
"Udah ngga marah?" tanya Zia pada Zidan yang kini tengah menatapnya dalam.
Zidan menggelengkan kepalanya, sekarang ia bingung harus menyampaikan tentang Janu pada Zia atau tidak, takutnya Zia kepikiran dan malah mempengaruhi kandungannya.
"Mau cerita kenapa bisa marah?" tanya Zia dengan mengusap rambut Zidan ke belakang.
"Masalah Atlansa," jawab singkat Zidan. Zidan sudah memutuskan untuk tidak memberitahukan pada Zia sekarang.
Zia mengangguk lalu berdiri dari duduknya, kalau masalah Atlansa otak kecil Zia tidak akan sampai untuk memikirkannya. "Sana mandi dulu, aku mau siapin bajunya," katanya sembari menyerahkan handuk pada Zidan.
Zidan mengangguk lalu mengecup perut Zia sebelum menuju kamar mandi, beruntungnya dia punya istri yang pengertian seperti Zia.
Mungkin berpisah dengan Ayra adalah sebuah kebahagiaan yang harus Zidan lepas untuk mendapatkan hal yang lebih hebat dan luar biasa dari kebahagiaan itu sendiri.
¤¤¤¤¤
Sembari menunggu Bu Intan bisa mereka tanyai dan diajak diskusi, Inti Atlansa mencari ke alamat yang lainnya. Dan usaha mereka tidak sia-sia karena mereka sampai hari ini sudah mengumpulkan empat keterangan dari korban Tuan Willy. Empat keluarga itu masih hidup walaupun tidak bergelimang harta seperti sebelumnya, dan yang menurut mereka paling menderita adalah keluarga Pak Hendry.
Setelah anak dari Bu Intan diperbolehkan pulang, Inti Atlansa memutuskan untuk mengantarkannya dan berkunjung ke rumah salah satu korban keserakahan Willy itu.
"Ini rumah ibu?" tanya Zidan menghentikan mobilnya di depan rumah yang terbuat dari bambu dan kayu yang terlihat sekali tidak layak huni.
"Iya Nak Zidan. Maaf ya rumah saya begini," jawab Bu Intan yang duduk dengan memangku anaknya di kursi belakang mobil Zidan.
"Nggapapa kok Bu. Kamu bantuin turun sana," kata Zia yang kali ini ikut karena memang diajak.
Zidan turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Bu Intan atas permintaan Zia.
Zidan dengan hati-hati membopong tubuh lemas anak dari Bu Intan, sementara Zia dituntun oleh Keyna dan Sherena yang juga ikut. Zia dituntun karena halaman rumah Bu Intan yang licin dan berantakan karena banyak sekali sampah daur ulang yang mungkin akan dijual oleh Bu Intan.
"Ini Citra mau di tidurin di mana Bu?" tanya Zidan saat Bu Intan membukakan pintu untuk mereka.
__ADS_1
"Di kamarnya aja Nak, mari Ibu antar," jawab Bu Intan yang menunjukkan kamar anaknya yang bernama Citra.
Zidan dengan hati-hati meletakkan tubuh ringkih Citra ke kasur tipis yang mengingatkannya pada kehidupannya di kontrakan beberapa waktu lalu. Bahkan kasur ini lebih tipis dan terlihat sudah sangat usang.
Setelah dipastikan Citra tidur dengan nyaman, Zidan dan Bu Intan keluar dari kamar untuk menemui yang lain.
"Maaf Bu, saya duduk duluan sebelum dipersilahkan," kata Zia yang akan berdiri lagi tapi dicegah Bu intan.
"Nggapapa kok. Ibu maklum, ibu hamil emang gitu, kakinya gampang banget pegel pegel," kata Bu Intan kemudian mempersilahkan mereka duduk.
"Maaf ya rumah saya kecil jadi tidak bisa duduk semuanya," ucap Bu Intan yang merasa tidak enak. Yang bisa duduk hanya para cewek dan itupun di kursi kayu yang sudah cukup rapuh.
"Nggapapa Bu, yang penting bidadari-bidadari kita ini bisa duduk," jawab Dyu dengan candanya.
Bu Intan tersenyum, "Saya keluar sebentar, mau beli minum dulu," ucapnya.
