Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
113. Posisi Kepala Bayi


__ADS_3

Zidan melihat wajahnya dulu di cermin di dalam mobil sebelum ia turun dan menemui sang istri.


"Udah pasti kena omel ini mah," mobolog Zidan sembari menekan sedikit lebam di pipinya kemudian mengaduh. Sakit juga.


Setelah dirasa telinganya siap mendengarkan omelan Zia, Zidan pun turun dari mobil.


Kan! Sudah bisa ditebak.


Zia sudah berdiri di dalam kamar begitu ia membuka pintu. Kedua tangan Zia berkecak pinggang dengan tatapan marahnya. Tapi tetap saja, yang Zidan lihat Zia begitu imut dan menggemaskan, apalagi dengan daster hamil sebatas lutut yang menutupi perut buncit sang istri.


"Tuh kan! Kalo pulangnya larut malem pasti kaya gini. Mampir berantem dulu! Nggak bisa apa abis kerja langsung pulang," omel Zia. Zidan hanya bisa mengangguk, menjawab pun akan panjang jadinya.


"Ini kenapa lagi? berantem sama siapa?" tanya Zia lagi sembari memegang pipi Zidan yang terlihat membiru.


"Shhh... Jangan diteken." Zidan tidak akan menjawab jujur pertanyaan Zia.


Niat awal ingin mengomel panjang lebar dan tinggi pun tidak jadi. Melihat wajah Zidan yang sepertinya sedang banyak pikiran membuat Zia diam.


"Kamu mandi dulu, nanti aku obatin," ucap Zia pada akhirnya. Tent dengan nada yang sudah melembut dari sebelumnya.


Zidan mengangguk, tidak sia-sia dia menunjukkan wajah memelasnya. Zidan menyempatkan diri untuk mengecup bibir Zia dan mengusap perut buncitnya juga.


Sudah entah yang ke berapa Zidan pulang dengan keadaan babak belur, tapi Zia berusaha untuk tidak menjadikannya masalah. Karena tidak tahu juga penyebabnya, bisa jadi karena menolong orang di jalan.


"Kali ini karena apa?" tanya Zia sembari mengompres pipi Zidan. Posisi Zidan tengah berbaring dengan kepala berada di pangkuan Zia.


Zidan tentunya sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Zia ini, "Bantuin ibu-ibu yang dicopet."


Zia mengangguk percaya, lalu fokus mengompres juga mengobati luka di sudut bibir Zidan.


"Perut juga," kata Zidan saat Zia baru saja selesai mengompres muka dan lengannya.


Zia menghela napas, lalu membuka kaos yang Zidan kenakan sebatas dada.


"Siapa sih yang mukulin kamu kaya gini? Nggak kasian apa," kata Zia sembari mengusap perut kotak-kotak Zidan yang memerah.


Zidan hanya tersenyum menanggapinya, 'Papa kamu, Zi,' batinnya yang berbicara.

__ADS_1


"Kok tumben lukanya banyak? Kamu ngga ngelawan? Apa dikeroyok?" tanya Zia lagi.


"Dikeroyok." Zidan mengucapkan maaf dalam hati karena terus membohongi Zia. Tapi memang dia tidak bisa berkata jujur untuk saat ini.


Setelah selesai mengobati Zidan, Zia ke kamar mandi untuk buang air kecil entah yang ke berapa.


"Yah... basah," monolog Zia saat bajunya tidak sengaja terciprat air dari wastafel ketika ia mencuci tangan.


Sembari sibuk mengelap bajunya dengan tissue sembari keluar dari kamar mandi.


Ceklek.


Zia terdiam saat suara petikan gitar menyambut keluarnya dia dari kamar mandi. Zia menatap Zidan dengan alis yang dinaikan satu, tanda bertanya. Zidan membalasnya dengan senyum manis dan jemari yang lihai memetik senar gitar.


Me~menangkan hatiku bukanlah satu hal yang mudah....


Kau berhasil membuatku tak bisa hidup tanpamu,


Zia menahan senyumnya saat Zidan menyanyikan lagu Bukti milik Virgoun itu dengan tatapan yang begitu dalam, begitu dalamnya hingga menembus ke hatinya.


Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati,


Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi, tentang terang dan gelapnya hidup ini,


Zia duduk di sebelah hadapan Zidan, karena memang sudah ada kursi kosong di sana, menikmati setiap suara indah yang keluar dari mulut sang suami. Zia juga tidak pernah melunturkan senyumnya ketika lirik demi lirik terlantun.


Kaulah bentuk terindah dari baiknya Tuhan padaku, kau wanita terhebat bagiku


Tolong kamu camkan itu...


Zidan menyudahi acara menyanyinya dengan meletakkan gitar di kasur, tapat di sebelahnya.


Selama beberapa saat mereka saling tatap, kemudian Zidan mengusap pipi sang istri dengan begitu lembut, membuat Zia memejamkan matanya. Menikmati kehangatan dari tangan sang suami.


"Makasih ya, Udah selalu sabar dan perhatian setiap aku pulang dengan luka. Makasih karena nggak pernah marah dan selalu mencoba mengerti keadaan aku walaupun aku tau banyak tanda tanya di otak kamu. Percayalah, aku nggak pernah ngelakuin hal tanpa sebab dan alasan yang baik," ucap Zidan dengan pelan dan sunggung-sungguh.


Zia mengangguk dengan air mata haru yang menetes di pipinya, cengeng sekali memang.

__ADS_1


"Aku yang harusnya bilang itu. Kamu yang lebih sabar nerima aku apa adanya gini, kamu yang nggak pernah pake suara nada tinggi saat aku salah," ucap Zia. Tangan keduanya saling menggenggam erat.


"Aku inget kata-kata yang aku baca, bunyinya gini : Di tangan lelaki yang terhormat, perempuan hina akan menjadi mulia. Sedangkan di tangan lelaki hina, perempuan mulia menjadi tak berharga. "


"Dan aku masuk ke dalam kategori yang pertama, di tangan lelaki seperti kamu aku menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya," lanjut Zia.


Zidan tersenyum lalu mengecup kecing Zia lama, "Karena kamu memang pantas dimuliakan, semua wanita pantas dimuliakan. Apalagi kamu yang akan memberi aku gelar yang luar biasa, menjadi seorang ayah."


Zia sangat beruntung, walau hal yang mempersatukan mereka adalah sebuah jebakan. Tapi Zia suka takdir yang sekarang ia jalani, yang memaksanya berpikir dewasa tapi dengan begitu manis. Yang membuatnya mandiri meski perlu sedikit dipaksa.


Tambah bersyukur karena yang dijebak dengannya dulu adalah Zidan. Walaupun harus melepaskan kehidupan di rumah lamanya, tapi ia mendapat ganti yang lebih manis. Ya walau tidak bisa dipungkiri ia sering merindukan rumah lamanya.


Jika bukan Zidan, maka tidak tahu dia sekarang bagaimana. Sudah pasti diusir dari rumah, hamil di luar nikah, dan jadi gelandangan. Mungkin Zia akan memilih mengakhiri hidupnya saat itu juga.


Dug!


Zia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi saat mendaoat tendangan yang kuat dari dalam sana.


"Aktif banget sih kamu... Gemezzz deh," kata Zidan sembati meletakkan telapak tangannya di bagian perut Zia yang tampak bergerak.


"Awas ah tangannya," kata Zia menyingkirkan tangan Zidan. Bukan apa-apa, tapi jika Zidan menyentuh perutnya, gerakan di dalam sana semakin brutal.


Zidan menurut lalu memperhatikan Zia yang tengah mengusap bagian bawah perutnya.


"Aku ngerasa kepalanya di sini," tunjuk Zia pada bagian bawah perut buncitnya.


"Udah di bawah?" tanya Zidan. Zia mengangguk lalu menarik tangan Zidan untuk menekan bagian bawah perut buncitnya.


"Tuh kan keras," kata Zia yang diangguki Zidan. Itu adalah bagian kepala anaknya.


"Emang biasanya di bawah? bukannya biasanya di atas ya?" tanya Zidan.


"Kata Bunda, kalo udah di bawah berarti udah posisi siap lahir," jawab Zia.


Zidan mengangguk, semakin tipis waktu yang ia punya. Sudah minggu ke 33 kehamilan Zia, berarti dalam hitungan minggu Zia sudah akan melahirkan.


Zidan harus gerak cepat.

__ADS_1


__ADS_2