
Zia kini mulai merasa ada yang Zidan sembunyikan. Jika sekali atau dua kali, Zia masih bisa percaya jika Zidan memang terluka karena membantu orang. Tapi tidak jika setiap malam, setiap pulang kerja Zidan pasti membawa luka baru.
"Nolongin orang lagi?" tanya Zia yang tengah mengobati luka di pelipis Zidan, sepertinya luka karena dilempar benda yang keras.
Zidan mengangguk membuat Zia menghela napas. "Setiap malam luka kaya gini? Sampe aku lahiran bisa-bisa kamu udah di-opname."
"Heh! ngomongnya jangan kaya gitu, aku harus sehat waktu kamu lahiran," balas Zidan dengan nada yang semakin merendah sampai akhir kalimatnya. Tangannya juga menyentil bibir Zia pelan.
"Ya lagian setiap pulang kerja pasti ada luka baru. Kerjaan kamu tuh akuntan bukan kuli bangunan, nggak akan juga kecelakaan kerja kaya gini," ucap Zia yang sebenarnya tidak tega melihat wajah Zidan yang banyak bekas lukanya.
"Kalo pulangnya langsung pulang bisa ngga? Jangan nolongin orang terus, aku nggak tega liat luka kamu kaya gini tiap malem," pinta Zia dengan pelan. Egois kah dia meminta Zidan untuk tidak menolong orang?
Zidan terdiam. Ia masih harus terus membujuk papa mertuanya, tidak bisa berhenti begitu saja sampai usahanya berhasil.
"Bisa?" tanya Zia sekali lagi.
Dengan terpaksa Zidan mengangguk pelan. "Aku usahain."
"Harus," saut Zia dengan tegas kemudian beranjak untuk mengembalikan kotak P3K pada tempatnya.
Zidan menatap punggung Zia, berharap usahanya segera membuahkan hasil. Apalagi kandungan Zia sudah masuk ke bulan sembilan.
¤¤¤¤¤
"Putra saya belum juga pulang, malah kamu yang tiap hari datang! Dasar nggak punya malu!" maki Papa Riyan saat Zidan kembali datang untuk ke sekian kalinya. Tentu dengan wajah yang masih membekas banyak bogemannya setiap malam.
"Om, bisa dengerin permintaan saya sekali saja? Jika memang tidak mau mengakui saya sebagai menantu, setidaknya akui Zia sebagai putri Om." Zidan tidak bosan-bosan mengucapkan itu setiap harinya.
Jika biasanya papa Riyan akan langsung menghantam tubuh Zidan, kini tidak. Papa mertuanya hanya terdiam dengan wajah yang penuh amarah.
"Bisa. Asal kembalikan putri saya seperti semula, saat masih gadis dan tidak hamil," kata papa Riyan yang sukses membuat Zidan naik pitam.
"Mustahil Om," saut Zidan dengan nada beratnya. Jika dulu ia bisa, tanpa diminta pun ia akan melakukannya.
__ADS_1
"Om... Please... Om hanya perlu akui Zia sebagai anak. Tidak untuk merawat dan menjaganya, karena tugas itu sudah menjadi tanggungjawab saya, hanya maaf Om yang saya Zia sangat harapkan sekarang," ucap Zidan yang tidak ingin menyerah begitu saja.
Papa Riyan terdiam dengan pandangan yang lurus ke depan. Selama beberapa saat, hanya suara angin dan napas merekalah yang terdengar, sisanya hening.
"Ceritakan secara detail dari awal kejadian sampai kalian bisa memecahkan kasus Tuan Willy," ucap papa Riyan secara tiba-tiba. Zidan dengan jelas mendengar permintaan sang mertua, lalu ia mengalirkan cerita dari awal hingga akhir di persidangan kemarin.
Cerita yang sangat panjang, bahkan sudah satu jam mereka tanpa sadar saling berbincang di teras rumah. Zidan akan menjawab semua pertanyaan yang diajukan sedetail mungkin.
"Lima bulan di kontrakan? Zia mau?" tanya papa Riyan yang diangguki Zidan.
Zidan menjelaskan bagaimana keadaan awal mereka dulu, bagaimana dia menghabiskan waktu hanya untuk bekerja dan Zia yang belajar menjadi istri yang mengerti keadaan. Tentang bagaimana mereka bertumbuh dewasa dalam keadaan tersebut.
