Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
71. Rambutan Botak


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Ayra dan Keyna masih diam saat suara ketukan pintu terdengar berulangkali. Keduanya takut jika itu pegawai di kantor ini. Keyna bahkan menempelkan kepalanya do belakang pintu guna memastikan suara siapa di luar sana.


"Ini kita Key," ucap Sherena dari luar. Keyna dan Ayra bernapas lega kemudian membuka pintu tersebut. Sherena, Galen, dan Zio segera masuk sebelum banyak orang curiga. Lagian mereka melakukan misi ini di jam kantor yang pastinya banyak pegawai berlalu lalang di luar sana.


"Gimana?" tanya Sherena. Keyna menggelengkan kepalanya begitupun Ayra.


"Ngga ada petunjuk, cuma laci-laci itu aja yang kekunci yang brlum kita buka." Ayra menunjuk laci yang terdiri dari empat ruang itu.


Sherena mengeluarkan kunci yang ia ambil dari saku om tadi. Oh iya om terus panggilnya, btw nama om itu Bandi. Agar lebih enak kita panggil saja dia dengan sebutan Pak Bandi.


Keyna mengambil kunci itu lalu mencoba membuka laci tersebut, dan...


ceklek


Keyna menatap semua temannya sebelum membuka laci paling atas itu. Perlahan terlihatlah isi di dalamnya, sebuah laptop.


Keyna mengambilnya lalu menyerahkan itu pada sang ahli.


"Zio, salin semua data, apapun itu," perintah Keyna yang diangguki Zio yang langsung mengeluarkan flashdisk dari sakunya dan mulai mengutak atik laptop tersebut.


Laci kedua. Hanya di sana terdapat remot televisi, Keyna menyeegitkan alisnya bingung. Kenapa jika isinya hanya remot disimpan di laci sampai di kunci lagi.


Ayra mengambil itu dari tangan Keyna lalu menggunakannya untuk menyalakan televisi. Seketika semua yang di sana mengalihkan pandangannya dari laci ke arah televisi yang dipasang tinggi di tembok.


"Cerdas juga lo," puji Sherena sembari mereka menonton.


"CCTV rumah lo bukan Zi?" tanya Galen membuat Zio yang tengah menyalin data mengalihkan pandangannya ke arah televisi.


Zio membulatkan matanya saat itu adalah rekaman CCTV di rumahnya yaang hilang pada hari kejadian. Bagaimana bisa sampai di sini?


"Salin cepet Gal," ucap Zio yang merasa itu adalah sebuah petunjuk besar.


"Nyuruh gue lo Zi." Meskipun berucap demikian, Galen tatap segera mengeluarkan flashdisk yang sengaja ia bawa untuk jaga jaga. Dan benar saja sekarang itu berguna. Galen harus menaiki meja agar bisa menghubungkan flashdisk itu pada televisi.


"Psikopat nih orang, ngga pegel tuh leher nonton tv setinggi itu," dumel Sherena yang sedari tadi terus mendongak.


"Mending buka laci yang lain aja, biar mereka ngerjain tugasnya masing-masing," ujar Ayra yang diangguki Sherena dan Keyna.


Laci ketiga Keyna buka. Tidak penting sama sekali. Hanya sebuah album foto.


"Ambil ngga nih?" tanya Keyna sembari membolak balikkan album tersebut.

__ADS_1


"Ngga usah deh, kayanya ngga penting juga," saut Ayra. Sungguh, waktunya sudah tidak lama lagi.


Keyna mengembalikan album tersebut pada tempatnya, kini laci paling bawah menjadi tujuan ketiga cewek itu. Ketiganya menghembuskan napas kecewa saat tidak ada isinya sama sekali. Berarti harapan mereka hanya pada CCTV dan salinan data dari laptop milik Pak Bandi.


"Udah belum Gal? Zi?" tanya Ayra sembari melihat jam tangannya.


Zio mengangguk sembari mencabut flashdisk tersebut. Kini tinggal Galen, menunggu beberapa saat sampai akhirnya Galen sudah selesai dengan CCTV tersebut.


"Sini kembaliin ke tempat semula," ujar Keyna membuka laci teratas. Zio meletakkan laptop tersebut di dalamnya, begutupun dengan remot televisi yang diletakkan di laci kedua.


"Nih," ucap Keyna menyerahkan kunci itu ke tangan Sherena. "Balikin ke hotel."


"Ha? gue?" kaget Sherena, masa ia harus berurusan lagi dengan om om itu.


"Ya siapa lagi, takutnya Pak Bandi udah bangun dan satu-satunya orang yang bisa atasin itu ya lo." Ucapan Keyna membuat Sherena mengangguk lemas.


