
"Lama banget sih lo? bilang otw dari sejam yang lalu padahal," kesal Dyu saat Zidan baru saja datang.
"Ya sorry. Gue baru pulang kerja," jawab Zidan bohong. Jelas jelas habis mesra mesraan sama Zia.
"Udah lah. Udah nyampe juga. Nih lo baca coba, ada yang lo kenal atau tau alamatnya ngga?" ucap Galen sembari memberikan copyan data tersebut.
Zidan membaca satu per satu nama yang tertera di sana, untuk nama tidak ada yang ia kenal. Hanya alamat saja yang ia tau daerahnya.
"Ngga ada. Alamat doang, juga cuma daerahnya aja," kata Zidan.
"Galen tau beberapa, jadi kita bisa mulai dari yang Galen tau orangnya biar gampang," usul Zio yang diangguki mereka.
"Oke. Menurut gue kita ke sini dulu. Yang nomor tujuh, dulu gue kenal karena lumayan deket sama bokap, moga aja dia tau gue," kata Galen membuat mereka melihat kertas itu.
"Mau samperin sekarang?" tanya Zidan yang dijawab gelengan dari Galen.
"Sekarang kita atur dulu rutenya, kita bagiin yang mana yang mungkin kejamah tempatnya sama yang ngga mungkin bisa kita temui," kata Galen dan mereka memulai memilah data tersebut dengan teliti.
••••••
Hari minggu pagi.
"Kamu semalam pulang jam berapa?" tanya Zia saat mereka sedang mengumpulkan nyawa setelah bangun tidur. Suaranya saja masih serak serak gimana gitu.
"Jam setengah satu." Zidan menjawab sembari membenarkan rambut Zia yang berantakan.
Zia mengangguk lalu beranjak menuruni ranjang mereka. "Zia ada latihan yoga sama bunda, kata bunda Zidan harus ikut. bisa ngga?" tanyanya sembari berjalan ke arah kamar mandi.
"Bisa dong," jawab Zidan dengan semangat. Ini merupakan salah satu keinginan Zidan, dulu saat melihat Zia yang yoga dengan tuntunan video youtube, rasanya ia ingin sekali mendaftarkan Zia ke dalam kelas yoga ibu hamil yang benar-benar dibimbing langsung di depan mata.
Sesuai yang Zia ucapkan. Kini mereka berada di kelas yoga milik Bunda Dian.
"Oke semuanya, kita kedatangan anggota baru.... menantu dari pemilik kelas yoga ini. Zia, silahkan," kata instruktur yoga yang sedang berdiri di samping Zia.
__ADS_1
"Halo, saya Zia," kata Zia sembari tersenyum ramah. Mereka semua menyambut dengan ramah bergabungnya Zia di antara mereka.
Zidan dan Bunda yang melihat itu dari luar kaca pun tersenyum. Kini Zia sudah berada di antara mereka yang memiliki keinginan yang sama, yaitu melahirkan dengan selamat dan bayinya sehat. Walaupun wajah Zia tampak terlalu muda di sana, jelas sekali kalau ibu hamil itu masih belasan tahun.
Yoga itu dimulai, bunda masuk ke ruangannya untuk membicarakan perkembangan kelas ini bersama bagian pengelola, sementara Zidan sedang duduk bersama suami suami dari ibu hamil di dalam sana.
"Masih muda banget mas? umur berapa?" tanya pria di sebelah Zidan yang sepertinya sudah berumur tiga puluhan tahun itu.
"Oh iya Pak. Saya masih tujuh belas," jawab Zidan.
"Muda banget, dijodohin ya?" tanya bapak itu lagi, belum sempat Zidan menjawab sudha ada yang membuka pintu dari dalam membuat semua pria di sana menoleh.
"Mari para suami bisa masuk, waktunya prenatal yoga couple," ucap seorang wanita yang sepertinya intruktur yoganya.
Zidan dan para pria di sana masuk dan melihat istri mereka yang sudah duduk bersila di atas matras yoga masing masing. Mereka pun dipersilahkan untuk duduk di belakang istri mereka masing-masing. Ya iyalah, masa di belakang istri orang 😂
Zidan duduk di belakang Zia sesuai arahan istruktur yoga.
