
Bunda melepas pelukannya, Zidan masih saja meneteskan air mata. Jelas sangat terpukul.
"Bunda...." lirih Zidan.
Bunda tersenyum tipis lalu menepuk kedua bahu Zidan dari depan. "Kamu harus ikhlas ya? kamu harus kuat."
"Zidan capek," keluh Zidan. Zidan merasakan hidupnya yang begitu berantakan dan ia sekarang merasa lelah.
"Iya nggapapa kok. Zidan boleh capek, tapi Zidan harus kuat, juga kuatin Zia di dalam sana. Lanjutin perjuangan kalian buat satu janin yang bertahan," ucap Bunda Dian yang membuat Zidan langsung menoleh pada sang bunda.
"Ma-maksud bunda?"
"Cucu bunda masih butuh perjuangan kalian, janinnya yang satu masih bertahan." Zidan yang mendengar itu kembali menangis, ia merasakan hidupnya bagai roaler coaster sekarang.
"Anak Zidan masih hidup?" Bunda mengangguk, lalu memuntun Zidan untuk berdiri.
"Kita masuk ya, nanti bunda jelasin di dalam," ucap Bunda Dian yang diangguki Zidan.
Zidan membuka perlahan pintu di hadapannya itu. Hal pertama yang ia lihat adalah Zia yang tengah menangis dalam diam. Zidan menghampiri Zia dan memeluk tubuh lemas istrinya itu. Zia yang semula menangis tanpa suara, kini menumpahkan semua isakannya di dalam pelukan Zidan. Zidan merasakan sesak sampai ulu hatinya saat mendengar tangisan Zia.
"Zia gagal," gumam Zia di sela-sela isakannya. "Zia hiks.. ngga becus hiks... jagain dia."
Zidan melepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi Zia. "Kita ikhlasin ya?" Zia menggeleng keras, tidak semudah itu mengikhlaskan anak yang sudah ia jaga mati-matian.
Zia baru tahu rasanya seorang ibu yang kehilangan anaknya, sangat sakit.
"Zia sama Zidan dengerin dulu ya penjelasan Bunda," ucap Bunda Dian karena masih ada pasien yang harus ia tangani. Zidan dan Zia mengangguk.
"Keguguran Zia itu namanya vanishing twin syndrome. Dimana salah satu janin tidak dapat berkembang, dan itu bukan karena hal yang tiba-tiba. Itu biasanya karena memang sudah ada kelainan kromosom dari sananya, bunda belum bisa pastikan penyebab pastinya, akan ketauan penyebabnya nanti saat Zia melahirkan dilihat dari analisis pada plasenta."
"Jaringan dari janin yang meninggal itu akan diserap kembali oleh tubuh Zia dan oleh janin yang masih bertahan," lanjut Bunda.
Zidan dan Zia menyimak dengan seksama. "Terus ada efeknya ngga Bun? buat janin yang masih bertahan sama Zia?" tanya Zidan.
"Karena ini masih di trimester pertama, secara umum ngga ada efek ke janin yang masih ada dan kehamilan Zia bisa berjalan seperti biasa. Kalau kejadiannya udah di trimester kedua atau tiga, mau tidak mau kedua janin harus dikeluarkan."
Zidan mengucap hamdalah dalam hati, tatapannya dan Zia bertemu sejenak. Tangan Zidan juga tidak berhenti mengusap bahu Zia.
"Hanya saja, setelah ini bunda bakal pantau Zia bener-bener, seminggu sekali kalian harus datangin bunda, oke?"
Zidan dan Zia mengangguk. Bunda lalu memeluk menantunya itu, "Ikhlasin dia yang udah pergi, dan jaga cucu bunda yang masih bertahan ya?" Zia mengangguk.
__ADS_1
"Zia harus terus berjuang ya? jangan nyerah, cantik." Zia kembali mengangguk.
Setelahnya bunda kembali memeluk Zidan sebelum keluar dari ruangan itu.
Zidan ikut keluar dari ruangan juga itu karena Zia harus dipindah ke ruang rawat.
"Zidan!"
Zidan menolehkan saat ada yang memanggil namanya. Zidan terkejut karena tubuhnya langsung dipeluk Zio. "Sabar."
Zio melepas pelukannya, "Lo tau gue disini? " tanya Zidan.
"Gue nganter nyokap check up, tadi ketemu bunda lo yang katanya habis ngurusin Zia," ucap Zio, tadi saat sedang menunggu di depan ruang periksa kandungan, Bunda Dian datang dan meminta maaf pada para pasien yang telah menunggunya. Mama Zio sedang ke kamar mandi saat bunda mengatakan habis mengurus menantunya yang keguguran.
