Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
95. Di Kantor Ayah Dimas


__ADS_3

Langit menyapa dengan harapan barunya dan angin yang berbisik menyampaikan pesan 'selamat pagi!'


Burung-burung bernyanyi bagai musik alam dengan suara mobil yang mulai saling berteriak bersahutan menjadi latar belakangnya.


Tak mau ketinggalan, Pohon-pohon ditepi jalan ikut melambai menyampaikan semangat.


Begitupun cahaya mentari yang menerobos celah jendela hanya agar bisa mengabarkan bahwa hari sudah pagi.


Di pagi yang cerah ini, Zidan memulai harinya dengan senyum manis sang istri dan tidak ketinggalan morning kiss. Kebiasaan baru yang Zidan sering minta jika bangun tidur.


"Zi, Nanti aku langsung ke kantor ya ngga pulang dulu, juga sampe malem," ucap Zidan sembari mengancingkan kancing seragamnya.


"Ya udah, aku siapin dulu bajunya," kata Zia sembari berjalan ke arah walk in closet dengan perlahan hampir seperti pinguin.


Zia pun memilihkan pakaian yang akan dikenakan suaminya ke kantor lalu memasukkannya ke dalam paperbag.


"Nih," ucap Zia sembari menyerahkan paperbag berwarna polkadot hitam putih pada Zidan.


"Makasih, sayang. Turun Yuk," ajak Zidan sembari menggandeng tangan Zia. Sedangkan Zia hanya menurut saja karena hatinya masih dag dig dug ser saat Zidan memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.


¤¤¤¤¤


"Duh gemezz banget gue sama perut lo," ucap Sherena saat mereka baru saja selesai homeschooling.


Zia tersenyum sembari mengusap perut buncitnya. "Padahal tiap hari juga Sherena liat."


"Aaa.. iya sih. Tapi gemes aja wajah imut lo sama perut buncit lo jadi perpaduan yang super duper gemess," getat Sherena sembari mengusap perut sahabatnya itu.


"Awas Zi, Bentar lagi digigit sama Sherena tuh," ucap Keyna yang sedari tadi hanya memperhatikan.


Zia tertawa renyah, tidak dengan Sherena yang cemberut.


"Udah selesai belajarnya?" ucap Bunda Dian yang kebetulan tidak ada jadwal ke rumah sakit. Tapi tidak tau juga, buktinya sekaramg bunda sudah rapih saja pakaiannya.


"Udah, Bunda," jawab mereka bertiga kompak.


"Zia capek ngga?" tanya Bunda yang dijawab gelengan kepala dari sang menantu.


"Enggak Bun, kenapa?" tanya Zia. Tidak biasanya bunda bertanya demikian.


"Gini, bunda sih niatnya mau nganterin makan siang buat Ayah sama Ervan, tapi Bunda harus ke tempat yoga. Ada yang harus bunda urus. Jadi kamu bisa ngga anterin makanannya?" ucap Bunda Dian.


Zia mengangguk dengan semangat, "Bisa dong Bunda."

__ADS_1


"Sip. Nanti dianterin supir ya, tapi kalian harus makan siang dulu. Udah bunda siapin tuh di ruang makan, bekal buat Ayah sama Zidan juga udah Bunda sedaging di meja makan," ucap Bunda Dian sembari mengambil ponselnya di tas saat ada yang menelepon.


"Bunda pergi dulu ya," pamit Bunda pada tiga perempuan cantik di sana yang pastinya dijawab dengan sopan.


"Sibuk juga mertua lo," ujar Sherena saat Bunda Dian terlihat keluar rumah sembari menerima telepon.


"Wanita karir ya gitu, tapi salut sih sama Bunda. Walaupun sibuk tetep ngejalanin tugasnya sebagai istri dan ibu," ucap Keyna.


Sherena dan Zia mengangguk, setuju dengan ucapan Keyna.


¤¤¤¤¤¤


Zia sudah berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi. Zia jadi ragu untuk masuk, nanti malah diusir kaya yang kebanyakan Zia baca di novel.


Setelah mengumpulkan keberanian pun Zia memasuki lobi perusahaan tersebut dan menemui resepsionis.


"Ada yang bisa kami bantu, Dek?" tanya resepsionis tersebut.


"Emmm.. mau ketemu sama Zidan boleh?" tanya Zia takut takut.


"Zidan? Oh boleh boleh, sebentar," ucap perempuan dewasa yang kini terlihat tengah menelepon seseorang.


