
Zia terbangun tengah malam, tepatnya pukul setengah satu. Zia menginginkan sesuatu, Zia menoleh pada suaminya, tapi ia tidak tega membangunkan Zidan yang tertidur pulas di sebelahnya.
Zia mencoba untuk tertidur kembali, tapi malah perasaannya semakin gelisah. Zia terus berganti posisi, yang tanpa sadar itu malah mengganggu tidur Zidan.
"Kenapa?" tanya Zidan dengan mata yang masih terpejam.
Zia berganti posisi menjadi menghadap Zidan. Zidan membuka mata perlahan, dan mendapati Zia yang menampilkan mimik wajah memelasnya.
"Pengin sesuatu?"
Nah! Pas sekali. Zidan memang paling the best. Senyum seketika mekar dari bibir tipis milik perempuan hamil itu. Kemudian, Zia mengangguk dengan semangat. Zia sudah duduk bersila di sebelah Zidan yang masih setia berbaring.
"Apa?"
Zia melunturkan senyumnya, jari lentiknya saling bertautan karena gugup, ia tidak enak mengatakannya. Takut dibilang ngelunjak juga.
"Ziaa.. Zia mauu..." Zia menggigit bibir bawahnya.
"Bilang aja."
Zia pun mengangguk sangat pelan, membuat Zia lagi lagi terlihat sangat imut.
"Zia mau Zidan sama temen-temen Zidan cari kedondong," lirih Zia sembari menunduk dan jemari yang masih saling memilin.
Zidan membulatkan matanya, dilihat jam yang sudah hampir jam satu malam. Mungkin saja teman-temannya sudah pada tidur.
"Gue sendiri aja ya. Mereka kayanya udah pada tidur," tawar Zidan yang dijawab gelengan pelan oleh Zia, tentunya wanita itu masih menunduk.
"Baby mau uncle-uncle nya cariin dia kedondong. Nanti kalian foto sama kendondong yang masih di pohonnya yaa," lirih Zia diakhiri nada semangat di akhir kalimatnya.
"Ngidam?" Zia mengangguk, walau dirinya juga tidak paham ini ngidam atau bukan, yang pasti ia sangat ingin memakan kendondong, dan melihat foto Zidan dan teman-temannya memetik kedondong.
Zidan beranjak duduk, ia mengambil ponselnya, membuka grup inti Atlansa sembari berdoa semoga mereka mau menuruti kemauan Zia.
...Inti Atlansa...
^^^Zidan^^^
^^^Udh pd tidur? ^^^
Zio
Blm. Ngpa lo tanya ky gitu. Gabut lo!
Saat melihat ada yang meresponnya, Zidan memulai panggilan video call. Zio langsung mengangkatnya, tapi yang lain belum.
"Ngapa lo? Gabut bener tengah malem vc segala," canda Zio di seberang sana yang terlihat tengah duduk di sebelah mama mertuanya yang sedang asik makan. Pasti ngidam kaya Zia, pikir Zidan.
__ADS_1
"Yang lain udh ngebo apa gimana?" tanya Zidan saat tidak ada yang bergabung lagi.
"Ya lo liat jam lah! Udah dini hari gini juga. Gue aja kalo ngga nyokap ngidam dan papa lagi keluar kota ngga bakalan gue mau melek jam segini." Kan benar, mama mertuanya juga sedang ngidam.
Zidan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Iya sih. Lo bisa bantuin gue ngga?"
"Apa?"
"Zia ngidam," jawab Zidan yang membuat Zio tertawa.
"Turutin lah! Jangan mau enaknya doang lo," celetuk Zio kemudian kembali tertawa.
"Btw gue ngga ngerasain enaknya," ucap Zidan yang mampu membuat tawa Zio berhenti. Kan memang Zidan mabuk berat waktu itu.
"Iya juga ya. Eh! Ngidam apaan?"
"Kedondong. Et! Jangan bilang gampang dulu! Karena lo sama yang lain juga harus ikut cari tuh pohon kedondong," ucap Zidan sebelum Zio menimpalinya.
"Hah!"
"Iya, Zia mau Kak Zio, Zidan, sama yang lain cari pohon kedondong, terus foto bareng." Zia menimpali dan ikut muncul di layar. Hanya sebentar, setelahnya ia pergi mungkin ke kamar mandi.
"Gue si oke oke aja. Yang lain gimana?" ujar Zio santai. Ia sudah sebulan ini sering menuruti ngidam mamanya, dan sekarang adiknya yang ngidam. Masa dia ngga mau sih.
"Nanti samperin aja. Yang penting tuh ngidam keturutan, gue ngga mau ya anak gue ileran," ucap Zidan kesal. Ia sebenarnya sedikit tidak enak, tapi juga bahagia karena ini ngidam pertama Zia yang tengah malam dan yang pusing tidak hanya dirinya saja.
