Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
125. Papa Nggak Tau


__ADS_3

Zidan pulang ke rumah pada sore hari menjelang maghrib. Setelah mandi ia mengecupi wajah putranya, karena jika tidak mandi dulu pasti akan dilarang oleh Zia.


"Gimana acaranya? Lancar kan?" tanya Zia pada Zidan.


Zidan mengangguk, "Alhamdulillah. Cuma inih," tunjuk Zidan oada telapak tangannya dan ruas jarinya yang lecet dan memerah.


"Kenapa?" tanya Zia.


"Kayanya baru beberapa bulan aku kerja enak di kantor. Tapi giliran balik jadi kuli malah kaya gini," jawab Zidan. Walaupun beda kulinya, kalau dulu kuli angkut, ini kuli bangunan.


Zia terkekeh, "Aku tidurin Zavian dulu nanti aku obatin."


"Kalo kamu sendiri, hari ini gimana?" tanya Zidan saat Zia meletakkan Zavian di tempat tidurnya.


"Nggak gimana-gimana. Sama kaya kemarin, sendirian di rumah," jawab Zia sembari berjalan untuk mengambil kotak P3K.


"Lusa aku udah selesai. Pulang sekolah aku bantuin sebentar baru ke kantor," ungkap Zidan yang diangguki Zia.


"Besok yang ke panti ya?" tanya Zia.


Keduanya mengobrol santai layaknya suami iatri pada umumnya, menceritakan hal yang tidak mereka lalui bersama.


¤¤¤¤¤


Setelah Zidan kemarin pulang sore, hari ini Zidan lembali pulang larut, bahkan dini hari mungkin. Apalagi mengurusi sebuah konser.


Zia hanya bisa menonton. Iya, menonton teman-temannya yang asyik di tengah konser yang menjadi salah satu acara amal Atlansa dan SMA Trisatya. Zia ingin ikut, tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah bukan lagi gadis lajang seperti mereka.


"Mama nggak nyesel kok ada kamu sayang," ucap Zia pada Zavian yang tertidur di sebelahnya. Zia tengah melihat video yang teman-temannya kirimkan tentang keseruan acara hari ini dan kemarin dari renovasi rumah, garage sale, kunjungan ke panti, sampai sekarang tengah mengadakan konser.


Zia bukannya menyesal, atau tidak bersyukur dengan kehadiran Zavian. Hanya saja, jiwa remaja di dalam tubuhnya seakan memberontak, ingin rasanya menyusul dan bernyanyi bersama mereka. Tidak. ia segera mengganti video yang ia lihat.

__ADS_1


"Papa kamu nih sayang," ucap Zia saat Sherena mengirimi video Zidan yang sedang menyanyi karena menjadi salah satu mengisi acara.


"Udah lah, mama mau tidur aja. Biar kalo kamu nanti bangun mama udah tidur," kata Zia lagi sembari meletakkan ponselnya di atas nakas. Malam ini ia membawa Zavian untuk tidur di sebelahnya karena Zidan akan pulang larut atau bahkan pagi lagi.


¤¤¤¤¤


Pagi ini mood Zia jelek, sangat jelek. Sesaat setelah mengantarkan Zidan sampai depan rumah, papa dan mama datang. Jika mama dan Zira, Zia suka, tapi tidak dengan papa.


"Zira liat nih sepupu kamu," tunjuk mama Salma yang tengah menggendong Zira.


"Jadi temen kelas kayanya nanti Ma, nggak beda jauh usianya," celetuk Zia. Zia hanya mengobrol dengan mamanya, tidak dengan papa. Bahkan Zia sama sekali tidak melihat ke arah papanya.


"Biar Zavian bisa lindungin Zira," balas mama Salma. Karena sama layaknya Zio yang menjaga Zia.


"Papa mau gendong cucu papa, boleh?" tanya papa Riyan tapi tidak ditanggapi Zia sama sekali. Mama Salma yang melihat Zia tetap asyik dengan Zavian menyenggol lengannya, tapi tetap saja zia diam dan menunduk.


"Mama mau tidurin Zira dulu, di mana ya?" tanya mama Salma pada Zia, kebetulan Zira tidur.


"Kamu masih marah sama papa?" tanya mama Salma saat sudah memasuki kamar Zavian. Zavian dan Zira juga sudah diletakkan di kasur.


