
"Jangan angkat yang itu," larang Zidan saat Zia akan mengangkat koper berisi pakaian miliknya.
Zia mengangguk lalu kembali menaruhnya, "Zia bawa yang mana?"
Zidan sedari tadi melarangnya terus-terusan. Zia hanya duduk di kasur dan membantu membenahi barang-barang yang ringan saja. Sampai sekarang hanya tersisa satu koper dan satu kardus yang sedang Zidan bereskan.
"Lo ngga usah bantuin lagi. Ke mobil aja," ujar Zidan yang tengah memindahkan buku-buku mereka ke dalam kardus, lalu mengangkatnya, tangan yang satu ia gunakan untuk menyeret koper untuk dibawa ke mobil. "Ayok."
Zia hanya mengangguk lalu mengikuti Zidan keluar dari rumah. Di hari Minggu pagi ini mereka memutuskan untuk pindah ke rumah orangtua Zidan. Semuanya sudah mereka rundingkan dengan matang, dan semoga ini merupakan langkah baik yang mereka ambil demi masa depan mereka dan juga anak mereka nanti.
Sejenak mereka memandangi seluruh isi ruangan kontrakan itu dari ruang tamu. Suatu hari nanti mereka pasti akan merindukan tempat ini, rumah yang menjadi saksi bagaimana beratnya mereka menjalani rumah tangga di usia belia. Tempat mereka berlindung, tempat mereka beristirahat, juga tempat mereka hidup selama lima bulan ini.
Zidan tersenyum pada Zia saat tatapan mereka bertemu. Zidan menganggukkan kepalanya membuat Zia keluar dari rumah itu diikuti Zidan. Zia menguncinya dan akan memberikannya pada pemilik kontrakan yang rumahnya berada di depan gang.
"Selamat tinggal rumah, makasih udah ada buat Zia lima bulan ini," ucap Zia setelah selesai mengunci pintu.
"Udah, ayok." Zia membalikkan badannya lalu berjalan mengikuti Zidan ke depan gang. Mobil mereka hanya bisa sampai sana karena akses jalan yang sempit. Motor sport Zidan saja sering menjadi omelan warga karena suaranya yang keras dan bodynya yang lumayan besar. Sekarang motor itu masih di depan kontrakan, akan ia ambil nanti.
"Bu, ini kuncinya. Kami mengucapkan terima kasih karena selama saya dan istri tinggal di kontrakan milik ibu, kami merasa cukup nyaman," ucap Zidan sembari menyerahkan kunci pada ibu pemilik kontrakan.
"Sama sama Mas Mba. Mohon maaf jika kurang nyaman selama ini, apalagi omongan tetangga yang suka menggunjingkan kalian," ujar ibu pemilik kontrakan dengan tangan yang menerima kunci tersebut. Tentangga Zidan dan Zia memang sering menggunjingi mereka karena masih sekolah tapi sudah menikah dan hamil.
Zidan dan Zia hanya tersenyum ramah. Untung saja ibu kontrakan ini tidak galak saat menagih biaya bulanan, bahkan saat mereka telat membayar hanya diperingati dan akan memberikan waktu tambahan.
"Ini ada sedikit dari kami, semoga ibu selalu sehat ya," ucqp Zidan menyodorkan bingkisan. Dengan senang hati ibu pemilik kontrakan menerimanya.
"Makasih banyak, Mas, Mbak."
°°°°°
"Assalamualaikum," ucap Zidan saat tiba di depan rumah orangtuanya.
"Waalaikumsalam." Jawaban dari dalam membiat Zidan memundurkan langkahnya dua langkah. Zidan tau itu adalah Bi Asih, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sini sedari Zidan kecil.
Ceklek.
"Den Zidan!" seru Bi Asih yang terkegut. Melihat itu Zidan merentangkan tangannya untuk memeluk wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Ini beneran Den Zidan kan?" tanya Bi Asih setelah mereka selesai berpelukan. Zidan mengangguk guna meyakinkan.
"Ayo masuk, Ayah sama Bunda aden ada di dalam," ucap Bi Asih sembari membuka pintu lebar lebar.
"Iya Bi, nanti tolong bilangin Pak Adam buat masukin barang-barang dari mobil." Zidan mengucapkan itu sebelum masuk ke dalam rumah.
"Baik Den, nanti bibi sampaikan."
Zidan dan Zia memasuki rumah itu dengan perasaan yang tidak bisa dideskripsikan. Apalagi Zidan, setelah hari itu, ini pertama kali ia menginjakkan kakinya kembali di sini.
