Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
94. Dari Hati ke Hati


__ADS_3

"Udah sore, pulang yuk. Takutnya papa udah mau pulang," ucap Zidan menghampiri Zia yang tengah menggendong baby Zira.


Mendengar itu membuat Zia mengembungkan pipinya. Perasaan baru sebentar ia bercerita bersama mamanya, sudah waktunya pulang aja.


"Bentar lagi boleh?" tanya Zia dengan wajah memelasnya.


Zidan menggelengkan kepala sebagai jawaban, "Sekarang ya?"


Kini Zia menundukkan kepalanya, masih tidak rela meninggalkan rumah ini. Apalagi entah kapan lagi ia bisa kemari.


"Pulang dulu ya. Mama ngga mau kamu ketemu papa," ucap mama Salma sembari mengambil baby Zira dari gendongan Zia.


"Tapi Zia masih pengin di sini," cicit Zia seperti anak kecil.


Mama Salma pun tersenyum mendengar ucapan putrinya, "Besok besok ke sini lagi."


"Pulang ya?" tanya Zidan sekali lagi, tentunya dengan nada yang lembut.


Dengan terpaksa Zia mengangguk. Zidan pun mengambilkan tas selempang Zia yang tergeletak di kasur baby Zira lalu berpamitan pada mama Salma.


"Zia pulang ya Ma, secepetnya Zia kesini lagi," ucap Zia sembari menyalimi tangan sang mama tercinta.


Mama Salma mengangguk, "Iya sayang. Mama akan selalu nungguin kedatangan kamu."


Setelah itu Zidan menggandeng tangan Zia keluar dari rumah yang menemani pertumbuhan istrinya dari lahir. Zio dan mama Salma juga mengantarkan mereka sampai ke depan pintu.


Hari sudah senja membuat Zidan harus segera membawa Zia pulang. Zidan masih takut jika Zia bertemu papanya, mental Zia pasti akan terguncang kembali. Dan itu snagat tidak baik untuk Zia dan calon anaknya.


"Hati-hati," ucap mama Salma sembari melambaikan tangannya pada Zia dan Zidan yang mulai meninggalkan halaman rumah mewah itu.


Di sepanjang perjalanan, wajah zia tampak masam, bibirnya maju beberapa milimeter dan pandangannya ke arah jendela samping.


"Kok gitu bibirnya? marah?" tanya Zidan yang menoleh sekilas pasa Zia lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.

__ADS_1


Zia menggelengkan kepalanya, "Belum puas aja."


Mendengar itu tangan kiri Zidan beralih mengusap rambut Zia. "Bersyukur ya... Secepetnya aku bakal bawa kamu ketemu mama lagi."


Dengan cepat Zia menolehkan wajahnya pada Zidan, "Bener? Awas loh kalo ingkar janji. Nanti aku marah."


Zidan mengangguk yakin. Sebentar lagi pasti bisa.


"Senyum dong... Ngga enak banget diliatnya kalo bibirnya ngga senyum," kata Zidan membuat Zia menerbitkan senyumnya.


"Duh manis banget, istri siapa ini?" puji Zidan membuat pipi Zia bersemu merah karena malu.


¤¤¤¤¤


Seluas apapun lautan pasti akan ada ujungnya, begitupun masalah. Seberat apapun masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Itulah yang sekarang menjadi motivasi Zidan dan Zia berdasarkan pengalaman mereka.


"Kamu nyangka ngga kalo sekarang kita bisa hidup lebih baik kaya gini?" tanya Zidan sembari duduk di kasur empuk mereka.


Zia yang sedang ngemil pun menggelengkan kepalanya, "Engga."


"Sama, aku pikir juga gitu. Jujur, aku sempet mau nolak tawaran ayah loh waktu itu," cerita Zidan sembari membaringkan tubuhnya.


"Oh ya? kenapa?" tanya Zia yang tertarik dengan ucapan suaminya.


Zidab menatap langit-langit kamar dengan tangan yang ia jadikan bantalan kepala, "Aku awalnya pengin bangun ekonomi kita bener-bener dari nol. Tapi aku mikir lagi, aku baru kelas sebelas, untuk lulus aja masih butuh waktu hampir dua tahun. Sementara kamu, kamu udah hamil empat atau lima bulan waktu itu. Waktu aku ngga akan cukup kalo aku cuma ngandelin gaji yang ngga seberapa itu."


