
Zidan menetapi janjinya, Ia membawa Zia ke rumah lamanya. Meninggalkan Zia di sana karena dia harus ke basecamp, ada rapat untuk membahas acara amal Atlansa.
"Kalo ada apa-apa langsung telpon ya?" kata Zidan saat baru saja sampai di rumah sang mertua.
Zia mengangguk lalu mengecup punggung tangan Zidan, begitupun Zidan yang mengecup kening dan perut buncit Zia.
"Hati-hati," pesan Zia sebelum keluar dari mobil. Zidan baru akan melajukan mobilnya, tapi tiba-tiba pintu mobil yang barusan ditutup Zia kembali terbuka.
"Ngapain?" heran Zidan saat Zio hanya duduk tanpa mengucapkan apapun, pandangannya saja terus ke ponsel.
"Nebeng. Males bawa motor," jawab Zio yang masih saja fokus pada game di ponselnya.
Zidan menghela napas lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Zio.
Zia juga sudah masuk ke dalam rumah, rumahnya? Entahlah. Dia kan sudah diusir dulu.
"Mamaaa...." teriak Zia saat melihat mamanya tengah berjalan dengan menggendong baby Zira.
"Sayang... akhirnya anak mama main juga," balas mama Salma kemudian mencium pipi Zia, karena tangannya tidak bisa untuk memeluk.
"Mama mau kemana?" tanya Zia karena mamanya tadi seperti akan keluar dari rumah.
"Nggak kemana-mana. Cuma mau jemur baby Zira, biasanya Zio yang suka jemur tapi katanya ada urusan," ucap mama Salma sembari melangkahkan kakinya keluar rumah diikuti Zia.
Zia mengangguk, "Iya Ma, sama Zidan tadi perginya."
Kini Mama Salma yang mengangguk, lalu duduk di kursi yang memang disediakan khusus untuk berjemur baby Zira.
"Zia aja sini, Ma," pinta Zia yang ingin memangku adiknya.
Mama Salma pun memberikan baby Zira pada Zia, setelah posisinya benar, mama Salma mempersilahkan Zia untuk duduk.
"Mama jangan pergi, kalo baby Zira nangis nanti Zia bingung," kata Zia saat mama Salma akan beranjak dari sampingnya.
"Enggak, sayang. Mama cuma mau nyalain keran, mau nyiramin bunga," jawab mama Salma.
Zia nyengir lalu memperhatikan wajah baby Zira saat mamanya tengah menyalakan keran.
"Imut banget sih kamu?" gemas Zia sembari menyatukan hidungnya dengan hidung baby Zira. Sinar matahari pagi ini cukup bagus, tidak terlalu panas. Juga angin sepoy-sepoy yang menerbangkan rambut Zia membuatnya tampak cantik jika saja momen ini diabadikan dengan kamera.
Mama Salma yang tengah menyiram tanaman pun tersenyum melihat kelakuan putrinya, memang cocoknya Zia mempunyai adik, belum untuk seorang anak. Wajahnya saja masih imut sekali seperti itu.
__ADS_1
"Mama.... ini gimana? baby-nya gerak-gerak, takut jatuh," panik Zia saat baby Zira mengulet. Kedua tangan mungil baby Zra terangkat dengan wajah yang mengkerut lucu.
"Nggapapa Zia. Pegang aja kaya gitu, nggak bakalan jatuh kok," ucap mama Salma yang malahan gemas melihat wajah panik Zia.
Zia pun menurut, ingin mengeratkan pegangannya tapi takut melukai kulit lembut baby Zira. Dan benar saja, gerakan itu hanya sebentar lalu baby Zira kembali tertidur.
"Udah yuk masuk. Udah gerah itu Zira, waktunya mandi," ucap mama Salma setelah mematikan keran.
Zia mengangguk lalu memberikan baby Zira pasa mamanya. Zia mengikuti mama Salma yang akan memandikan baby Zira.
"Zia mau coba mandiin?" tanya mama Salma tapi Zia menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Zia takut, liat aja dulu. Besok Zia coba," kata Zia yang memang belum berani.
Mama Salma terkekeh lalu mulai memandikan baby Zira. "Gini nih, setiap lipatan harus dibersihin."
Zia yang sedari tadi memperhatikan pun mengangguk, paham saat dijelaskan. Tidak tahu nanti saat praktik sendiri.
"Kalo udah bagian depannya, ditengkurepin pelan-pelan, sabunin bagian belakangnya," jelas mama Salma dan Zia begitu antusias memperhatikan. Sedikit meringis saat ia sepertinya akan susah saat membalikkan badan bayi.
