
Pukul 19.30 mereka sampai di Villa.
Dua mobil dan empat motor itu memasuki halaman besar sebuah Villa di puncak. Pemilik villa itu adalah keluarga Galen, yang dengan sukarela mengizinkan mereka menggunakannya.
"Alhamdulillah nyampe Guys.." kata Dyu sembari turun dari motor dan merenggangkan otot-ototnya. Perjalanan lebih dari dua jam membuat mereka merasakan pegal karena terlalu lama duduk.
"Pelan-pelan," kata Zidan sembari membantu Zia turun dari mobil. Zia pun turun perlahan dengan satu tangan dipegangi Zidan dan tangan yang lainnya menyangga perut buncitnya.
"Aman semua kan?" tanya Galen yang diangguki semua orang yang di sana.
"Mama... Papa...."
Mereka semua menoleh ke arah pintu saat mendengar teriakan seorang gadis kecil. Arin keluar dari dalam villa dengan berlari, dibelakangnya ada Mbak pengasuh yang mengejarnya.
Seketika tubuh Arin sudah menubruk kaki Galen dan Keyna. Sesapasang kekasih itu berjongkok lalu memeluk tubuh gadis kecil yang sudah mereka rawat sedari lahir itu.
"Alin kangen," kata Arin membuat Galen mengusap belakang kepala Arin.
"Kan baru ketemu beberapa hari yang lalu," ucap Keyna sembari melepas pelukan mereka lalu menoel hidung Arin membuat batita itu tertawa.
Keyna dan Galen kembali berdiri, "Masuk yuk," ajak Keyna pada semua teman-temannya.
Mereka pun memasuki Villa dengan para cowok yang membawakan barang.
"Oke, disini ada lima kamar. Pembagiannya sesuai kesepakatan aja, mau gimana?" tanya Galen setelah mereka duduk di sofa.
"Yang udah nikah mau sama pasangan masing-masing atau engga?" tanya Zio yang mencoba memahami semuanya.
"Zia mau sama temen-temennya aja katanya," jawab Zidan yang memang mereka sudah membicarakannya tadi di mobil.
"Pak Ervan gimana Pak?" tanya Galen.
Pak Ervan melihat ke arah Ayra sebentar lalu menjawab, "Malam nanti Ayra sama teman-temannya, besok malam sama saya."
Mereka mengangguk lalu menoleh saat gadis kecil berucap diantara mereka.
"Alin bobo sama mama papa nda?"
Galen mengusap rambut Arin yang duduk di sebelahnya lalu menggeleng, "Arin tidur sama mama sama aunty aunty, atau mau sama sus kaya biasa?"
"Sama mama sama aunty aja, tapi Alin nda kenal aunty yang itu" kata Arin dengan menunjuk Ayra yang duduk di sebelah Pak Ervan.
"Kenalan dong kalo engga kenal," ucap Keyna membuat Arin mengangguk lalu merosot turun dari sofa.
Arin memutari meja lalu mendekati Ayra, "Nama aunty ciapa? Kenalan yu. Aku Alin," katanya sembari menyodorkan tangannya ke hadapan Ayra yang tengah tersenyum manis padanya.
"Hai Arin, nama aunty, Ayra." Ayra menjawab sembari membalas jabatan tangan mungil di hadapannya.
__ADS_1
"Sama uncle itu engga, Arin?" tanya Dyu saat Arin sudah melewati Pak Ervan begitu saja.
Arin pun menghentikan langkahnya dan menatap Dyu bingung, "Oo iya Alin lupa Uncle Yuyu."
Mereka terkikik mendnegar panggilan Arin pada Dyu. Walaupun sudah sering tetap saja terdengar lucu.
"Hai Uncle, nama aku Alin, nama uncle ciapa?" kata Arin kembali mendekati Pak Ervan.
Pak Ervan dengan senyum canggungnya menerima uluran tangan mungil itu, "Ervan."
"Nama uncle Elvan?" tanya Arin lagi yang diangguki Pak Ervan. Ayra memutar bola matanya malas, tidak bisakah suaminya ini tidak sekaku ini pada anak kecil. Bilangnya pengin punya anak terus, tapi sama anak kecil kaku banget.
"Para cewek di kamar itu, para cowok yang itu, sisa dua kamar Gue kasih kuncinya sama Zidan dan Pak Ervan. Siapa tau mau ambil jatah tinggal ambil aja istrinya di kamar cewek," kata Galen menyerahkan dua kunci itu pada Zidan dan Pak Ervan. Satu kamar lagi dibiarkan kosong karena itu adalah kamar Arin yang tentunya berisi semua barang-barang Arin. Tidak mungkin kan mereka tidur di kamar yang berwarna baby pink?
