
"Lo udah pernah ngapain aja sama Zidan?" tanya Sherena setelah mereka selesai homeschooling.
Zia yang tengah membereskan bukunya, menyergitkan alis bingung, "Ngapain gimana?"
"Ya ngapain gitu selama kalian nikah?" Sherena dibuat penasaran, seperti apa interaksi Zia yang polos dan Zidan yang lumayan kaku saat berdua.
"Pegangan tangan."
"Terus?"
"Kerja,"
"Terus?"
"Tidur bareng, makan bareng, jalan-jalan, banyak lah Sherena," jawab Zia dengan mengelus perutnya.
Sherena menghela napasnya, bukan itu yang ia ingin tahu. "Pernah ciuman?"
Seketika pipi Zia memerah mengingat beberapa hari lalu Zidan menciumnya saat akan berangkat sekolah.
"Kok salting? Lo pernah ya? Aaaaa sahabat gue udah ngga polos lagi," heboh Sherena.
Keyna sedari tadi hanya memperhatikan sembari menghubungi pengasuh Arin untuk membawa Arin kemari. "Yakin ciuman?" tanya Keyna.
Sherena menghentikan aksi hebohnya, "Iya ya. Zia coba jelasin gimana caranya?"
"Ya cium aja. Emang ada caranya," jawab Zia yang masih merasakan malu.
"Jelasin! Zidan mintanya gimana? Yang mulai siapa dulu? ngga mungkin kan lo agresif duluan?" Zia dibuat semakin bingung, agresif bagaimana pula.
"Zidan ngga minta. Kan tiba-tiba cium pipi Zia abis itu langsung lari berangkat sekolah," jawab Zia yang membuat Sherena geregetan sendiri.
"ITU KECUP BUKAN CIUM ZIAAA," teriak Sherena frustasi akan kepolosan Zia.
"Lah emang beda ya?" Keyna tertawa saat melihat obrolan dua orang yang beda arah tersebut.
"Beda lah. kecup tuh cuma cup doang, cup gitu. kalo ciuman tuh gini," kesal Sherena sembari memberi contoh dengan mengerucutkan kedua jari tangannya dan menyetukannya sembari ujung jarinya bergerak-gerak.
Zia menyergitkan alisnya saat melihat jari tangan Sherena yang bergerak cukup aneh menurut Zia.
"Udah ah, capek jelasinnya. Lo tanya aja sama Zidan nanti." Sherena sudah lelah dengan kepolosan Zia.
"Ya udah nanti Zia tanya Zidan," ujar Zia yang berniat menanyakannya pada Zidan nanti. Gara-gara Sherena ia jadi penasaran bagaimana itu ciuman yang lain. Setaunya yang kemarin Zidan lakukan padanya juga namanya ciuman, ternyata bukan.
"Langsung praktek aja Zi," ujar Keyna lalu terkekeh geli membayangkan wajah polos Zia saat pertama kali berciuman.
__ADS_1
"Keyna tau caranya gimana?" Kini Zia beralih pada Keyna. Keyna mengangguk, gini gini juga Keyna pernah menontonnya di drakor.
"Keyna pernah?" Keyna menggelengkan kepalanya. "Baiknya jangan ngelakuin itu kalo belum nikah," jawab Keyna.
Zia mengangguk, "berarti Zia boleh dong."
"Boleh banget." Sherena dan Keyna serempak mengangguk setelah saling tatap dan mengedipkan matanya.
°°°°°°
Zidan dan teman-temannya sedang mengamati CCTV tetangga Zio yang sedikit merekam rumah Zio.
"Tuh mobil kita," ujar Galen saat mobil Atlansa melintas di depan rumah pemilik CCTV.
"Waktu lo sampe rumah Zio ngga ada yang mencurigakan Lang?" tanya Dyu.
Langit menggelengkan kepalanya. "Sepi banget malahan. Gue masuk tuh celingukan tapi ngga ada satupun orang yang gue liat di rumah Zio."
Mereka mengangguk lalu kembali mengamati CCTV. Zio sedikit melirik Langit, ingin memastikan ekspresi Langit. Akan tetapi Langit serius menatap pada layar dan terlihat sangat tenang, tidak mencurigakan sama sekali.
"Stop! Tuh ada mobil yang dateng waktu Langit udah pergi." Zio menyetopnya lalu mengezoom mobil tepat di bagian platnya. Zidan langsung menyatatnya di dalam ponsel, berharap ada petunjuk dari ini.
"Udah, lanjut," ucap Zidan saat sudah selesai mencatat pelat nomor tersebut. Mobil itu terlihat berhenti di depan gerbang rumah Zio, lalu sekitar lima belas menit dari itu pergi lagi.
