Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
83. Penghianat


__ADS_3

BRAK!


Semua anggota Atlansa, baik inti maupun bukan terkejut saat sang ketua melempar tubuh seseorang ke atas meja di tengah-tengah mereka.


Tidak ada yang berani berbicara saat ini, apalagi melihat wajah Galen yang sudah memerah, napas yang memburu, dan gigi yang sudah saling bergemelutuk. Jika bukan Keyna, siapapun akan terkena imbasnya jika berkomentar.


"KALIAN LIAT INI SIAPA?" teriak Galen menunjuk wajah babak belur salah satu anggotanya, Janu.


Mereka semua mengangguk. Rasa penasaran harus mereka tahan, hanya menunggu sang ketua berbicara adalah hal paling aman.


"DIA PENGHIANAT!" teriak Galen dengan napas yang memburu. Semuanya memandang ke arah Janu yang terlihat tidak berdaya di atas meja, entah harus kasihan atau bagaimana, tapi apa yang telah diperbuatnya sampai sang ketua mereka marah besar seperti ini.


"Zidan," panggil Galen dengan nada suara yang sudah sedikit turun.


Zidan mengangguk lalu berpindah posisi ke sebelah Galen, "Iya Gal?"


"Mau lo apain nih penghianat?" tanya Galen membuat Zidan bingung, begitupun yang lainnya.


"Gue?" bingung Zidan mewakili kebingungan yang lainnya, karena Galen sudah bertanya padanya berarti dia punya hak berbicara sekarang.


"Iya. Lo yang dirugiin sama dia," jawab Galen dengan tatapan yang ingin sekali membunuh penghianat ini.


"Dia yang bawa Zia pulang waktu ultah Sherena. Dia juga yang udah sebarin foto lo sama Zia di mading sekolah!" lanjut Galen dengan nada yang kembali meninggi.


Zidan membulatkan matanya, tangannya pun terkepal menahan amarah. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu kembali terkejut dan pastinya marah. Apalagi inti Atlansa, mereka yang mengetahui dampak yang dirasakan sahabat mereka akibat perbuatan Janu.


"Anj**g!" umpat Zio lalu memukul Janu sekali, tapi sangat kuat, saking kuatnya sampai Janu tergeletak dan pingsan. Kakak mana yang rela foto tanpa busana adiknya disebar luaskan seperti itu, apalagi oleh seoramg penghianat seperti Janu.


"Mau diapain Dan?" tanya Galen lagi. Zidan sedari tadi hanya diam dengan wajah memerah dan terus memandangi Janu. Jujur, Zidan marah, sangat marah malahan. Secara tidak langsung Janu juga yang membuat kondisi Zia waktu itu drop dan harus kehilangan salah satu calon anak mereka.


"Gue maunya orang kaya gini mati. Tapi karena istri gue lagi hamil, gue mau serahin ini ke yang berwenang," jawab Zidan yang tidak ingin mengotori tangannya untuk membunuh orang. Tapi manusia seperti Janu apakah halal untuk dibunuh?


"Mau lapor polisi?" tanya Galen yang diangguki Zidan.


"Tolong bawa ke RS," pinta Zidan pada salah satu anggota. Tubuh tak berdaya Janu digotong oleh dua anak Atlansa dan akan dibawa ke rumah sakit sesuai permintaan Zidan. Langit akan melemparkan kunci mobil Atlansa untuk membawanya ke rumah sakit tapi tidak jadi, tidak sudi mobil yang biasa mereka gunakan ditumpangi seorang penghianat.


Sepeninggalan Janu, mereka mulai kembali relaks dari ketegangan tadi. Namun, belum ada yang berubah dari raut wajah para inti, mereka masih menahan untuk tidak melampiaskan kemarahan mereka.

__ADS_1


"Yang mau di sini silahkan, yang mau pulang silahkan. Gue cabut," pamit Galen kemudian keluar dari basecamp setelah membanting pintu.


Zidan juga melakukan hal yang sama, Zidan akan pulang saja daripada di sini dan terus menahan amarah. Begitupun Zio, kakak kembar Zia itu langsung pergi tanpa berucap apapun.


Rumah Keluarga Zidan.


Sesampainya di rumah, Zidan tidak langsung masuk. Zidan mencoba mengatur emosinya agar tidak kelepasan, apalagi kalau sampai kena ke Zia, Zidan pasti akan sangat menyesal nantinya. Di dalam mobil, Zidan mengatur napasnya dan membaca doa agar setan tidak menguasai pikirannya.


