Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
127. Hari Pertama Ulangan


__ADS_3

Dalam seminggu ini, Zia selalu menggunakan waktu senggangnya untuk belajar. Saat Zavian tidur atau sedang tidak rewel, di situ Zia akan belajar. Mengingat lusa adalah ulangan kenaikan kelas, Zia sebisa mungkin memahami beberapa materi. Karena jujur, Zia sudah sedikit lupa materi yang diajarkan setelah 40 hari libur homeschooling karena melahirkan.


"Jangan dipaksain, sebisanya aja," kata Zidan saat melihat Zia menahan kantuk untuk terus belajar. Duduknya saja sudab hampir merosot ke bawah.


Zia segera menegakkan kembali duduknya, "Ini aku bisa, sebentar lagi selesai."


Zidan tersenyum menanggapinya. Zia memang sedang rajin-rajinnya belajar, ia tidak bisa melarang karena memang usianya dan Zia seharusnya tengah sibuk mempersiapkan kenaikan kelas 12.


"Kalo ngantuk tidur Zi, mumpung Zavian juga lagi tidur," ujar Zidan lagi saat kepala Zia sebentar-sebentar menunduk menahan kantuk.


Zia tidak menjawab, dan akhirnya kepala Zia terjatuh ke meja saking mengantuknya. Zidan sampai geleng-geleng kepala, sudah tau tidak bisa begadang tapi terus memaksakan diri. Ya seperti ini jadinya.


Dengan perlahan, Zidan mengangkat tubuh Zia untuk ia tidurkan di kasur. "Mamanya Zavian berat juga ya," monolognya.


Berat badan Zia belum sepenuhnya kembali seperti sedia kala. Masih berisi karena memang lebih mementingkan ASI untuk Zavian daripada bentuk tubuh. Ya, walaupun masih saja terlihat cantik dan menggemaskan.


Setelah menidurkan Zia, Zidan juga ikut tiduran di sebelah sang istri. Zidan sudah belajar tadi bersama Zia, hanya saja ia lebih dulu berhenti.


¤¤¤¤¤


"Jalan-jalan pagi yuk. Keliling komplek," ajak Zidan saat Zia tengah berjemur dengan Zavian.


Zia tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. "Mau bawa stroler atau digendong aja Zavian-nya."


"Aku gendong aja sini," jawab Zidan sembari mengambil Zavian dari mamanya.


"Makin gemes banget kamu ini, anak siapa sih? anak siapa?" gemas Zidan sembari mengecupi wajah Zavian. Apalagi saat putranya itu tersenyum, semakin menambah kesan menggemaskan. Zia tersenyum saat melihat Zavian terlihat begitu kecil saat digendong Zidan.

__ADS_1


"Anak aku," jawab Zia yang berjalan di sebelah Zidan. H-1 ulangan kenaikan kelas memang harusnya refreshing.


"Anak aku lah. Cebongnya dari aku," timpal Zidan tidak mau kalah.


"Lah emang cebong kamu doang bisa jadi Zavian?" tanya Zia sewot.


"Sel telur kamu doang bisa jadi Zavian? enggak juga kan?" tanya balik Zidan. Telapak tangannya menutupi wajah Zavian yang silau terkena cahaya matahari.


"Anak kita," ujar Zia pada akhirnya.


"Tapi aku masih nggak nyangka. Padahal kita buat Zavian kan nggak sadar ya? Apa kamu inget?" tanya Zia membuat Zidan gelagapan, ia sudah mengingat kejadian itu.


"Inget dikit," jawab Zidan. Padahal ia ingat dari awal sampai akhir. Hanya saja tidak mungkin menjelaskannya pada Zia.


"Serius? Kok aku nggak inget ya," seru Zia. Kan melakukannya berdua, masa Zidan ingat dia tidak.


"Nggak usah diinget," timpal Zidan. Jika ia bisa memilih pun, ia memilih untuk tidak mengingat malam kelam tersebut. Saat dirinya dengan bering*s menodai gadis polos seperti Zia.


Zidan tampak berpikir sembari melihat-lihat pemandangan di jalanan komplek, "Mungkin kita bisa jujur saat Zavian udah dewasa, aku malah jadi takut Zavian ngerasa nggak diinginkan kelahirannya kalo kita cerita. Selagi dia nggak nanya mending jangan diceritain."


