Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
44. Taman Bermain


__ADS_3

Setelah aksi aneh Zia yang mencoba tidak bergantung pada Zidan hari itu, hubungan keduanya semakin dekat. Meskipun masih belum ada cinta di antara keduanya, Zidan dan Zia berusaha saling melengkapi dan saling menguatkan, setidaknya demi anak mereka.


"Ayuk, katanya mau jalan pagi," ajak Zidan saat melihat Zia yang masih rebahan dengan nyaman di atas kasur.


"Mager banget Zidan." Zia malah kembali mengelimuti tubuhnya sampai leher, tetapi matanya mengamati Zidan yang duduk di kursi belajar.


"Ngga ada mager mageran. Yuk lah, katanya mau adik bayinya sehat," rayu Zidan.


Zia dengan malas mendudukkan tubuhnya perlahan. Zidan memberikan Zia pakaian untuk ia pakai jalan nanti.


Setelah mencuci muka dan berganti pakaian, Zia dan Zidan pergi ke taman kota menggunakan motor, karena lumayan jauh lokasinya. Di sana baru nanti mereka berjalan kaki.


Zidan tampak gagah dengan kaos ketat warna abu-abu yang membentuk tubuhnya, celana training hitam, serta topi hitam yang menambah ketampanan calon ayah itu. Oh iya, di tangan kirinya Zidan membawa botol air minum yang sengaja ia bawa dari rumah. Sedangkan Zia, wanita hamil itu menggunakan baju putih lengan panjang dan celana training hitam seperti Zidan, serta rambut yang diikat satu di belakang, menambah kecantikan Zia.



*Ini model pakaian Zia yaa*


"Ngga keliatan kan Zidan?" tanya Zia menenunjuk perutnya sendiri.


Zidan memperhatikan perut Zia, tidak terlalu kelihatan, "Ngga sih, kalo keliatan juga orang ngira tuh lemak."


Mendengar itu Zia mengembungkan pipinya dan cemberut. "Lemak, lemak! Zia ngga berlemak tauuu."


"Ngga berlemak gimana? Nih pipi aja kaya gini," goda Zidan sembari mengunyel unyel pipi tembem Zia dengan tangan kanannya, kemudian berlari menghindari amukan Zia sembari tertawa.


Zia tidak kesal, perempuan itu malah ikut tertawa dan berlari mengejar Zidan. Zidan yang menoleh dan mendapati Zia tengah lari, langsung berhenti dan berbalik arah.


"Berhenti Zi, jangan lari-lari," peringat Zidan saat menghampiri Zia. Zia tersenyum memperlihatkan giginya, Zia hampir saja lupa lagi.


"Zia mau ke sana," tunjuk Zia pada taman bermain yang tidak jauh dari mereka. Zidan menangguk lalu mereka berjalan santai menuju tempat yang ramai dengan anak kecil itu.


Sesampainya di taman bermain tersebut, Zia langsung mendudukkan dirinya di kursi panjang yang tersedia, diikuti Zidan yang membukakan botol minum lalu memberikannya pada Zia.


"Capek?" tanya Zidan saat Zia terdengar sedang mengatur napasnya setelah minum.


Zia mengangguk, "Hooh, padahal jalannya ngga jauh tapi Zia udah berasa capek aja."

__ADS_1


"Lo kan bawa si twins juga, wajarlah kalo gampang capek." Zia kembali mengangguk lalu pandangannya menyusuri taman bermain yang lumayan ramai.


Mata Zia tertarik pada dua balita yang tengah bermain jungkat jungkit dengan didampingi orang tuanya. Terlihat sangat menggemaskan.


"Zidan, liat itu deh. Lucu banget ya mereka?" Zia menunjuk dua balita yang tengah tertawa riang tersebut. Zidan mengangguk sembari tersenyum, terlintas di pikirannya nanti ia akan seperti itu.


"Kembar?" ucap Zidan saat melihat wajah dua balita cowok dan cewek itu. Wajahnya sangat mirip.


"Kayanya iya Zidan. Nanti adik bayi yang di perut Zia imut kaya gitu juga ngga ya?" tanya Zia dengan antusias, tapi Zidan malah menggelengkan kepala, membuat senyum Zia seketika luntur.


