
Homeschooling masih libur, tidak ada kelas yoga, mama dan Zira juga sedang ada posyandu, dan Zidan berangkat ke kantor pagi hari. Sungguh, Zia bingung mau melakukan apa, jalan pagi juga sudah.
Kini Zia terduduk di depan rumah dengan pandangan yang menyusuri apa saja secara random. Kadang burung di pohon, bunga di halaman depan, orang yang lewat di jalan sana, juga awan yang berjalan pelan dan tak bisa ditebak bentuknya juga berwarna abu-abu.
Dah sekarang turunlah air langit yang membasahi bumi pagi ini, Zia tidak berniat beranjak dari duduknya. Memilih menikmati rintik hujan dan merasakannya dengan kaki yang ia julurkan.
Setelah beberapa menit, rasa bosan kini melandanya. Tidak ada yang bisa diajak mengobrol, juga tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan.
"Ih.. Zia ngapain ya? Bosen banget..." keluh Zia dengan kaki yang menendang-nendang kecil kerikil yang memang tertata rapi di halaman, membuat air menyiprat-ngiprat.
Tin...Tin....
Zia mendongak saat mendengar suara klakson dari jalanan depan.
"Mau ikut ke rumah Ayra ngga, Zi?" teriak Sherena dari dalam mobil yang kaca jendelanya terbuka.
"Mau...." balas Zia juga berteriak, akhirnya ada yang bisa mengusir bosannya. Zia beranjak dari duduknya lalu mengambil payung yang tersedia di belakang pintu. Dengan langkah perlahan, Zia menghampiri mobil Sherena yang hanya berjarak puluhan meter dari tempatnya duduk tadi. Licinnya air hujan di jalanan membuat Zia takut terjatuh.
"Ih Sherena ngga bilang-bilang mau ajak main, Zia masih kucel gini," keluh Zia saat baru saja masuk ke dalam mobil Sherena.
"Kucel apaan? Cantik gitu, bumil emang auranya ngga bisa dilawan," saut Sherena yang mulai menjalankan mobilnya pelan, tinggal melewati dua rumah saja sampai.
Sesampainya di rumah Ayra. Mobil Sherena langsung masuk ke garasi, tujuannya agar tidak terkena hujan saat turun dari mobil.
Pukul 10.25 bertepatan dengan keduanya duduk di ruang tengah rumah Ayra. Zia ingat jika semalam teman-temannya baru saja menuruti ngidam Ayra untuk mengerjai Tuan Willy dan istri mudanya, Serly.
Zia tertawa juga sedikit takut saat melihat rekaman mereka semalam yang menyamar sebagai hantu untuk menakut-nakuti Tuan Willy dan Serly.
"Ngakak asli...hahaha.." tawa Ayra yang menular ke Sherena dan Zia. Apalagi saat adegan Serly yang sampai terkencing di celana terekam jelas oleh Sherena semalam.
"Ngompol pelakornya?" tanya Zia yang sudah tidak bisa tertawa berlebihan. Hanya tertawa ringan saja karena perutnya akan kram jika terlalu berlebihan.
"Sumpah waktu ini nih gue hampir aja ketawa.... Kalo aja ngga ketutupan rambut, udah ketauan kalo gue nahan tawa," timpal Sherena lalu tertawa puas.
"Komuknya Willy, Ya Allah. Keliatan banget di sini kalo dia egois. Masa ninggalin istrinya yang lagi dicekal hantu," komentar Ayra.
__ADS_1
"Gonjang-ganjing rumah tangganya nanti," seru Sherena.
Mereka terus menonoton hingga akhirnya film buatan mereka sendiri selesai. Dengan ending keduanya pingsan di lantai yang berbeda.
"Zia mau numpang ke kamar mandi boleh? pengin pipis," kata Zia yang memang sudah sering sekali merasakan ingin buang air kecil.
"Boleh dong. Yuk gue anterin," kata Ayra lalu berdiri, juga membantu Zia yang sudah cukup sulit untuk berdiri.
Zia masuk ke dalam kamar mandi di dekat dapur bertepatan dengan Tante Sindi yang baru saja memasuki dapur.
"Ngapain berdiri di depan toilet, Ra?" tanya tante Sindi pada sang menantu.
