Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
22. Beneran Hamil


__ADS_3

"Zia!" Zia yang sedang duduk di pinggir lapangan indoor menolehkan wajah saat ada yang memanggil namanya, kemudian Zia tersenyum saat tau jika itu Keyna.


Keyna duduk di samping Zia yang Keyna tebak akan berlatih Chers, terlihat dari pakaian yang Zia kenakan.


"Sherena ngga ikut?" tanya Keyna saat tidak melihat sahabat bar-bar yang satu itu.


"Ikut kok Key, lagi makan siang dulu di luar sama Zio, sebentar lagi balik kayanya," jawab Zia.


"Yakin mau latihan?" tanya Keyna khawatir.


"Iya yakin, Zia mau latihan. Emang kenapa Key?" bingung Zia saat Keyna menanyakan hal yang menurutnya tidak begitu penting.


"Perutnya kalo buat latihan, terus lo yang di lepar-lempar gitu ngga sakit?" tanya Keyna lagi karena dia kemarin tidak sengaja melihat Zia dilempar yang malah membuat Keyna meringis, Zia malah semakin bingung dibuatnya.


"Engga Key, kan Zia usah biasa dari kelas sepuluh diangkat-angkat sama dilempar-lempar kaya gitu," jawab Zia sambil menggigit bibir dalamnya karena ia telah berbohong. Sebenarnya ia merasa sedikit kram perut saat dia terlalu aktif bergerak saat sedang latihan.


"Lo ngga pinter boong Zia." Zia menunduk saat Keyna mengetahui ia tidak berkata jujur.


Keyna memegang kedua bahu Zia, "Jujur ke gue, sakit kan perutnya kalo banyak gerak apalagi pas dilempar ke atas," desak Keyna.


Zia mengangguk perlahan, "Cuma sedikit kram aja Key," jawab Zia mengangkat kepalanya lagi dan menghadap Keyna. Keyna menghela napas gusar, dugaanya semakin kuat sekarang.


"Dengerin gue baik-baik. Gue masih curiga kalo lo hamil Zi. Lo tadi pagi mual lagi?" tanya Keyna.


Zia menggelengkan kepala, "Engga, cuma tadi malem waktu mau tidur."


"Oke. Lo masih ngga mau makan nasi kalo ngga pake omellet?" Zia hanya mengangguk.


"Lo masih ngerasa kembung perutnya?"


Kali ini Zia menggelangkan kepala. "Engga." Zia jujur, "Cuma sakit pinggangnya."


"Sebelah kiri?" tanya Keyna lagi, Zia mengangguk karena benar pinggang sebelah kiri dia sering sakit. Ia pikir karena terlalu lelah saat latihan.


"Lo belum datang bulan sampai sekarang?" Zia lagi lagi menggelengkan kepala.


"Kok Keyna tau semuanya?" tanya Zia heran.


"Gue kan ada Arin. Dari ibunya Arin hamil sampai sekarang gue yang urus segalanya, jadi gue tau semua tanda-tanda hamil," jelas Keyna.


"Dan lo ada semua tanda-tandanya. Jadi, gue masih yakin lo hamil. Dari kejadian itu sampe sekarang itu sekitar tiga minggu, dari pembuahan sampai jadi janin waktunya kisaran seminggu


jadi kemungkinan waktu lo tes minggu kemaren usia janinnya masih satu minggu jadi belum banyak hormon HCGnya di urine jadi hasilnya negatif," tambah Keyna, sedangkan Zia hanya mendengarkan sambil mencoba memahaminya.


"Jadi Zia sekarang hamil gitu Key?" tanya Zia dengan tangan menyentuh perut ratanya.

__ADS_1


"Kemungkinan iya, tapi gue ngga tau pastinya gimana. Coba ke mertua lo aja, kan dia dokter kandungan, biar lebih jelas," saran Keyna. Karena tanpa orang lain tau, Bunda Dian lah yang menjadi dokter kandungan ibunya Arin. Keyna pun kaget saat di pernikahan Zia dan Zidan. Yang ternyata Zidan adalah anak dari orang yang berjasa untuk Keyna.


