Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
50. Bakso Harga Lima Juta


__ADS_3

Beberapa saat setelah Zidan mengirimkan itu ke grup whatsapp angkatannya, grup langsung ramai, tidak sedikit dari mereka yang mentag Ayra. Zidan juga sudah mewanti-wanti agar mereka tidak meyebarluaskan berita itu karena akan membuat citra sekolah jelek.


...Trisatya '22...


+628********64


@Ayrania kasian ya... pacarnya direbut sahabatnya sendiri.


+628********21


The real temen makan teman.


Adelia


SUMPAH? ITU ZIDAN? OMO.. OMO... GAGAH JUGA YA. Tapi kasian Ayra. @Ayrania sabar ya beb. Gue dukung lo, kalo mau bales dendam ayok gue dukung.


Galen


Berani?


Adelia


Ya enggak lah 😊


Ayra malah tersenyum saat membacanya. Ternyata kekuasaan Galen masih sangat kuat. Ayra yakin mereka akan segera menangkap pelaku jika tidak ada masalah lainnya setelah ini. Semoga saja mereka bisa mengurangi beban Ayra di sini.


Ayra meletakkan ponselnya saat pintu kamar dibuka oleh suaminya . Ayra tersenyum lalu mendekati Ervan dan mencium tangannya, kebiasaan baru Ayra saat Ervan pulang kantor.


"Ini kenapa hm?" tanya Ervan menyentuh pelipis Ayra yang diperban. Ayra menggeleng sembari tersenyum.


"Bisa liat dari CCTV sekolah nanti, sekalian aku mau ngomong sesuatu," ucap Ayra membuat Ervan akan segera membuka laptopnya tapi dengan cepat dicegah Ayra.


"Mandi dulu terus makan." Ervan dengan patuh mengangguk lalu berjalan ke arah kamar mandi setelah mencium dari Ayra.


°°°°°


Zia yang melihat video Zidan meneteskan air matanya, Keyna dan Sherena mengelua bahu Zia perlahan guna menenangkan Zia.


"Zia bersyukur banget punya Zidan," ucap Zia. Zia tidak tau lagi jika suaminya bukan Zidan.


"Iya, kita juga bersyukur sahabat kita nikah sama orang yang tepat, yang rela berkorban semuanya demi rumah tangga dan anak kalian." Keyna menimpali ucapan Zia.

__ADS_1


Zia mengangguk, "Zia takut ke sekolah besok," cicitnya.


"Nggapapa, kalo besok dipanggil kepala sekolah kalian jawab jujur aja, siapa tau dikasih keringanan," ujar Sherena.


"Emang besok mau berangkat sekolah? Gue rasa jangan dulu deh, kan lo harus bedrest sehari." Keyna mengingat ucapan dokter tadi.


"Iya? Zia ngga tau," ucap Zia.


"Iya, biar ponakan-ponakan kita itu kuat lagi." Zia tersenyum, setidaknya masih ada mereka berdua yang selalu menguatkan Zia.


"Kalo Zia dikeluarin dari sekolah gimana?" senyum Zia langsung luntur saat mengingat hal mengerikan itu.


"Ya bagus malah, lo kan ngga mungkin sekolah terus sama perut besar lo nanti," ucap Sherena. Sherena tidak tau saja jika Zia masih ingin sekali bersekolah.


Keyna menyenggol lengan Sherena membuat Sherena tersadar akan ucapannya dan menggigit bibirnya sendiri.


"Maksud gue tuh lo bisa homeschooling, kan biaya sekolah lo masih ditanggung ortu lo nih, moga aja mereka masih mau biayain lo homeschooling. Kan sama aja biayain sekolah." Sherena merasa ucapannya sangat belibet, gugup membuatnya susah merangkai kata.


Zia menggelengkan kepalanya, "Sekolah Zia kan udah dilunasin dari awal masuk sama papa, emang kalo Zia dikeluarin uangnya balik? engga kan?"


Sherena tampak berpikir sejenak. Zia sama seperti dirinya yang sudah dibayar lunas di awal, jadi ia tidak tau menau masalah itu.


Baik Keyna, Sherena maupun yang lain sebenarnya sudah menawarkan diri untuk membantu membiayai homeschooling Zia, tapi Zidan menolak dengan alasan itu adalah tanggungjawabnya.


