
"Ay."
Ayra tersenyum saat Zidan memanggilnya. Zia sudah berdiri di belakang Zidan dengan tangan yang memegang piala.
"Congrats," ucap Ayra, Zidan mengangguk dengan kaku. Sungguh, rasanya canggung sekali. Sejenak suasana hening karena pertemuan mantan sepasang kekasih fenomenal yang sudah kandas.
"Gimana yang Sains? menang ngga?" tanya Keyna yang berusaha mencairkan suasana. Akan seperti ini terus jika ia diam saja.
Zidan mengalihkan pandangannya pada Keyna, lalu ikut duduk di sana. Zia sudah ke kamar untuk meletakkan tas dan piala Zidan
"Nggak lah. Suhu nya ada di sini, yang main tuh tadi cupu banget. Gue aja tau jawabannya masa dia ngga tau coba," cerita Zidan yang mengingat betapa mengesalkannya perwakilan dari tim Sains SMA trisatya. "Sampe guru pembimbingnya aja elus dada."
"Kenapa ngga lo yang jawab," kekeh Keyna yang membayangkan bagaimana kesalnya guru pendamping tadi.
"Kalo bisa udah gue maju," kesal Zidan. Bertepatan dengan itu Zia datang dengan segelas air putih untuk Zidan. Zidan menerima lalu meminumnya kemudian tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih.
Zia mengangguk lalu duduk di sebelah Zidan, Zidan langsung mengusap perut Zia karena kebiasaan. "Mual lagi?"
"Cuma tadi pagi aja." Gelengan dari Zia membuat Zidan lega, pasalnya tadi saat sedang lomba, ia kepikiran Zia yang tadi pagi kembali mual.
"Aduh... Sheren mau nikah makkk," seru Sherena yang terus melihat tingkah Zidan dan Zia sedari tadi.
"Ntar gue bilang Zio. Asal jangan kaget aja kalo nanti malem Om Riyan sama Tante Salma udah di depan rumah lo," ujar Zidan. Zia yang mendengar nama kedua orangtuanya disebut, tiba-tiba menjadi rindu pada mereka, sudah lama Zia tidak bertemu mereka. Sebisa mungkin Zia menampilkan raut wajah biasa.
Sherena panik dibuatnya, "Ya jangan lah. Belum siap gue."
"Siapa tau mau nyusul Zia sama Ayra, ya ngga Dan?" ledek Keyna. Zidan menaikkan alisnya dua kali tanda setuju.
"Mohon maap itu mah lo kali Key," seru Sherena.
"Ntar juga lo ngiri. Kan kalo Keyna udah, terus pada bawa suami. tinggal lo yang belum nikah," timpal Ayra.
"Lo kan ada," sahut Sherena lagi.
"Moonmaap, udah jadi nyonya muda gue," ucap Ayra sembari memamerkan vincin nikahnya.
"Kalian sama-sama pake cincin nikah, tapi dengan pasangan yang berbeda," ledek Sherena pada Ayra dan Zidan.
"Ayra mau tukeran? Nanti Zia jadi istri CEO," canda Zia menyodorkan tangannya yang terdapat cincin nikahnya dengan Zidan.
__ADS_1
"Lo ngga mau lagi jadi istri gue?" tanya Zidan yang mengira ucapan Zia adalah benar dari hati nuraninya.
"Ih enggak! Zia cuma bercanda. Zia malah takut kalo liat muka garang suami Ayra, lebih enak diliat aja muka Zidan," elak Zia membuat Zidan menatapnya dalam, guna mencari kebohongan di sana. Saat tidka melihat kebohongan itu Zidan mengecup bibir Zia sedetik.
"Jaga mulutnya kalo ngomong!" peringat Zidan yang sepertinya ngambek.
Zia gelagapan sendiri, "Iya iya, ngga ulangi lagi. Janji."
Ayra sedari tadi mengamati sikap mantan pacarnya itu, entah kenapa dirinya sudah tidak merasakan sakit melihat Zidan begitu mesra dengan Zia. Tidak seperti beberapa waktu lalu, sepertinya Om Ervan sudah berhasil menggantikan nama Zidan di hatinya. Akhirnya Ayra bisa mmebuktikan bahwa rasa itu sudah benar-benar hilang.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa lagi sih," kesal Zia yang sudah dua kali membukakan pintu. Zia akan beranjak tapi lebih dulu dicegah Ayra.