"Ngga usah Bu. Biar saya aja," kata Langit.
Kemudian Langit menarik Dyu untuk menemaninya.
"Kalo boleh saya tau, apa pekerjaan ibu sehari hari hanya mengumpulkan barang bekas?" tanya Galen.
Bu Intan mengangguk, "Iya, hanya itu yang bisa saya kerjakan."
"Maaf nih Bu. Emang cukup buat biayain hidup Ibu dan anak-anak?" tanya Zio dengan hati-hati.
"Ya sebenernya sih kurang, tapi saya coba cukup-cukupin. Sampe anak saya yang SMA harus ikut mulung sepulang sekolah, saya tidak tega. Mau gimana lagi... hiks..." Bu Intan malah menangis membuat Keyna bangkit dari duduknya dan mengusap bahu Bu Intan.
"Ibu udah berapa lama kaya gini?" tanya Galen yang ingin mengorek info masa lalu Pak Hendry.
"Dua tahun, semenjak suami saya gulung tikar. Kami yang tidak punya saudara dan hanya tersisa tanah ini saja bingung harus berbuat apa. Tapi suami saya tidak menyerah, dia mengumpulkan kayu, bambu, dan apa saya yang bisa dibuat tempat tinggal yang sekarang ini. Memang sangat jelek dan dari barang bekas semuanya, tapi setidaknya kami tidak hidup di jalanan. Tapi setelah gubug ini selesai dan bisa ditempati, suami saya meninggal dunia karena sakit jantung yang sudah tidak pernah dikemo seperti sebelumnya," cerita Bu Intan yang menyentuh hati mereka semua.
__ADS_1
Keyna memeluk tubuh Bu Intan guna memberikan kekuatan. Semua manusia pasti akan diuji dengan ujian yang berbeda, dan masalah finansial adalah ujian yang harus Bu Intan alami saat ini. Seorang istri pengusaha yang banting setir menjadi seorang pemulung.
Setelah Bu Intan tenang, Galen bertanya lagi, "Waktu di rumah sakit, Ibu bilang pernah mencoba memenjarakan Pak Willy?"
"Iya, tapi gagal. Pada dasarnya hukum negara kita ini masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Saya yang waktu itu tidak punya apapun kalah sama orang yang lebih tinggi kuasanya, Iblis itu dengan gampangnya membuat seolah olah laporan saya waktu itu palsu. Masih untung saya tidak ditangkap," cerita Bu Intan.
"Tapi ibu masih ada berkas yang sebenarnya bisa memberatkan Pak Willy waktu itu?" tanya Zidan yang sekarang lebih ingin keadilan untuk Bu Intan daripada dirinya sendiri. Karena Bu Intan tampak lebih tersiksa daripada dirinya, ternyata benar kita tidak boleh merasa paling menderita karena masih ada orang lain yang lebih menderita dibanding kita, itulah yang Zidan rasakan sekarang.
"Sudah diambil sama iblis itu dengan jaminan saya tidak dipenjara, karena saya masih harus menghidupi dua anak saya jadi saya serahkan daripada anak saya tambah menderita," jawab Bu Intan.
Otak cerdas Keyna langsung memikirkan nama Ayra saat mendengar penjelasan Bu Intan. Hanya Ayra yang bisa mengambil berkas itu.
"Nih minumnya," kata Langit dan Dyu yang baru saja sampai. Cukup lama karena si pemilik warung menagih hutang Bu Intan pada Langit dan Dyu karena melihat mereka keluar dari rumah Bu Intan. Dyu membayarnya sampai lunas, karena memang kasihan pada Bu Intan.
"Kok lama?" tanya Zio yang tengah membuka tutup botol minuman untuk Sherena.
"Godain cewek depan sana," jawab Dyu ngasal, tidak enak kan jika ia bilang karena hutang Bu Intan di warung.
"Insyaf Yu," kata Zio lagi.
"Kapan ka-"
"Asslamualaikum.." Ucapan Dyu terpotong saat melihat gadis yang baru beberapa hari lalu menolaknya.
##..
Hai hai...
Jangan lupa like, komen, kasih hadiah, vote, juga follow yaa...
Bye bye...
__ADS_1