Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
56. Bersama Arin


__ADS_3

Sore hari di kontrakan Zidan.


"Alin mau punya dede bayi," ucap Arin yang duduk di pangkuan Zia sembari terus mengelus perut Zia. Zia hanya tersenyum menanggapinya, Arin sudah mengulangi kalimat itu beberapa kali.


"Seneng amat anak lo Gal," ujar Zidan yang baru saja membuatkan susu hamil untuk Zia. Zidan lalu duduk di ssbslah Galen setelah menyerahkan susu itu pada Zia.


"Biasalah, udah dari lama minta adek terus, giliran kesampean ya gitu," jawab Galen yang sedang fokus pada layar ponselnya.


"Aunty minum susu dulu ya," ucap Zia membuat Arin turun dari pangkuan Zia dan duduk di sebelah Keyna. Gadis kecil itu terus menatap susu yang tengah diminum Zia, sekarang Arin juga menginginkannya.


"Alin uga mau susu, Ma." Keyna terkekeh, lalu menganggukkan kepalanya. Keyna mengambil botol susu Arin dan susu bubuk dari dalam tas yang ia selalu bawa jika pergi bersama Arin.


"Sini aku aja," ujar Galen meletakkan ponselnya lalu mengambil botol susu Arin dari tangan Keyna. Keyna memberikannya dengan senang hati, lagian datang bulan membuatnya mager.


"Alin mau punya dede bayi kan ya Ma?" ujar Arin lagi yang entah keberapa. Keyna hanya mengangguk dan tersenyum pada Arin yang menatapnya bertanya.


"Kenapa dede bayinya di pelut aunty, bukan di pelut mama?" Pertanyaan Arin membuat Keyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kan itu dede bayinya aunty Zia, jadinya ada di perut aunty Zia." Arin mengerutkan dahinya bingung, lalu dalam sekejap bibirnya mengerucut.


"Lah anak mama kenapaa? Kok cemberut gitu?" tanya Keyna dengan lembut saat melihat perubahan dari raut wajah Arin.


"Kata mama itu dede bayinya Alin, kok nda di pelut mama kaya Alin dulu," ujar Arin yang masih dengan raut wajah yang sama.


Kamu juga dulu ngga di perut Mama, batin Keyna.


"Iya, itu juga dede bayinya Arin, tapi tinggalnya di perut Aunty." Keyna tidak tahu cara menjelaskan yang benar seperti apa.


"Dede bayinya pindah aja ke pelut mama ya? " Keyna semakin pusing saja karena ucapan Arin yang tidak masuk akal.


Gimana cara mindahinnya bocil, dikira barang kali. tinggal pindah gitu aja, batin Zidan menggerutu.


"Ngga bisa kaya gitu, sayang, semua ada caranya. Ngga bisa langsung dipindah gitu aja," ujar Keyna yang merasa anaknya tidak akan paham dengan penjelasannya.

__ADS_1


"Calanya gimana?"


Zidan terus memperhatikan tingkah Arin yang menurutnya sangat menggemaskan dan sangat pintar untuk anak usia dua tahun setengah. Zidan jadi berpikir, apakah anaknya nanti akan semenggemaskan itu?


"Ya buat sendiri lah," ujar Zidan yang mendapat tatapan tajam dari Keyna dan tatapan bertanya dari Arin juga Zia.


"Buatnya gimana, Uncle?"


"Mama sama papa suruh main kuda-kudaan," ucap Zidan lalu dirinya tertawa.


"Zidan STOP! jangan racunin otak anak gue ya," kesal Keyna bertepatan dengan Galen yang sudah kembali dari dapur dengan sebotol susu.


"Ngomongin apaan pada?" tanya Galen, Arin yang melihat papanya langsung menghampiri dan mengambil botol tersebut, tapi ia belum meminumnya.


"Papa main kuda kudaan sana sama mama, bial di pelut mama ada adek bayinya kaya di pelut Aunty." Keyna sudah mendesah lelah dengan tingkah anaknya.


"Ha? kata siapa sayang? Siapa yang ngajarin ngomong kaya gitu? " tanya Galen saat paham apa maksud kalimat yang Arin katakan barusan.


"Uncle Jidan," tunjuk Arin pada Zidan yang sudah tengah menahan tawa dengan cara menyesap kopi di hadapannya.


