
Zia menghempaskan tubuhnya ke kasur tipis mereka. Badannya pegal-pegal karena berjalan cukup lama di taman tadi. Zidan juga duduk di sebelahnya setelah menaruh belanjaan di dapur.
Tadi Galen benar-benar mengerahkan semua anggota Atlansa untuk mencari Arin. Membuat taman kota ramai oleh anggota Atlansa, disana juga ada Zio, Langit, dan Dyu.
Zidan kembali tersenyum tipis mengingat ekspresi bingung Atlansa saat mendapati Arin bersamanya. Banyak juga dari mereka yang menggerutu akan kecerobohan ketuanya, tentunya di belakang Galen, Dyu contohnya.
"Keyna sayang banget ya sama Arin, padahal Arin bukan anak kandungnya," ujar Zia pada Zidan yang tengah memijat kakinya. Suami yang sangat perhatian.
"He'em, kan lo tau sendiri gimana Keyna," sahut Zidan yang fokus memijat pelan kaki Zia. Zia tidak meminta dipijat ya, jangan pada bilang Zia kurang ajar, Zidan sendiri yang berinisiatif.
"Iya, tapi tadi Zia bener-bener terharu, Keyna sampe sesegukan gitu nangisnya karena takut Arin kenapa-napa." Zia mengingat betul, bagaimana wajah panik Keyna juga Galen.
"Lo juga bakal kaya gitu nanti. Atau bahkan udah." Zidan menarik tangan Zia, menyingkap baju pada bagian lengan Zia. "Liat nih, luka ini ada karena lo lindungin dia kan?"
Zia mengangguk, netranya mengamati bekas luka di kedua tangannya. Benar kata Zidan, ia rela terluka asalkan adik bayi di perutnya selamat. "Zia dulu juga panik banget waktu perut Zia mau diapa apain sama orang jahat itu."
Zidan hanya tersenyum lalu menyudahi acara memijatnya, kini dirinya ikut berbaring di samping Zia. Hari minggu waktunya bersantai.
"Oh iya, Zidan udah tau siapa orang jahat itu?" Karena ucapan Zidan, Zia jadi ingin tahu siapa orang yang mau melukai calon anaknya.
Zidan menggeleng, "Engga tau."
Zidan jadi ikut memikirkan kejadian waktu itu, jika gadis culun yang membantu mereka adalah orang di bawah kuasa Ayra, berarti Ayra yang mengalihkan orang-orang yang menyekap Zia. Apa terjadi sesuatu pada Ayra waktu itu? hingga Ayra tidak berangkat sekolah sampai seminggu lamanya. Zidan jadi penasaran, itu juga artinya Ayra tau dong siapa pelakunya? Kenapa ia baru kepikiran sekarang.
"Zidan!" Lamunan Zidan buyar saat Zia menepuk dadanya lumayan keras.
"Apa?"
"Zidan ngga dengerin Zia ngomong dari tadi ya?" kesal Zia, dan Zidan hanya meringis, ia bahkan tidak tau kalau Zia barusan berbicara.
"Maaf! Coba bilang lagi, nanti gue dengerin." Zia menggelengkan kepalanya ngambek, sudah ngomong panjang lebar ngga didengerin lagi.
"Zi. Gue besok ijin mau nemuin Ayra, boleh?" tanya Zidan ragu-ragu. Takutnya Zia berpikir yang tidak-tidak lagi.
__ADS_1
"Ngapain? Jadi dari tadi Zidan mikirin Ayra," ketus Zia, sudah kesal ditambah makin kesal saja.
Zidan bingung menjawabnya, sebenarnya ia ingin bertanya tentang pelaku kejadian hari itu. Akan tetapi, Zia belum mengetahui fakta baru tentang Ayra, ia takut Zia malah jadi kepikiran.
"Boleh." Tanpa menunggu jawaban Zidan, Zia sudah mengizinkan terlebih dahulu. Zia takut alasan Zidan karena kangen, atau malah karena mereka merencanakan balikan.
"Ngga usah mikir kemana mana," peringat Zidan yang tepat sasaran.
"Gue ada urusan sama Ayra, tapi bukan mau balikan kok." Zia berpura-pura tidak peduli, ia memilih membuat lingkaran-lingkaran kecil di atas perutnya yang sudah sedikit menonjol dengan jari telunjuknya.