"Bentar doang, kayanya cuma ngambil foto itu buat disebarin deh," argumen Dyu. Semuanya mengangguk, juga berharap begitu, kalau sampai video yang mereka ambil akan lebih berbahaya.
Mereka memperhatikan dengan seksama. Sampai seminggu setelah kejadian tidak ada mobil atau kendaraan lain yang mencurigakan berhenti di depan rumah Zio.
"Kayanya aman deh. Tapi kita harus tetep dapet file asli foto itu deh, takutnya kesebar lagi," kata Galen.
"Dapetnya dari mana?" tanya Zidan yang cukup takut jika foto itu ada di tangan orang yang salah. Mereka berpikir sejenak membuat suasana menjadi hening.
"Yang kemaren ngilangin semua foto yang kesebar di sosmed siapa?" tanya Dyu.
Galen menyentikkan jarinya, "Pak Ervan. pemilik sekolah." Galen tidak akan menyebutkan suami Ayra di depan Zidan.
"Suaminya A-" Galen menginjak jari kaki Dyu agar Dyu tidak melanjutkan kalimatnya.
"Oh gue tau. Pak Ervan yang kemarin bantuin gue sama Zia buat tetep sekolah." Zidan mengingat orang baik tersebut, ia jadi teringat surat pink yang belum ia dan Zia buka sampai sekarang.
°°°°°
Zidan baru pulang sekitar jam lima sore setelah dari rumah tetangga Zio. Zidan menghela napasnya saat mengingat hanya memiliki waktu sejam lebih untuk istirahat sebelum berangkat ke kafe.
Ceklek.
__ADS_1
Zidan melihat Zia tengah melipat baju di kamar mereka. Zia menoleh lalu berdiri dan mengecup tangan Zidan seperti biasa. Benarkan namanya kecupan? bukan ciuman?
"Udah makan?" Zia mengangguk. Zidan meletakkan tasnya di kursi lalu membantu Zia menata baju di lemari.
"Zidan kenapa baru pulang?" tanya Zia.
"Ada urusan sama Altansa tadi." Zia mengangguk. Zia seketika menghentikan aktifitasnya sata mengingat ada yang harus ia tanyakan, Zia menatap Zidan yang baru saja menutup lemari.
"Kenapa?" Zidan cukup peka akan tatapan Zia, pasti Zia ingin sesuatu.
"Zia boleh nanya?" Zidan mengangguk sembari merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ciuman caranya gimana?"
Mata Zidan seketika membola, tubuhnya kembali ia dudukkan lalu menatap Zia lekat. Telinganya tidak salah dengar kan?
"Hah?"
"Iya, caranya gimana? Kata Keyna sama Sherena kalo udah nikah boleh ciuman. Jadi, Zia pengin Zidan jelasin," ucap Zia dengan polosnya duduk di sebelah Zidan.
Ngga beres nih kalo tiap hari tuh dua cewek ngeracunin otak polos Zia, gerutu Zidan dalam hati. Zidan berdiri lalu melepas dasinya, tiba-tiba rasanya sangat gerah.
"Apa Zidan juga ngga tau? Tapi Sherena bilang Zidan pasti tau kok, jelasin Zidan!" ucap Zia membuat Zidan semakin ketar ketir. Masa ia harus menjelaskannya pada gadis sepolos Zia, tapi di sisi lain sudah seharusnya Zia mengetahuinya.
"Langsung praktek aja gimana?" ujar Zidan yang membuat Zia mengerjapkan matanya bingung lalu mengangguk saja. Padahal ia tidak paham apapun.
Zidan tersenyum miring lalu menangkup kedua pipi Zia dengan dengan tangannya. Zia malah menatapnya dengan tatapan yang masih bingung.
"Siap?"
Zia mengangguk pelan. Zidan lalu mendekatkan wajahnya pada wajah zia, membuat Zia dengan reflek memundurkan wajahnya sendiri. "Zidan ngapain?"
Zidan tidak menjawab, tangan Zidan berpindah ke belakang kepala Zia guna mendekatkan wajah Zia kembali. Dengan perlahan bibir Zidan menyentuh bibir Zia, Zia sudah memejamkan matanya.
Hanya sampai di situ, karena setelah itu Zidan kembali menjauhkan wajahnya lalu menjitak dahi Zia saat istri polosnya itu masih memejamkan matanya.
"Udah sampe situ dulu. Nanti malem gue lanjutin belajarnya."
°°°°°
Haloo semuanyaaa 👋
Gimana sama bab ini? ♥
Jangan lupa like, komen, vote, sama kasih hadiah ya kalau mauu♥♥
__ADS_1
Sampai jumpa lagi besok👋👋