"Bismillah."


Zidan sudah memantapkan dirinya untuk menemui sang istri. Berjalan memasuki rumah lalu menaiki anak tangga dan berakhir di depan pintu kamarnya dan Zia.


Ceklek.


Grep!


Zidan langsung memeluk tubuh Zia dari belakang, Zia yang tengah menyisir rambut itupun menghentikan kegiatannya.


"Kenapa?" tanya Zia dengan lembut. Apalagi saat Zidan membenamkan wajah di bahu Zia.


Zia mengangguk lalu membiarkan Zidan memeluknya. Setelah beberapa menit Zidan melepaskan pelukannya, tapi ternyata hanya membalik tubuh Zia lalu kembali memeluknya lagi dari arah depan.


Niat hati ingin bertanya sedari tadi Zia urungkan. Baru pertama kali Zidan pulang pulang langsung seperti ini. Pasti ada yang terjadi sesuatu di basecamp. Karena sewaktu akan berangkat, Zidan baik-baik saja.


Yang bisa dilakukan Zia adalah membalas pelukan Zidan dan mangusap punggung lebar suaminya itu.


Zidan menghirup aroma rambut Zia yang wangi dan perasaan marah Zidan pun perlahan menurun pada tingkat yang bisa dikendalikan, tapi masih membutuhkan pelukan istrinya agar marahnya hilang.


Hingga sepuluh menit pelukan Zidan tidak kunjung lepas, jangankan lepas mengendur saja tidak.


"Udah belum? Kaki aku udah pegel," kata Zia yang langsung mmebuat Zidan melepaskan pelukannya. Zidan sampai lupa kalau Zia tidak bisa berdiri dalam wakti yang lama.


"Maaf maaf..." Zidan langsung menuntun Zia untuk duduk di tepi ranjang.


"Udah peluknya atau belum? Sini peluk lagi kalo masih marah," kata Zia dengan merentangkan tangannya dalam posisi duduk. Zidan yang melihat itu pun gemas sendiri lalu kembali memeluk tubuh Zia.


Hanya sebentar. Sekitar satu menit kemudian Zidab melepas pelukannya.

__ADS_1


"Udah, makasih ya," kata Zidan lalu mengecup dahi Zia. Zia mengangguk sembari tersenyum, padahal dia tidak melakukan apapun tapi mendapat ucapan terima kasih.


Di lain tempat juga sama.


Galen tengah memeluk tubuh Keyna dari samping. Karena Keyna sedang bermain dengan Arin dalam posisi duduk , membuat Galen memeluk Keyna dengan posisi sekarang ini. Dan ya, Galen mau malam malam ke vila hanya untuk mendapat pelukan penenang ini.


Keyna yang mendengar napas memburu Galen sudah langsung paham jika kekasihnya ini tengah menahan amarah.


"Jangan kelepasan, ada Arin," bisik Keyna yang diangguki Galen.


"Papa kenapa Ma?" tanya Arin yang dibalas senyuman dan usapan lembut di kepala dari Keyna.


"Lagi marah sayang... Biarin biar marahnya ilang dulu ya... nanti jadi bisa main sama Arin," kata Keyna dengan jujur.


Dengan menggemaskannya Arin mengangguk dan melanjutkan mainnya dengan sang mama yang digelendoti papanya.


Kita ke pasangan yang satu lagi. Zio dan Sherena.


Sherena terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Zio ke rumahnya. Apalagi pacarnya itu hanya diam dan terus memeluk tubuhnya.


Karena memang hubungan keduanya belum lama, Sherena belum peka apa yang terjadi, tapi ia cukup pandai mengambil sikap berkat drakor-drakor yang sering ia tonton. Setidaknya Sherena tidak mengeluarkan omelannya dan malah mengusap punggung Zio.


Pada intinya, mereka yang terlihat kuat juga butuh pelukan. Mereka butuh tempat untuk meredakan emosinya, dan mereka hanya butuh ditemani tanpa ditanya 'kenapa'. Biarkan mereka bercerita saat amarahnya sudah mereda.


##


Hai Haiiiii👋


Aku berasa udah lama ngga up..


Semoga kalian suka yaa♥...


Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah, dan follow akun aku yaaa♥.


Ngga maksa kok, lakuin salah satu aja aku udah seneng.♥


Bye Bye 👋👋

__ADS_1


__ADS_2