Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
96. Mbak-Mbak Genit


__ADS_3

"Kamu mau pulang sekarang? apa nanti?" tanya Zidan sembari membantu Zia membereskan bekas makannya dengan ayah Dimas.


"Nanti aja, mau temenin kamu kerja, aku juga udah bawa cemilan nih," ucap Zia sembari menunjukkan camilan yang ada di dalam paperbag bersama makanan tadi.


Zidan mengusak rambut Zia karena gemas, "Ya udah, nanti sofanya disatuin aja biar kalo cape bisa tiduran."


Zia menganggukan kepalanya. Daripada dia bosan di rumah sendirian, mending di sini menemani suaminya.


Zidan menggeser sofa yang satunya untuk disatukan dengan yang sedang diduduki Zia. "Udah nyaman kan?" tanyanya saat Zia sudah bisa meluruskan kakinya dan bersandar. Zia menganggukkan kepala, sudah sangat nyaman.


"Aku kerja lagi ya," ujar Zidan sembari kembali duduk di kursi kerjanya.


Zia duduk santai dengan memandangi sang suami yang serius bekerja. Zidan tampak sangat tampan dan berwibawa saat sedang serius seperti ini.


Beruntung sekali dirinya mempunyai suami yang sangat bertanggungjawab. Di saat teman seusianya tengah asyik bermain, Zidan harus merelakan waktunya untuk bekerja. Sudah sepantasnya Zia bersyukur walaupun alur hidupnya tidak sesuai keinginannya, tapi berkat Zidan dia bisa sampai di tahap ini. Tidak mudah bagi Zia menjalani kekacauan pasca kejadian hari itu.


Tok... Tok... Tok....


Lamunan Zia buyar saat ada yang mengetuk pintu ruangan Zidan.


"Masuk," ucap Zidan sembari terus fokus pada laptop di hadapannya.


Ceklek.


"Selamat siang Pak, Ini laporan keuangan yang harus segera disusun," ujar seorang perempuan dengan pakaian seksinya. Zia sampai melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Dia mau kerja apa mau ngapain sih, pendek banget roknya, bajunya juga kenapa yang atas kancingnya kebuka," gerutu Zia tentunya hanya dalam hati.


Zidan mengangguk lalu menerima berkas itu tanpa melihat ke arah rekan kerjanya itu. "Deadline tanggal berapa?"


"Dua hari dari sekarang Pak," jawab perempuan yang usianya lebih tua dari Zidan. Zidan mengangguk lalu meletakkan berkas itu di samping laptopnya.


Zia masih terus memperhatikan gerak perempuan itu yang sengaja dibuat-buat. Sepertinya dia belum menyadari keberadaannya.


"Masih ada keperluan?" tanya Zidan saat wanita itu tidak juga beranjak dari hadapannya.


"Emmm.... Pak Zidan belum makan siang kan? saya belum liat bapak keluar ruangan. Mau saya temani makan siang? Atau mau saya belikan?" tanya perempuan itu.

__ADS_1


"Bisa lihat ke arah sana?" ucap Zidan sembari menunjuk Zia yang nampak dengan bersantai dengan camilannya.


Bola mata perempuan itu membesar karena kaget dan juga heran. Siapa perempuan hamil itu? kenapa sangat santai di ruangan atasannya.


Zia yang diperhatikan pun memberikan senyum manisnya pada perempuan itu


"Siapa Pak?"


"Itu istri saya dan sebentar lagi kita bakalan punya anak. dan satu lagi, yang di meja itu kotak makan bekas saya, terima kasih tawarannya tapi saya sudah makan." Ucapan Zidan datar dan menusuk membuat perempuan itu menunduk malu. Ia kira Zidan masih lajang dan bekerja di sini hanya latihan sebagai penerus perusahaan, ternyata untuk menafkahi istri yang sudah hamil besar. Mana cantik dan imut sekali wajahnya, kan jadi insecure.


Pupus sudah harapannya mendapatkan berondong penerus perusahaan ini.


"Maaf Pak. Saya permisi," ucap perempuan itu lalu keluar dadi ruangan Zidan.


Selepas perempuan itu pergi, Zia malah tertawa. Lucu juga wajah perempuan itu.


