
"Udah mules belum, Zi?" tanya Bunda Dian saat baru saja memasuki ruang tunggu persalinan bersama Zidan dan Zia. Tentunya VIP.
Zia mengangguk, "Agak mules sama kram, Bun."
Bunda Dian mengangguk. "Cek pembukaan ya? Zia baringan dulu sini," katanya menepuk hospital bed di dekatnya.
Zia mengangguk lalu dengan perlahan berbaring dengan dibantu Zidan, sementara itu bunda Dian tengah mengenakan sarung tangan medis. Posisi Zia terlentang dengan kaki tertekuk dan terbuka, dalam*nnya sudah ia lepas saat masih di rumah atas perintah sang mertua, katanya biar nyaman aja.
"Tarik napas dalam-dalam, hembusin pelan-pelan," perintah Bunda Dian yang dilakukan Zia sebaik mungkin, "Nah bagus, tahan sebentar ya?" katanya saat jari telunjuk dan jari tengahnya masuk ke dalam vagi*a Zia.
Zia terperanjat ketika merasakan perih saat dua jari Bunda Dian masuk ke dalam intinya. "Sakit..." lirih Zia.
"Relaks sayang, nanti nggak sakit, tarik napas lagi yuk," kata Bunda Dian yang langsung dituruti Zia walaupun masih sedikit tegang. Zidan mengusap bahu Zia, hanya itu yang bisa ia lakukan.
Perlahan tangan Bunda Dian keluar juga, "Baru bukaan dua, pantes masih sakit."
Zia memperhatikan Bunda Dian yang tengah melepas sarung tanggannya lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Ini masih jauh, kepala bayinya udah di posisi siap lahir. Tinggal nikmatin mules-mulesnya aja," kata Bunda Dian lalu memijat pelan perut Zia pada bagian-bagian tertentu, hanya dokter dan bidan yang tau.
"Ini biar nggak terlalu nyeri waktu kontraksi," terang bunda Dian sembari terus memijat pelan.
"Dateng lagi..." lirih Zia saat kontraksi muncul lagi setelah terakhir ia rasakan saat di perjalanan. Zia memegang tangan Zidan tanpa meremasnya, belum terlalu kuat rasanya membuatnya masih bisa mengontrol diri sesuai yang diajarkan di kelas yoga.
"Bagus. Terus atur napas kaya gitu setiap kontraksi," kata Bunda Dian. Zia mengangguk sembari mengatur napasnya dengan dahi yang mengerut.
"Bunda keluar dulu sebentar," pamit Bunda Dian yang akan mengambil makanan yang bisa menambah tenaga Zia nanti. Pasti belum makan menantunya itu, karena saat dia pulang tadi Zia sudah terlihat berjalan mondar-mandir.
"Pinggangnya sakit," keluh Zia saat dibantu Zidan mengubah posisinya menjadi duduk bersila.
Zidan mengangguk, lalu memijat pinggang Zia dengan Zia yang menunduk sembari kedua tangan menumpu ke kasur yang ditempatinya.
Tidak lama dari Bunda Dian keluar, datanglah para sahabat mereka.
Ceklek.
"Haii Zia, kita mau sambut baby Atlansa nih," kata Keyna yang masuk bersama yang lainnya, lengkap tidak ada yang tidak hadir, bahkan ada Adel dan Pak Ervan.
Zia yang semula sedang menunduk pun menongakkan kepala. Menyambut mereka dengan senyum yang manis namun sedikit dipaksakan.
"Gimana? Udah di bukaan berapa?" tanya Keyna sembari mendekat pada Zia.
"Baru dua," jawab Zidan lalu mempersilahkan mereka untuk duduk. Zia tidak menjawab karena tengah mengalami kontraksi
__ADS_1
"Udah," kata Zia agar Zidan berhenti memijat pinggangnya. Kontraksinya sudah hilang.
Keyna, Ayra, Sherena, dan Adel pun mulai duduk di dekat Zia, ada pula yang berdiri.
"Duh calon mama nih," kata Keyna yang kini Zia sudah bisa membalas dengan senyum manisnya.
Zidan menghampiri para cowok saat Zia sudah bisa mengobrol dengan sahabatnya.
"Udah seberapa nih sakitnya?" tanya Keyna yang berdiri di belakang Zia untuk merapikan ikat rambut Zia. Supaya Zia tidak gerah dan nyaman.
"Lumayan, tapi belum yang sakit banget," jawab Zia. Ayra mengambilkan minum untuk Zia saat Zia menunjuk ke arah botol air minum di nakas.
Mereka mengobrol selama kontraksi Zia belum datang. "Cowok apa cewek sih?" tanya Sherena.
Zia menggelengkan kepalanya, "Belum tau, sengaja nggak Li-"
Belum juga selesai berbicara, kontraksi Zia datang lagi. Zidan pun langsung mendekat pada sang istri lalu membantu Zia menggoyangkan pinggangnya.
"Nafasnyaa.." kata Zidan saat Zia malah menahan napas.
"Relaks Zi, nanti nggak terlalu sakit," kata Keyna sembari mengusap lengan dan bahu Zia.
"Tambah sakit," rengek Zia yang membenamkan wajahnya di dada Zidan. Sakitnya menjalar ke seluruh bagian perut dan pinggangnya.