Zio saat itu juga langsung bertanya dimana Zia berada, karena menantu dari dokter kandungan itu hanya Zia.
Zio memperhatikan wajah kusut sahabat sekaligus adik iparnya itu. Tampak jelas mata dan hidung yang memerah karena menangis. Zio menepuk pundak Zidan guna memberi semangat.
Saat itu juga Zia keluar dari ruang pemeriksaan dan dibawa ke ruang rawat yang sudah keempat kalinya ia tempati.
Zio langsung memeluk tubuh Zia, apalagi saat melihat air mata yang masih saja turun di pipi mulus adik kesayangannya itu.
°°°°°
Keyna dan Sherena mengangguk, tapi belum juga masuk mereka sudah meneteskan air matanya. Galen menghela napasnya sebelum menarik Keyna ke pelukannya. Zio yang baru saja kembali dari kantin juga menarik Sherena ke dalam pelukannya.
Baik Keyna maupun Sherena ikut merasakan apa yang Zia rasakan, mereka tau betul perjuangan Zia dari awal kehamilan, seberat apa yang Zia jalani demi mempertahankan janinnya. Jadi, sangat terasa sakitnya saat mendengar Zia kehilangan calon anaknya.
"Udah siap?" tanya Galen saat dua gadis itu sudah mengelap air matanya. Keduanya mengangguk lalu menarik napasnya dalam guna mempersiapkan diri bertemu Zia.
Saat pintu terbuka, tampak Zidan yang duduk di sofa dengan wajah yang ia tutupi dengan telapak tangan dan Zia yang tengah berbaring memunggungi mereka. Sangat terlihat kerapuhan mereka dari bahu yang sama sama bergetar.
Mereka saling pandang lalu menghampiri sahabat masing-masing.
"Zia."
Zia segera mengusap air mata saat ada yang memanggilnya, Zia membalikkan badan dan tangisnya kembali pecah saat Keyna dan Sherena memeluknya.
"Yang sabar ya? Ikhlas, ikhlas. Zia kuat kok," ucap Sherena yang sudah menangis tanpa bisa ia tahan lagi. Mereka terus saling menguatkan.
"Ikhlasin ya? Jangan sampai dia yang masih ada di sini malah ikutan sedih karena mamanya nangis terus," ucap Keyna saat pelukan mereka sudah terlepas, Keyna mengusap perut Zia.
__ADS_1
Zia masih setia dengan tangisnya, Keyna berusaha membujuknya karena takut kesedihan Zia malah memberikan dampak buruk untuk janin yang masih ada di perut Zia.
"Zia, udah ya? Kasian babynya nanti ngerasa Zia ngga bersyukur sama keberadaan dia. Zia harus inget kalo masih ada yang bergantung banget sama Zia. Zia ngga mau kan kehilangan lagi?" Zia menggeleng dengan kuat dan mencoba meredakan tangisnya.
Keyna bernapas lega, usahanya sedikit berhasil.
"Zia ngga bakal kehilangan baby lagi kan?" tanya Zia serak.
Keyna menggelengkan kepalanya, "Asalkan Zia jaga kesehatan Zia dan jangan sedih yang berlarut-larut. Insya Allah Babynya ngga bakal ninggalin Zia."
Kini beralih pada para cowok yang tengah duduk berdampingan menghadap tiga cewek tersebut.
"Liat kan? Zia udah membaik sekarang. Sekarang lo harus lanjutin perjuangan kalian," ujar Zio di sebelah Zidan.
Zidan mengangguk, Zidan harus menguatkan dirinya demi Zia dan calon anaknya.
"Nih. Kalian belum makan kan?" Zio meletakkan plastik berisi makanan yang ia beli tadi.
Mereka menepuk bahu Zidan sebelum Zidan berdiri menghampiri Zia. Sherena dan Keyna menyingkir saat melihat Zidan mendekat.
"Udah mau makan?" tanya Zidan yang suaranya masih serak. Zia mengangguk, dirinya harus makan agar janinnya tidak meninggalkannya lagi.
"Mau makan apa?"
"Apa aja," jawab Zia lirih, suaranya nyaris habis saking kuatnya tadi ia menangis.
Zidan memilih bubur. "Aaaa... "
Zia membuka mulutnya, saat tengah mengunyah Zia mengatakan sesuatu yang membuat Zidan tersenyum tipis.
"Mau disuapin Bang Zio aja. Zidan usap-usap aja perut Zia sini."
°°°°°
Aku double up guys...
Seneng ngga?
Kalau suka likenya dong
Komen juga, dari kemarin komennya dikit loh.
__ADS_1