
Di perjalanan pulang dari basecamp.
"Aku pengin sesuatu," ucap Zia pada Zidan yang tengah menyetir.
Zidan menoleh dan tersenyum sejenak pada sang istri sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya, "Pengin apa?"
"Pengin nasi padang," jawab Zia antusias, di benaknya sekarang nasi padang akan sangat enak di makan malam malam begini.
Zidan mengangguk lalu memelankan mobilnya sembari menengok ke kanan dan kiri guna mencari penjual nadi padang, lumayan susah karena sudah malam.
"Nah itu," tunjuk Zia saat melihat warung makan padang di kiri jalan. Zidan pun menghentikan mobilnya di depan warung nasi padang tersebut.
"Jangan turun dulu," ucap Zidan saat Zia akan membuka pintu mobil. Zidan segera turun dan berlari mengitari bagian depan mobilnya untuk membukakan pintu untuk Zia. Bukan apa apa, tapi posisi Zia di sisi jalan yang ramai membuat Zidan khawatir akan keselamatan istri tercintanya.
"Makasih," ucap Zia sembari tersenyum manis saat Zidan tengah membantunya turun dari mobil. Zidan mengangguk kemudian menuntun Zia berjalan ke arah warung nasi padang tersebut.
"Permisi Bu, nasi padangnya dua ya," ucap Zidan. Ibu penjual nasi padang tersebut mengangguk.
"lauknya apa Mas?" tanya penjual nasi padang tersebut.
"Apa?" tanya Zidan ke Zia. "Rendang ya Bu," jawab Zia.
"Dibungkus?" tanya Ibu penjual itu lagi, biasanya jika yang berpenampilan seperti mereka tidak akan mau makan di tempatnya yang kecil dan tidak higienis.
Zidan melihat ke arah Zia, meminta pendapat yang sedang ngidam, "Makan di sini aja," jawab Zia.
"Baik Mas Mba silahkan duduk," ucap Ibu tersebut mempersilahkan.
Zidan menuntun Zia untuk duduk dengan perlahan. Setelah duduk, Zia tidak lupa mengucapkan terima kasih. Sudah tidak protes seperti biasanya, tidak apa Zidan memperlakukannya berlebihan, lagian ia juga nyaman dengan perlakuan Zidan.
Zia mengedarkan pandangannya sembari menunggu pesanannya jadi. Saat sedang asik memandangi jalan raya, Zia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang mengais ngais tempat sampah di depan warung, pakaiannya sangat lusuh begitupun dengan tubuhnya. Seketika hati Zia terenyuh melihatnya, kasihan sekali. Apalagi perempuan itu sesekali melihat ke arah etalase yang berisi menu menu lauk nasi padang.
"Zidan, liat itu deh," kata Zia sembari menggerakkan dagunya ke wanita paruh baya itu. Zidan melihat apa yang Zia tunjuk lalu tersenyum manis saat tau apa yang istrinya pikirkan.
"Aku temuin dulu ya?" pamit Zidan kemudian berdiri lalu menghampiri perempuan yang sepertinya pemulung.
__ADS_1
"Ibu lagi ngapain?" tanya Zidan membuat perempuan yang sedang mengorek tempat sampah itu terkejut dan seketika wajahnya menjadi panik.
"Maaf Mas saya hanya mencari botol bekas. Kalau tidak boleh saya akan pergi kok," ucap ibu itu sembari menunduk.
Zidan menepuk bahu wanita yang sepertinya sudah berumur lima puluhan, "Engga Buk. Saya malah mau ngajak ibu makan bareng saya sama istri saya," ucapnya sembari menunjuk Zia yang tengah menatap mereka.
Ibu itu melihat Zidan dan Zia, penampilan keduanya terlihat sekali bahwa mereka adalah orang berada. "Beneran Mas? Saya kotor gini," katanya yang merasa tidak pantas makan bersama dengan Zidan dan Zia.
"Bener Bu, ayo masuk." Zidan menarik tangan ibu itu tanpa sungkan ataupun jijik. Ibu itu hanya menurutinya sampai ia duduk di depan Zia.
"Bu, satu lagi ya lauknya sama," ucap Zidan saat penjual nasi padang tersebut meletakkan dua piring di hadapannya dan Zia.
"Ngga boleh," ucao Zia tiba-tiba. Tiga manusia beda usia itu menatap heran pada wajah imut Zia.
"Kenapa?" tanya Zidan yang bingung dengan tingkah Zia, semoga saja ia tidak tidak main-main dengan perempuan pemulung di hadapan mereka.
"Jangan cuma satu, semuanya Zia borong ya?" ucap Zia membuat Zidan tersenyum bangga.
