
Pukul setengah dua dini hari Zidan bangun seperti biasa. Menahan kantuk dan lelah agar ia dan Zia bisa makan hari ini, juga bisa memenuhi keinginan ngidam Zia.
Zia juga ikut bangun walaupun tidak bisa membantu apapun dengan keadaan kedua tangan yang masih diperban. Setidaknya ia menemani Zidan bersiap.
"Ini kalo nanti mau muntah," ucap Zidan meletakkan kaleng di lantai tepat di sebelah tempat tidur Zia. Zia mengangguk, tangan kirinya sudah bisa digerakkan walaupun menimbulkan rasa nyeri, tetapi Zia bersyukur setidaknya ia bisa bangun dari tidurnya tanpa bantuan Zidan.
"Zidan pulangnya jam enam lagi?" tanya Zia yang duduk bersandar di kasur pada Zidan yang tengah memakai jaket.
"Iya, kita belum ada uang buat bayar kontrakan, " jawab Zidan setelah menghembuskan napas beratnya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada di pasar, selagi ia masih mampu ia akan berusaha.
"Pake tabungan Zia aja," usul Zia yang langsung mendapat gelengan kepala dari Zidan.
"Engga boleh! Itu buat baby aja, tabungan buat lahiran nanti," jawab Zidan cepat, ia harus mulai menabung untuk biaya persalinan Zia nanti.
Zia terdiam, ia sebenarnya juga sudah menyisihkan uang dari Zidan untuk persalinannya nanti. Jatah uang saku yang jarang ia gunakan ditabung tanpa sepengetahuan Zidan.
"Lo tidur lagi, jangan sampe kurang tidur. Ngga baik buat ibu hamil," ucap Zidan menuntun Zia untuk kembali berbaring dan menyelimutinya, Zia hanya mengangguk kemudian tersenyum.
Zidan mengucap basmallah sebelum ia berangkat kerja, semoga apa yang ia lakukan hari ini berkah.
°°°°°
Satu bulan adalah waktu yang sangat lama bagi Zia. Dia yang biasanya bebas membeli ini itu tanpa memikirkan harga, sangat berbeda dengan sekarang, hanya untuk membeli apa yang ia inginkan saja ia berpikir puluhan kali. Bahkan, skincare yang dulunya sangat lengkap sekarang hanya facial wash yang mampu ia beli. Wajahnya sudah tidak pernah ia rawat, muncul jerawat di sana sini juga tidak terlalu ia pedulikan. Yang penting ia bisa makan dan kebutuhan bayinya terpenuhi.
Zia tengah mengatur napasnya setelah selesai muntah, ini yang Zia benci dimana hampir setiap pagi ia muntah. Ia beruntung karena yang jadi suaminya adalah lelaki seperti Zidan, jika bukan ia tidak tau apakah ia masih mempertahankan bayinya atau tidak.
Zia menggelengkan kepala saat pikiran buruk menghampirinya, ia tidak boleh dan tidak akan membunuh anaknya sendiri. Zia beristighfar supaya pikiran buruknya hilang.
Zia merasa dirinya memang masih sangat labil, ia kadang sangat menyayangi janin di perutnya, kadang ia seperti tidak suka saat mengingat yang membuatnya susah seperti sekarang adalah janinnya.
"Ngga boleh. Ngga boleh Zia. Dia ngga salah," guman Zia berusaha memberikan pikiran positif dan meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
°°°°°
"Lo kenapa? Tangannya sakit apa perutnya yang sakit?" tanya Zidan yang dibuat panik saat mendapati Zia menangis. Zidan baru pulang dari pasar, niat hati ingin memberikan uang malah mendapati Zia menangis. Zidan melirik kaleng yang sudah berisi muntahan Zia yang didominasi air.
Zia menggelengkan kepala, Zidan menghapus jejak air mata di pipi Zia lalu mengusap pipi itu dengan lembut. Zidan cukup peka apa yang Zia pikirkan.
"Capek ya? Maafin gue ya, maaf banget," ucap Zidan berhasil membuat Zia semakin menangis.
