Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
60. Yang Paling Berkuasa


__ADS_3

"Berarti belum mulai nendang Bun?"


Bunda Dian menggelengkan kepalanya saat Zidan bertanya. "Hamil anak pertama emang lebih lama mulai nendangnya, bisa sekitar minggu ke dua puluh limaan."


Zidan mengangguk, ternyata benar apa yang dikatakan Zia hari itu.


"Oh iya, Bunda mau ingetin. Kalau berhubungan pake cara yang aman ya," saran Bunda Dian, ia tadi tidak sengaja melihat leher Zia yang hanya tertutup kerah.


"Gimana caranya Bun?" tanya spontan Zidan.


"Women on top lebih aman buat ibu hamil. Akan tetapi kalau masih umur segini kandungannya masih bisa kok yang biasa aja." Sungguh Zidan sekarang malu dengan pertanyaannya sendiri. Sedangkan Zia, wanita itu malah terlihat kebingungan, terlihat dari caranya menatap Zidan dan Bunda secara bergantian.


"Zidan tau kan caranya?" tanya Bunda Dian yang sudah geli sendiri melihat ekspresi malu Zidan. Anaknya sekarang sudah besar, bahkan sudha akan mempunyai anak.


Zidan rasanya ingin tenggelam saja ke lautan. Bagaimana bisa bundanya membahas hal ini tepat di hadapannya sendiri. Zidan memamggapinya hanya dengan nyengir karena malu.


"Zia punya foundation?" Zia mengangguk dan sudah menganggap pembicaraan bunda dan Zidan tadi sebagai angin lalu, tidak penting menurutnya, atau otaknya yang tidak sampai.


"Besok besok kalo mau pergi olesin ke leher ya?" Zia mengangguk lagi, tangannya meraba area leher yang ternyata sudah tidak tertutup sempurna oleh kerah baju.


"Zidan mainnya juga jangan ganas ganas. Inget terus kalo ada baby kalian di perut Zia."


Sudahlah, Zidan kini memilih tetap diam saking malunya. Kenapa Zia bisa seceroboh itu tidak menutupi maha karyanyabitu.


°°°°°


Inti Atlansa kini sedang berkumpul di basecamp. Hanya berempat karena Zidan izin menemani Zia check up kandungan, maklum calon bapak siaga.


"Yang masih jadi pertanyaan besar di otak gue, siapa yang udah bawa Zia pulang. Karena sebelum gue manggil Zio waktu itu, Zia ada di parkiran, tepat di sebelah motor Zio." Semua memperhatikan ucapan Dyu, karena memang Dyu satu-satunya orang yang terakhir kali melihat Zia di pesta Sherena waktu itu.


"Yang lebih heran, kendaraan yang nganter Zia ngga keliatan di CCTV kemaren," tambah Zio.

__ADS_1


"Bisa aja dari arah berlawanan, kan kita liat dari sisi kanan rumah, bisa aja yang bawa Zia dari arah kiri, ada jalannya kan Zi?" Zio mengangguk membenarkan ucapan Langit, kenapa ia melupakan jalan di sebelah kiri yang menurutnya cukup sepi dan jauh dari jangkauan CCTV. CCTV kemarin sayangnya tidak menyorot gerbang rumah Zio sepenuhnya, hanya sudut kecil yang terekam.


"Nanti gue coba bikin janji ketemu sama suaminya Ayra. Kalo bisa, soalnya dia orang penting banget, kalo cuman bahas masalah ini gue ragu dia bakalan mau apa engga." Semua mengangguki ucapan Galen. Pak Ervan tidak akan mudah ditemui orang sembarangan, apalagi mereka hanya anak SMA. Entah jika itu Galen.


"Usaha dulu aja," ujar Dyu.


"Kalo soal pelayan itu gimana?" tanya Galen pada Langit, karena Langit lah bagian penyelidikan itu.


Langit menggelengkan kepala, "Ngga ketemu. Mungkin udah diasingkan sama pelaku."


Galen menghela napasnya, lalu menatap Zio. "Kalo handphone?"


"Lumayan, ada beberapa kontak di sana. Gue udah coba lacak lokasinya, dan yah itu semua udah di luar pulau. Gue rasa ucapan Langit bener, kita kurang gercep jadi petunjuknya udah mulai dihilangin." Zio mengeluarkan ponsel tersebut dari dalam tasnya.


"Ngga ada yang deket sini lokasinya?" tanya Langit.