Zia tetap diam. Ia hanya menunduk dan duduk di tepi kasur.


"Zia, jujur sama mama," kata mama Salma lagi.


Kini Zia mengangguk, "Iya, masih marah banget banget malah," jawabnya.


"Kenapa sampai banget-banget?" tanya mama Salma dengan lembut, karena Bagaimanapun dia memang selalu memperlakukan Zia lembut sedari kecil.


"Papa jahat. Zia nggak suka," cicit Zia yang masih menunduk, layaknya anak yang tengah dimarahi orangtunya.


"Mau cerita ke mama?" tanya mama Salma sembari menyematkan rambut yang menutupi wajah Zia ke belakang telinga.

__ADS_1


"Papa jahat. Masa pukulin Zidan tiap malem. Papa kan nggak tau kalo Zidan rela bangun dini hari jadi kuli angkut di pasar buat kasih makan Zia, papa nggak tau kalau Zidan rela nggak makan siang biar bisa kasih Zia makan yang bergizi waktu hamil, papa nggak tau gimana Zidan sama Zia setelah diusir dulu, papa nggak tau tapi papa kaya gitu. Zia nggak suka," cerita Zia yang tanpa sadar air matanya menetes. Mama Salam menarik tubuh sang putri ke dalam pelukannya.


"Papa nggak tau, Ma. Papa jahat," lirih Zia di pelukan mama Salma. Bahkan dia sampai sesegukan jika mengingat bagaimana dulu pengorbanan Zidan untuknya dan bagaimana Zidan yang setiap pulang membawa luka baru. Zia ikutan merasa sakit saat Zidan sakit.


"Berarti Zia nggak mau ketemu papa dulu?" tanya mama Salma sembari mengusap kepala Zia.


Zia menggelengkan kepalanya, "Dada Zia sakit kalo liat papa."


Miris. Itulah yang dipikirkan mama Salma sekarang. Di saat suaminya sudah menyesali perbuatannya, Zia malah membencinya. Mama Salma tidak menyalahkan Zia, lebih menyalahkan sikap suaminya yang tidak berpikir dulu sebelum bertindak. Jadi, suaminya itu harus merasakan akibat dengan dibenci putrinya sendiri.


"Papa suruh pulang?" tanya mama Salma lagi. Zia mengangguk membuat mama Salma keluar dari kamar untuk menyuruh suaminya itu untuk pulang terlebih dahulu.


Zia sebenarnya tidak ingin seperti ini, tapi memang dadanya terasa sesak saat melihat papanya sendiri. Zia tidak membenci papanya, mungkin. Zia hanya marah, batin Zia meyakinkan diri sendiri.


"Papa udah pulang, sekarang udah ya nangisnya," ucap mama Salma ketika kembali ke kamar Zavian.


Mama Salma menenangkan Zia, hatinya ikut sakit melihat Zia menangis karena papanya sendiri. Pasti butuh waktu untuk Zia kembali memaafkan papanya.


"asi-nya gimana? Lancar?" tanya mama Salma mencoba mengalihkan perhatian Zia.


Zia mengangguk, "Awalnya enggak terlalu, tapi sekarang udah lancar," jawab Zia yang suaranya masih serak.


"Kalo Zavian gimana nyus*nya? Kuat pasti kan cowok," ucap mama Salma yang mendapat respon antusias Zia.


"Iya Ma. Kuat, padahal kecil banget mulutnya. Tapi Zia suka, berarti Zavian bakalan terpenuhi asupannya," kata Zia yang mulai terhibur.


"Nah itu bagus!"


"Jadinya Zia laper terus," cerita Zia yang mendapat respon kekehan dari mama Salma.


"Kalo laper makan aja, jangan pikirin bakal gendut ya? Yang penting nutrisi buat Zavian terpenuhi dulu, kalo emang pada dasarnya badannya bagus juga bakal balik lagi. Liat nih mama, balik kecil lagi," ucap mama Salma yang diangguki Zia.

__ADS_1


"Kan Zia anak mama, pasti ngikut mama," jawab Zia lalu terkekeh. Lagian kata Zidan, dirinya lebih keliatan imut saat badannya berisi, tidak tau itu jujur atu hanya untuk menghiburnya saja.


__ADS_2