Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
123. Ditemani Ayra


__ADS_3

"Kamu sarapan dulu aja," kata Zia saat Zidan duduk di sebelahnya yang tengah menyusui baby Zavian. Zidan sudah mengenakan seragam SMA Trisatya, tapi masih menunggunya untuk sarapan.


"Bareng aja yuk," ajak Zidan. Masa dia sudah sarapan sedangkan istrinya belum.


Zidan mengambilkan kain untuk menutupi bagian payudar* Zia yang terekspos. "Udah nggak keliatan, ayok sarapan."


Zia mengangguk lalu dibantu Zidan berdiri dari duduknya. Tadi memang ia berniat menemani sang suami untuk sarapan, tapi baru saja akan keluar kamar, Zavian sudah lebih dulu menangis.


Sesampainya di ruang makan, sudah ada bunda Dian dan ayah Dimas yang masih belum memulai sarapannya.


"Baru nyus* Zavian-nya?" tanya bunda Dian saat Zia duduk di kursinya dengan menggebdong Zavian.


Zia mengangguk, "Iya barusan Bun. Maaf ya jadi lama nungguin."


"Ngga apa-apa. Jadi orangtua muda emang gitu," jawab ayah Dimas memaklumi karena dia juga dulu seperti itu. Sering tertunda kegiatannya karena si kecil Zidan.


Mereka pun memulai sarapan saat anggota keluarga sudah lengkap. Tidak enak jika ada yang memulai sarapan terlebih dahulu, palingan kalau memang ada meeting atau bunda ada pasien darurat.


¤¤¤¤¤


"Jangan tungguin aku pulang ya? Aku langsung ke basecamp buat nyiapin acara amal," ujar Zidan saat Zia mengantarkannya sampai depan rumah.


Zia mengangguk lalu mengecup punggung tangan sang suami, "Pulang pagi berarti?"


"Iya, aku udah bawa kunci rumah sama kamar inih," jawab Zidan kemudian mengecup kening Zia. Tidak lupa juga Zidan mengecup pipi Zavian yang tertidur di gendongan Zia.


"Jangan rewel ya jagoan papa. Kita ketemu lagi besok," kata Zidan pada sang putra, walaupun sudah pasti tidak ada balasan dari Zavian.


"Ati-ati."


Zidan tidak langsung menghidupkan motornya di depan rumah, Zidan lebih dulu menuntunnya sampai jalanan depan. Tujuannya agar tidak menganggu tidur Zavian dengan suara motor sportnya.


Zia masih berdiri di tempat sampai motor Zidan tidak terlihat, setelah itu ia menjemur baby Zavian di hangatnya matahari pagi ini.


"Bunda sama Ayah berangkat kerja dulu ya," pamit bunda Dian yang sudah menenteng jas putihnya bersama sang suami yang menggandeng tangannya.


Zia mengangguk, "Hati-hati Yah, Bun."


Kedua mertua mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang sama. Ayah Dimas memang kadang mengantarkan sang istri dulu ke rumah sakit jika tidak sedang buru-buru, dan seringnya tidak buru-buru.


"Semoga Zia sama Zidan bisa ngikutin jejak ayah sama bunda. Udah tua masih aja romantis," kata Zia pada dirinya sendiri karena melihat bagaimana perhatian ayah Dimas pada bunda Dian selama ini.

__ADS_1


"Hey, udah bangun. Silau ya?" tanya Zia pada baby Zavian yang membuka matanya tapi menyipit.


¤¤¤¤¤¤


"Hai Zavian," sapa Ayra yang sore hari berkunjung ke rumah tetangga sekaligus sahabat sekaligus mantannya juga.


"Hai aunty," jawab Zia yang sedang menimang-nimang Zavian di depan rumah.


"Ayo masuk, Ayra," ajak Zia mempersilahkan sahabatnya.


Ayra mengangguk lalu mengikuti langkah Zia untuk masuk ke dalam rumah yang dulu menjadi tempatnya berkeluh kesal pada sang kekasih.


"Mau minum apa, biar Zia ambilin," tawar Zia. Kebetulan ART sedang ke supermarket untuk belanja bulanan, dari siang belum pulang.


"Nggak usah ngerepotin, gue cuma main sama lo sama Zavian. Bosen di rumah sendirian," kata Ayra menolak halus tawaran Zia.


"Samaaa Zia juga sendirian, cuma sama Zavian doang," saut Zia yang duduk di sebelah Ayra.


"Kan! makanya gue ke sini, biar ada temennya," timpal Ayra.


Saat sedang mengobrol, tiba-tiba perut Zia berbunyi. Zia nyengir saat Ayra menatapnya sembari tersenyum.


"Sebenernya udah makan siang, tapi karena nyus*in jadinya udah laper lagi," jawab Zia sembari menyerahkan Zavian pada Ayra dengan perlahan.


