
"Ziaaa..." teriak Ayra saat melihat Zia dan Zidan di jalanan depan rumahnya.
S i a l.
Zidan baru saja akan mengajak Zia pergi, tapi Ayra sudah lebih dulu melihat mereka.
"Sini!" teriak Ayra lagi sembari melambai-lambaikan tangan agar sahabatnya itu mendekat.
Zia melepas gandengan tangan Zidan lalu menghampiri sang sahabat. Zidan yang semula terdiam pun, mau tidak mau melangkah mengikuti langkah sang istri.
Bukan apa apa. Dengan Ayra dia sudah lumayan bisa bersikap biasa saja, tapi tidak dengan Pak Ervan. Zidan masih canggung, di antara semua sahabatnya, dia lah yang paling tidak berani bercakap dengan suami dari mantannya itu.
"Ayra rumahnya pindah ke sini?" tanya Zia setelah mereka berpelukan sekejap.
Ayra mengganggukkan kepala sembari tersenyum. "Iya, Udah beberapa minggu."
Jika para istri itu saling sapa dan langsung mengobrol asik, berbeda dengan para suami. Di antara Zidan dan Pak Ervan terjadi kesunyian, mereka saling diam dan tidak ada yang berniat memulai percakapan. Entah karena apa, tapi keduanya sama-sama canggung.
"Mampir yuk," ajak Ayra pada Zia.
Zia melihat ke arah Zidan, karena Zidan tengah menunduk membuat Zia menyenggol lengan sang suami.
"Iya? kenapa?" tanya Zidan mendongakkan kepalanya.
"Mau mampir?" tanya ulang Ayra.
Zidan yang ditanya pun melihat ke arah Zia, melihat istrinya yang juga menantikan jawabannya, Zidan pun mengangguk.
Jika tidak ingat sedang hamil, Zia pasti sudah jingkrak jingkrak saking senangnya.
"Yuk masuk," ajak Ayra sembari menggandeng tangan Zia. Pak Ervan pun hanya mengangguk sebagai kode agar Zidan ikut masuk bersama mereka.
"Ayra kenapa ngga bilang udah pindah ke sini, kalo Zia tau pasti sering main," ucap Zia saat mereka baru saja duduk.
Ayra terkekeh sebelum menjawab, "Emang boleh sama laki lo?"
"Boleh kan?" tanya Zia pada Zidan. Zidan hanya mengangguk, bingung harus berkata apa.
Pak Ervan merasakan suasana yang tidak enak antara dia dan Zidan. Sebagai orang yang lebih dewasa, ia ingin membenarkan. Ingin membangun hubungan yang baik dengan siapapun yang dekat dengan istrinya.
__ADS_1
"Ekhm.."
Deheman dari Pak Ervan membuat mereka semua mengalihkan perhatiannya pada suami Ayra itu.
"Boleh saya bicara?" tanyanya yang diangguki tiga remaja di sana.
"Ngomong apa?" tanya Ayra. Tumbenan suaminya ini berbicara sebelum ditanya.
"Em... Meluruskan saja. Ini mungkin tidak terlalu berpengaruh pada kalian," kata Pak Ervan menunjuk Zia dan Ayra, "Tapi cukup berpengaruh untuk saya dan Zidan."
Zidan menantikan ucapan Pak Ervan dengan perasaan dag dig dug ser. Ia akui, ia cemen di hadapan suami dari mantannya itu.
"Saya tahu, hubungan kita berempat lumayan rumit. Ayra mantan Zidan, lalu Zidan menikah dengan sahabat Ayra, dan saya menikahi Ayra. Hubungan yang saya rasa cukup canggung," jelas Pak Ervan membuat tiga remaja SMA itu mengangguk.
"Jujur, saya merasakan kecanggungan itu. Saya merasa dengan Zidan tidak sebebas dan seakrab jika saya bersama teman kalian yang lain. Saya akui, saya pun masih sedikit merasakan cemburu jika Ayra berbicara dengan Zidan," jujur Pak Ervan.
Zidan termangu, apa yang ia rasakan sekarang diucapkan oleh Pak Ervan dengan jelas.
"Jadi?" tanya Ayra sembari membantu asisten rumah tangga yang sedang menata minuman dan camilan di meja.
"Saya mau mengajak Zidan untuk berbesar hati, untuk tidak terlalu memberikan batas dengan saya seperti teman kalian yang lain. Posisi saya memang sebagai suami dari mantan pacarnya, dan posisi Zidan juga sebagai suami dari sahabat kamu," kata Pak Ervan pada Ayra.