Selesai memandikan. Kini saatnya memakaikan pakaian untuk baby Zira.
Zia bersorak senang saat ia bisa melakukannya, layaknya anak kecil yang selesai menaklukan satu level permainan.
"Kalo abis mandi ngapain lagi, Ma?" tanya Zia saat baby Zira yang berbaring di kasur seperti akan menangis
"Kalo udah, berarti waktunya *****," jawab mama Salma sembari mengambil baby Zira. Mama Salma duduk di tepi kasur lalu mengeluarkan salah satu payud*ranya dari balik baju dan bra menyusui.
Baby Zira tampak mencari puti*g sumber makanannya, saat sudah menemukan baby Zira langsung meminum ASI dengan lahap.
"Laper ya Zira ya? lahap banget nyusunya," tanya Zia sembari mengusap pipi baby Zira.
"Ini ngga terlalu. Ini sama kaya kamu, kalo cowok lebih lahap lagi, kaya Zio dulu," cerita mama Salma.
"Oh beda ya Ma kalo cowok sama cewek?" tanya Zia penasaran.
Mama Salma mengangguk, "Beda sayang. Kalo cowok cenderung lebih kuat nyusunya, kalo cewek ngga terlalu. lebih kalem lah. Tapi tetep, harus banyak makan sup, kalo bisa ada daun katuknya biar ASI-nya lancar."
Zia mengangguk paham. Ternyata menjadi orangtua tidak mudah, memahami ilmu parenting juga perlu untuk menjadi orangtua terbaik untuk anaknya.
Setelah itu Zia tidak berhenti belajar, ia belajar mengganti popok, membersihkan pup, menidurkan, dan yang lainnya. Tentunya tidak semuanya dilakukan dalam satu waktu, Zia juga tidak seleluasa itu untuk bergerak.
__ADS_1
"Bau acem Ih, Zira bau acem," ucap Zia saat membersihkan pup baby Zira. Sebenarnya lumayan jijik, tapi Zia harus belajar karena sebentar lagi akan melakukan hal yang sama untuk anaknya.
Setelah selesai dengan urusan pup, ternyata baby Zira tertidur. Mama Salma pun meletakkan baby Zira di tengah-tengah kasur.
"Kamu ikut tidur sini di samping Zira. Mama mau masak," ucap mama Salma sembari menepuk ruang kosong di samping baby Zira.
"Zia mau bantuin masak boleh?" tanya Zia tapi mama Salma menggelengkan kepalanya.
"Kamu udah daritadi ikut ngurusin Zira, nanti kamu kecapean. Kamu tiduran aja ya, temenin adiknya, mama aja yang masak," tutur mama Sindi yang membuat Zia menganggukkan kepalanya.
Zia pun berbaring di samping baby Zira. Memiringkan tubuhnya perlahan karena pinggangnya terasa pegal.
"Selamat tidur Zira," ucap Zia memperhatikan wajah imut baby Zira. Zia belum mengantuk. Memasuki trimester akhir, Zia sedikit susah tidur, segala posisi tidur kadang terus saja membuat pinggangnya pegal. Namun kali ini tidak, posisi ini cukup nyaman hingga membuat Zia lama kelamaan mengantuk hanya dengan memandangi baby Zira, membuatnya tertidur juga.
Di luar rumah, Zidan dan Zio baru saja pulang. Kakak dan adik ipar itu memasuki rumah dan hanya melihat mama Salma yang tengah memasak di dapur.
"Zira sama Zia kemana, Ma?" tanya Zio mewakili Zidan juga.
Mama Salma sedikit terkejut lalu membalikkan badannya, "Zio ngagetin aja. Adik-adik kamu itu tidur di kamar mama."
Zio mengangguk tapi tidak menghampiri adik-adiknya, ia langsung ke kamarnya.
"Zidan ke Zia sama Zira dulu ya Ma?" pamit Zidan yang dipersilahkan dengan ramah oleh sang mertua.
Zidan pun membuka kamar yang ditempati Zia dan baby Zira.
Ceklek.
Zidan tersenyum manis melihat posisi tidur Zia dan baby Zira. Tampak seperti seorang ibu yang menidurkan anaknya, mungkin inilah gambaran yang akan sering Zidan temui saat anaknya sudha lahir nanti.
¤¤¤¤¤¤
...Haii...👋👋...
...Aku update nih♥♥......
...Terus dukung aku ya biar semangat terus untuk lanjutin kisah Zidan dan Zia ini♥♥.......
...Like, komen, vote, kasih hadiah, follow jangan lupa♥♥......
...Bye Bye👋👋...
__ADS_1