Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
108. Melaporkan Tuan Willy


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Tepatnya hari dimana Zidan dan Zia diberitahu dan diajak untuk melaporkan Tuan Willy ke kantor polisi.


Baik Zidan maupun Zia begitu antusias, orang yang sudah menjebak mereka akan segera dipenjara.


Tidak hanya pasangan belia itu, banyak orang yang bersuka cita atas pelaporan Tuan Willy Kendrick. Siapa lagi jika bukan para korban.


Zidan dan Zia menjadi saksi penyerahan barang bukti dari tangan Ayra kepada polisi didampingi Pak Ervan. Yang membuat Zidan terkejut, ternyata ada kasus KDRT juga yang dilaporkan. Mertua Ayra ikut karena akan menyerahkan bukti video dan menunjukkan bekas lukanya.


Tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah keluarga itu, Zidan dan Zia hanya diam saat bagian itu ditanyakan.


Kebanyakan yang berbicara Ayra, karena yang berstatus pelapor adalah dia. Bukti juga di tangan Ayra.


"Karena bukti dan saksi yang sangat kuat. Kami akan segera melakukan penangkapan atas nama saudara Willy Kendrick," ucap polisi membuat lima manusia itu menghela napas lega.


Mereka keluar dari kantor polisi dengan senyum yang merekah. Karena tidak ingin menunjukkan kecurigaan bagi orang-orang Tuan Willy yang mengawasi mereka, mereka segera masuk ke mobil masing-masing. Tentunya setelah saling mengucapkan terima kasih.


"Akhirnya..." tutur Zidan menghempaskan punggungnya ke sandaran mobil.


Zia juga tersenyum lebar. "Kalo ini selesai berarti papa bakal maafin Zia?"


Mendengar itu membuat Zidan menoleh pada sang istri. "Setidaknya lebih gampang aku kasih alasan."


Belum tentu juga, tapi Zidan akan berusaha lagi. Kasihan juga istrinya ini merindukan kasih sayang sang ayah.


Zia mengangguk. Tidak sabar sampai masalah ini selesai dan papa memaafkannya.


"Udah yuk. Zio udah nungguin di rumah," kata Zidan saat melihat pesan dari kakak iparnya itu.


Zia bersorak karena ia yang meminta Zio ke rumah, lebih tepatnya ia ngidam. Zia ingin sandwich buatan sang kakak.


Sesampainya di rumah, Zia tampak begitu semangat walau langkahnya tidak bisa terlalu cepat. Zia menghampiri Zio yang duduk sendirian di ruang tamu dengan bermain ponsel, Zia lalu duduk perlahan di sebelahnya.


"Kakak.." sapa Zia membuat Zio meletakkan ponselnya di meja lalu mengecup pipi Zia.


"Gimana tadi?" tanya Zio penasaran.


"Alhamdulillah lancar," jawab Zia sembari membuka kotak bekal yang ada di meja. Pasti itu pesanannya.


"Alhamdulillah."


"Ini kakak yang buat sendiri kan?" tanya Zia dengan tangan yang mengampil sepotong sandwich dari dalam kotak bekal.


Zio mengangguk sembari mengusap kepala Zia dengan lembut, membiarkan suami Zia melihat saja dari seberang sofa.


"Enak?" tanya Zio saat Zia memasukkan potongan besar ke dalam mulut kecilnya. Dengan pipi yang mengembung, Zia mengangguk. Mengunyah perlahan lalu menelannya.

__ADS_1


Karena gemas, Zio mengunyel-unyel pipi Zia. Membuat sang empunya cemberut.


"Mama kangen sama kamu. Kebetulan papa lagi di luar kota, Zia mau ke rumah ngga?" ucap Zio membuat ekspresi Zia langsung berubah ceria kembali.


Anggukan kepala antusias menjadi jawaban Zia, "Mau banget banget..... Mumpung sekolah lagi libur. Jadi bisa dari pagi."


Sekolah masih diliburkan pasca penyerangan hari itu, apalagi ditambah penyebaran berita tentang Arin membuat keadaan sekolah makin panas. Maka, Pak Ervan memutuskan untuk memberhentikan sementara pembelajaran di sekolah.


"Aman ngga nih? Kapan Papa pulang dari luar kota?" tanya Zidan yang belum mau Zia bertemu sang papa.


"Minggu depan. Aman banget pokoknya," jawab Zio sembari mengembil tissue di meja lalu mengelap pipi Zia yang belepotan terkena mayonaise dan saos.


"Oke. Besok deh kita ke rumah, kalo sekarang takutnya Zia capek," putus Zidan. Ke kantor polisi saja membuat Zia capek, apalagi ditambah pergi lagi.


