
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak. Tapi tidak dengan Dyu, cowok itu masih diam dengan mata yang tidka berkedip melihat gadis cantik yang malam itu menolak cintanya.
"Maaf kenapa ya rame-rame, apa ibu saya buat salah sama kalian?" tanya gadis itu dengan panik.
Bu Intan menghampiri anaknya, "Engga Nak, mereka ini yang waktu itu Ibu ceritain, mereka yang nolong ibu buat bayar operasi adik kamu."
"Tapi bener kan Bu? Ibu ngga diapa-apain sama mereka, Elina panik loh tadi waktu pulang malah banyak orang di sini." Bu Intan mengangguk lalu menyusuh Elina untuk menyapa mereka.
"Haii, aku Elina, putri sulung dari Bu Intan, makasih ya udah baik banget sama keluarga kami, apalagi mau biayain operasi adik," kata Elina dengan mengedarkan pandangannya ke mereka semua.
Mereka tersenyum dan mengangguk, "Sama sama."
"Bukan kami yang membiayai, Zidan yang bayas semuanya," kata Galen menunjuk Zidan.
Zidan pun tersenyum canggung saat Elina melihat ke arahnya. Berbeda dengan Elina, gadis itu malah terus memandangi wajah Zidan yang menurutnya paling adem untuk dipandang diantara mereka semua.
"Elina." Elina pun mengalihkan perhatiannya saat dari arah belakang ada yang memanggil namanya.
"Dyu?" kaget Elina. Sedari tadi ia tidak fokus ke arah pintu, dirinya terlalu panik tadi.
"Haii," sapa Dyu yang tidak ditanggapi Elina. Gadis itu malah menolehkan wajahnya.
"Elina mau liat adek dulu ya, Bu," pamit Elina lalu memasuki kamar adiknya. Sebenarnya juga untuk menghindari Dyu.
Buahahahahaaa...
Zio tertawa puas saat melihat wajah kecut Dyu.
"Cinta ditolak emang ngga enak..." nyanyi Langit di samping Dyu membuat mereka semua tertawa.
"Jadi ini toh yang bikin anak saya galau?" tanya Bu Intan membuat Dyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menurun sudah martabatnya di depan ibu gadis yang ia suka. Apalagi tadi ia mengucapkan habis meggoda cewek di warung. makin anjlok sudah.
¤¤¤¤¤
"Gimana nih?" tanya Galen saat mereka berkumpul di basecamp setelah dari rumah Bu Intan.
"Kalo berkasnya di Tuan Willy berarti kita butuh bantuan Ayra buat ambil," jawab Keyna yang mendapat anggukan mereka semua kecuali Dyu. Cowok itu sedang melamun di pojokan.
"Sekarang susah banget ngontak Ayra. Berasa ngehubungin ibu negara," keluh Sherena.
"Ya emang ibu negara, ibu negaranya Pqk Ervan," jawab Keyna seadanya.
"Nomor HPnya ganti ya?" tanya Galen diangguki pada cewek.
"Coba besok kita minta tolong Ayra di sekolah. Kita curi curi waktu," ucap Zio yang mendapat anggukan kepala dari para cowok.
__ADS_1
"Bahaya banget ya hidup Ayra sekarang, apa bisa tidur nyenyak tuh tinggal serumah sama pembunuh," ujar Langit saat mengingat fakta tentang itu.
"Ya kalo itu bukan Ayra sih gue jamin udah tinggal nama doang. Tapi karena ini Ayra ya gue rasa dia aman," timpal Keyna.
Setelah itu mereka makan dan mengobrol bersama. Tentunya tidak hanya obrolan basa basi, melainkan merencanakan langkah selanjutnya.
"Sekaliam ke puncak ngga nih?" tanya Zio saat Galen menyebutkan alamat selanjutnya berada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
"Boleh bamget tuh," saut Sherena dengan semangat. Sekalian liburan.
"Bisa ngga nih Gal?" tanya Zidan yang juga berminat liburan ke puncak. Taoi semua harus dalam persetujuan sang ketua.
"Ya udah berarti kalo mau ke puncak juga, kita berangkat hari jumat sore aja, biar minggu udah bisa pulang," saran Galen yang diangguki semuanya. Sorakan senang juga terlontar mereka.
Mendengar itu, Zia menarik narik lengan Zidan. "Apa?" bisik Zidan yang mendekatkan kepalanya ke arah Zia.
"Aku boleh ikut?" tanya Zia yang juga berbisik. Zidan menatap lekat wajah memelas istrinya itu, menggemaskan sekali.
"Ngga tau. Nanti coba tanya bunda," jawab Zidan lagi.
"Kalo ngga boleh gimana? Aku pengin banget ikut," bisik Zia lagi.
"Udah nih diskusinya? mau berapa ronde nanti malem?" tanya Zio saat melihat Zidan dan Zia yang terus berbisik.
Mereka tertawa dengan lelucon Zio. Sedangkan Zidan, ia hanya menghela napas malas. Otaknya memang mudah terpengaruhi, buktinya sekarang Zidan jadi pengin.