Zio meletakkan ponsel tersebut di atas meja, "Ada, di perusahaan besar. Kalo ngga salah namanya Kendrick. Oh iya nih Kendrick," tunjuk Zio pada nama perusahaan yang menjadi salah satu lokasi pemilik kontak tersebut.


"Oh ya? Apa pelakunya suami Ayra itu?" Galen mengedikkan bahunya akan pertanyaan Langit.


"Masih abu-abu menurut gue. Kalau emang suami Ayra pelakunya, buat apa kemarin mereka ngebiarin Zidan sama Zia tetep sekolah," ujar Galen. Semua yang di sana kembali berpikir, siapa kira-kira pelakunya itu.


"Emang keluarga Kendrick, Pak Ervan doang? Kan masih ada lainnya," ucap Langit.


"Lo tau Gal?" Kini Zio bertanya pada Galen, karena di antara mereka semuabyang paling mengenal Pak Ervan hanya Galen.


"Willy Kendrick, Sindi Aurora Kendrick, dan yang terakhir kalian kenal pasti. Adelia Kendrick," ucap Galen sembari memperlihatkan foto keluarga itu yang ia dapat dari sang ayah. Tentunya dengan segala bujuk rayu agar bisa mendapatkannya.


"What? Adel? Si nenek lampir itu dari keluarga konglomerat?" kaget Dyu, salut juga Adel tidak membeberkan identitasnya sebagai tuan putri dari keluarga kaya raya.


"Pantesan, mau bikin ulang seburuk apapun di sekolah ngga bakal dikeluarin, adik dari pemilik sekolah ternyata," ujar Zio mengingat bagaimana sekeji apapun kelakuan Adel, ujung-ujungnya hanya dipanggil ke BK lalu dihukum ringan, dan selesai. Tanpa ada poin yang mengancam sampai di drop out. Yang jika dikumpulkan dari setiap pembulian itu sudah pasti kena drop out.

__ADS_1


"Tapi kok, satu sekolah ngga ada yang tau ya?" heran Langit. Melihat tingkah angkuh Adel membuatnya berpikir, kenapa tidak disebarluaskan bahwa dia adim pemilik sekolah, bukannya akan memudahkannya untuk semakin berkuasa.


Galen meminum kopinya sebelum menjawab, "Kata papa gue sih, Pak Ervan yang ngga mau Adel berbuat semena mena dengan kekuasaan kakaknya itu."


"Kebayang ngga sih kalo satu sekolah tau Adel adik dari pemilik sekolah? Auto makin ngga ada yang berani sama tuh nenek lampir," kata Dyu sembari mengupas kulit kuaci. Mereka juga melakukan kegiatan yang smaa seperti remaja laki laki pada umumnya, yaitu merokok. Hanya Zidan yang benar-benar tidak merokok.


Zio terkekeh, tidak setuju dengan ucapan Dyu. "Masih ada sih menurut gue. Kita masih punya ibu negara tercintah, Keyna Athela. Dia ngga bakal tunduk sama tuh cewek."


Galen tersenyum saat nama itu disebut, memang tidak ada duanya pacarnya itu. Dengan kecerdasan, keberanian, dan kebaikan, gadis itu mampu menjadi orang yang disegani.


"Ampun suhuu," canda Dyu. Kemudian otaknya menangkap hal baru.


"Masih ada yang lebih berkuasa dong di sekolah," ucap Dyu.


"Siapa?" tanya Langit.


"Ayrania Dwi Pradipta. Istri pemilik sekolah. Weiisssss keren abiss," heboh Dyu membuat mereka tertawa saat menyadari tahta tertinggi di sekolah jatuh pada orang tercinta dari pemilik sekolah itu sendiri.


"Apa gabungnya Ayra sama Adel Cs ada hubungannya sama ini?" tiba-tiba suasana kembali serius saat Galen mengutarakan pikirannya.


°°°°°


"Om, kok kuping aku panas ya?" tanya Ayra pada Ervan saat mereka tengah duduk di kamar.


"Ada yang lagi ngomongin kamu kali," jawab enteng Ervan yang tengah sibuk dengan laptopnya.


°°°°°


Hallo semuanyaa 👋👋


Gimana sama bab kali ini? ♥♥

__ADS_1


Makin pusing mikirin pelakunya? Atau udah punya tebakan? Coba tulis di kolom komentar tebakan kalian!♥♥


__ADS_2