Zidan berhasil membawa Dyu keluar walau cowok cerewet itu terus ngedumel ngga jelas. Begitu pun dengan Langit, bedanya Langit hanya iya iya saja dengan wajah yang sangat mengantuk. Sementara ketua mereka, Galen, cowok itu terlihat biasa saja.
Kelima cowok itu sekarang sedang berkeliling mencari pohon kedondong. Hingga akhirnya mereka menemukan pohon itu di halaman rumah milik seseorang.
"Ambil aja apa ijin nih?" tanya Dyu saat mereka sudah di depan pohon tersebut.
"Ijin lah nanti. Sekarang foto dulu," ucap Zidan mengarahkan kamera untuk mereka foto selfy.
Mereka berfoto dengan wajah mengantuk. Mungkin ini yang ingin Zia lihat. Wajah-wajah tampan idaman banyak orang dalam keadaan mengantuk.
"Dyu, yang ikhlas fotonya!" decak Zidan saat Dyu sangat tidak ikhlas terlihat dari senyum yang terpaksa dan badan yang lemas.
"Ck! Yang buat siapa, yang ngikut susah siapa," kesal Langit.
"Kan bantuin temen dapet pahala," ucap Zidan sembari mengirim foto mereka pada Zia.
Zidan akan memetik kedondong itu, "Masa anak gue makan hasil curian sii."
Zidan mengurungkan niatnya mencuri, ia berjalan perlahan ke arah pintu untuk meminta izin. Akan tetapi, sudah berulangkali ia mengetuk pintu dan memanggil pemilik rumah tapi tidak ada yang menjawab.
"Gimana ya? Udah pada tidur kayanya," ujar Zidan kembali ke teman-temannya.
__ADS_1
"Ambil aja lah! Gue udah ngantuk berat nih," kata Zio yang memang belum tidur sama sekali. Yang lain kan sudah tidur tapi dibangunkan paksa.
Zidan mengangguk ragu. Ia mengucapkan basmallah sebelum memetik kedondong tersebut.
Galen berinisiatif mengeluarkan uang dari dompet dan menyelipkannya di sela sela ranting. Zio mengacungi jempol atas ide Galen.
"Cakep nih. Jadinya anak lo ngga makan hasil curian," celetuk Dyu.
Zidan masih memetik dan memilah kedondong itu. Sampai tiba-tiba pintu rumah terbuka dan terlihat bapak-bapak yang memegang golok berdiri di sana.
"Kalian maling ya?" tudingnya dengan golok. Ngeri banget.
Mereka reflek mengangkat kedua tangannya. "Bu-bukan pak."
"Maling! Maling!" teriak bapak tersebut.
"Cepetan! Kita cabut!" ucap Zio.
Zidan dan yang lain panik, Zidan segera memasukan kedondong itu ke kantong kresek yang ia bawa. Mereka bergegas lari dan menjalankan motornya saat warga sekitar mulai berdatangan.
Mereka menoleh sekejap di atas motor dan Zidan berteriak, "Makasih Pak, kedondongnya!"
Di tengah perjalanan mereka berhenti di pinggir jalanan yang lumayan sepi.
"Untung aja ngga digebugin warga," ucap Dyu mengelus dada karena merasa lega.
"Berapa duit lo tadi Gal?" tanya Zidan sembari menyantolkan kresek berisi kedondong di setang motornya.
"Ngga usah." Galen menggeleng, tidak banyak yang ia selipkan, hanya lima ratus ribu untuk beberapa buah kedondong. Baginya bukan uang yang besar.
"Ngga bisa gitu, Nih segitu! Kalo kurang potong gaji aja," ucap Zidan berusaha menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ke Galen, Galen tentu saja menolaknya.
"Ngga usah! Anggap aja itu buat ponakan gue," jawab Galen dan dengan terpaksa Zidan mengangguk.
Mereka menjalankan motornya ke rumah masing-masing, begitupun dengan Zidan. Cowok itu memasuki kontrakan fengan menenteng kantong kresek berisi kendondong.
Saat memasuki kamar, ia mendapati Zia yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan yang memijat pinggang. Ternyata Zia menunggunya pulang, padahal sekarang sudah pukul dua lebih.
Zia tersenyum saat Zidan menyodorkan kedondong padanya. "Makasih banyak banyak buat Zidan," ucapnya sembari menerima kedondong tersebut.
"Mau dimakan sekarang?" Zia mengangguk. Zidan mengambil lagi kedondong itu untuk dicuci.
"Nih makan. Hadap sana, gue pijetin punggung lo," perintah Zidan yang langsung ditiruti Zia. Sebelumnya Zidan sudah membanting kedondong tersebut, katanya akan lebih enak jika dibanting.
Zidan memijat punggung hingga pinggang Zia, dengan Zia yang asik memakan kedondong. "Ceritain dong, gimana Zidan sama temen-temen Zidan dapetin kedondong ini."
Zidan terkekeh, kemudian menceritakan semuanya.
__ADS_1