
Satu bulan kemudian.
Kalau kebanyakan anak SMA saat pulang sekolah disambut ibunya yang menyuruh makan, berbeda dengan Zidan. Dia dibukakan pintu oleh sang istri yang menggendong anak mereka.
Zidan mengusap surai hitam Zia saat istri imutnya itu tersenyum padanya, "Kenapa sih? kok tumben aku pulang sekolah disambut senyum semanis ini?"
"Nggak suka? Ya udah besok aku nggak usah capek-capek turun tangga kalo denger suara motor kamu," balas Zia. Niatnya memang hanya ingin menyambut suaminya pulang.
"Suka kok. Apalagi senyumnya... emmm pengin kamu cepet-cepet selesai masa nifasnya," kata Zidan membuat Zia mengerucutkan bibirnya.
"Berapa hari lagi sih?" tanya Zidan takut hitungannya tidak tepat.
"Dua. Dua hari lagi udah selesai," jawab Zia. Berarti Zidan tidak salah hitung.
"Yes. Bentar lagi, langsung gas boleh kan?" tanya Zidan blak-blakan.
"Kalo hamil lagi gimana? KB dulu deh kayanya tanya ke Bunda juga," jawab Zia. Kan bahaya jika hamil lagi saat Zavian juga baru berusia satu bulan lebih.
"Iya deh iya," lemas Zidan.
"Kamu ganti baju sana, nanti makan siang bareng," suruh Zia. Ngebet sekali suaminya ini, padahal dulu bisa tidak melakukan itu berbulan-bulan saat awal pernikahan.
¤¤¤¤¤
"Sini Zavian sama aku, mau nen*n kayanya itu," minta Zia saat Zavian menangis di pangkuan Zidan. Bayi menggemaskan itu sudah bukan bayi merah lagi, sudah berkulit putih bersih seperti kedua orangtuanya.
"Kan kamu lagi makan," balas Zidan sembari mencoba menenangkan putranya yang masih saja menangis.
"Nggapapa. Disambi aja kaya biasa," kata Zia lagi dengan tangan yang mengambil Zavian dari papanya.
"Aku suapin deh," ujar Zidan kemudian duduk di sebelah Zia. Zidan sudah makan malam di acara kantor tadi.
"Aaaa...." Zia membuka mulutnya saat Zidan menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk.
"Kamu nungguin aku makan malem ya? Padahal aku udah bilang aku makan di kantor," kata Zidan sembari mengutak-atik makanan di piring Zia.
"Dih pede banget papa kamu Vian, padahal mama kan udah makan tadi cuma laper lagi," jawab Zia seperti berbicara pada Zavian.
__ADS_1
Zidan mengangguk lalu kembali mennyuapi Zia, "Pasti kamu ya yang bikin mama laper terus? iya kan ngaku?" tanya Zidan pada Zavian yang sama hanya menatap heran papanya sembari asyik menyus*.
"Endut banget sih, gemesinnn," kata Zidan sembari menepuk-nepuk ****** Zavian.
"Endut lah, waktu ditimbang aja udah naik sekilo lebih," sahut Zia di sela-sela kunyahannya.
Zidan mengangguk, sembari menatap sang istri, "Kan papa juga liat."
Memang saat pertama ditimbang Zidan ikut.
"Papa?" tanya Zia. Padahal Zidan tengah berbicara padanya bukan pada Zavian.
"Eh nggak jadi. Niatnya mau ganti panggilan jadi papa mama. Tapi masih geli ngucapnya," ujar Zidan sembari bergidik.
"Jangan dulu deh, aku juga geli," timpal Zia. Memang harusnya sudah membiasakan panggilan tersebut untuk Zavian, tapi belum mau mereka terapkan.
"Besok-besok aja." Zidan mengucapkan itu sembari memberikan suapan terakhir untuk istrinya. "Nambah nggak?"
Zia menggeleng, "Udah. Udah kenyang."
"Ya udah. Zavian juga udah kenyang, Yuk main sama papa lagi," kata Zidan sembari mengambil Zavian kembali. Waktu dengan Zavian tidak bisa Zidan sia-siakan, karena pagi sampai siang sekolah dan sore kerja. Hanya malam waktu paling banyak yang ia punya bersama sang putra.
Zidan mengangguk, walaupun nanti juga ujung-ujungnya Zavian sampai tidur di gendongannya.
Saat sedang belajar untuk Ujian Kenaikan Kelas yang akan dilaksanakan seminggu lagi, Zia teringat sesuatu. Membuat ibu satu anak itu membalikkan tubuhnya menghadap sang suami
"Zidan," panggil Zia pada Zidan yang sudah duduk bersandar di sofa dengan Zavian tidur tengkurap di dadanya.