Zia terus memperhatikan mbak mbak resepsionis itu bertelepon smapai akhirnya kembali berbicara pada Zia. "Mohon Maaf membuat Ibu menunggu, saya tidak tau kalau Ibu adalah istri Pak Zidan. Silahkan langsung menuju ruangan Beliau, Bu."


Zia memanyunkan bibirnya, bukan karena kesal menunggu. Akan tetapi karena sebutan 'Ibu' yang resepsionis itu ucapkan. Memang dia sudah terlihat seperti ibu ibu apa.


"Oh baik Mbak. Mari Bu saya antarkan."


Zia mengangguk dengan bibir yang masih sedikit maju dan pipi yang mengembung. Ibu ibu ibu dan ibu, ia tidak suka panggilan itu.


Ceklek.


Zia dipersilahkan masuk ke ruangan Zidan. Di dalam ia melihat Zidan yang tengah sibuk dengan laptopnya, Sedetik kemudian Zidna mendongak dna menatapnya sembari tersenyum.


"Sini duduk," ucap Zidan sembari berdiri dari kursinya lalu membawa Zia duduk di sofa.


"Kok ngga bilang bilang mau ke kantor, hm?" tanya Zidan sembari membenarkan anak rambut yang mencintai ke belakang telinga Zia.


"Mau nganterin ini," jawab Zia sembari mengangkat paperbag di tangannya.


"Apa nih?" tanya Zidan sembari menerima paperbag tersebut.


"Makan siang. Kata bunda itu sama buat Ayah juga," ucap Zia menyampaikan pesan dari Bunda.

__ADS_1


"Oalaa, bentar ya aku telepon Ayah biar ke sini," ucap Zidan mengambil ponselnya dan mulai menghubungi ayahnya.


Lima menit kemudian.


"Wah wah wahh mantu ayah First Time nih ke kantor," ucap Ayah Dimas begitu masuk ke ruangan Zidan dan Zia menyalimi tangannya.


"Iya Yah, nganterin makan siang.. Bunda tadi ada urusan katanya," ucap Zia menunjuk makanan yang sudah tertata di meja.


Ayah Dimas mengangguk lalu mulai duduk dan mengambil makan siangnya, beruntung sekali menantunya datang, Kalau tidak ia bisa bisa makan nanti seingatnya.


"Kamu ngga makan juga?" tanya Ayah Dimas saat Zia tidak ikut makan.


Zia menggelengkan kepalanya, "Zia udah makan tadi sebelum ke sini."


Ayah Dimas pun mengangguk lalu memulai makannya.


"Gimana kantor Ayah? nyaman ngga?" tanya Ayah Dimas di sela sela makannya.


Zia mengangguk lalu tiba-tiba kembali cemberut, "Nyaman. Cuma ngga suka aja ia dipanggil Ibu terus."


Zidan dan Ayah Dimas pun tersenyum. Memang dalam perusahaan kebanyakan dipanggil ibu atau bapak. Zidan saja yang baru tujuh belas tahun dipanggilnya bapak.


"Ya udah nanti ayah bilangin biar kalo kamu ke sini lagi jangan dipanggil Ibu," kata ayah Dimas yang membuat senyum Zia mengembang.


"Makasih Yah," ucap Zia, "Bilang le mbak mbaknya ya Yah, Panggil ada Dek kaya pas pertama tadi Zia dateng."


Ayah Dimas mengangguk.


"Pertamanya dipanggilnya Dek? Kok jadi Ibu?" tanya Zidan penasaran.


"Ngga tau tuh mbak mbaknya. Pas udah tau kalo aku istri kamu langsung berubah manggilnya jadi Ibu," jawab Zia kembali mengembungkan pipinya.


Zidan tertawa melihat itu, memang tidak pantas cewek seimut Zia dipanggil Ibu. Lihat saja sekarang, baju hamil berwarna Cream yang dipadukan dengan sepatu putih, apalagi jepit rambut putih yang tersemat di rambut Zia membuat wanita hamil itu terlihat sangat menggemaskan.


"Lan kamu emang Ibu. Ibu dari anak anak aku," ucap Zidan membuat pipi Zia memerah karena malu.


"Udah Ah kalo kaya gini anggap aja ngga ada Ayah. Dunia milik berdua, Ayah mah cuma numpang makan doang bentar," ucap Ayah Dimas.


¤¤¤¤


Pendek banget?


Maaf deh, bulan ini aku bakalan jarang up di sini. Kalaupun Up ya cuma gini sedikit sedikit... Itupun malem bahkan dini hari...

__ADS_1


Maaf yaa...


Ditunggu komennya biar aku Up, walaupun dikit hehehehe


__ADS_2