Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
37. Langit


__ADS_3

Tangan mungil Zia tidak berhenti menggulir layar ponselnya. Remaja yang tengah hamil itu fokus membaca artikel-artikel tentang kehamilan. Semakin ia mengulik lebih dalam ia semakin takut, apalagi setelah paham jika kehamilan di usia yang belum cukup seperti dirinya itu banyak sekali risikonya. Beberapa di antaranya sudah ia rasakan, tubuhnya memang belum siap, begitupun mentalnya.


"Bumil serius amat bacanya."


Mendengar suara itu Zia mendongak. Posisinya sekarang sedang duduk di kursi taman sekolah, dan yang menghampiri adalah Langit.


"Langit Jangan panggil bumil di sekolah." Zia tersenyum lalu menggeser duduknya mempersilahkan Langit untuk duduk di sebelah dia. Matanya memperhatikan sekitar yang untungnya sepi, ia tajut ada yang mendengar ucapan Langit barusan.


"Langit kenapa kesini? Ngga sama yang lain?" tanya Zia saat Langit sudah duduk.


"Nyari udara seger aja, eh malah dapet bonus ketemu bidadari di sini," canda Langit dengan kekehan di akhir kalimatnya.


"Mana bidadarinya?" tanya Zia dengan polosnya. Bahkan, pandangannya mencari-cari bidadari yang Langit maksud.


Langit kembali terkekeh, "Nih di sebelah gue."


Zia menunjuk dirinya sendiri. Anggukan langit membuat keduanya tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.


Langit masih mengagumi perempuan di sebelahnya, ada sedikit rasa tidak rela saat mengetahui Zia sudah dinikahi oleh sahabatnya sendiri. Padahal dulu ia yang ingin mendekati Zia, tapi dilarang oleh Zio.


Rasa bersalah juga masih menyelimuti dirinya, tanpa sengaja ia yang menyebabkan hidup Zia seperti sekarang ini. Andai saja waktu itu ia tidak meninggalkan Zidan yang tengah mabuk sendirian di rumah Zio.


Atau andaikan Langit yang ada di posisi Zidan. Namun, semuanya kembali pada takdir mereka, jika memang ini jalannya Langit akan mencoba menerima perempuan hamil di sebelahnya ini adalah istri dari sahabatnya sendiri.


"Kok Langit ngelamun? Lagi ada masalah?" tanya Zia yang membuyarkan lamunan Langit. Langit menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Lo gimana sama Zidan?" tanya Langit pada akhirnya. Langit ingin menanyakan ini, ia takut Zia tersiksa.


"Baik. Ngga ada gimana gimana," jawab Zia enteng.


"Lo ada perasaan sama Zidan?" tanya Langit lagi.


"Perasaan?" bingung Zia.


"Iya perasaan. Lo sayang Zidan? Apa lo udah cinta sama Zidan?" Mata Langit menatap langit biru cerah di atas sana.

__ADS_1


"Engga tau." Zia menggelengkan kepalanya, ia bahkan tidak tau rasanya cinta seperti apa.


Langit tersenyum kemudian refleks mengusap puncak kepala Zia. Jika ada Zio, pasti Langit sudah kena bogem. Sedangkab Zia terdiam di tempat dengan cemberut membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Maaf," ujar Langit melihat ekspresi kesal Zia yang s i a l nya terlihat semakin menggemadkan di matanya.


'Tahan, tahan Ngit. Dia istri orang,' batin Langit


°°°°°


"Gue udah tau siapa Dea," ucap Zio tiba-tiba. Semua sahabatnya yang sedang berkumpul di basecamp menoleh ke arahnya dengan raut wajah bertanya.


"Siapa?"


"Regina Dea Saputri, salah satu kepercayaan nyokapnya Bang Deva, dan sekarang dia jadi tangan kanannya Ayra," ungkap Zio memperlihatkan foto wajah asli Dea.


"Cantik juga aslinya ," komentar Dyu.


"Berarti dia jagain Zia atas perintah Ayra dong," kata Langit setelah otaknya bisa mencerna fakta barusan.


"Yes. Dan lebih parahnya lagi Ayra sekarang dalam masalah," ucap Galen. Semua padang mata mengarah padanya dengan raut wajah yang bingung.


