Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
36. Dea Lagi


__ADS_3

Zidan duduk disamping Zia yang tengah ngemil sembari tiduran miring ke arahnya, katanya pinggangnya terasa sakit jika duduk terlalu lama. Zidan menemani sambil memainkan ponsel, hanya membaca pesan di grup Atlansa atau grup kelas, lalu menjelajahi akun instagramnya.


"Oh iya, lo kepikiran ngga sama siapa yang udah buat kita kaya gini?" tanya Zidan setelah bosan bermain ponsel. Zia menggelengkan kepala lalu kembali mengunyah camilannya. Seperti tidak terpengaruh oleh pertanyaan Zidan.


"Kalo pelakunya ketemu juga buat apa? Kita bisa kaya dulu lagi? Zia jadi ngga hamil? Enggak kan? Jadi, ketemu ataupun enggak, Zia ngga terlalu mikirin. Tapi kalo ketemu malah bagus, biar dikasih hukuman," jawab Zia dengan santainya. Zidan cukup kagum degan jawaban Zia, tidak menyangka kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut perempuan polos di sebelahnya.


"Tumben bijak," celetuk Zidan yang ditanggapi Zia dengan cengengesan.


"Hehe... Keyna yang bilang," jawab Zia membuat Zidan menghela napas. Pantas bijak, kata-katanya dari Keyna ternyata. Zia tetaplah gadis polos nan ngegemesin menurut Zidan.


"Lo keberatan hamil anak gue ngga?" tanya Zidan yang dijawab gelengan dari Zia. Perempuan hamil itu sangat santai menanggapi Zidan.


"Kadang-kadang, kalo lagi muntah-muntah tapi ngga ada Zidan rasanya Zia ngga suka sama babynya. Tapi sekarang udah engga, Zia udah terima anak ini ada di perut Zia, Zia malah udah sayaangg banget sama dia," jawab Zia dengan tangan yang mengusap perut ratanya. Zidan tersenyum menanggapi hal tersebut.


Zidan bersyukur Zia bisa menerima janin itu, ia takut jika Zia tertekan dengan kehamilan di usia belia seperti sekarang ini. Beruntungnya Zia punya teman seperti Keyna, jika tidak mental Zia bisa jadi sudah hancur sekarang. Itulah pentingnya memilih teman yang baik.


"Jangan pernah mikir buat celakain dia ya? Kalo capek bilang. Kalo sakit sekecil apapun juga bilang sama gue," ujar Zidan serius, dengan tangan berada di perut Zia.


Zia mengangguk yakin, "Zia janji ngga bakal apa apain dia, Zia bakal jaga dia sebaik mungkin. Zidan tegur Zia ya, kalo Zia ngelakuin hal yang bahaya buat baby."


Zidan mengangguk, lalu keduanya tersenyum. "Makasih banyak," ucap Zidan.


"Tapi Zia masih takut. Takut Zia ngga bisa jadi orangtua yang baik, Zia aja masih ngerepotin Zidan kaya gini," jujur Zia.


Zidan mengangguk. "Sama, gue juga masih takut. Takut ngga bisa jadi ayah yang baik sama takut ngga bisa jadi suami yang baik buat lo," kata Zidan.


"Kita belajar bareng-bareng ya? Kita usahain yang terbaik buat dia nanti," lanjut Zidan dengan menunjuk perut Zia dengan dagunya.


Zia mengangguk, "Zidan sama Zia bakal bareng-bareng terus?"


Zidan terdiam, membuat Zia menambahkan kalimatnya, "Kalo engga, Nanti baby ikut sama siapa?"

__ADS_1


Zidan menggelengkan kepalanya cepat, "Usahain kita bareng terus. Gue cuma mau nikah sekali seumur hidup, lagipula dia butuh orangtua yang lengkap," ujar Zidan serius. Zia hanya mengangguk lemah, ia sedikit ragu, sampai saat ini saja ia yakin Zidan masih mencintai sahabatnya, Ayra.


"Tidur gih. Udah malem."