"Zia ambil makan dulu ya," pamit Zia. Sekalian jadi ia bisa mengambilkan minum untuk Ayra.


Zia kembali dengan satu piring nasi lengak dengan lauk sop daun katuk untuk melancarkan ASI, dua gelas air putih dan camilan.


"Ini diminum ya Ra, cuma air putih," kata Zia yang mulai makan. Ayra mengangguk, lagian dia memang tidak boleh minum terlalu banyak yang manis-manis.


"Ayra nggak ikut siapin acara amal Atlansa?" tanya Zia di sela-sela makannya.


Ayra menggelengkan kepalanya, "Nggak boleh sama Kak Ervan. Capek kan itu, bolehnya ikut pas acaranya."


"Mending. Zia nggak bisa ikut semuanya," cemberut Zia. Zidan tidak mengizinkannya barang hanya datang karena baby Zavian masih belum terlalu kuat di luar rumah yang terik dan banyak polusi.


"Ya iya sih. Kan lo masih masa pemulihan, jalan aja masih ngangkang," jawab Ayra diakhiri kekehan yang dibalas kekehan juga oleh Zia.


"Masih ngilu dikit," kata Zia jujur.


"Kalo gue nggak dateng, lo nahan laper sampe kapan?" tanya Ayra. Karena ia tau Inti Atlansa malam ini lembur menyiapkan panggung konser dan lokasi garage sale.

__ADS_1


"Sampe bibi pulang. Bentar lagi paling," jawab Zia.


Ayra mengangguk. "Gimana setelah beberapa hari jadi orangtua?" tanyanya penasaran.


Zia menghela napas, "Capek, seneng, nggak tau deh tapi masih aneh buat Zia yang biasanya cuma rebahan."


"Belum terbiasa ya?" tanya Ayra yang diangguki Zia.


"Masih banyak yang Zia nggak tau, jadi harus dicontohin atau dikasih tau bunda dulu," jawab Zia apa adanya.


Ayra mengangguk lalu berdiri dan berjalan pelan saat Zavian mulai merengek. "Imutnya lo banget sih ini," gemasnya saat Zavian menguap dengan begitu menggemaskan.


Zia terkekeh, memang dari lahir banyak yang bilang Zavian nurun imutnya dari dia.


"Yang dari Zidan apanya coba?" tanya Zia agar Ayra menebak.


Ayra mengamati wajah mungil itu lalu menjawab, "Hitung mancungnya, alis, itu aja sih kayanya. bener kan? "


"Iya bener. Untung hidungnya nggak ikut kecil kaya Zia, cuma bibirnya aja yang ikutan kecil," kata Zia sembari meletakkan piring yang sudah habis isinya itu di meja lalu mengambil gelas berisi air putih.


Ayra tertawa sembari kembali duduk.


"Kalau kembarannya dulu bisa Zia pertahanin, mungkin dia ngikut hidung Zia," kata Zia yang tiba-tiba suasana menjadi sendu.


"Udah, ikhlasin. Tuhan lebih sayang sama kembarannya Zavian, biar dia jadi tabungan lo di akhirat nanti," ujar Ayra mencoba menghibur sahabatnya.


Zia mengangguk walau matanya berkaca saat mengingat hal tersebut, "Kayanya emang Tuhan tau Zia nggak bakalan bisa ngurus dua anak sekaligus jadi yang satu diambil lagi."


"Bukan gitu. Mungkin karena biar lo belajar dulu urus Zavian yang bener, nanti kalo udah waktunya bakalan dikasih gantinya. Senyum dong, masa cemberut gitu mamanya Zavian," hibur Ayra.


Zia tersenyum lalu mengambil Zavian lagi karena putranya itu sudah gelisah, sepertinya sudah ingin menyus* kembali.


"Tapi kalo beneran dua, Zia nggak tau bakalan kuat lahirinnya apa enggak. Zavian aja rasanya tulangnya rontok semua," kata Zia sembari mengarahkan mulut si kecil ke punt*ngnya.


"Nah! berpikir positif aja kalo memang yang sekarang itu yang terbaik menurut Tuhan," ujar Ayra. Matanya melihat ke arah jam dinding, sudah saatnya pulang karena ia belum mandi.


"Makasih ya Ayra udah nemenin Zia, udah hibur sama bantu Zia juga gendongin Zavian," kata Zia saat Ayra berpamitan pulang.


Ayra mengangguk lalu memeluk ringan Zia karena ada Zavian di tengah-tengah mereka. "Makasih juga loh, udah diizinin main jadinya gue nggak gabut di rumah."


"Ati-ati," kata Zia saat Ayra mulai menjauh. Tangannya ingin melambai tapi tidak berani, takut Zavian jatuh. Padahal aslinya aman-aman saja, Zia saja yang takut.

__ADS_1


__ADS_2