"Udah lah kasian. Kan jadi pengin beneran dia," saut Dyu yang sudah nimbrung lagi.
"S i a l a n lo Yu, gue kira lo mau mihak ke gue, ternyata sama aja. Yuk Zi pulang, beneran pengin nih jadinya." Zidan membantu Zia berdiri lalu meninggalkan basecamp yang dipenuhi gelak tawa itu.
¤¤¤¤¤
Di rumah keluarga Zidan.
"Bunda, kita mau nanya," kata Zidan saat memasuki ruang kerja Bunda di rumah. Zidan datang bersama Zia tentunya.
Bunda yang tengah membaca berkas pun mengangguk, "Nanya apa? Sini duduk dulu," ucapnya menyuruh mereka duduk di sofa.
"Mau nanya apa?" ucap Bunda Dian sembari mengusap punggung tangan menantunya yang duduk di sebelahnya.
"Gini Bun, kan anak anak Atlansa mau ada acara ke puncak. Nah Zia pengin ikut, itu boleh ngga bun? Aman ngga buat babynya?" tanya Zidan.
Bunda mengulas senyumnya, bangga karena putranya benar benar memperhitungkan segalanya dalam urusan kehamilan istrinya.
"Untuk usia kehamilan Zia sekarang malah bisa dibilang rentang usia paling aman buat bepergian jauh, kisaran 14-28 minggu itu waktu terbaik buat bumil jalan jalan," terang Bunda Dian.
"Berarti aman kan Bun?" tanya Zidan memastikan.
__ADS_1
"Kalo nanti sebelum berangkat tubuh Zia baik-baik aja ya aman. Apalagi kehamilan Zia ini sehat, ngga ada komplikasi, jadi kalo tubuh Zia sendiri kuat ya ngga masalah," jawab Bunda Dian lagi.
"Okee.. makasih ya bunda," kata Zidan dan Zia yang hampir berbarengan.
"Kalau bunda boleh tau ke puncaknya kapan? berapa hari di sana? Kan katanya mau adain tujuh bulanan juga," tanya Bunda Dian.
"Ke puncaknya hari jumat sore pulangnya dan pulangnya hari minggu, kan tujuh bulanannya hari selasa." Zidan menjawab dengan cepat karena tadi ia juga sudah menghitung sendiri di kamar.
"Berarti masih ada waktu. Yang penting kesehatan Zia dijaga banget loh, itu cuma selisih sehari, jangan sampe kecapean. Apalagi puncak tuh dingin, Zidan ngga boleh sampe lengah loh," saran Bunda Dia yang diangguki Zidan dan Zia.
"Tapi bunda, Zia baca baca di internet harus sesuai ijin dokter," kata Zia. Zidan sampai tepok jidat mendnegar pertanyaan tidak berguna dari Zia.
"Lah kan Bunda dokter kamu, gimana sih?" ucap Bunda Dian lalu terkekeh.
"Oiya yaa," kata Zia entah dari mana otaknya jalan jalan. Zidan gemas sendiri karena ke-lola an istrinya ini.
"Nanti Bunda juga bakalan resepin vitamin lagi, sama obat penguat janin buat jaga jaga, nanti diminum ya," kata Bunda Dian yang diangguki Zia.
"Makasih banyak banyak Bunda," ujar ia lalu memeluk bundanya, selain karena senang ia diperbolehkan ikut liburan ke puncak, juga karena bunda mertuanya ini sangat baik padanya.
Zia jadi teringat jika usia kandungannya tujuh bulan berarti usia kandungan mamanya sudah sembilan bulan, "Bunda, Zia mau tanya lagi boleh?" ucapnya setelah melepas pelukan mereka.
"Boleh dong."
"Kan kata Bang Zio, mama Zia juga yang nanganin kehamilannya juga bunda, berarti bunda tau dong kapan perkiraan adik Zia lahir?" tanya Zia dengan hati-hati.
Bunda Dian mengangguk sembari mengusap rambut menantunya itu, "Tau dong. HPL nya tuh udah deket, cuma seminggu lagi. Tapi kayanya maju, karena kemarin bilang ke bunda udah ngerasain kontaksi palsu gitu."
Zia mengangguk, lalu menoleh ke arah Zidan.
"Kalo Adik Zia udah lahir, kita jengukin yaa?" pinta Zia yang hanya diangguki Zidan. Sebenarnya Zidan ragu membawa Zia beetemu orangtuanya lagi, apalagi papa Zia. Zidan takut Zia malah diperlakukan tidak baik lagi seperti waktu itu.
##
Hai... hai.... 👋👋
Maaf ya kemarin aku ngga Up.. 🙏
Gimana sama bab ini? ♥
Kalau suka jangan lupa like yaa👍
Komen juga biar aku tambah semangat nulisnya,♥♥♥
Vote, kasih hadiah, atau follow juga kalau boleh... ♥♥
Sampai jumpa di bab selanjutnya.👋👋
__ADS_1
Bye bye👋👋👋