"Coba nanti bilang ke Zidan ya?" Zia hanya mengangguk, walau hatinya ragu dan takut jika ucapan Keyna benar.


"Yaudah gue mau ke ruang OSIS dulu, lo latihannya jangan terlalu capek," pamit Keyna yang diangguki Zia.


Zia terdiam cukup lama, hatinya sekarang tidak tenang, ia takut kalau memang benar sekarang ia tengah hamil.


Zia mengedarkan pandangannya pada lapangan yang sudah mulai ramai anak Chers yang akan latihan, Zia secara refleks memegang perutnya saat mengingat dirinya adalah center di tim Chers kali ini, ia yang akan diangkat tinggi, dilempar, dan berputar di udara. Jika memang ada janin di perutnya, tentu itu akan berbahaya, apalagi jika ia sampai jatuh. Kemarin Zia juga mendapati bercak darah di ****** ********.


Zia berlari keluar lapangan dengan terburu-buru tanpa menghiraukan teman-teman Chers nya. Sherena yang baru akan masuk lapangan pun dibuat bingung.


"ZIA MAU KEMANA? NGGA LATIHAN?" teriak Sherena tapi Zia tetap tidak menghiraukannya.


°°°°°°


Ruangan berwarna putih yang rapi menjadi tempat Zia duduk sekarang, di depannya ada sang mama mertua yang dibuat bingung dengan kehadiran Zia.


"Sebentar ya. Zidan lagi ke sini," ucap Bunda Dian berusaha menenangkan menantunya.


Bunda Dian kaget saat Zia tiba-tiba datang ke ruangannya, untung sekarang sedang tidak ada pasien. Zia datang dengan muka yang cemas dan napas yang memburu, seperti habis berlari. Zia pun tiba-tiba menangis, dan tidak menjawab saat ditanya yang semakin membuat sang mertua bingung. Hingga akhirnya, menghubungi Zidan agar menyusul istrinya.


Tiba-tiba pintu dibuka dengan kencang, dan pelakunya ternyata adalah Zidan.


"Bunda, Zia kenapa?" tanya Zidan menoleh pada sang bunda saat tak mendapat jawaban dari Zia.


Bunda Dian menggelengkan kepalanya, "Bunda ngga tau, Bunda kira kalian ada masalah."


Zidan kembali memfokuskan dirinya pada Zia, "Zia gue ada salah sama lo?" tanya Zidan dan Zia hanya menggeleng lemah dengan air mata yang terus jatuh.


"Kenapa hm? Ada yang jahatin lo tadi?" tanya Zidan dengan lembut, Zia kembali menggelengkan kepala.


"Ada yang sakit?" tanya Zidan lagi, dan Zia lagi lagi hanya menggelengkan kepala.


Zidan yang tak mendapat jawaban dari Zia hanya mengusap bahu dan punggung tangan Zia yang terasa dingin. Menunggu Zia yang berbicara dengan sendirinya, sama seperti saat ia lupa tidak membelikan Zia rujak pesanannya.


"Kata Keyna Zia hamil," cicit Zia setelah beberapa menit ruangan itu senyap. Zidan menghela napasnya pelan.


"Kan udah di tes waktu itu hasilnya negatif," jawab Zidan.


"Kata Keyna belum tentu bener, jadi Zia ke sini mau tanya ke bunda, tapi waktu lihat poster-poster sama bacaan di ruangan ini Zia malah nangis, ngga tau kenapa," ucap Zia malah kembali menangis. Zidan dibuat bingung dengan keadaan Zia sekarang.


Bunda Dian bangun dari duduknya dan menghampiri sang putra dan menantunya yang sudah tiga minggu tidak bertemu.


"Mau bunda cek biar jelas di sini ada cucu bunda apa engga?" tanya Bunda Dian sembari mengelus perut rata Zia, Zia mengangguk menyetujui.