"Besok Zia ada kelas yoga," jawab Zia setelah menelan kunyahan sandwich di mulutnya.


"Ya udah lusa," ralat Zidan.


Zia mengangguk lalu kembali fokus pada potongan sandwich ke tiganya.


"Sorry ya Dan, lo ngga kebagian," kata Zio dengan tidak enak, hanya tersisa satu potong dan ia yakin masih akan dimakan Zia.


"Nggapapa elah," santai Zidan. Lagian dia tidak terlalu suka makanan berbahan roti dan daging itu.


Zia yang mendengar itu menyodorkan satu potong terakhir ke depan Zidan, "Mau?"


"Gue harus ke kantor, kalo lo ngga sibuk lo temenin Zia di rumah," ucap Zidan pada Zio.


"Siap!" Zio dengan semangat menjawab. Sudah lama juga ia tidak menghabiskan waktu dengan adik kesayangannya ini.


Zidan pun beranjak ke kamar untuk berganti pakaian lalu kembali turun ke lantai satu.


"Baik-baik di rumah," ucap Zidan sembari mengecup dahi Zia lama.


Zia mengangguk lalu mencium tangan Zidan.


"Mak... Pengen nikah," ceteluk Zio membuat Zidan dengan sengaja malah mengecup bibir Zia.


"Asem banget kalian!"


Zidan dan Zia terkekeh saat Zio melempar bantal ke arah mereka namun dengan cepat ditampis Zidan.


"Jagain istri gue, lecet dikit kita war," ucap Zidan, bercanda.


"Adek gue inih. Sebelum lo, gue udah biasa jagain dia kalii," balas Zio lalu kakak dan adik ipar itu bersalaman ala cowok.


Setelah Zidan pergi, Zia mengabiskan waktunya dengan sang kakak, Zio. Saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing yang telah berubah, juga tentang oasangan masing-masing.

__ADS_1


"Zia mau curhat," ucap Zia saat Zio baru saja kembali dari dapur setelah mengambil minuman.


"Sini sini curhat," respon Zio yang langsung duduk di sebelah Zia.


Zia memperbaiki posisi duduknya sebelum bercerita, "Kok Zia ngerasa sekarang Zia cemburuan banget yah?"


"Gimana maksudnya?" tanya Zio yang belum mengerti.


"Iya. Zia gampang cemburu, waktu itu sama rekan kerjanya Zidan, kemarin-kemarin sama Ayra. Takutnya Zidan jadi ngga nyaman karena Zia cemburuan," kata Zia jujur.


Zio mengangguk, ia paham sekarang apa yang dirasakan adik kembarnya.


"Cemburu kamu itu karena kamu masih takut. kamu takut cinta Zidan ke kamu ngga sebesar cinta kamu ke Zidan kan? Kamu takut Ayra masih ada di hati Zidan kan?" tanya Zio yang ternyata tepat sasaran.


Zia malah baru tau arti cemburunya karena itu, selama ini ia hanya tau jika dadanya sesak saat melihat interaksi Zidan dan Ayra. Perlahan Zia menganggukkan kepalanya, benar dia takut karena dia sendiri dulu menjadi saksi betapa besarnya cinta Zidan dan Ayra.


"Kamu harus belajar kontrol rasa cemburu kamu ya? Jangan sampai berlebihan dan malah ngerugiin hubungan kalian." Zia mengangguk, akan berusaha melakukannya.


"Sekarang masih suka cemburu?" tanya Zio lagi.


Zia menggelengkan kepalanya, "Zidan selalu bisa buat Zia langsung ilang gitu aja cemburunya."


"Bagus dong kalo gitu. Berarti dia sabar, nerima kamu apa adanya. Tinggal kamu-nya yang harus bisa seimbangin, kamu harus urus baik-baik suami kamu." Zia mendengarkan dengan seksama petuah dari sang kakak.


Ting!


Zio dan Zia mengambil ponsel masing-masing saat mendengar ada notif. Dalam diam mereka membaca berita yang dibuka dari link yang dibagikan di grup.


Saling tatap sebentar, lalu saling peluk. Berita ditangkapnya Tuan Willy Kendrick sudah menyebar, juga dengan sederet kasus yang menderanya.


"Sebentar lagi. Sebentar lagi semuanya terbalas," ucap Zio.


¤¤¤¤¤


..."Tidak ada sesuatu yang adil di dunia ini, Keadilan hanya milik Tuhan."...


¤¤¤¤¤


...Haii....👋...


...Aku up nih....♥♥...


...Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah, dan follow akunku ya...🤗🤗...


...Follow IG ku juga : miarahma833...


...Bye👋👋...

__ADS_1


__ADS_2