"Hubungan kita pun terbangun karena sebuah keserakahan papa saya, kesengajaan seseorang yang membuat jalan cinta yang sudah kalian susun rapi menjadi berantakan," tambah Pak Ervan.
"Tapi semuanya sekarang sudah mulai bisa dibenahi. Saya tau, posisi kalian bertiga cukup sulit. Kekacauan di hati kalian cukup menyiksa. Sebagai seorang remaja, seharusnya bukan hal seperti ini yang menjadi beban pikiran kalian. Tapi karena keadaan memaksa kalian untuk mengubah dan mempercepat alur yang sudah kalian susun, kalian harus banting setir dan berusaha terus berjalan sampai di titik ini." Pak Ervan membuat suasana berubah serius.
"Di alur baru cerita masing-masing. Saya dengan Ayra, dan Zidan dengan Zia," kata Pak Ervan lagi membuat mereka merenung.
"Jadi, bisa kan kamu tidak membatasi?" tanyanya pada Zidan.
Zidan terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. "Maaf Pak jika sikap saya membuat Pak Ervan tidak nyaman. Jujur apa yang bapak bilang semuanya benar. Saya memang merasa canggung, tidak tau kenapa. Tapi setelah bapak tadi jelaskan, saya jadi tau, semuanya karena hubungan yang tidak terduga diantara kita semua."
Pak Ervan mengangguk saat Zidan dapat menangkap penjelasannya dengan baik.
"Aku jadi paham sekarang. Mungkin karena Kak Ervan sama Zidan ngga saling kenal sebelumnya, jadinya canggung. Sedangkan aku sama Zia udah kenal dari kecil, jadi ngga secanggung kalian sekarang," kata Ayra yang diangguki yang lain. Bahkan Zia yang biasanya otaknya belum sampai, sekarang bisa menangkap pembicaraan mereka.
"Udah? Salaman dong? Tetangga loh," ucap Ayra yang merasa suasana serius tadi sudah cukup.
Pak Ervan dan Zidan pun berjabat tangan lalu Pak Ervan menepuk bahu Zidan dua kali.
__ADS_1
"Biar ngga canggung, mabar sonoh," kata Ayra lagi sembari menunjuk ruang televisi. Zidan dan Pak Ervan pun melihat ke arah yang sama dengan Ayra.
"Gimana?" tanya Pak Ervan yang diangguki Zidan. Mereka pun berpindah ke depan televisi untuk mabar.
Zia dan Ayra juga ikut, hanya ikut duduk dan mengobrol, juga menghabiskan camilan yang tersedia. Posisinya Zidan dan Pak Ervan duduk lesehan di karpet bulu, sedangkan Ayra dan Zia duduk di sofa di belakang mereka.
"Pernah ngapain aja sama istri saya dulu?" tanya Pak Ervan di tengah tengah keseriusan mereka bermain.
"Aman Pak. Cuma sampai peluk," jawab Zidan yang sudah mulai santai.
"Kalo Pak Ervan sampai mana Pak?" tanya balik Zidan.
Pak Ervan terkekeh sebelum menjawab, "Sampai dalam."
Mereka pun tertawa atas jawaban Pak Ervan yang ambigu.
"Pacarannya sama saya nikahnya sama Bapak," celetuk Zidan sembari matanya terus fokus pada gamenya.
"Ya biasalah itu. itung-itung jagain jodoh saya," jawab Pak Ervan.
"Sama ya Zi, pacarannya sama gue nikahnya sama lo," celetuk Ayra saat mendengar obrolan para suami. Zia mengangguk saja karena tidak mempunyai balasan.
"Kayanya emang bener kata orang yang bilang mending pacaran kalo abis nikah, biar ngga jagain jodoh orang doang," saut Zidan.
"Dendam amat kayanya," saut Pak Ervan.
"Tiga tahun lebih Pak. Gimana ngga dendam," ucap Zidan tentunya bercanda.
"Tiga tahun sia-sia, lah yang semalam langsung jadi anak," celetuk Pak Ervan mengundang tawa mereka.
"Bener juga ya," saut Zidan.
Mereka menghabiskan waktu hingga siang untuk saling melempar candaan dengan masa lalu yang menjadi tentangga baru.
¤¤¤¤
...Update gaesss👋👋...
...Ngga tau bagus apa engga karena ini sebenernya cuma buat ngulur waktu aja biar alurnya sejajar sama lapak sebelah, biar ngga saling spoiler.😌...
__ADS_1
...Follow IG ku dong : miarahma833...
...Dahh👋👋👋...