Zidan berdiri meninggalkan Zia sendirian yang masih terus menangis. Zidan menutup pintu kamar dan tubuhnya luruh ke lantai. Rambutnya ia acak-acak sebagai pelampiasan, ia juga capek. Rasa ingin menyerah kerap kali hadir, tapi selalu ia tepis saat mengingat ada dua nyawa yang bergantung padanya.
Zidan berdiri saat perasaanya sudah tenang, ia masih harus mengurusi dirinya dan Zia yang akan berangkat sekolah.
Saat pintu kamar Zidan buka, Zia sudah tidak menangis. Perempuan itu sedang mencoba membuka lemari. Zidan sigap membantu dan mengambilkan apa yang Zia mau ambil.
"Zia mandinya gimana?" bingung Zia saat sudah masuk ke kamar mandi. Kemarin masih ada perawat yang membantunya, sekarang hanya ada Zidan. Masa ia minta tolong sama Zidan.
Zia masih berdiri di kamar mandi tanpa melakukan apapun. Sedangkan Zidan sedang masak di dapur.
"Apa Zidan?" tanya Zia.
"Lo mau mandi ngga? Gue bantuin sini," ucap Zidan dengan santainya. Zia melebarkan matanya dan menggeleng.
Zidan terkekeh dan kembali ke dapur membalik tempe yang sedang ia goreng.
"Ngga usah mandi dulu. Cuci muka aja, sama sikat gigi," kata Zidan sembari mematikan kompor.
Zidan kembali menghampiri Zia dan membantu Zia cuci muka dan tidak lupa menggosok giginya. Untuk masalah berganti pakaian Zidan melakukannya sambil menutup mata. Selain Zia yang memerintah, ia juga takut kebablasan. Ups.
°°°°°
"Lo berangkat Zi? Harusnya nunggu sembuh dulu," ucap Sherena. Mereka baru saja sampai di kelas.
__ADS_1
Zia mengangguk, "Zia nggapapa kok, tapi ngga bisa nulis nanti cuma dengerin aja."
"Lo mandi?" tanya Keyna yang membuat Zia menggeleng malu, Sherena menertawakannya.
"Ganti bajunya gimana?" tanya Keyna memperhatikan baju Zia yang tidak serapi biasanya.
"Zidan yang pakein," jawab Zia dengan rasa malu yang sangat. Mereka tertawa mendengarnya. Sudah bisa ditebak sebenarnya, cuma mereka ingin melihat Zia malu.
Tidak lama bel masuk berbunyi, Zia menoleh pada kursi pojok tempat biasa Ayra duduk. Ia tidak mendapati Ayra disana, ia pun berbisik pada Keyna yang duduk di depannya. "Key, Ayra ngga berangkat."
Keyna dan Sherena menoleh pada bangku tersebut dan benar tidak ada Ayra di sana.
"Coba nanti ke rumahnya," usul Keyna yang diangguki Sherena dan Zia. Mereka khawatir pada Ayra, bagaimanapun Ayra sudah lama menjadi bagian hidup mereka.
Mereka percaya Ayra masih menyayangi mereka seperti mereka menyayangi Ayra. Ayra hanya sedang marah karena hubungannya selesai dengan Zidan dengan cara tidak baik. Hubungan persahabatan mereka sampai terkena imbasnya.
Cara yang Ayra ambil memang salah, jika hanya ada masalah dengan Zidan, kenapa semuanya ikut Ayra benci. Bahkan, mereka tidak ada hubungannya dengan kandasnya hubungan Ayra dengan Zidan.
Setidaknya itu pikiran umum mereka, tapi tidak dengan Keyna. Gadis itu percaya Ayra tidak benar-benar membenci mereka. Ia kenal Ayra lebih lama dari mereka semua. Ayra bisa dibilang calon adik ipar Keyna yang ngga jadi:)
°°`°°
Halo semuaaa 👋
Lama juga ya ngga up🔆
Gimana sama bab ini?
Kalo suka jangan lupa like yaa👍
Kalo mau komentar juga boleh nih, aku lagi kurang semangat nulisnya. kasih semangat dong hehehehe
__ADS_1
Bye Bye