"Makasih ya, Kalian masih mau temenan sama Zia, padahal papa Zia aja benci sama Zia, tapi kalian engga," ujar Zia merasa terharu. Juga untuk mengalihkan pikirannya sendiri.


Keyna duduk di ranjang tepat di sebelah Zia, "Gue tau posisi lo Zi, lo butuhnya tuh dukungan bukan hinaan, apalagi kalau dijauhin. Persahabatan kita juga ngga sebentar Zia, udah hampir lima tahun kita berempat bareng terus. Cuma Ayra aja yang harus sementara pisah dulu sama kita."


Zia mengangguk, "Ayra ngga benci kan ya sama Zia? tadi Zia dipeluk Ayra loh," Keyna menggelengkan kepalanya.


"Engga lah, cuma butuh waktu aja buat Ayra ikhlasin Zidan buat lo." Zia tersenyum lagi saat mengingat tadi Ayra memeluknya, membelanya, dan melindunginya dari pot yang membuat kepala Ayra berdarah.


"Bumil tuh moodswing banget ya?" batin Sherena yang sedari tadi melihat ekspreai Zia yang berubah dnegan snagat cepat.


"Mau makan lagi?" tanya Sherena saat melihat hari sudah mulai malam.


Zia tampak berpikir sebentar lalu mengangguk, "Zia mau omellet buatan Zidan."


"Oke, coba gue chat Zidan dulu, siapa tau masih di kontrakan." Sherena mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Zidan, tidak lama kemudian Zidan membalasnya.


"Udah, tinggal tunggu dateng aja," ujar Sherena meletakkan ponselnya kembali di meja.

__ADS_1


Zia sudah tidak terlalu terpuruk, remaja yang tengah hamil kembar itu sedikit teralihkan pikirannya karena adanya kedua sosok sahabat yang selalu menghiburnya.


°°°°°


Di tempat lain, pelaku tengah menahan amarahnya karena Zidan terlalu gerak cepat.


Rencananya yang ingin membuat reputasi papa Zia anjlok pun gagal. Semuanya karena bukti yang Zidan miliki saat ini cukup kuat untuk mengelak bahwa anak yang di kandungan Zia adalah anak di luar nikah.


°°°°°


"Gue salut sama langkah lo dulu yang langsung nikahin Zia, gue suka cara berpikir lo yang jauh ke depan," ucap Zio. Saat ini mereka tengah berjalan menuju ruang rawat Zia.


"Gue udah pikirin mateng-mateng, kalau misalkan ini jebakan berarti emang gue harus lebih gercep," jawab Zidan smebari membuka pintu ruangan Zia dirawat.


"Mana nih yang pengin omellet?" ucap Dyu sembari meletakkan banyak bungkus makanan di meja.


Zia yang melihat kitak bekal kesukaannya langsung antusias, "Baby twins."


"Mamanya baby twins engga nih?" goda Dyu.


"Ya mau lah," ucap Zia dengan wajah yang sangat menggemaskan membuat mereka semua tertawa.


Zidan mengambil kotak bekal di meja dan membawanya mendekati Zia, "Makan sendiri apa disuapin?"


"Suapin, tapi Zidan juga ikut makan" ucap Zia yang diangguki Zidan.


Yang lain pun ikut makan dengan makanan pesanan mereka masing-masing.


Zia menghentikan mengunyahnya saat melihat Dyu yang sedang menyiram kecap ke bakso. Zia jadi pengin makan bakso.


Zidan yang melihat Zia terus menatap bakso tersebut segera berucap, "Dyu jangan kasih sambel."


Dyu dibuat melongo karena bingung apa maksud Zidan.


"Gue minta bakso lo," ucap Zidan. Dyu langsung memegang mangkuknya seperti memeluk.


"Punya gue! lo kan makan tuh omellet," tunjuk Dyu pada kotak bekal yang dipegang Zidan. Zidan mengkode dengan dagunya menunjuk Zia.


Dyu melihat ke arah Zia yang terlihat sangat menginginkan baksonya. Dyu menatap bakso dan Zia bergantian, tidak rela makanan kesukaaannya diambil.


"Gue udah transfer lima juta." Ucapan Galen membuat Dyu dengan cepat memberikan bakso itu kepada Zidan.

__ADS_1


"Nih, ambil aja biar ponakan gue ngga ileran."


°°``•


__ADS_2