Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru


__ADS_3

Zia sedang mondar-mandir dengan menggendong baby Zavian yang terus saja menangis.


"Stt... Kenapa sayang? Jangan nangis terus yaa," kata Zia yang matanya malah ikut berkaca. Diberi ASI sudah, tidak pipis, tidak pup, lalu apa lagi? Zia bingung.


"Zavian...udah ya?" Zia tidak tega melihat putranya terus menangis sampai wajahnya yang masih merah tambah memerah.


Zia melihat jam dinding, baru pukul tujuh malam mungkin bunda Dian sudah pulang. Zia berinisiatif keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Baru sampai di tengah tangga terlihat bunda Dian membuka pintu rumah.


"Kenapa Zavian, Zi?" tanya bunda Dian menghampiri menantunya.


Zia menggelengkan kepalanya, "Nggak tau. Dari tadi nangis terus."


"Zia bawa ke kamar dulu. Bunda ganti baju, nanti nyusul," ucap bunda Dian. Tidak mungkin dia menggendong Zavian saat dirinya seharian di rumah sakit, tempatnya penyakit.


Zia mengangguk lalu kembali naik ke lantai dua. Tanpa diminta, air matanya sudah luruh. Zia masih terlalu takut jika Zavian menangis terus seperti ini.


Tidak sampai lima menit, bunda Dian sudah di kamar Zia. "Sini coba sama bunda."


Saat sudah di gendongan bunda Dian, Zavian masih saja menangis membuat Zia semakin khawatir.


"Coba ambilin bedong," kata bunda Dian. Semua yang pernah ia pelajari dulu, coba diterapkan.


Zia mengambil bedong lalu memberikannya pada bunda Dian. Dengan telaten bunda Dian memakaikan bedong pada cucu kesayangannya itu.


"Cup... cup... cup... cucu grandma udah ya nangisnya," kata bunda Dian.


Dan benar saja, tidak lama dari Zavian selesai dibedong, bayi imut itu langsung diam.


"Oh Zavian mau dibedong ya?" ucap bunda Dian sembari mengusap pelan air mata Zavian.


Zia bisa tersenyum lega saat Zavian sudah berhenti menangis. "Makasih Bunda. Zia nggak tau maunya Zavian apa, tapi bunda tau."


"Sama-sama, Nggak papa kok. Kan Zia baru beberapa hari jadi orangtua, bunda juga pernah kaya Zia." Bunda Dian tersenyum maklum lalu memberikan Zavian pada sang ibu.


Zia mengamati wajah Zavian yang kini mulai tertidur.



(foto diambil dari : www.haibunda.com)


"Bayi baru lahir belum terbiasa sama dunia yang luas ini, dia masih pengin suasana rahim yang hangat," ujar bunda Dian sembari mengusap pipi Zavian yang berada di gendongan Zia.

__ADS_1


Zia mengangguk, sudah lebih paham cara menenangkan Zavian.


"Zidan belum pulang?" tanya bunda saat tidak melihat putranya. Biasanya Zidan sudah pulang saat dia sampai di rumah.


"Lagi nyiapin acara amal Atlansa, Bun. Bilangnya bakalan pulang pagi," jawab Zia yang diangguki bunda Dian.


"Kamu sendirian, atau mau Bunda temani?" tanya bunda Dian. Tahu betul jika memiliki bayi itu akan sering bangun tengah malam.


Zia menggelengkan kepalanya, "Nggak usah bunda. Kasian ayah nanti tidur sendiri."


"Ya udah. Kalo ada apa-apa langsung bilang ya?" Zia mengangguk.


¤¤¤¤¤


Benar ucapan suaminya, Zidan pulang pukul riga pagi, tepat saat Zavian sedang menyus*.


"Jangan deket-deket, mandi dulu sana, banyak kumannya," ujar Zia setengah berbisik. Tubuhnya bergeser menjauh saat Zidan duduk di sebelahnya.


Zidan mengangguk lalu mandi, badannya juga sangat lengket dan gerah. Membuat panggung untuk konser amal dan juga stand untuk garage sale tentu membuatnya sangat lelah.