"Pasti lebih imut. Bapaknya aja gue," sombong Zidan.


'Apalagi mamanya lo, pasti imut banget lah,' ucap Zidan dalam hati, mana berani ia mengucapkannya langsung.


"Pede banget! Tapi adik bayinya nanti cewek-cewek, cowok-cowok, apa cewek-cowok ya Zidan? Zia penasaran banget ih," ucap Zia gemas sendiri melihat dua balita tersebut kini tengah berlarian.


"Apapun, yang penting sehat," jawab Zidan ingin mengusap perut Zia tapi malah ditepis.


"Nanti ada yang liat, Zidan," peringat Zia. Zidan tersenyum saja menanggapinya.


"Uncle...aunty..." Zidan sedikit terkejut, lalu berdiri dan mengangkat balita itu ke dalam gendongannya saat ia tau itu adalah Arin.


"Arin!"


Masih ingat kan kalian sama Arin?


Zia tersenyum lalu ikut berdiri dan mengusap kepala Arin. "Arin sama siapa ke sini?"


Arin menoleh pada Zia. "Sama mama, sama papa, Aunty."


"Sekarang dimana mama sama papanya Arin?" Kini Zidan yang bertanya, apalagi saat ia mengedarkan pandangannya, ia sama sekali tidak melihat Keyna atau Galen.


Arin menggelengkan kepalanya. "Alin nda tau. Tadi Alin minta balon, watu mama sama papa pilih balonnya, Alin lali kejal kupu-kupu," jawab Arin yang membuat Zidan dan Zia menganggukkan kepalanya.


"Telpon Keyna, Zi. Takutnya mereka panik, malah seluruh bawahannya Galen turin tangan buat nyari Arin," ucap Zidan terkekeh ketika membayangkan hal itu terjadi.


"Zia ngga bawa HP, Zidan bawa?" Zidan menggelengkan kepalanya, ia lupa ponselnya tadi masih di charge. Bisa bisanya mereka pergi tanpa ada yang membawa ponsel.

__ADS_1


"Gimana dong? Kasian Keyna sama Galen pasti nyariin," ujar Zia yang kembali duduk.


Zidan menurunkan Arin dan mendudukannya di sebelah Zia. Zidan kini berjongkok di depan Arin.


"Arin masih ingat kan tadi mama sama papa Arin beli balonnya dimana?" tanya Zidan dengan menggenggam tangan Arin, Arin dengan lucunya menggeleng, yang Arin ingat ia berlari cukup jauh, saat tersadar ia sendirian Arin merasa takut, hingga akhirnya ia melihat Zidan dan Zia, membuat perasaanya kembali tenang.


Galen gimana sih? Masa anaknya pergi ngga nyadar, gerutu Zidan dalam hati.


"Yaudah, yuk uncle anterin cari mama sama papa Arin," ajak Zidan lalu berdiri dan menatap Zia.


"Lo ikut ngga? Apa di sini aja, takutnya kecapean." Zia menggeleng dan ikut beranjak dari duduknya.


"Zia ikut."


Kini mereka berjalan dengan Arin di tengah-tengah Zia dan Zidan. Terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis, apalagi saat Arin meminta digandeng keduanya karena takut tersesat lagi.


Zidan terus celingukan, mencoba mencari penjual balon sebagai tempat awal tujuan pencarian mereka. Sedangkan Zia terus mengobrol dengan Arin, mereka sama sama polos walaupun usianya terlampau jauh, makanya nyambung nyambung saja jika mengobrol. Malahan Zidan yang geli mendengarkan obrolan mereka.


"Itu jaket Atlansa bukan?" tanya Zia saat netranya tanpa sengaja melihat segerombolan cowok berjaket hitam yang mirip punya Zidan dan Zio. Terlihat mereka sedang panik.


Zidan menajamkan penglihatannya, lalu menepuk dahinya sendiri saat melihat semakin banyak anggota Atlansa di taman ini. Pasti ulah Galen.


°°°°°


Hallooo Semuanyaa👋


Gimana sama bab ini?♥


Penasaran sama kelanjutannya ngga?


Mau happy ending atau sad ending nih? 😂


Kalau suka jangan lupa like yaa👍


Komen juga biar aku tambah semangat nulisnya♥♥


Next...

__ADS_1


__ADS_2