"Gue aja, kayanya suami gue deh." Ayra membuka pintu dan seketika bibir gadis itu diserang oleh suaminya. Mata Ayra melotot karena di belakang mereka masih ada Zidan dan para sahabatnya, tangannya memukul punggung Pak Ervan tapi tidak juga dilepas.
Ck. Dasar om om ngga tau tempat, batin Ayra. Ini adalah kebiasaan baru ketika mereka habis berpisah, walau hanya satu jam seperti ini.
"Pro banget." Sherena sudah membulatkan mulutnya, sementara Zia malah terus memperhatikan. Dalam pikiran perempuan hamil itu, kenapa itu bisa sangat lama dan sepertinya sedikit berbeda dari yang Zidan ajarkan.
"Mikirin apa?" kesal Zidan mengusap wajah Zia yang bengong.
"Sudah waktunya pulang, main mainnya udahan dulu," ucap Pak Ervan sembari mengusap sudut bibir Ayra. Ayra yang kesal dan sangat malu kembali memasuki kontrakan Zia untuk mengambil tas lalu berjalan melewati Pak Ervan dengan wajah yang ditekuk.
"Ayra pulang dulu, besok boleh main-main lagi," pamit Pak Ervan sembari mengikuti Ayra yang sudah pergi duluan. Mereka yang di sana mengangguk dan tersenyum canggung.
"Hot abissss," seru Sherena setelah Pak Ervan pergi. Keyna mengangguk lalu menggelengkan kepalanya.
"Itu ciuman kan?" tanya Zia dengan polosnya.
"Ya iyalah. Lo kan juga udah pernah," timpal Sherena yang gemas sendiri dengan Zia.
"Kok beda," gumam Zia namun masih bisa didengar semuanya.
"Lah apa bedanya?" heran Sherena.
"Yang Zidan ajarin ngga kaya gitu, terus itu kok bisa lama banget. Zia mah bentar aja udah ngap," jawab Zia dengan jujurnya. Sherena menyemburkan tawanya, sementara Keyna hanya tersenyum geli. Zidan? Cowok itu hanya menjadi pendengar yang baik, bicara juga tidak akan nyambung dengan otak Zia.
"Lo belum pro aja Zi, kalo udah pro nanti juga bisa kaya gitu," ucap Sherena.
__ADS_1
Zia dengan wajah polosnya mengangguk, padahal aslinya tidak paham.
°°°°°
Sepulang kerja.
"Kenapa?" tanya Zidan saat melihat raut sedih yang tertera di wajah ayu Zia. Zia menghela napas lalu meneteskan air matanya.
Zidan membawa tubuh Zia ke dalam pelukannya, "Cerita sama gue, kenapa?"
Zia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Zidan dari bawah.
"Kangen mama papa," cicit Zia kemudian kembali menangis. Zidan yang paham akan perasaan itu segera mengusap punggung Zia guna menenangkannya.
"Mau ke rumah?" tanya Zidan tapi Zia menggelengkan kepala.
"Takut diusir lagii."
Zidan memejamkan matanya sejenak, ternyata Zia diam-diam trauma akan pengusiran hari itu. "Nggapapa, sama gue nanti. Yang penting usaha dulu, Mau?"
"Takutt." Zia masih belum memiliki keberanian untuk melihat wajah marah papanya, tapi ia juga rindu. Pasti perut mamanya sudah lebih besar dari perutnya sekarang.
"Kalo takut nanti sembunyi di belakang gue. Katanya kangen, kan ngga ada obat kangen paling ampuh kecuali pertemuan," bujuk Zidan, ia kembali merasa bersalah sekarang. "Kalo lo mau, besok pulang kerja kita mampir ke sana. Siapa tau jam segitu papa lo udah pulang."
Zia mengangguk lalu menyeka air matanya. "Mauuu. Tapi harus sama Zidan."
Zidan mengangguk lalu ikut menyeka air mata Zia. "Udah dong jangan nangis, nanti babynya ikutan nangis."
°°°°°
Haiii haii haiii 👋
Aku udah tepatin janji buat double up yaa
Sekarang waktunya kalian hargain usaha aku dengan like, komen, vote, kasih hadiah ataupun tips yaaa. ♥♥
Aku ngga maksa kok. kalian lakuin salah satunya aja aku udah seneng banget. ♥♥
Bye bye semuanya👋👋
__ADS_1