"Why?" itu pertanyaan dari Zidan.


"Ada orang yang ngendaliin Ayra. Orang itu juga yang gue prediksi dalang dari kasusnya Zidan sama Zia. Tapi gue belum nemuin kelanjutannya," lanjut Galen.


Semuanya mengangguk. "Jadi lo udah tau tapi diem aja?" tanya Zidan yang diangguki Galen.


"Gue niatnya mau bilang waktu udah ketemu pelakunya, tapi kayanya gue butuh bantuan kalian buat ungkap pelakunya," jawab Galen kemudian menyesap rokoknya.


"Siap! Kita bantu sampe bener-bener ketemu pelakunya. Gue udah greget banget, siapa sih yang bikin ulah sampe ngancurin temen kita," ucap Dyu dengan menggebu-gebu.


"Thanks." Zidan terharu dengan teman-temannya, sangat bersyukur mereka selalu ada untuknya. Jika bukan mereka yang jadi sahabat Zidan, Zidan yakin dirinya bisa saja sudah gila dan menyerah.


°°°°°

__ADS_1


Sepulang dari basecamp, Zidan mendapati Zia sudah tertidur lelap. Istri kecilnya itu terlihat lelah, Zidan yakin itu karena Zia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian tanpa bantuannya.


Melihat rumah yang sudah bersih, Zidan memilih ke dapur. Satu yang pasti belum Zia lakukan, memasak. Zia memang belum bisa memasak, Zidan mulai mengajari Zia memasak, dan sejauh ini hanya air dan telur ceplok yang berhasil Zia buat sendiri. Itupun terkadang gosong dan rasanya tidak konsisten.


Zidan mulai mengiris bahan-bahan memasaknya. Ia akan membuat capcay, ia ingin gizi istri dan anaknya terpenuhi. Setelah selesai memasak Zidan melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata sudah jam lima sore. Zidan pergi mandi kemudian harus membangunkan Zia untuk makan dan bersiap pergi bekerja.


"Zia.. Bangun Zi!" Zidan dengan lembut menepuk pipi tembem Zia. Zia yang merasa tidurnya terganggu mengerang kesal. Namun, Zia tetap bangun. Ia duduk perlahan dan mengucek matanya seperti anak kecil yang baru bangun tidur, Zidan dibuat terkekeh melihatnya.


"Zidan udah pulang?" Zidan mengangguk sembari tersenyum tipis. Lelaki itu memberi air hangat untuk Zia minum.


"Mandi sana, nanti makan. Gue tadi bikin capcay," ujar Zidan sembari mendudukkan dirinya di kasur.


Zia mengangguk dan mulai beranjak untuk mandi. Zia tersenyum senang saat sudah ada air panas, Zidan tau saja jika ia merasa dingin.


°°°°°


"Key, menurut lo Zia cinta ngga sama Zidan?" tanya Sherena. Mereka tengah nongkrong di kafe tempat Zia dan Zidan bekerja. Mereka juga menyaksikan pasutri itu menyanyi di panggung sana.


"Belum si menurut gue. Zia tuh belum paham cinta-cintaan," jawab Keyna sembari mengaduk jus mangga pesanannya.


"Ayra gimana yah? Udah dua bulan kita ngga pernah bareng-bareng lagi. Dulu kita kalo main kaya gini pasti berempat, sekarang tinggal kita doang." kata Sherena sedih, ia rindu kebersamaan sata mereka berempat.


"Ayra masih butuh waktu kali. Kan ini juga ngga gampang buat dia, kehilangan laki-laki yang tiga tahun udah bareng terus tuh susah banget menurut gue. Lo tau kan gimana dulu Ayra sama Zidan bucinnya minta ampun." Sherena mengangguk menyetujui perkataan Keyna. Kini Sherena memperhatikan Zia yang ternyata melihat mereka. Zia tersenyum dan Sherena melambaikan tangannya diikuti Keyna. Tidak menyangka sahabat terlugu dan terpolosnya kini sedang mencari uang dalam keadaan hamil.


........


Hallo👋


Gimana sama bab ini?


Suka? likenya dong👍


Penasaran sama kelanjutannya?


Komen biar aku cepet up lagi

__ADS_1


See you👋


__ADS_2