__ADS_1


Yang pertama adalah menggunakan tespack,


Zia sudah di kamar mandi untuk mengetesnya, sedangkan Zidan dan Bunda berada di pean pintu kamar mandi menunggu Zia.


"Bun, minggu kemaren udah di cek kaya gini, hasilnya negatif kok Bun," ucap Zidan pada sang bunda.


"Bisa aja tespacknya rusak, atau emang hormon HCG nya belum banyak jadi ngga terdeteksi, kita lihat aja nanti, mungkin udah bisa keliatan kalo sekarang," jawab Bunda Dian tersenyum.


Zia keluar dengan tespack yang dibungkus kertas tissue, Zidan segera mengambilnya saat tau Zia tidak berani melihatnya seperti minggu kemarin.


Matanya membulat sempurna saat melihat hasilnya, "Dua garis," gumam Zidan.


"Kan Bunda bilang juga apa, Keyna kan salah satu pendamping pasien Bunda yang paling pinter, ngga ragu bunda sama prediksi dia," ujar bunda sembari menuntun menantunya menuju ranjang pemeriksaan, Zidan hanya mengikutinya dengan diam.


"Kita USG ya siapa tau udah keliatan," Zia diarahkan untuk berbaring dibantu Zidan, sedangkan Bunda Dian menyiapkan alat-alatnya.


"Buka seragamnya dikit ya," izin Bunda saat menyingkap baju Chers Zia sampai bawah payudara.


Bunda Dian mengoleskan gel dingin di perut Zia dan menggerakkan transduser di atas perut Zia. Bunda terlihat fokus pada layar hitam di sebelahnya.


"Belum kelihatan jelas karena usianya baru tiga minggu, baru sebesar jarum saja, yang kalihatan baru kantung kehamilan saja Nih. Tapi udah pasti kalo Zia hamil," jelas Bunda sambil menunjukkan layar USG.


"Bun," panggil Zidan dengan suara bergetarnya, bunda yang mengerti perasaan Zidan langsung menaruh alatnya dan memeluk tubuh tegap anaknya. Zidan memeluk erat sang bunda dan menangis di sana.


"Selamat ya sayang. Harus bersyukur ya, Tuhan udah kasih itu ke Zidan berarti Zidan dikasih kepercayaan buat jadi orang tua," bisik Bunda di dalam pelukan mereka.


"Zidan takut," lirih Zidan, bunda mengelus rambut belakang Zidan saat mendengar ucapan Zidan. Zidan bingung harus bahagia atau sedih sekarang.


"Enggapapa, Zidan bisa kok. Nanti Bunda bantu," ucap bunda berusaha menenangkan sang putra yang bahunya bergetar karena tangisnya. Bunda melepaskan pelukannya saa dirasa sang putra sudah sedikit tenang.


Zia juga sudah menangis dalam diamnya, ia sama takutnya dengan Zidan, ia merasa belum siap menjadi ibu di usianya sekarang, apalagi dengan sifat cerobohnya, ia takut tidak bisa menjaga janin di perutnya.


"Bangun yuk, kita ngobrol di kursi," ajak Bunda membantu Zia bangun dan turun dari ranjang.


"Apa yang Zia rasain akhir-akhir ini?" tanya bunda saat mereka sudah duduk.


"Zia kadang paginya mual sampe muntah gitu Bun, kalo abis muntah ngga bisa makan apapun karena pasti nanti Zia muntah lagi. Malemnya juga sama Bun, " Zia meceritakan yang dialaminya.


"Kalo nafsu makannya naik?" tanya Bunda lagi.


"Naik Bun, Zia bisa abisin semua jajanan pasar yang Zidan beli, tapi abis itu masih laper lagi," jawab Zia mulai tersenyum dan sudah tidak menangis lagi. Zia juga bercerita tentang begah dan sakit pinggangnya.


"Semuanya wajar kok. Itu semua emang tanda kalo janinnya sedang berkembang," terang bunda. Namun, tiba-tiba raut wajah Zia seperti takut.


"Zia kemaren keluar bercah darah gitu enggapapa Bun?"

__ADS_1


__ADS_2