
Tok.... tok.... tok....
Sudah berulang kali Bunda Dian mengetuk pintu kamar putranya itu, tapi sampai sekarang tidak ada jawaban dari dalam.
"Zidannn... Zia... Kalian belum bangun? Nanti telat loh sekolahnya," ucap Bunda Dian sedikit berteriak.
Bunda terus mengulang aksinya sampai akhirnya pintu itu terbuka juga.
"Kenapa Bun?" tanya Zidan yang hanya menyembulkan kepalanya saja, ingat! Zidan belum pakai baju. Setelah mandi wajib dan solat subuh, Zidan malah mengajak Zia bermain itu itu lagi dan baru selesai barusan, dan baru mau tidur tapi sudah dibangunkan saja.
"Kamu ngga sekolah? Udah jam setengah tujuh Zidan," ucap Bunda sembari mencoba membuka pintu di hadapannya tapi ditahan Zidan.
"Hah!" kaget Zidan lalu melihat jam yang terpasang di dinding. Ternyata benar, sudah jam setengah tujuh, ia kita baru setengah enam tadi.
"Sana kamu mandi, Bunda mau liat menantu bunda," ucap Bunda sembari mendorong pintu di depannya lagi.
"Jangan Bun!" larang Zidan. Dirinya dan Zia masih sama sama telanj*ng.
"Zidan libur dulu ya sekolahnya," ucap Zidan sembari menutup mulutnya yang menguap.
"Tidur jam berapa kamu? Jam segini masih nguap nguap kaya gitu, ngga ada libur liburan pokoknya berangkat sekolah," omel Bunda.
Zidan tidak menjawab, ia hanya menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Hehe... Zidan mandi dulu ya, maaf Bun," kata Zidan sembari menutup pintu kamarnya, tidak sopan memang.
Bunda Dian hanya menggelengkan kepalanya, mungkin Zidan semalam asyik bermain game sampai lupa waktu, mengingat hal itu dulu sering terjadi.
"Lah kamu kenapa?" tanya Zidan saat melihat Zia tengah mengusap perut bagian bawahnya sembari meringis. Zidan membantu Zia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar.
"Kram," jawab Zia yang tengah memejamkan matanya dan mengatur napas.
"Bundaaa," teriak Zidan yang segera memakai celananya dan kembali membuka pintu.
Bunda yang tengah menuruni tangga pun berbalik badan, "Kenapa?"
"Zia kram perut, coba bunda cek," ucap Zidan. Lumayan panik karena melihat ekspresi Zia.
Bunda kembali menaiki anak tangga dan masuk ke kamar putranya itu. Bunda kemudian menghampiri menantunya yang tengah duduk bersandar dengam selimut yang menutupi sampai leher.
"Coba bunda cek ya?" ucap Bunda sembari memegang perut Zia dari luar. Terasa gerakan yang cukup aktif di dalam perut menantunya itu.
__ADS_1
"Tangan bunda masuk ke selimut ya?" izin Bunda dan diangguki Zia. Bunda lalu memegang perut Zia yang lumayan tegang dan area pinggang juga tegang. Dengan oerlahan ditekannya perut bagian bawah mmebuat Zia semakin meringis.
Saat merasakan perut Zia tidak ada sehelai benang pun yang menempel, keadaan dan aroma kamar saja bunda sudah bisa menebak apa penyebab kram di perut Zia ini.
"Gimana bun?" tanya Zidan yang berdiri di belakang bunda dengan raut wajah penasaran dan khawatir.
"Ulah kamu ini," jawab Bunda sembari mengeluarkan tangannya dari dalam selimut.
Zidan yang bingung malah menunjuk dirinya dengan cengo.
Bunda mengangguk, "Ambilin baju istri kamu sana."
Zidan mengangguk lalu berjalan ke arah walk in closet. Mengambil baju hamil lengkap dengan **********.
"Kamu bantu pake dulu," perintah Bunda saat Zidan berjalan ke arahnya. Bunda yang tengah memijat punggung Zia, memundurkan langkahnya guna memberi akses bagi Zidan.
Setelah selesai memakai baju, Bunda kembali duduk di sebelah Zia.
"Kamu ngga ngikutin saran bunda pasti," tuduh Bunda sembari melrtakkan kain dan air hangat yang baru ia ambil dari kamar mandi ke atas nakas.
"Saran apa Bun?" tanya Zidan bingung.