Zia memperhatikan Zidan yang sepertinya masih akan melanjutkan ceritanya.


"Aku sama aja biarin istri dan anak aku menderita di lubang kemiskinan yang entah kapan bakalan berakhir. Bukan cuma itu, kebutuhan untuk anak kita nanti juga pasti ngga bakalan terpenuhi sebaik masa kecil kita dulu. Ya masa, masa kecil anak kita lebih buruk dari kita sendiri selaku orangtuanya. Kita aja pengin apa apa pasti langsung diturutin, mainan mahal semua, masa anak kita minta mainan aja harus nunggu gajian? Ngga tega aku. Jadi aku buang ego aku jauh-jauh dan akhirnya terima tawaran ayah," cerita Zidan membuat Zia terharu.


"Salut... Kamu mikirnya jauh dan luas... Ngga kaya aku yang lemot. Semoga anak kita nanti sifatnya mirip kamu aja yaa," ucap Zia sembari mengusap perut buncitnya.


"Ngga bisa dong. nanti ngga gemesin kaya kamu," ucap Zidan yang sudah berani blak blakan.

__ADS_1


"Nggemesin tapi lemot percuma," ucap Zia membuat Zidan menggeleng tidak setuju.


"Ngga percuma kalo itu kamu," sangkal Zidan membuat Zia tersenyum malu.


"Aku sekarang pengin denger dari pandangan kamu soal kehidupan kita sebelum ini," ucap Zidan yang tidak ingin hanya dirinya saja yang bercerita.


"Aku? Aku dulu ngga pernah ngarepin apapun sih. Ngga pernah kepikiran juga buat hidup enak kaya gini lagi. Yang ada di otak aku tuh cuma yang penting ada kamu di sisi aku. Aku ngga bakalan bisa ngapa ngapain tanpa kamu, aku ngga bakalan bisa makan, ngga bisa ngerjain pekerjaan rumah, ngga bisa belajar berpikir dewasa juga. Pokoknya aku dulu cuma bisa pasrah, kalo waktu itu kamu milih kembali ke rumah ini tanpa bawa aku.... ya gitu. Aku bisa gila," cerita Zia sembari menerawang bagaimana kehidupan mereka yang susah dulu.


"Dan itu ngga mungkin. Walaupun aku waktu itu masih ragu sama hati aku sendiri, aku ngga bakalan ninggalin istri dan calon anak aku gitu aja. Lebih baik kita hidup di kontrakan kecil itu selamanya tapi bareng-bareng terus, daripada aku di sini hidup enak dan kamu menderita," ucap Zidan menimpali ucapan Zia.


Kini Zidan dan Zia sudah duduk bersandar di kepala ranjang dengan Zia yang bersandar di dada bidang milik Zidan.


"Kamu masih bisa hidup kalo ngga ada aku. Tapi aku bisa gila bahkan mati kalo waktu itu kamu ninggalin aku sendirian di kontrakan kecil itu," ucap Zia yang ternyata tidak disetujui oleh Zidan.


"Siapa bilang? Aku kalo ngga ada kamu juga bisa gila. Ngga ada yang kasih senyum manis kalau aku capek abis nguli panggul, ngga ada yang kasih perhatian kalo aku cape abis kerja di kafe. Sama halnya dengan kamu. Kita emang kayanya ngga bisa hidup terpisah," saut Zidan membuat Zia mengangguk saja, Zia sudha mengantuk.


"Mungkin emang udah jalan kita bersatu dari musibah besar kemarin," lanjut Zidan sembari mengusap lembut kepala Zia.


"Musibah yang mengajarkan kedewasaan, lebih tepatnya memaksa kita buat dewasa, Iya ngga Zi?" ucap Zidan lagi. Tidak mendapat respon dari Zia membuat Zidan melongok wajah Zia.


Zidan terkekeh saat ternyata istrinya itu sudah tertidur. Memang sejak memasuki trimester ketiga posisi ini menjadi posisi favorit Zia. Katanya pinggangnya nyaman, hingga Zidan akan membiarkan Zia tidur bersandar padanya.


Tidak apa dirinya pegal, asalkan istrinya nyaman Zidan ikhlas.


¤¤¤¤¤¤


Hai hai haiiii 👋


Aku up lagi nih♥....


Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah, dan follow yaa♥♥...


Lakuin aja yang kalian bisa lakukan, satu aja aku udah seneng♥♥...

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya♥♥..


Bye bye👋👋👋


__ADS_2