
Zia, Keyna, dan Sherena baru saja selesai homeschooling. Guru mereka baru saja pulang, kini tiga perempuan cantik itu tengah membereskan buku dan alat tulis yang mereka gunakan tadi.
Tok.... tok... tok....
Mereka saling tatap, lalu melihat jam tangan masing-masing. Jam segini siapa yang bertamu, lagian biasanya tidak pernah ada tamu selain teman-teman mereka dan Bunda Dian.
"Siapa ya?" tanya Sherena yang mendapat gelengan dari dua sahabatnya.
"Coba Zia buka dulu," ucap Zia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu.
Tok.. .Tok... Tok...
"Iya sia-" Zia menghentikan ucapannya saat melihat sesorang berdiri di hadapannya. Orang itu langsung menarik tubuh Zia untuk masuk ke dalam kontrakan dan menutupnya dari dalam.
"Ayra?"
Ayra membalikkan tubuhnya pada sahabat yang sudah lama tidak saling sapa. Tiga manusia itu tampak termangu melihat keberadaannya.
"Haii," sapa Ayra dengan senyum manisnya. Keyna seketika bangkit dari duduknya lalu memeluk tubuh Ayra, diikuti Sherena dan Zia juga. Tentunya ada ruang untuk perut Zia agar tidak terhimpit.
"Kangenn.." lirih Ayra yang sudah meneteskan air matanya. Mereka mengangguk lalu mengeratkan pelukan teletubis itu. Selama beberapa menit mereka hanya saling peluk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Udah dulu ya Guys peluknya, gue ngga punya banyak waktu," ucap Ayra dan mereka melepaskan pelukan rindu itu.
"Berapa?" tanya Keyna yang paham akan ucapan Ayra.
"Satu jam. Lumayan lama, tapi kalo sama kalian jadinya itu sebentar banget," jawab Ayra yang sedang menghapus air matanya.
Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana itu. Zia pun mengambilkan minum untuk mereka.
"Ini diminum dulu, maaf cuma ada ini," ucap Zia sembari meletakkan tiga gelas teh dan satu gelas air putih untuknya sendiri.
"Ngga usah repot-repot Zi, bumil ngga boleh kecapean," ucap Ayra.
"Nggapapa Ayra, kan Zia ngga cape cuma bawa ini doang," kata Zia sembari memgambil gelas berisi air putih untuk ia minum.
__ADS_1
"Kok buat lo beda sendiri?" Sherena bertanya sembari mengambil satu gelas teh, ia juga haus setelah berpikir pelajaran tadi.
Zia mengangguk sembari ia minum, setelah selesai baru ia menjawab, "Zia ngga boleh kebanyakan yang manis manis, tadi pagi udah minum teh manis waktu habis morning sickness."
Mereka mengangguk, "Masih morning sickness?" tanya Sherena.
Zia mengangguk, "udah berkurang tapi kadang masih suka mual kalo pagi."
"Berapa bulan sih? Kok udah gede aja?" tanya Ayra menatap perut Zia dibalik kaos overzisenya.
"Umurnya sama kaya pernikahan lo," jawab Keyna. Zia yang bingung hanya bisa diam, ia tidak tau kapan Ayra menikah. Tau Ayra menikah saja baru kemarin saat sepulang dari kafe, itupun ia yang bertanya pada Keyna.
Ayra mengangguk sembari menghitung dalam hati, "empat bukan lebih, hampir lima bulan?"
Zia mengangguk sembari mengusap perutnya, kebiasaan.
"Lo sendiri ke sini?" tanya Sherena karena tidak mendengar suara kendaraan saat Ayra sampai.
Ayra menggelengkan kepalanya, "Sama suami."
"Di depan gang, katanya di mobil aja." Ayra sedari tadi tidak berhenti tersenyum. Sungguh, ia sangat berterima kasih pada Om Ervan yang membantunya agar bisa bertemu mereka walau hanya sebentar. Bahkan, suaminya itu rela menunggu dan mengawasi keadaan agar dirinya aman selama bertemu para sahabatnya ini.
"Kemarin gimana Zi?" tanya Ayra saat mengingat kejadian di kafe. Ia terpaksa cepat-cepat pulang karena suaminya sudah memperlihatkan amarahnya, dan setelah itu ia juga melihat Zidan keluar bersama Galen.
"Nggapapa, Keyna jemput Zia kok." Zia menjawab sembari ngemil camilan bayi yang semalam Zidan belikan.