Bunda menghela napasnya lalu menempelkan kain hangat itu di perut Zia, "Women on top Zidan. Dan kamu kalo main inget waktu, inget keadaan istri juga."
"Masih sakit?" tanya Bunda sembari memijat dan merilekskan pinggang serta perut Zia.
Zia menggelengkan kepalanya, "Udah ngga terlalu Bunda."
"Perlu ke rumah sakit ngga Bun?" tanya Zidan yang sudah mengenakkan bajunya kembali.
Bunda menggelengkan kepalanya, "Ngga usah, yang ada diketawain dokternya," jawabnya kemudian tertawa.
"Kan bunda dokternya," kata Zidan.
Zia yang sedari tadi memperhatikan kini penasaran dengan satu hal, "Bunda, Apa sakit kalo mau melahirkan kaya gini juga?"
Bunda yang sangat paham akan kekhawatiran menantu imutnya itu pun tersenyum hangat.
"Mirip sama bukaan pertama, lebih sakit dikit aja." Bunda menggunakan kata yang sedikit menenangkan.
"Bukaan kan ada sepuluh ya Bun?" tanya Zia yang sudah mencari tahu sebelumnya.
__ADS_1
Bunda mengangguk, "Iya, semakin naik bukaannya semakin sakit juga rasanya."
Zia seketika pucat membayangkannya, kranm biasa seperti ini saja rasanya sudah sakit. Bagaimana jika sepuluh kaliblipat dari ini.
"Jangan takut gitu Zia, Nanti sama Bunda kok lahirannya," ucap Bunda yang melihat raut wajah tegang Zia.
"Udah ya, Bunda mau ke bawah dulu, Ayah udah mau berangkat kerja," pamit Bunda. Setelah mengusap perut Zia sekali, Bunda beranjak dari duduknya.
"Kamu Zidan. Nanti temuin Bunda di bawah, Zia tidur lagi aja. Pasti ngga tidur nih semalem," kata Bunda sembari keluar dari kamar.
Zidan yang merasa bersalah pun kini menaiki ranjang di sebelah Zia, "Maafin aku ya."
"Nggapapa kok, kan Zidan ngga tau juga." Zia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum manis pada sang suamibyang kini menatapnya dengan raut wajah menyesal.
Zidan membenamkan wajahnya di perut Zia, "Maafin papa ya?"
Zia mengusap rambut Zidan saat cowok itu sibuk dengan perutnya. Rasa sakit tadi tidak terlalu sakit, lebih besar rasa bahagianya setelah mengetahui perasaan Zidan yang sesungguhnya.
"Udah sana ditungguin Bunda di bawah. Aku mau tidur lagi, ngantuk," ucap Zia saat Zidan sudah menegakkan kepalanya lagi. Zidan kini membantu Zia untuk berbaring dan menyelimutinya.
Sebelum keluar dari kamar, Zidan menyempatkan mengecup kening, hidung, pipi, dan terakhir bibir manis Zia. Rasanya menyenangkan sudah bisa mengekspresikan cintanya tanpa canggung lagi.
......................
Zidan terus mendengarkan ceramah dari bundanya, tentang bagaimana harusnya ia berhubungan badan, posisi terbaik, lama waktunya, sampai teknik yang disarankan.
"Kamu semalaman ngga ngijinin Zia tidur?" tanya Bunda setelah merasa sudah menjelaskan semuanya.
"Tidur Bun, dini hari Zia sama Zidan tidur sampe subuh. Bahkan kita udah mandi wajib sama solat subuh, cuma abis itu Zidan...." Zidan malu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ya udah, lain kali jangan kaya gitu ya, boleh berhubungan karena itu memang kebutuhan dan pahala juga. Tapi harus inget waktu sama keadaan ya?" saran Bunda yang diangguki oleh Zidan.
Bukannya Bunda terlalu ikut campur dengan urusan ranjang Zidan, tapi memang ibu hamil tidak boleh seenaknya diajak anu. Bahkan memang harusnya sesuai anjuran dokter kandungan, jadi di sini Bunda hanya melakukan tugasnya sebagai dokter kandungan Zia juga sebagai mertua yang baik.
...----------------...
Segini dulu yaa...
Masih aku kasih yang ringan biar readers santai dulu sebelum aku kasih yang berat berat....
Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah, dan follow yaa.
__ADS_1
Aku ngga maksa, tapi au bakal seneng kalo kalian lakuin salah satu aja...
Bye Byee👋👋