"Sama aku yuk," ajak Zio. Sherena seketika kembali bersemangat dan mengangguk.


"Sana lo berdua cepet. Kalo udah selesai, jangan mampir ke kamar sebelah," canda Ayra. Zio terkekeh lalu mengacungkan jempolnya.


"Kalo lama berarti mampir," ujar Zio sembari menggandeng Sherena keluar dari ruangan. Tentunya setelah mengawasi situasi di luar aman.


"Nanti malem bisa ke basecamp ngga Ra?" tanya Keyna yang berniat mengajak Ayra menyaksikan dan menyelidiki berdasarkan dua petunjuk yang mereka dapatkan.


"Ya udah. Salam buat Pak Ervan ya," ujar Galen sebelum mereka berpisah.


°°°°°°


Ceklek.


Zia menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu dibuka. Zia terdiam ketika melihat penampilan Zidan yang menggunakan kemeja yang sudah ditekuk sampai siku. Rambutnya sudah sedikit berantakan, tapi malah terlihat lebih tampan di mata Zia, apalagi sekarang Zidan tengah tersenyum ke arahnya sembari melepaskan jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sungguh, Zidma terlihat berkali kali lebih ganteng dari biasanya.


"Hey," Zidan mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Zia yang bengong. Zia sedikit terperanjat sata kewarasannya sudah kembali lagi.


"Udah pulang?" pertanyaan yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Jelas jelas sudah berdiri di hadapannya berarti sudah pulang dong.


Zidan mengangguk lalu menyapa calon anaknya, "Nakal ngga hari ini?" tanyanya sembari mengusap perut Zia.


Zia menggelengkan kepalanya, "Ngga sama sekali. Cuma minta omellet dan udah dimasakin sama Bi Asih."


"Kamu udah makan?" tanya Zidan yang atensinya berpindah yang semula pada perut Zia kini terpusat pada wajah Zia.


Zia menggelengkan kepalanya, "Nunggu kamu." Zia menggigit bibir bawahnya setelah mnegucapkan itu. Rasanya masih sangat kaku dan aneh baginya.

__ADS_1


"Ya udah, ayok turun." Zidan membantu Zia berdiri dari duduknya dengan menyelipkan kedua tanganya di ketiak Zia lalu mengangkatnya.


"Padahal Zi-aku masih bisa berdiri sendiri, perut aku belum sebesar itu sampe berdiri aja susah," ucap Zia saat mereka tengah berjalan keluar dari kamar. Sungguh, perasaan Zia semakin hari semakin tidak karuan saat diperhatikan lebih seperti ini.


"Kan latian, biar nanti waktu udah susah berdiri akunya udah terbiasa bantu kamu," jawab Zidan yang kini memegang pinggang Zia saat mereka menuruni anak tangga.


Sesampainya di ruang makan.


"Bunda bilang ada jadwal operasi jadinya pulangnya agak telat, kalo Ayah masib di kantor," ucap Zidan sebelum Zia bertanya.


Zia yang sudah akan membuka mulutnya guna bertanya mengurungkan niatnya dan mengangguk saja.


Saat keduanya tengah makan malam dengan sedikir obrolan, ponsel Zidan berbunyi. Zidan dengan tangan kirinya mengangkat panggilan itu saat nama penelepon adalah Zio.


"Bisa ke basecamp ngga?"


"Kapan?" tanya Zidan sembari melihat Zia yang tengah makan dengan lahap.


"Kalo bisa sih sekarang."


"Nunggu bunda pulang boleh? Zia sendirian di rumah," ujar Zidan membuat Zia menatap ke arahnya karena namanya disebut.


"Jangan lama."


"Oke." Zidan mematikan panggilan itu. Lantas Zidan kembali melanjutkan makannya.


"Gue nanti ke basecamp," izin Zidan yang diangguki Zia.


"Pulangnya bawa rambutan yang ngga ada rambutnya." Ucapan Zia membuat Zidan yang tengah minum tersedak. Apa dia tidak salah dengar?


"Rambutannya botak gitu?" tanya Zidan sekenanya.


"Iya, cukurin dulu," jawab Zia yang sudah selesai makan. Kini wanita imut itu tengah mengaduk aduk air kobokan yang selalu disediakan di mangkuk kecil


"Ya udah. Nanti aku cukurin. Tapi jangan nungguin takutnya lama, tidur aja dulu." Zia mengangguk lalu berdiri membrreskan piring dengan dibantu Zidan.


°°°°°°


haiii👋


Gimana? Suka?


Like dong, komen juga biar aku makin semangat updatenya ♥♥

__ADS_1


Bye


__ADS_2