Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
42. Ulah Janu


__ADS_3

"Zia minta ke lo?" tanya Zidan pada Zio. Mereka tengah duduk di ruang makan kontrakan Zidan, sedangkan Zia sudah tidur ditemani Sherena.


"Engga. Sherena yang bilang ke gue, Sherena denger obrolan lo sama Zia tadi." Zio duduk dengan santainya, tidak begitu terpengaruh dengan tatapan tajam Zidan.


"Ngapa? Ngga boleh gue beliin makanan buat adek gue sendiri?" tanya Zio lagi saat Zidan tidak berhenti menatapnya dengan tatapan yang sama.


"Dia istri gue," ucap Zidan, Zio terkekeh menanggapinya.


"Iya iya, lo lebih berhak atas Zia." Zio memperbaiki posisi duduknya, "Dan, jangan marahin Zia ya?"


Zidan hanya diam, "Kalo mau marah ke gue aja, gue yang beliin pizza itu buat Zia. Zia ngga minta sama sekali."


Zidan kali ini menggelengkan kepala, lalu beranjak mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. "Ngga berguna banget gue jadi suami."


Mendengar kalimat tersebut, membuat Zio memperhatikan raut wajah Zidan dan bingung harus merespon seperti apa. Zio tidak tau rasanya jadi Zidan, maka dari itu Zio tidak berpikiran bahwa perbuatan sepele yang ia lakukan membuat hati Zidan tersentil. Membuat Zidan merasa tidak berguna seperti sekarang.


"Cuma pizza doang Dan, nggapapa kali." Zio meringis, meragukan kalimatnya sendiri.


"Iya, cuma pizza doang gue ngga bisa beliin, apalagi yang lebih dari pizza?" Zidan masih dalam posisi berdirinya dengan memegang gelas berisi air yang sama sekali belum ia minum.


Kan! salah ngomong. Zio merutuki dirinya sendiri.


"Dan, sorry. Bukan itu maksud gue, lo-" s i a l, Zio bingung mau berkata apa lagi.


"Maafin gue udah bawa adik kesayangan lo hidup susah kaya gini," ucap Zidan menoleh pada Zio.


"Dan. Asalkan lo ngga kasarin, apalagi main fisik sama Zia, gue it's okay. Gue udah liat usaha lo dua bulan ini buat nafkahin Zia, ngurusin Zia yang masih kaya anak kecil, dan ngerubah Zia jadi wanita yang lebih dewasa dan mandiri. Gue percaya lo bisa bahagiain adek gue, jangan sia-siain kepercayaan gue." Zidan mengangguk, sedikit tenang saat Zio tidak menghakiminya, setidaknya Zio tau usahanya.


"Udah ah! Ngapain jadi melooww gini sih, gue mau pulang." Zio bangkit dari duduknya diikuti Zidan menuju kamarnya.


Saat pintu kamar Zio buka, terlihatlah Zia yang tertidur pulas seperti anak kecil dan Sherena yang tengah menata skincare di meja belajar Zia. "Ngapain?" tanya Zio pelan, takut mengganggu tidur Zia.


"Ini, buat Zia, bolehkan Dan?" ucap Sherena sedikit berbisik, Zio terdiam lalu menoleh pada Zidan. Ingin tau apakah Zidan akan menolaknya atau tidak.


Zidan yang tau maksud Sherena hanya mengangguk, membuat Sherena bersorak lirih. Zidan malah mengamati skincare-skincare yang berjejer di meja di hadapannya, ia tidak tau menau apa itu, yang pasti perempuan sangat menyukainya. Ayra saja dulu koleksi benda-benda tersebut sangat banyak. Ah! kenapa ia jadi memikirkan Ayra.


°°°°°°

__ADS_1


"Haii."


Zia mendongak saat ada yang menyapanya. Zia tersenyum canggung saat tau siapa orang tersebut. Zia sekarang tengah duduk di bangku taman sekolah.


"Boleh gue duduk?" tanya Janu yang hanya diangguki oleh Zia.


Zia mengedarkan pandangannya ke segara arah, entah kenapa ia merasa tidak nyaman. Apalagi sekarang Janu menatapnya terus menerus.


"Ngapain di sini sendirian?" tanya Janu, Zia mengangkat kotak bekalnya sebagai isyarat bahwa ia akan makan.


