Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
88. Waktu Cowok


__ADS_3

"Negatif?"


Raut wajah Pak Ervan berubah kecewa saat melihat satu garis di tespack yang Arya berikan. Semua orang yang ada di sana dapat melihat wajah kecewa itu dengan sangat jelas.


"Maaf, Kak. Belum dikasih kepercayaan sama Allah," kata Ayra sembari menunduk. Jujur ia senang karena masih bisa bersekolah seperti biasa, tapi ia juga tidak senang karena melihat wajah kecewa suaminya.


Ervan segera merubah mimik wajahnya dan tersenyum, "Nggapapa. Berarti usaha saya harus lebih keras lagi."


"Eh-" kaget Ayra saat Pak Ervan mengangkat tubuhnya ala bridal style.


"Saya mau usaha lagi, jadi saya izin bawa temen kalian," kata Pak Ervan kemudian keluar dari dapur yang dipenuhi muda mudi itu.


"Jadi gitu kalo suami istri, tespack negatif langsung coba lagi," heran Sherena yang tengah melihat Pak Ervan dengan gagahnya menggendong tubuh Ayra menaiki tangga.


"Engga. Zia waktu itu engga kok," jawab polos Zia yang tengah duduk sembari makan biskuit.


Semua pasang mata kini mengarah padanya, "Emang tau maksud ucapan Sherena?" tanya Zidan.


Dengan yakin Zia mengangguk, "Tau kok. Yang sering Zidan minta tiap malem kan? Zidan juga sering angkat Zia kaya Ayra tadi."


"Wah... wah.... wah... tiap malem ngga tuh?" ledek Dyu dengan hebohnya.


"Diem lo jomblo," kata Zidan yang merasa malu dengan ucapan istrinya, kenapa buka rahasia ranjang di sini. Salahnya sendiri, segala bertanya pada istri polosnya ini.


"Yang jatahnya lancar jaya... pantesan senyumnya selalu mekar setiap sampe sekolah," ledek Zio kemudian tertawa meledek.


"Kuat ngga nih malam ini ngga dapet?" tanya Dyu lagi.


"Nggak. Ayok kita balapan sama kamar sebelah," kata Zidan kemudian mengangkat tubuh Zia dengan perlahan, karena berat tentunya. Berat badan Zia saja sudah naik hampir sepuluh kilogram selama tujuh bulan.


"Lah lah.... katanya pada mau tidur ama kita. Malahan udah pada kunci pintu aja," celetuk Dyu.


"Udah lah biarin, lagi pada nyari pahala." Perkataan Galen membuat mereka terkekeh, benar juga.


"Yang penting suaranya jangan ampe kedengeran aja sampe kamar kita," kata Langit yang diangguki yang lain. Ngeri juga kalau sampai kedengeran ke kamar sebelah.

__ADS_1


"Udah! kita ngga usah bahas kaya gituan. Bahaya kalo sampe pengin," kata Keyna lalu kembali ke kamar karena teringat anaknya yang ia tinggal sendirian.


"Sana ikut. Kita mau lanjut nonton," kata Zio memyuruh Sherena untuk menyusul Keyna.


¤¤¤¤¤¤¤


Misi kali ini lebih gampang karena pemilik alamat dengan suka rela menjelaskan dan bersedia menjadi saksi jika suatu hari di persidangan dibutuhkan. Apalagi alasannya jika bukan karena dendam terhadap Tuan Willy Kendrick, iblis yang berkedok pengusaha.


"Terima kasih Pak atas waktunya," kata Galen berpamitan pada salah satu kekejaman Tuan Willy.


"Sama sama, semoga niat baik kalian semua dimudahkan sama yang di atas ya. Saya berharap banyak pada kalian yang berani mengangkat kembali kasus ini," ucap bapak tersebut yang diangguki mereka semua.