"Jadi, Om mau kan memaafkan Zia, cukup Zia dulu. Untuk memaafkan saya memang bukan hal mudah, putri Om direnggut masa remaja dan masa depannya oleh saya," kata Zidan setelah semuanya mereka bahas.
Papa Riyan masih diam, memikirkan remaja di depannya ini begitu pantang menyerah meminta maaf dan memohon setiap hari demi istrinya membuat kerasnya hati dia perlahan retak dan pecah.
Anggukan kepala pelan membuat Zidan mengucap syukur sebanyak-banyaknya. Dua minggu dia terus menerus berusaha meluluhkan hati sang mertua, dan akhirnya menemukan sebuah titik terang.
"Om?" ucap Zidan tidak percaya.
"Zia, Om. Zia punya keinginan ada Om saat dia melahirkan nanti, dia ingin dukungan dari papanya," jawab Zidan mantap.
"Kapan?"
"Apanya Om? Zia melahirkan?" tanya Zidan yang dijawab anggukan kepala dari papa Riyan.
"HPL tepat dua minggu lagi dari sekarang, Om," ucap Zidan.
Papa Riyan tidak menjawab malah dia berdiri dari duduknya, "Sana pulang!" usirnya.
Zidan mengangguk, walaupun belum mendapat jawaban pasti akan hadir atau tidaknya papa Zia, tapi ia yakin papa Riyan akan mempertimbangkan ucapannya. Apalagi nada bicaranya sudah tidak berada di delapan oktaf tapi sudah turun walaupun masih ketus.
"Makasih Om atas waktunya," ucap Zidan lalu akan menyalimi papa Riyan, tapi malah papa Riyan menyembunyikan tangannya di belakang badan. Zidan tidak mempermasalahkan itu yang penting ia sudah mendapatkan maaf papa Riyan untuk Zia.
__ADS_1
¤¤¤¤¤
"Tumben nggak ada luka baru," kata Zia saat sedang mengamati seluruh tubuh Zidan saat baru saja pulang.
"Alhamdulillah," jawab Zidan singkat lalu mengecup kening Zia.
"Tapi lebih larut dari biasanya. Hampir jam dua belas," ucap Zia menunjuk jam tangan hitam di tangan Zidan.
Zidan mengangguk, "lembur."
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Zidan kemudian.
Zia menunjuk perutnya yang sudah sangat buncit, "Pengin pipis terus, baru tidur sebentar udah kebelet pipis lagi."
Zidan mengangguk lalu mengecup perut buncit Zia. Membisikkan sesuatu yang Zia tidak bisa dengar, hanya Zidan, baby, dan Tuhan yang tau.
"Ngomong apa sih kamu?" kepo Zia saat Zidan sudah kembali berdiri tegak.
"Rahasia," jawab Zidan lalu terkekeh saat melihat wajah cemberut Zia.
"Ya udah yuk tidur," ajak Zidan tapi Zia menolak.
"Bentar dulu, Aku mau pipis lagi," jawab Zia yang kembali berjalan ke arah kamar mandi.
Zidan pun menuntun Zia ke kamar mandi, bahkan ikut masuk ke dalam karena akan membersihkan diri.
"Udah mau keluar kayanya, udah gede banget gitu," komentar Zidan saat Zia duduk di atas kloset.
"Iyaa kan emang dua minggu lagi," jawab Zia yang tengah buang air kecil tanpa canggung sama sekali. Zidan juga tampak biasa saja melepas bajunya, sudah terbiasa mereka.
"Makin deg-degan aku..." keluh Zia yang baru saja menyelesaikan urusannya.
"Sama. Kamu keluar dulu sana biar nggak kecipratan." Zidan menjawab saat akan menyalakan shower. Zia pun keluar sebelum lantai basah.
__ADS_1
Zia berhenti di depan pintu kamar mandi saat merasakan perutnya mengencang, seperti kram menstruasi.
"Tambah keras aja," ucap Zia saat melanjutkan langkahnya. Memang sudah beberapa hari ini seting merasakan kram seperti itu dan sudah tidak khawatir karena bunda Dian bilang itu wajar menjelang persalinan.