"Kayanya setiap ketemu gue, lo makan mulu," canda Janu hanya dijawab senyuman oleh Zia. Remaja yang tengah hamil kembar itu mulai memakan bekalnya.


"Mau?" tawar Zia, tidak enak juga kalau makan tidak menawari orang lain.


Janu menggeleng, "Buat lo aja."


"Btw, Lo siapanya Zidan?" tanya Janu yang berhasil membuat Zia berhenti mengunyah.


"Temen," jawab Zia setelah diam beberapa saat. Zia jujur kok, kan Zidan memang temannya, teman hidup.


Janu dengan anehnya malah terkekeh. G i l a.


"Kenapa tanya kaya gitu?" tanya Zia.


"Nggapapa, kirain lo pacar Zidan. Kan asik tuh, pacaran sama mantan pacar sahabatnya sendiri," ucap Janu tersenyum senang. Zia tampaknya sekarang mulai terpengaruh oleh ucapannya.


"Lo mikir ngga sih, gimana perasaan Ayra sekarang? Udah diputusin tiba-tiba, eh malah sekarang Zidannya deket sama sahabatnya sendiri, temen makan temen ngga tuh." Janu semakin jencar saat melihat raut wajah Zia mulai tampak menegang.


"Lo cantik, imut banget malah. Tapi sayang, perebut pacar orang."


"Zia ngga ngerebut Zidan," tekan Zia sekali lagi, walaupun begitu, pikirannya mencerna apa yang Janu katakan. Semuanya benar bukan?


"Pacar temen lebih menarik bukan?" goda Janu kemudian tertawa. Zia semakin merasa terpojokkan, rasanya memang yang diucapkan Janu benar. Zia menggelengkan kepala berulangkali sembari menutup kedua telinganya, berharap ia tidak mendengar lagi kalimat Janu lagi.


Temen makan temen!


Perebut pacar orang!

__ADS_1


Pacar temen lebih menarik bukan?


Janu yang sudah merasa puas melihat reaksi Zia memutuskan pergi. Sementara Zia, perempuan itu sekarang terisak. Zia semakin dibuat sadar, ia telah melukai Ayra.


"Maafin Zia, Ayra! Hiks."


"Zia? Lo kenapa?" tanya Keyna yang panik melihat Zia menangis seperti ini. Keyna yang memang tengah mencari Zia dibuat kaget melihat kondisi Zia yang seperti ini, lantas Keyna memeluk Zia.


"Ada yang sakit?" tanya Keyna lembut, Zia menggeleng di dalam pelukannya.


"Mau gue panggilin Zidan?" tanya Keyna lagi, yang malah membuat Zia semakin terisak.


Keyna tidak terlalu paham, Keyna hanya bisa berargumentasi bahwa Zia berantem dengan Zidan. Tapi apa mungkin?


Keyna membiarkan Zia menenangkan dirinya terlebih dahulu, sebelum nanti ia akan tanyakan apa yang terjadi. Akan tetapi, belum sempat Zia bercerita bel tanda masuk sudah berbunyi.


°°°°°


"Abis nangis?" tanya Zidan saat sampai di tempat ia biasa menurunkan Zia saat berangkat sekolah. Kantung mata Zia mengembung, terlihat jelas jejak air mata di dalamnya.


Zia dengan polosnya mengangguk, sembari menerima helm yang Zidan sodorkan.


"Anak gue rewel?" tanya Zidan dengan tangan membantu Zia naik ke motornya yang lumayan tinggi.


"Enggak," jawab Zia masih sedikit serak, tanda ia menangis lumayan lama.


Zidan tidak bertanya lagi, ia menjalankan motornya membelah kemacetan di siang menuju sore ini.


"Zia mau tanya boleh?" tanya Zia di tengah jalan. Zidan mengangguk.


"Zidan masih cinta sama Ayra?" Zia menggigit bibir bawahnya, takut Zidan akan marah padanya.


Zidan seketika menegang, ia tidak tau harus berkata apa. Masa ia bilang masih mencintai gadis lain di depan istrinya sendiri?


Melihat respon Zidan yang hanya diam membuat mata Zia mengembun. Semakin besar rasa bersalahnya, semakin menyakitkan rasanya.


"Jawab, Zidan!"

__ADS_1


"Iya, masih."


__ADS_2