"Nungguin Zia, Ma. Takut kepleset jadi aku tungguin," jawab Ayra.
Tante Sindi mengangguk lalu mulai memasak.
Ceklek.
"Eh... Ada tante, numpang ke toilet, Tan," ucap Zia sopan. Tante Sindi mengangguk sembari tersenyum, "Enggak papa kok."
"Izin pegang ya?" kata tante Sindi yang dibalas anggukan kepala serta senyum manis dari Zia.
Tante Sindi pun mengusap perut buncit Zia, membayangkan beberapa bulan lagi menantunya akan dalam keadaan yang sama.
"Sehat-sehat sampai lahiran nanti yaa... Semoga nanti lancar dan dimudahkan persalinannya," kata tante Sindi.
Zia mengangguk ,"Aaminn, makasih doanya, Tan."
Tante Sindi mengangguk lalu melanjutkan masaknya dan mempersilahkan Zia untuk kembali ke ruang tengah bersama Ayra.
¤¤¤¤¤
Beberapa hari setelah penangkapan Tuan Willy, Zidan dan Zia hadir dalam setiap sidang yang dihadapkan untuk Tuan Willy.
Satu demi satu sidang terlaksana dengan lancar, setiap pembelaan yang diberikan Tuan Willy tidak diterima oleh hakim. Alasannya, karena bukti dan saksi terlalu kuat.
__ADS_1
Sidang terakhir adalah bagian pemberian putusan. Helaan napas lega dilakukan banyak orang saat termasuk Zidan dan Zia saat Tuan Willy dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan semua hartanya disita.
Kini satu masalah besar sudah selesai, walaupun banyak yang merasa hukuman itu tidak sesuai dengan perbuatan Tuan Willy, tapi setidaknya tidak akan ada korban selanjutnya.
Zidan keluar dari gedung persidangan dengan perasaan lega, tangannya memeluk pinggang Zia. Seakan jika tidak dipegangi, Zia-nya akan pergi.
"Alhamdulillah... akhirnya selesai juga ya?" ucap Zia saat mereka baru saja memasuki mobil.
Zidan mengangguk lalu menatap dalam pada sang istri, "Walaupun ngga ada yang bisa diubah sari semua yang udah kejadian sama kita, nggak apa-apa kan?"
Zia membalas tatapan Zidan lalu tersenyum. "Nggak apa-apa. Aku udah ikhlas jalanin semua ini kok."
Zidan mencondongkan badannya lalu memeluk tubuh sang istri.
"Aku masih sering merasa bersalah sama kamu," ucap Zidan setelah melepas pelukannya, karena posisinya di dalam mobil membuat pelukannya seadannya dan kurang nyaman.
"Nggak boleh ngerasa bersalah lagi ya? Itu sama aja kamu ngga bersyukur sama kehadiran dia," balas Zia sembari mengusap perut buncitnya.
"Aku bersyukur, sangat malah. Cuma kadang ngeliat kamu kesusahan karena hamil gini yang buat hati aku rasanya sesek lagi," ucap Zidan sungguh-sungguh.
Zia mengusap lengan Zidan, lalu berucap, "Aku nggapapa. Aku seneng jalanin kehamilan aku ini. Aku bahagia dan capek itu nggak berasa."
Zia dan Zidan saling tatap cukup lama lalu Zidan mengecup bibir Zia sekilas, hanya mengecupnya saja. Jika lebih, bahaya nantinya. Yang ada bakalan ada periatiwa mobil bergoyang.
Zidan akan mulai membujuk sang papa mertua. Jika semua ini sudah terungkap, semuanya akan menjadi mudah, itu pikirnya. Tapi kan tidak tahu kenyataannya akan bagaimana. Zidan juga heran, sebenci itu papa mertunya pada putrinya sendiri. Apakah....
Zidan menggelengkan kepalanya cepat, tidak ingin berasumsi buruk pada mertuanya sendiri. Mungkin memang belum memaafkan saja dan tidak ada hal lainnya.
"Kenapa geleng-geleng gitu?" heran Zia.
"Eh enggak. Ini lehernya pegel," elak Zidan. Sedang ia coba tepis jauh-jauh pemikiran buruk itu.
¤¤¤¤
...3 hari ngga up, apakah masih ada yang nungguin?...
__ADS_1