"Pengertian banget ketua kita ini, sampai jatah pun dipertimbangkan," canda Dyu membuat mereka terkekeh.
"Ya gue tau lah."
"Mabar yok," ajak Zio yang mulai memiringkan ponselnya.
"Ayolah Gass." Semua cowok pun setuju termasuk Pak Ervan. Sedangkan para cewek, mereka memilih untuk menemani Arin ke ruang bermainnya.
Di ruang bermain Arin.
"Muka kenapa kaya gelisah terus Zi dari tadi?" tanya Keyna saat mereka tengah menyusun lego.
"Mau telpon Tante Dian?" tanya Sherena yang dijawab gelengan kepala dari Zia.
"Ngga usah, takut ganggu bunda," tolak Zia.
"Ya udah nanti juga kalo udah lahir adik lo, Tante Dian bakalan kasih kabar," ucap Sherena mencoba menenangkan adik dari pacarnya ini.
"Lo nggapapa nih Ra disini sama kita?" tanya Keyna yang mencoba mengalihkan topik.
"Nggapapa lah. Suami gue juga ikutan asik ngegame tuh sama mereka," jawab Ayra dengan santainya.
"Kalo ada lomba teman terunik, gue pasti menang," celetuk Sherena tiba-tiba.
Yang lain pun bingung dengan ucapan Sherena, "maksudnya?"
"Kalian semua beda dari anak SMA pada umumnya. Lo Ayra udah nikah, suaminya CEO hebat dan pemilik sekolah. Zia udah nikah sama mantan pacar Ayra dan sekarang lagi hamil. Dan Lo Key, lo malahan udah ada anak padahal masih perawan," kata Sherena kemudian tertawa.
"Takdir ngga ada yang tau," jawab Keyna yang tengah memangku Arin yang sedang menyusu memggunakan botol.
"Iya ya, jalan hidup kita lain dan unik. Anak SMA kaya kita mana ada yang nyangka kalau dua diantara kita udah bersuami," ucap Ayra yang diangguki mereka.
"Paling kalau bawa anak pun dikira adik. Udah sering gue kalo keluar sama Arin, mereka baru bakalan kaget pas Arin sebut gue mama," kata Keyna.
__ADS_1
"Aduh, gue kayanya paling lama deh punya anaknya." Ucapan Sherena tersebut dibantah Ayra.
"Gue temenin," kata Ayra.
"Ayra belum mau hamil?" tanya Zia yang dijawab gelengan kepala dari Ayra.
"Belum siap." Sedetik setelah mengucapkan dua kata itu Ayra malah merasakan perutnya yang bergejolak.
"Ugh!"
Dengan buru-buru Ayra berdiri dan berlari ka arah kamar mandi. Untungnya semua ruangan di villa ini ada kamar mandi dalamnya.
Huek... Huek...
"Lah katanya belum mau hamil, udah mual mual aja," bingung Sherena yang ikut beranjak menghampiri Ayra.
Sherena membantu mengurut tengkuk Ayra yang hanya memuntahkan cairan bening, sedangkan Keyna keluar untuk memanggil Pak Ervan. Arin dijaga oleh Zia yang memang sudah susah bergerak cepat seperti yang lain.
"Kenapa?" panik Pak Ervan saat memasuki kamar mandi ruang bermain Arin. Di sana Ayra sudah berhenti mual dan tengah bersandar pada dinding.
"Mual Pak, isi kalii Ayra nya," jawab Sherena yang berdiri di sebelah Ayra. Ayra masih sempat menginjak kaki Sherena yang sembarangan berkata.
"Isi? Hamil??" kaget Pak Ervan yang membuat Ayra menggelengkan kepalanya.
"Engga Kak." Sungguh, Ayra tidak siap jika harus hamil sekarang. Tapi mengingat bagaimana kelakuan mesum suaminya ini membuat Ayra was was, bagaimana kalau ia sekarang beneran hamil?
##
Hai hai... 👋
Segini dulu ya, Aku lagi ngga mood banget😌..
Untuk pembaca kisah Ayra dan Pak Ervan jangan senyum-senyum sendiri di akhir part ini ya, belum tentu Ayra hamilðŸ¤ðŸ¤
Kalo belum ngantuk nanti malem atau dini hari aku bakalan up lagi😀♥...
like
komen
vote
kasih hadiah
follow
Bye byee👋👋
__ADS_1