Zia mengangguk, pemikirannya sama dengan Zidan. Padahal, mereka sama sekali tidak pernah menyalahkan Zavian, hanya hampir dan dengan cepat ditepis pikiran yang seperti itu.


"Tapi pasti nanti mikir gini, Kok mama papa aku muda banget ya? Padahal temen-temen enggak." Mata Zia menatap penuh sayang pada Zavian saat mengatakannya.


"Nggapapa. Yang penting Zavian tau kalo kita udah nikah saat kamu hamil. Menurut aku itu udah cukup ngertiin dia kalo dia bukan anak di luar nikah," terang Zidan.


"Semoga aja gitu," respon Zia. Jujur, ia terlalu takut tentang pandangan orang lain terkait Zavian, apalagi yang mengerti masa lalunya dan Zidan.

__ADS_1


"Udah jangan mikirin hal yang belum tentu kejadian. Mending sekarang nikmatin dulu kelucuan sama keimutan Zavian sebelum dia beranjak dewasa," kata Zidan yang melihat Zia bengong. Zia mengangguk, menyetujui saran Zidan karena ia tidak akan melewatkan sedikitpun masa pertumbuhan Zavian.


Zidan dan Zia terus mengobrol sepanjang mereka mengelilingi komplek. Membalas sapaan tetangga dan membiarkan mereka yang ingin menggendong Zavian. Hari minggu pagi memang biasanya banyak orang perumahan ini keluar rumah untuk sekedar bertegur sapa dengan tetangga atau berolahraga.


¤¤¤¤¤


Zia, Keyna, Sherena, dan Ayra tengah fokus mengerjakan soal ulangan kenaikan kelas untuk mata pelajaran matematika. Keyna dan Ayra tampak begitu tenang mengerjakan, tidak seperti Sherena dan Zia. Mereka masih homeschooling di rumah Zia.


Sebelum mulai mengerjakan soal, Zia sudah menyus*i Zavian terlebih dahulu. Hingga sekarang Zavian ia titipkan pada bibi.


Sesekali Zia mendongak ke lantai 2 takut-taku jika Zavian menangis tapi ternyata masih aman di gendongan bibi.


Soal-soalnya bikin pusing. Zia hanya dengan lancar nengerjakan beberapa saja yang sudah Zidan ajarkan, sisanya lupa-lupa ingat. Benar ya syukur, enggak ya berarti bakalan ikut remidial.


"Waktunya tinggal lima belas menit lagi," ujar guru yang bertugas mengawasi mereka hari ini. Zia segera mengerjakan soal yang belum sempat ia kerjakan. Sangat serius sampai waktu tinggal sepuluh menit lagi, konsentrasi Zia buyar karena Zavian menangis.


Sesekali Zia melihat ke arah Zavian di lantai dua, pertama ia masih mencoba tetap konsentrasi, tapi lama-lama Zia tidak tega mendengar anaknya menangis. Dengan buru-buru Zia mengumpulkan lembar jawabnya yang belum sepenuhnya terisi.


"Maaf Bu, anak saya nangis," ujar Zia seraya memberikan selembar kertas jawaban dan segera berjalan cepat ke lantai dua. Tiga sahabatnya mendongak sebentar lalu kembali fokus pada soal-soal. Wajar jika Zia mementingkan anaknya daripada nilai, jiwa seorang ibu memang harusnya seperti itu.


"Sini sayang. Udah laper ya? udah pengin nen?" ujar Zia sembari mengambil Zavian dari gendongan bibi.


"Maaf Non, tadi sudah bibi coba tenangkan tapi tidak berhenti juga menangisnya," kata bibi.


Zia mengangguk, "Nggapapa Bi. Makasih ya udah jagain Zavian, ini Zavian-nya laper jadi nggak bisa berhenti nangisnya. Zia ke kamar dulu ya Bi, mau nyus*in Zavian," pamit Zia.


Saat tengah menyus*i Zavian, Zia sudah melupakan kertas ulangannya yang belum ia isi semua.

__ADS_1


"Maafin Mama ya lama nyamperin kamunya, sampai ada air matanya gini," kata Zia sembari mengusap air mata di mata Zavian.


Zavian tidak mempedulikan ucapan mamanya, ia lebih asyik untuk mengisi perutnya dengan ASI.


__ADS_2