Zidan malah terkekeh saat perilaku Zia menambah kesan menggemaskan pada diri Zia. "Udah ah, gue mau tidur bentar, nanti duhur gue bangunin."
Zia mengangguk dan melihat jam sudah pukul sebelas siang, karena Zia tidak mengantuk dan lelahnya sudah hilang, Zia memilih pergi ke halaman belakang untuk memeriksa tanaman sayur mereka.
°°°°°
"Ayra udah nikah, Key." Keyna membulatkan matanya saat Galen mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku angkat telpon, Key," bela Galen pada dirinya sendiri. "Tapi beneran Key, Ayra udah nikah."
Keyna kini percaya, apalagi tidak ia temukan kebohongan di setiap kata yang Galen ucapkan. "Sama siapa?"
"Ervan, CEO dari perusahaan besar, rekan kerja papa," ujar Galen lalu menunjukkan foto pernikahan Ervan dan Ayra. Kebetulan papanya diundang waktu itu, dan ia menemukan foto tersebut saat sedang meminjam ponsel papanya.
"Ih iya bener ini Ayra. Kok temen aku nikahnya pada cepet-cepet banget sih," ucap Keyna membuat Galen terkekeh.
"Mau juga? Kalau mau, nanti malem aku bawa mama papa buat ngelamar," canda Galen. Keyna secara refleks menabok lengan Galen.
"Serius Galen! Ini Ayra kan? Nikahnya kapan?" Keyna kesal karena Galen malah bercanda, padahal dirinya sedang syok dan penasaran.
"Itu kan ada tanggalnya, sayang." Galen menunjuk ponselnya yang di tangan Keyna.
Keyna menepuk dahinya, bisa bisanya ia lupa hal sepele seperti ini. Keyna langsung melihat info dari foto tersebut lalu bergumam seperti tengah menghitung sesuatu.
__ADS_1
"Berarti sekitar seminggu setelah Zidan nikah?" Galen mengangguk saat Keyna menebak dengan benar.
Keyna terdiam, semakin rumit saja. Keyna jadi bertanya-tanya apa yang membuat Ayra menikah secepat itu. Tidak mungkin kasusnya sama seperti Zidan kan?
"Apa Ayra sakit hati ya ditinggal nikah sama Zidan, terus Ayra balas dendam jadinya nikah sama CEO?" Keyna malah berpikir ngaco.
"Aduh, abis Arin ilang kok kamu jadi udah ngga pinter sih. Logikanya gini, kalo Ayra balas dendam ke Zidan, harusnya Zidan tau dong, harusnya Ayra pamer ke Zidan dong kalau suaminya lebih hebat. Tapi ini engga, malah pernikahan mereka privat banget, yang dateng aja cuma orang-orang terdekat Ervan aja," ucap Galen menyampainya pemikirannya. Biasanya setelah ini akan terjadi diskusi yang lumayan berat, beruntungnya Arin sedang tidur siang.
"Berarti ada hal yang kita lewatin," opini Keyna dibalas anggukan dari Galen.
"Apa mereka dijodohin?" ucap Galen.
"Siapa yang jodohin? Kan Ayra udah sebatang kara," ucap Keyna tidak setuju dengan pemikiran Galen.
"Oh iya ya, wasiat kalii." Keyna mengedikkan bahunya, bisa jadi.
"Atau sama kaya Zidan-Zia?" opini Keyna yang membuat Galen berpikir sejenak.
"Emang mungkin? Kan pengawasan Ayra ketat banget." Galen tau benar bagaimana banyaknya pengawal yang mengawasi Ayra dari kejauhan. Galen peka akan hal itu, karena Galen juga mengenal beberapa orang kepercayaan Deva, almarhum kakaknya Ayra.
Keyna dan Galen terus berdiskusi, tapi belum menemukan jawabannya juga.
°°°°
Hallo Semuanyaaa👋
Masih ada yang baca kah jam segini?🤔
Gimana sama bab ini? makin penasaran atau malah udah mulai bosen? 😅
Kalau suka jangan lupa like yaa👍
Komen juga biar aku masih rajin Up♥♥
__ADS_1