"Apa?" sahut Zidan pelan agar tidur Zavian tidak terganggu.
"Kelas 12 kan aku udah sekolah kaya biasa, Zavian gimana?" tanya Zia. Mengingat Pak Ervan waktu itu memberinya waktu homeschooling hanya satu tahun.
"Mau pake pengasuh buat Zavian?" tanya Zidan.
Zia menggeleng, "Takut. Banyak banget kasus pengasuh anak yang nggak tanggungjawab."
"Sama Bunda aja."
__ADS_1
Zidan dan Zia menoleh ke arah pintu, di sana ada bunda Dian yang masuk sembari membawa puding.
"Kan Bunda kerja," ujar Zidan. Masa terus-terusan merepotkan bundanya.
"Bisa ambil cuti atau malah resign dulu sampai kalian lulus," jawab Bunda Dian seperti memang sudah memikirkan sebelumnya.
"Emang nggapapa Bun?" tanya Zia yang tidak enak hati. Ini jangka waktu lama, bukan sehari dua hari.
"Ngapapa dong. Kan ngerawat cucu sendiri, malah bunda pengin banget," jawab bunda Dian yang duduk di sebelah Zidan.
Zia yang duduk di kursi belajar saling tatap dengan Zidan. Memikirkan mereka akan merepotkan Bunda, apalagi kalau sampai lulus itu berarti satu tahun.
"Gimana? Kalau jasa babysitter juga bunda kurang setuju. Was-was, lagi banyak loh kasus-kasus yang nelantarin bahkan bahayain anak asuhnya," ucap bunda Dian.
"Iya Zia juga udah baca-baca kemarin, jadi ngeri sendiri takut kita salah pilih orang," balas Zia yang sudah mencari-cari informasi.
"Nah! Sama bunda aja. Bunda juga niatnya mau istirahat dulu jadi dokter, mau main sama cucu," kata bunda Dian meyakinkan.
"Kalo bunda mau, dan nggak ngerepotin Bunda, Zidan malah sangat percaya bunda," ujar Zidan.
"Nggak ngerepotin sama sekali." Bunda mengucapkan itu dengan yakin.
Zidan menatap Zia selaku ibu dari Zavian yang akan menentukan keputusan, "Zia juga sama kaya Zidan Bun. Kalo bunda mau malah Alhamdulillah, Zia lebih tenang sekolahnya. Tapi Zia ada rasa nggak enak juga."
"Jangan lah ada rasa nggak enak. Bunda dengan suka rela, kan bukan kalian yang nyuruh. Jadi, ini mau bunda," ucap bunda Dian lagi.
Zidan dan Zia mengangguk, baik sekali neneknya Zavian ini.
"Ya udah kalo gitu. Nanti Zidan sama Zia percayain Zavian sama bunda waktu kita sekolah, nanti kalo pulang sekolah Zia lagi yang urus Zavian, iya kan Zi?" tutur Zidan yang diangguki Zia. Zidan membantu sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja.
Mau secapek apapun Zia sekolah nanti, sudah menjadi tanggungjawabnya mengurus buah hatinya dan Zidan.
"Yeah. Zavian nanti mainnya sama Grandma ya," kata bunda Dian pada Zavian yang masih anteng tertidur di dada Zidan, sepertinya ia suka tempat itu.
"Makasih ya Bun," kata Zia yang terharu dengan kasih sayang bunda Dian pada anak menantu dan cucunya.
"Sama-sama. Kamu sekolah yang bener, kalau mau juga bisa lanjut kuliah. Capai apa yang kamu cita-citakan," ucap bunda Dian membuat Zia beranjak dari duduknya dan memeluk mertuanya yang berhati malaikat itu.
__ADS_1
"Zia nggak mau kuliah, selesai SMA aja udah seneng, udah kaya keajaiban buat seorang yang udah punya anak kaya Zia ini," kata Zia. Kuliah sudah ia hapus dari daftar rencana masa depannya. Anaknya lebih membutuhkan kasih sayang dan waktunya, rencana masa depannya berubah untuk menjadi istri dan ibu terbaik untuk suami dan anak-anaknya.
Hati Zidan tersentil dengan ucapan Zia. Padahal, jika Zia mau kuliah, ia mendukungnya. Zidan berjanji akan melakukan yang terbaik untuk istri dan anaknya. Ditepuknya pelan punggung Zavian, jagoan yang selalu menjadi kebanggannya dan Zia, dan semua orang.