Setelah selesai mandi, Zidan mendapati Zia duduk bersandar pasa kepala ranjang dan tertidur dengan Zavian dipangkuannya. Pasti Zia sama lelahnya dengannya, atau malah lebih lelah.


Dengan perlahan, Zidan mengambil Zavian tapi Zia langsung mengeratkan pegangannya secara refleks pada Zavian. "Ini aku. Zavian sini aku tidurin," bisik Zidan.


"Sini tidur, pasti capek banget istri aku ini," ucap Zidan setelah meletakkan Zavian di tempat tidurnya. Padahal dia juga capek, tapi Zia tidak kalah capeknya mengurusi anak sendirian.


Zia mengubah posisinya menjadi tiduran miring dan dipeluk oleh Zidan. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, tempat ternyamannya ketika tidur.


"Selamat malam, sayang," kata Zidan.


Zia membalas dengan gumaman, "Udah pagi."


Zidan terkekeh lalu mengecup kening Zia sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.


Pagi harinya saat matahati sudah terbit, pasangan yang baru dikaruniai buah hati itu terbangun karena tangisan Zavian.


Zidan yang pertama kali sadar lalu dengan perlahan bangun dari tempat tidur agar tidak mengganggu tidur istrinya.


Zia juga terbangun dan mendapati Zidan yang tengah menimang Zavian di depan jendela kaca menuju balkon.


Senyum manis terbit di bibir tipis Zia, bangun paginya sangat indah karena melihat pemandangan yang sangat menyejukkan hatinya.

__ADS_1


"Belum mau nen*n?" tanya Zia dengan suara seraknya.


Zidan menoleh, "Eh mama kamu udah bangun. Pengin nen engga?" tanya Zidan pada Zavian yang hanya menatapnya polos.


"Kayanya belum deh. Tadi pipis aja jadi bangun," jawab Zidan saat Zavian begitu anteng di gendongannya.


"Tidur lagi aja sebentar Zi," kata Zidan lagi saat melihat Zia masih sangat mengantuk. Berkali-kali terbangun untuk menyus*i tentu saja mengantuk.


"Nggapapa?" tanya Zia, takutnya malah dibilang egois. Zidan juga sama capeknya.


"Ngapapa mamanya Zavian. Biar aku dulu yang jaga Zavian sampe acara amalnya nanti mulai," ujar Zidan.


Zia mengangguk lalu mulai tertidur kembali, karena daritadi pun ia mengobrol dengan posisi yang masih rebahan.


Zidan memang capek karena hanya tidur beberapa jam, tapi capeknya tidak setiap malam seperti Zia. Jadi, ia membiarkan Zia kembali istirahat selagi dia masih di rumah. Zidan jadi tau, menjadi orangtua memang melelahkan.


¤¤¤¤¤


"Kamu sama mama lagi ya? Papa lagi nyari pahala dulu," ucap Zia saat sudah di rumah sendirian lagi karena Zidan sudah berangkat.


"Jangan rewel biar mama nggak bingung, masih banyak bingungnya nih mama kamu ini," tambah Zia walaupun Zavian tidak akan mengerti. Setidaknya suasana tidak terlalu sunyi.


**


Zidan menggerakkan ototnya sebelum memulai membantu renovasi rumah warga sebagai wujud acara amal Atlansa.


"Bismillah," kata Zidan. Istirahatnya hanya sebentar dibanding yang lain, di saat yang lain masih tidur nyenyak ia sudah menggendong putranya. itulah beda yang yang terasa antara lajang dan bapak anak satu.


"Belum dapet jatah nih. Istri masih masa nifas jadi lesu," ledek Dyu.


"Belum lah. Masih ada 34 hari lagi," jawab Zidan membuat mereka tertawa.


"Buset diitung," timpal Zio.


"Biar nggak kelewat ya Dan," canda Galen.


Zidan mengangguk karena memang benar, begitu selesai 34 hari itu langsung gass.


"Emang ya, yang udah punya istri mah beda," celetuk Langit.


"Beda lah. Lebih enak," jawab Pak Ervan yang ikut dalam acara itu. Ya, karena kolaborasi dengan SMA Trisatya.

__ADS_1


Sorakan heboh datang saat Pak Ervan mengucapkan itu. Zidan terkekeh, lumayan juga hiburan buat dia yang capek.


__ADS_2