"Silahkan untuk bersandar di tubuh suami, atur napasnya. Okey. Sembari menunggu para calon mommy ini istirahat, saya di sini akan menyampaikan tentang seberapa sih pentingnya peran calon ayah di masa kehamilan dan persalinan nanti," ucap wanita di depan sana.
"Okey cukup ya bunda istirahatnya, kini waktunya bermanja dengan suami," kata istruktur yoga yang mengundang kekehan dari beberapa pasangan di sana.
"Sekarang, silahkan duduk saling berhadapan dengan pasangan masing-masing, tempelkan lututnya. Tegakkan duduknya."
"Letakkan tangan kanan di dada pasangan, berkoneksilah dengan pasangan masing-masing , lalu izinkanlah tangan kiri di perut calon mommy semua, supaya janin merasakan cinta dan kasih sayang dari ayah dan ibunya."
"Pejamkan mata dengan lembut dan atur nafas dengan lebih tenang, katakan dalam hati kepada adik bayi 'Dek, mama papa latihan yoga hari ini bantu kelahiran nyaman, lancar ya Nak."
Zidan melakukan semua yang diintruksikan dengan gerakan yang masih kaku. Dan di kalimat terakhir sang istruktur malah membuatnya terharu.
"Okee.. Buka matanya dan kembali relaks. Kita masuk ke pemanasan.. Silahkan untuk duduk dengan ounggung saling bersandar..... "
Zidan tersenyum tipis di saat Zia melakukan semuanya dengan antusias dan serius. Dirinya malah yang sering salah dan gerakannya yang kaku. Zidan yang biasanya berkelahi disuruh yoga, ya jelas kaku lah.
__ADS_1
Setelah satu jam prenatal yoga couple itu selesai juga. Zidan keluar dari ruang yoga dengan memegangi pinggang Zia, di depan ruangan sudah ada bunda yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya.
"Gimana? Ada bedanya setelah pertama kali yoga?" tanya bunda saat mereka tengah dalam perjalanan pulang.
"Lebih rileks Bun, sama ngga terlalu takut lahiran kaya sebelumnya," jawab Zia yang duduk di belakang bersama Bunda, sementara Zidan berperan sebagai supir mereka di depan.
"Alhamdulillah, rajin rajin ya yoganya biar nanti lebih nyaman waktu lahiran," saran bunda yang diangguki oleh Zia dengan antusias.
"Kamu gimana Dan? Bisa gerakannya?" tanya bunda pada putranya.
"Lumayan," jawab Zidan membuat Zia tiba tiba tertawa.
"Kenapa?" tanya Bunda saat sepertinya ada cerita menarik di ruang yoga tadi.
"Jadi tadi kan suaminya disuruh rasain dede bayinya dengan teken teken perut istrinya gitu, tapi Zidan ngga mau," cerita Zia lalu kembali tertawa.
"Oh ya? Kenapa?" tanya Bunda yang merasa bahagia melihat tawa menantunya, jarang sekali ia melihat tawa lepas Zia.
"Kata Zidan takut... takut bayinya keluar," ucap Zia membuat tawa bunda pecah.
"Ya kan takut Bun, kalo beneran keluar gimana? " bela Zidan.
"Kalo kamu nekennya pelan pake perasaan yaa ngga bakalan keluar lah. Emang dikira bayi segampang itu keluarinnya. Kecuali kamu nekennya kaya kamu lagi nonjok lawan kalo lagi berantem," ucap bunda setelah meredakan tawanya.
"Itu mah beda Bun, takut sakit juga Zia-nya" jawab Zidan yang nyengir malu.
"Engga. Sakit dikit doang kan Zi? kaya baby nendang ya?" tanya bunda yang diangguki Zia. Memang tadi sedikit saja sakitnya, selebihnya bahagia.
*****
Hai hai haiii
Maaf ya lumayan telat updatenya....
__ADS_1
Boleh kasih kopi dong... aku buat bab ini lembur loh...
Byr Bye