"Kenapa ketawa, Hm?" tanya Zidan yang malah tertular tawa Zia.


"Kok kaya takut gitu sama aku Mbaknya ya? Lucuu," ucap Zia apa adanya.


Zidan tertawa melihat kepolosan Zia, "Itu karena dia kalah saing."


Zidan pun mengangguk, "Jangan marah loh ya. Dia tuh tiap hari godain aku, tiap mau masuk ruangan ini selalu buka kancing paling atas kemejanya sama pake parfum satu pabrik. Dia kira aku berondong kali ya?"


"Ih mbaknya gatel. Padahal yang digodain bukan berondong, malahan bentar lagi mau punya anak," saut Zia yang sama sekali tidak marah. Lagian ia melihat sendiri bagaimana cueknya Zidan pada perempuan yang bahkan namanya saja ia tidak tau.


"Kicep kan dia liat kamu," ujar Zidan yang diangguki Zia. Zia merekam jelas wajah kaget sekaligus malu perempuan tadi saat melihatnya.


"Kenapa ya? Apa karena aku hamil?" tanya Zia yang dijawab anggukan kepala dari Zidan.


"Iya, karena kamu lebih cantik dari dia juga," tambah Zidan. Zia hanya tersenyum malu mendengar pujian sang suami.


"Berarti tiap hari kamu digodain?" tanya Zia.


"Ya ngga tiap hari. Kan aku juga ngga tiap hari kerja," jawab Zidan yang menebak bahwa Zia tengah cemburu.


"Ada yang menarik di mata kamu?" tanya Zia lagi.

__ADS_1


Zidan menggelengkan kepalanya, "Kan kamu tau sendiri, aku kaya gimana."


Zia mengangguk lalu menguap. Zidan pun melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang, saatnya Zia tidur siang.


"Tidur aja," ucap Zidan yang diangguki Zia.


¤¤¤¤¤¤


"Gal, kapan sih kita bisa jeblosin Tuan Willy itu ke penjara?" tanya Keyna saat mereka sedang di depan rumah Keyna.


"Bentar lagi. Kata Pak Ervan, dia mau bikin pembalasan dulu karena Tuan Willy udah bikin Ayra dan keluarganya menderita," jawab Galen kemudian menyeruput teh yang disiapkan Keyna untuknya.


"Mantep tuh. Apa ya kira-kira yang dilakuin suami Ayra itu? Ngga sabar liat iblis itu menderita," ucap Keyna. Keyna masih tidak rela orang seperti Tuan Willy hidup tenang, apalagi kematian Kak Deva, sang mantan kekasih juga adalah perbuatan dia.


"Pasti seru. Kan Pak Ervan anaknya Tuan Willy, pasti kerasnya ngga beda jauh lah yaa. cuma bedanya Pak Ervan di sisi putih dan Tuan Willy di sisi hitam." Keyna mengangguk setuju dengan ucapan kekasihnya itu.


"Emang kapan rencananya? Aku harap sebelum Zia melahirkan ya?" pinta Keyna.


Galen tampak berpikir lalu mengangguk pelan, "Kalau lancar, sebelum Zia melahirkan udah kebongkar semua."


"Bagus deh. Zia tuh sering cerita, katanya pengin banget ada orangtuanya pas lahiran. Semoga aja setelah motif Tuan Willy terungkap, papa Zia bakalan maafin Zia," ucap Keyna yang diaminkan oleh Galen.


"Ngga nyangka ya kita udah hampir selesaiin kasus yang awalnya kacau banget ini," kata Keyna yang mengingat dari awal Zidan dijebak sampai sekarang itu merupakan proses yang panjang.


"Yaa karena kita kompak dan punya manusia manusia yang bisa diandelin, jadinya kita bisa lawan orang besar kaya Tuan Willy pake cara yang halus," timpal Galen.


"Sebentar lagi keadilan buat banyak orang itu bakal terwujud," ucap Keyna yang lagi lagi mendapat respon anggukan kepala dari Galen.


¤¤¤¤


hai hai hai..... 👋👋


Seperti biasa dini hari baru up♥♥....


Semoga kalian suka yaa♥♥


jangan lupa like komen vote kasih hadiah dan follow jika berkenan. 👍

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya 👋👋


Bye bye👋👋


__ADS_2