"Pake uang yang kamu kasih ke aku nggapapa kan? Aku mau bagiin itu ke orang-orang yang membutuhkan," tanya Zia pada Zidan. Tidak apa jatah bulanannya berkurang, yang penting keinginannya tercapai.
"Saya pesen satu lagi buat di makan di sini, dan semua sisanya dibungkus ya Bu," ucap Zidan sembari menyerahkan uang pecahan seratus ribu sebanyak dua puluh lembar. "Kurang ngga Bu?"
Ibu penjual tersebut menggeleng, "Malah lebih Mas, dagangan saya hanya tinggal harga sekitar lima ratus ribuan."
"Ya udah nggapapa. Sisanya buat ibu ini kalau mau makan di sini lagi. Ibu bisa kan saya kasih amanah untuk terus kasih ibu ini makan di sini sesuai dengan sisa uang ini?" tanya Zidan yang mendapat anggukan dari penjual itu.
"Bisa Mas."
"Kan Zia yang mau bayar," ucap Zia dengan mengembungkan pipinya saat penjual itu sudah kembali menyiapkan pesanan mereka.
Zidan tersenyum, "Udah simpen aja uangnya. Kan itu jatah bulanan kamu."
"Kan belum pernah Zia pake, masih banyak kok," kata Zia. Jatah bulanannya memang lumayan banyak, bahkan dia diberi kartu ATM oleh Zidan beberapa hari yang lalu.
"Ya udah deh ini buat ibu aja ya," kata Zia sembari menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, saya terima ya mbak. Terima kasih banyak," ucap ibu itu sembari menciumi tangan Zia. Bahkan ibu itu sudah menangis, dan saat ditanya kenapa menangis dia menjawab katanya belum membayar uang sekolah anaknya yang sudah menunggak selama dua tahun.
"Makan Bu," ucap Zidan dan mereka memulai makannya, Zidan dan Zia sengaja menunggu pesanan ibu itu sampai agar bisa makan bersama.
Ibu itu makan dengan lahapnya, mata Zia sampai berembun melihat cara ibu itu makan seperti sudah lama menahan lapar.
"Ibu kapan terakhir kali makan Bu?" tanya Zidan di sela sela makan mereka.
"Kemarin pagi Mas. Maaf jika cara makan saya menganggu kalian," jawab ibu itu sembari menunduk. Menyesal karena mungkin dua orang kaya dihadapannya terganggu.
"Engga Kok Bu. Zia juga sering makan kaya ibu gini, apalagi setelah hamil, bawaanya laper terus," ucap Zia menennagkan ibu tersebut.
Ibu tersebut pun mengangguk dan mereka terus mengobrol di sela sela makan mereka. Zidan jadi ingat, beberapa bulan lalu ia sering menahan lapar tanpa sepengatahuan Zia, Zidan lebih memilih menyimpan uangnya untuk menuruti setiap ngidam Zia daripada untuknya makan.
"Ini Mas Mba semuanya sudah saya bungkus," ucap pemilik warung sembari meletakkan beberapa kantong kresek besar nasi padang dengan dibantu lelaki yang sepertinya suami dari ibu penjual nasi padang itu.
"Terima kasih ya Bu, Bapak boleh bantu saya memasukkannya ke mobil?" tanya Zidan dnegan sopan pada bapak bapak di sebelahnya. Bapak itu mengangguk lalu kembali mengambil kresek berisi nasi padang dan mengikuti Zidan keluar.
Zia mengambil beberapa bungkus nasi padang dari kantong kresek besar itu lalu memberikannya pada ibu pemulung tersebut, "Ini buat anak Ibu, kalo lebih boleh di kasib ke tetangga."
"Makasih banyak Mba. Saya doakan Mba sehat selalu dan nanti lahirannya lancar ya Mba," ucap pemulung itu dan Zia mengaminkan doa tersebut dengan tangan yang mengusap perut buncitnya.
"Udah ayok," ajak Zidan kembali menghampiri Zia. Zia mengangguk dan mereka berpamitan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan mereka sering berhenti guna memberikan nasi padang itu pada yang menurut mereka membutuhkan, seperti tukang ojek, tukang becak, pemulung, anak jalanan, dan pengemis. Sungguh, walaupun mereka pulang larut malam sampai Zia tertidur di mobil tapi mereka senang karena bisa membantu orang lain walaupun tidak seberapa.
Zidan berjanji dalam hatinya, jika dia sudah benar-benar sukses nanti ia akan banyak bersedekah dan membantu banyak orang.
##
Hai semuanyaa👋
Aku update nih walaupun aku lumayan sedih nih karena komentar di bab sebelumnya sedikit banget 😌
Seperti biasa, jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah atau tips gitu biar aku makin semangat Updatenya🤭
__ADS_1
Next ngga nih?