Belum juga Keyna keluar, Bunda Dian sudah lebih dulu masuk dengan membawa satu kantong kresek makanan.
"Bun, Zia," kata Zidan membuat Bunda Dian mengangguk lalu mengurut punggung hingga pinggang bawah Zia.
"Jalan pelan," kata Bunda Dian yang diangguki Zidan yang menegakkan kepala Zia yang berada di dadanya.
"Masih?" Zia menggeleng sembari mengusap ujung matanya yang berair. Zio mendekat pada sang adik lalu menuntunnya berjalan dengan Zidan juga.
"Kayanya udah nambah nih bukaanya," kata Bunda Dian saat melihat Zia semakin susah berjalan. Beliau sekarang tengah mengambil kurma dari kantong plastik.
"Makan ini buat tambah-tambah tenaga kamu nanti," ucap Bunda Dian sembari menyuapkan satu kurma yang bijinya sudah diambil.
Zia menerimanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sudah capek saja padahal masih awal.
Dalam waktu lima belas menit, Zia hanya mampu memutari ruangan itu tiga kali.
"Udah, Zia capek," kata Zia saat sudah di depan ranjang pasien. Zia didudukkan lalu kembali minum air putih agar tidak dehidrasi.
"Mau makan? belum makan kan? mumpung belum kuat kontraksinya," tanya Bunda Dian sembari menyampirkan helaian rambut yang menutupi wajah sang menantu.
__ADS_1
Zia mengangguk, dirinya memang lapar. Terakhir makan siang dengan sahabatnya, sampai sekarang baru minum terus, pantas dia sudah lemas.
Bunda Dian mengambilkan sup sayur kuah kaldu dan nasi yang ia minta pada juru masak rumah sakit. Semua makanan yang ia bawa adalah yang bisa menambah tenaga Zia saat mengejan nantinya.
"Zio aja Bunda yang suapin," kata Zio yang ingin menyuapi adiknya. Bunda pun memberikannya pada Zio.
Zia menerima suapan dari Zio dengan lahap. Sementara itu, Zidan duduk di sebelahnya hanya memperhatikan saja.
"Kamu juga makan," kata Zia pada sang suami.
"Iya Dan, nih buat makan kamu," kata Bunda Dian memberikan satu porsi makanan yang sama.
Zidan menggelengkan kepalanya, ia tidak berselera makan jika melihat Zia makan saja sembari sesekali meringis.
"Makan! Kalo kamu nggak makan, gimana nanti kamu bisa nemenin Zia," tekan Bunda Dian yang diangguki Zia. Bunda Dian sampai menyodorkan paksa makanan untuk Zidan.
Dengan terpaksa Zidan pun makan, tidak hanya Zidan tapi mereka semua makan karena bertepatan dengan makanan yang dipesankan oleh Galen datang.
"Yang niat lo kalo makan, pingsan nanti baru nyaho.. Lo," ujar Dyu saat melihat Zidan ogah-ogahan menyuapkan makanannya.
"Nggak nafsu gue," jawab Zidan dengan masih melihat Zia dari sofa bersama para cowok.
"Paksain elah. Lo mau nemenin istri lahiran, masa loyo," bujuk Langit. Inilah kenapa mereka tidak pulang, Zidan butuh temannya juga.
Akhirnya Zidan menghabiskan makannya sembari mengobrol dengan teman-temannya. Zia juga makan banyak, tidak ingin nanti tenaganya tidak cukup kuat.
Setelah selesai makan malam bersama, Zia diperiksa bukaannya lagi. Hingga para cowok diminta untuk keluar dulu dari ruangan.
"Udah bukaan empat. Lumayan cepet," kata Bunda setelah selesai dengan pemeriksaan dalam.
Zia mengangguk, tidak sesakit saat pemeriksaan pembukaan yang pertama tadi.
"Boleh tidur nggak, Bun?" tanya Zia.
"Boleh dong sayang. Selagi masih bisa tidur, tidur aja dulu."
Akhirnya Zia tidur, sudah pukul sepuluh malam membuatnya mengantuk, untung saja kontraksinya belum intens. Ayra sudah di ruangannya bersama sang suami, sementara mereka semua berada di kamar sebelah ruangan Zia. Dua kamar disiapkan Ayra untuk para cowok dan cewek.
"Papa Riyan mau ke sini nggak?" tanya Zidan yang tadi sempat meminta Zio menghubungi mertuanya itu.
"Masih di luar kota, pesen pesawat di penerbangan tengah malam nanti, kemungkinan dini hari udah sampe, sama mama sekalian nanti," jawab Zio membuat Zidan mengangguk, ada kemungkinan papa mertuanya ada saat Zia melahirkan nanti. Oh iya, Zio sudah pulang karena mengetahui papanya sudah memaafkan Zia.
"Kita di kamar sebelah, nggak semuanya tidur kok. Kita gantian jaga," pamit Galen. Para cewek sudah di kamar mereka, dan mereka akan begadang semampunya. Menemani Zidan yang sedang dag dig dug ser...
__ADS_1
"Thanks yaa," kata Zidan yang merasa bersyukur banyak yang menenangkannya di saat seperti ini