"Ampun Gal. Bercanda gue," ujar Zidan.


"Sana papa, Alin mau dede bayi yang di pelut mama," ujar Arin dengan mendorong tubuh kekar Galen ke arah Keyna.


Karena merasa ini audah tidak benar, harus segera diluruskan. Galen membalikkan badannya lalu berjongkok agar tubuhnya sejajar dengan Arin. "Kapan-kapan ya? Sekarang minum dulu susunya."


Arin dalam sekejap menatap botol di tangannya lalu berjalan menuju Keyna dan langsung meminta dipangku. Keyna mengangkat tubuh Arin lalu menidurkannya di pengkuan agar Arin mudah menyusunya.


"Emang iya dede bayinya ada di perut Zia karena main kuda kudaan?" Zia yang sedari tadi menyimak kini menyuarakan isi hatinya yang bingung.


"Emang kapan Zia main kuda kudaan sama Zidan?" tanya Zia lagi membuat tiga orang di sana menghela napas lelah. Yang satu sudah bisa diatasi sekarang ada lagi. Semuanya salah Zidan, hingga sekarang Keyna dan Galen memaksa Zidan yang harus menjelaskannya pada Zia.


"Makan tuh bercanda," kata Galen.

__ADS_1


°°°°°


"Gimana?" tanya Galen pada Zio yang ia tugaskan untuk mengamati CCTV rumah Zio saat kejadian dulu. Galen sedikit menyesal karena baru kepikiran tentang CCTV rumah Zio, karena selama ini ia terfokus pada pelayan hari itu, dan kejadian yang menimpa Zidan setelahnya.


Zio menggelengkan kepalanya, "CCTV mati waktu itu, ngga ada data sama sekali."


"Diliat dari foto yang kesebar, gambar itu diambil dari balkon kamar Zia. Harusnya waktu kita ke sana orang itu masih di situ kan?" ucap Galen. Zio mengangguk lalu kembali berpikir.


"Gue boleh curiga sama Langit ngga sih Gal?" tanya Zio ragu.


Galen mengangguk, ia juga sempat menuduh Langit, tapi belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Langit ikut andil dalam kejadian tersebut. Jangan sampai.


"Gue paham. Tapi menurut gue Langit udah ngga nutupin apapun dari kita. Ngga mungkin juga kan dia berkhianat sama Atlansa," ujar Galen. Oh iya, mereka tengah berada di rumah Zio, Galen ingin mancari jejak yang mungkin saja tertinggal.


"Bisa jadi cuma ada kamera di kamar Zia waktu itu tanpa ada orang di sana. Bisa lebih parah sih kalo memang ada videonya." Zio menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Gue kan ancurin semua barang Zia buat ngehajar Zidan waktu itu. Kalo kameranya di taroh pasti udah ikut ancur, paling ngga keliatan lah," ujar Zio yang kembali mengingat bagaimana dia membabi buta saat menyerang Zidan dulu.


"Kalo di balkon? apa bakal ikut ancur?" Zio terdiam mendegar ucapan Galen. Ada benarnya juga, kalau di balkon kan bisa diambil dan diletakkan dengan mudah, apalagi rumahnya yang selalu sepi.


"Kalo waktu lo luang, coba lo cek CCTV lagi beberapa hari setelah kejadian. Kalo emang bener mereka pake kamera, kan pasti ada yang ngambil besoknya," kata Galen yang diangguki Zio.


"Gue rasa pasti dimatiin juga CCTV nya waktu itu." Zio menyesal karena membiarkan komputer yang mengakses CCTV itu berada di ruang satpam, dan bukan dia sendiri yang memegang itu karena alasan satpam lebih membutuhkan untuk keamanan rumah.


Galen mencoba mencari jalan lain sembari berdiri dan mengamati rumah Zio. Kebetulan mama Zio sudah tidur jadi Galen tidak perlu merasa canggung.


Galen berhenti berjalan saat melihat rumah samping Zio. "Tetangga lo punya CCTV?"


°°°°°


Hallo semuanyaa 👋


Gimana sama bab ini? ♥

__ADS_1


kalo suka like, komen, vote, juga kasih hafiah kalau mauu♥♥


__ADS_2