah.
¤¤¤¤¤
Hai hai haiiiii
Aku up nih...
Maaf ya telat...
Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah dan follow.
Next ngga nih?
__ADS_1