"Sekolah sepi tauu ngga ada kalian, Adel juga makin menjadi. Ngga ada yang bisa lawan mereka selain kita dulu," cerita Ayra.
Keyna tersenyum, "Kan ada lo."
Ayra menghela napasnya,"Gue mah ngga bisa ngapa-ngapain di sekolah, cuma bisa diem aja waktu mereka beraksi."
"Lo masih sama mereka di sekolah?" tanya Sherena yang masih tidak ikhlas gadis sebaik Ayra masuk geng pembuli seperti itu.
Gelengan kepala dari Ayra membuat mereka tersenyum lega. "Semenjak kalian homeschooling, gue sendiri."
__ADS_1
"Cewek cupu itu?" tanya Keyna. Ia sudah diberitahu Galen siapa Dea sebenarnya.
"Mbak Dea kan backing gue. Sekarang Ya cuma nolongin korban buli sama lindungin kalian dulu, terutama Zia," jawab Ayra. Sudah tidak ingin Ayra menutupinya dari mereka. Lagian mereka sudah tidak di Trisatya, sudah aman.
Zia yang belum tau apa apa hanya menyimak, kebiasaan Zia saat tiga sahabatnya itu membahas hal yang tidak sampai di otaknya. Tidak ingin banyak bertanya karena akan mengulur waktu mereka.
"Gue mau ajakin kalian kerja sama buat ngalahin pelakunya. Gue butuh bantuan, dan gue percaya kalian bisa gue andelin," ucap Ayra dengan serius. Keyna dan Sherena mengangguk, menyanggupi permintaan Ayra.
"Siap! Gue udah nunggu lo minta bantuan, tapi lo baru bilang sekarang," kata Keyna jujur. Keyna tau betul sifat Ayra, jika belum kewalahan Ayra akan menghadapi apapun sendiri.
Sherena juga mengangguk, sebisanya Sherena akan membantu, "Walaupun ngga se hebat kalian, gue bakal bantu apa yang bisa gue bantu."
"Zia boleh bantu? Yang dimaksud pelaku itu pelaku yang bikin Zia sama Zidan gini kan? Zia harus bantuin dong kalo gitu," ucap Zia yang otaknya sedikit nyantol dengan pembicaraan mereka.
Ayra, Sherena, dan Keyna saling tatap. Selama ini Zia dan Sherena tidak pernah terlibat apapun misi Atlansa. Hanya Ayra selaku adik dari ketua terdahulu dan Keyna sebagai kekasih Galen saja yang sering terlibat, itupun karena kemampuan keduanya sangat memadai. Jika tidak, mana mungkin mereka melibatkan perempuan yang biasa biasa saja dalam bahaya.
Ayra berdehem menandakan ia yang akan menjawab pertanyaan dari Zia.
"Gini Zia, Lo lagi hamil dan ini bahaya. Lo bisa bantuin kita dengan cara lo jaga kandungan lo baik-baik. Lo cukup nurut sama semua yang kita bilang, oke?" ucap Ayra dengan hati-hati. Zia yang semula mengamati sekarang mengangguk lucu.
"Gue bantuin apa? Gue kan ngga pernah ikut misi Atlansa," bingung Sherena.
"Gampang, ini kesukaan lo. Bantuin yang butuh drama," ujar Ayra lalu terkekeh. Sherena membulatkan mulutnya setuju dan mengangguk. Bagian drama adalah kesukaannya.
Saat tengah asyik mengobrol, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Zia yang sudah tau itu Zidan langsung berdiri dan membukakan pintu.
Seketika tubuh Zia menegang saat Zidan memeluknya secara tiba-tiba. "Zia, gue menang olimpiade lagi."
Senyum Zia mengembang, memang tadi pagi Zidan minta doanya karena akan kembali mengikuti olimpiade akuntansi. Sekarang Zidan pulang membawa piala dan tentunya uang pembinaan.
"Alhamdulillah," jawab Zia.
Zidan melepas pelukannya lalu berjongkok dan mengusap perut Zia sembari berbicara, "Rezekinya kamu ya baby? Seneng ngga?"
"Seneng banget papa," jawab Zia dengan menirukan suara anak kecil. Zidan mendongak lalu kembali berdiri lalu mengusap kepala Zia lembut.
__ADS_1
Zidan terdiam saat melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu dan tengah menatap ke arahnya dan Zia. Zia tiba-tiba tersenyum canggung saat mengerti arah pandangan Zidan.