Saat memasuki rumah, yang pertama ia lihat adalah Bundanya yang sedang menyapu ruang tengah.
"Bunda."
Bunda menghentikan kegiatannya, bola matanya membesar saat melihat putra semata wayangnya tengah berdiri di hadapannya. "Zidan."
Zidan menghampiri bunda lalu memeluknya, walaupun mereka baru saja bertemu seminggu yang lalu saat check up Zia tapi baru kali ini Zidan menemuinya di rumah. Itu tandanya Zidan sudah mau kembali ke rumah ini.
"Kamu terima tawaran Ayah?" tanya bunda saat melepas pelukannya. Zidan mengangguk sembari tersenyum menanggapinya.
"Zia," panggil bunda pada menantu cantiknya itu. Zia tersenyum lalu menyalimi tangan bunda.
"Ayah ngga dipeluk nih?"
Tiga manusia di sana mengalihkan perhatiannya pada Dimas yang baru datang. Seketika Zidan langsung memeluk sang ayah.
"Ayah bangga sama keputusan kamu," ucap Dimas setelah melepas pelukannya dan menepuk kedua bahu Zidan.
Setelah itu mereka menuju ruang keluarga untuk saling melepas rindu.
"Lo ngga cape?" tanya Zidan saat mereka baru saja duduk. Zia menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa capek sedari tadi saja dia tidak diperbolehkan membantu apapun.
"Loh masih lo gue an manggilnya? diubah dong, masa suami istri manggilnya gitu," saran Bunda Dian.
Zidan menyengir, "Udah kebiasaan Bun."
"Nanti diganti yaa, bicarain mau panggilannya kaya apa, yang penting jangan lo gue, ngga enak didenger," saran Bunda Dian lagi, Zidan dan Zia mengangguk saja. Bahkan mereka tidak pernah memikirkan panggilan, hanya memanggil seperti biasa saat mereka hanya berteman.
__ADS_1
Sekitar satu jam mereka berbincang, kini Zia sudah sangat mengantuk. Bahkan Zia sudah tertidur dengan bersandar pada bahu Zidan.
"Bawa ke kamar sana," ucap Dimas saat melihat posisi tidur menantunya yang sepertinya tidak nyaman.
Zidan mengangguk dan berniat akan menggendong tubuh Zia. Baru saja mengangkat kepala Zia yang berada di bahunya, Zia sudah terbangun.
"Tidur di kamar aja yuk," ajak Zidan ketika Zia tengah mengucek matanya. Zia mengangguk, lalu dibantu Zidan ia berdiri.
Zidan berjalan perlahan karena Zia yang masih sangat mengantuk, bahkan Zia hampir menabrak pegangan tangga saat mereka akan naik ke lantai atas.
Sesampainya di kamar Zidan, Zia langsung merebahkan dirinya di kasur empuk milik Zidan. Sungguh, rasanya sangat nyaman dan tidak keras seperti yang di kontrakan mereka sebelumnya. Zia sampai menduselkan kepalanya di bantal saking nyamannya.
Zidan terkekeh melihat tingkah Zia, bersyukur karena Zia bisa kembali menikmati kehidupan yang layak.
"Lo tidur dulu, gue keluar bentar," ucap Zidan yang diangguki Zia yang sudah memejamkan matanya.
Zidan turun dari kamarnya dan kembali ke ruang keluarga. Disana bunda dan ayahnya masih berbincang mesra sambil menonton televisi.
"Udah tidur Zia?" Zidan mengangguk saat bunda bertanya demikian. Zidan kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan kedua orangtuanya.
"Yah, Zidan mau mulai kerja sama Ayah."
Ayah membenarkan posisi duduknya, "Mulai besok bisa?"
Zidan mengangguk, "Bisa Yah. Posisi apapun Zidan mau kok."
"Ngebet amat. Emang uang di ATM udah abis?" tanya bunda saat melihat putranya sangat antusias bekerja.
"Masih ada Bun, tapi kan udah kewajiban Zidan cari nafkah buat Zia," jawab Zidan yang ditanggapi senyum bangga dari kedua orangtuanya. Mereka berhasil mendidik putra mereka menjadi pria yang sangat bertanggungjawab.
°°°°°°
Hallo semuanyaaa 👋
Maaf aku ngga bisa update dua hari kemarin. Aku bener-bener sibuk dan malemnya capek banget.
Maaf yaa🙏
__ADS_1
Insya Allah aku kasih double up kalo komen di bab ini rame...
Jangan lupa like, vote, kasih hadiah juga♥♥