Zia sudah kenyang, bersyukur malam ini setelah makan ia tidak muntah. Zia pun tertidur dengan masih memeluk toples camilan. Zidan yang melihat itu tersenyum, Zia tampak sangat manis dan menggemaskan dalam posisi itu. Dengan perlahan Zidan mengambil toples tersebut dan menaruhkan di meja belajar. Melihat meja belajar, Zidan teringat bahwa ia sudah lama tidak belajar. Waktunya habis untuk mencari nafkah.


Zidan sekarang tidak mau belajar, ia memilih duduk bersandar di kasur dan membaca informasi apa saja tentang kehamilan di internet. Ia harus lebih siaga mengingat jiwa Zia yang terlalu polos.


Saat sedang asyik membaca, Zidan tidak sengaja menemukan foto USG bayi berumur 7 minggu di internet. Bibir Zidan terangkat membentuk senyum tipis, jadi seperti itu bentuk bayinya sekarang. Masih sangat kecil, pantas saja perut Zia belum berubah sedikitpun.


°°°°°


"Lo serius? Itu ceweknya?"


Galen mengangguk. Zio sampai geleng-geleng kepala mendengar fakta yang diucapkan Galen barusan.


"Itu cewek yang nolongin Zia?" tanya Zidan lagi, saat ini mereka berdiri di lantai dua gedung sekolah. Mereka mengamati gadis berkepang dua lengkap dengan kacamatanya, gadis itu tengah membaca buku di lantai satu.


"Gue berasa ngga asing sama wajahnya," ungkap Langit kembali mencoba mengamati wajah Dea.


"Dia waktu itu juga ngalangin gue waktu Zia lagi mual di pertadingan basket." Zidan ingat, cewek itulah yang menolong Zidan dan Zia waktu itu.


"Makin curiga gue. Bisa jadi tuh cewek aslinya ngga cupu. Dia cuma nutupin doang. Fake nerd," kata Dyu dengan gigi yang menggigit sedotan teh gelas.


"Makanya, kita ngga bisa nilai orang dari kelihatannya aja. Liat dia, dia kaya anak cupu, tapi gue rasa dia orang hebat," kata Langit yang diangguki semuanya.


Gadis itu mengangkat kepalanya saat merasa ada yang memperhatikan dia dari lantai atas. Zidan dan yang lainnya langsung pura-pura sibuk sendiri saat Dea menoleh ke atas.


Dea tersenyum miring lalu pergi dari sana.


°°°°°

__ADS_1


"Lo lipatin ini aja Zi," ujar Zidan masuk ke dapur membawa jemuran dari halaman belakang. Zia yang sedang mencuci piring di kamar mandi mengangguk lalu berdiri mengikuti Zidan ke kamar.


Semenjak mereka bekerja bersama-sama di kafe, keduanya saling bantu dalam urusan rumah sepulang sekolah.


Zidan lebih bisa memperhatikan setiap gerak Zia untuk sekarang, tidak perlu cemas seperti dulu saat ia bekerja di pasar dan di kafe sendirian.


Seperti sekarang ini, Zidan tidak membiarkan Zia jongkok lama saat mencuci piring. Mereka mencuci piring di kamar mandi, tidak ada wastafel ataupun tempat cuci piring di rumah mereka. Semuanya mereka lakukan seadanya.


Saat melipat baju-baju mereka, Zia jadi berpikiran akan sangat lucu jika ia melipat baju-baju bayi nantinya. Zia jadi tidak sabar menunggu tujuh bulan kedepan. Melihat sosok mungil perpaduannya dan Zidan. Zia tanpa sadar senyum-senyum sendiri.


"Gila lo! senyum-senyum sendiri," ucap Zidan saat memasuki kamar.


Senyum Zia seketika luntur, berganti dengan wajah cemberutnya yang malah memicu Zidan tertawa.


°°°°°


Seseorang memasuki sebuah ruangan dan melapor pada bosnya yang tengah duduk di atas kursi.


"Mereka merhatiin gue."


•°°•••


Hai hai Hallo👋👋


Gimana kabar kalian? Sehat?


Gimana sama bab ini?😃


Akhir-akhir ini aku sedikit kehilangan ide, jadi tolong komentar dong biar aku semangat lagi, dan bisa terus kembangan ide.


Like👍

__ADS_1


Komen


Vote


__ADS_2