Setelah Galen, kini Pak Ervan yang mendekat, "Maaf sekali Pak. Karena perbuatan papa saya, hidup bapak dan keluarga harus seperti ini. Ini ada sedikit untuk meringankan beban bapak ya."


Pak Ervan memberikan amplop berisi puluhan lembar uang ratusan ribu. Karena ulah papanya, keliarga bapak ini harus pindah ke sini dan memulai kehidupan sebagai petani dan buruh harian lepas agar bisa menghidupi kelurganya.


"Terima kasih banyak," ucap bapak itu sembari menerima amplop yang disodorkan Pak Ervan.


Setelah dari rumah bapak itu, para cowok tidak langsung pulang ke villa. Entah ada angin apa mereka malah mampir ke sebuah resto tradisional gitu.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Pak Ervan yang tadi hanya mengikuti saja.


"Engga Pak. Kita di sini sebenarnya cuma mau nanya sesuatu ke Pak Ervan tanpa para cewek tau," jawab Galen membenarkan jawaban ngaco Dyu.


"Soal apa?" kata Pak Ervan.


"Gini Pak. Kan sebenernya istri Pak Ervan ini kan sahabat deket mereka para cewek ynlang di villa. Dan semenjak Ayra nikah sama Pak Ervan, Ayra selalu menghindar dari para sahabatnya. Apa ini karena larangan dari Pak Ervan atau ada masalah lain?" tanya Galen dengan hati-hati. Bahkn sebelemnya Galen sudah memikirkan kalimat yang tepat agar tidak menyinggung perasaan Pak Ervan.


"Saya tidak pernah melarang Ayra dekat dengan siapapun. Saya hanya menyuruh istri saya untuk berjaga jarak dengan mantannya dan cowok yang berniat mendekati Ayra," jawab Pak Ervan dengan pandangan yang mengarah pada Zidan saat menyebutkan kata mantan.


"Zidan, Dan," ucap Zio sembari menyenggol lengan Zidan yang duduk di sebelahnya. Zidan hanya membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya acuh.


"Berarti Pak Ervan tidak tau penyebab Ayra menghindar dari sahabat sahabatnya?" tanya Langit yang sedari tadi diam sembari menikmati minuman khas resto ini.


"Saya tau. Ayra menghindar karena ancaman adik saya, Adel. Kalian tau kan Adel?" tanya Pak Ervan membuat mereka semua memgangguk.

__ADS_1


"Adel mengancam akan menyebarkan berita pernikahan saya dan Ayra jika Ayra tidak ikut Adel untuk menjadi pembuli. Dan saya baru tau juga belum lama, sekarang sedang saya usahakan agar Adel mau membiarkan Ayra bergabung dengan para temannya lagi," lanjut Pak Ervan.


Mereka semua salut melihat bagaimana Pak Ervan yang sangat menyayangi Ayra. Sedari kemarin mereka selalu disuguhkan pemandangan romantis tapi lucu dari pasangan beda usia ini.


Setelah itu mereka menikmati waktu mereka sesama cowok, yaitu merokok bagi yang merokok, main game, main bilyar yang ternyata juga tersedia di sana. Pak Ervan pun ikut, walaupun tidak sedekat dan seakrab mereka tapi Pak Ervan diterima dengan baik di antara inti Atlansa ini. Saking asyiknya mereka bermain, sampai sampai mereka pulang saat hari sudah hampir malam.


"Yang punya istri siap siap aja dengerin omelan," celetuk Zio saat mereka baru keluar dari resto.


"Boong aja gimana? Bilangnya seharian kita emang ngabisin waktu buat urusan bapak yang tadi," usul Dyu.


Serempak Galen dan Pak Ervan menggeleng.


"Keyna mana percaya." Ucapan Galen yang diangguki Pak Ervan. Dua wanita itu terlalu jeli dan cerdik untuk dibohongi.


"Jujur nih?" tanya Zio lagi memastikan.


Pak Ervan, Galen, dan Zidan mengangguk. Jujur lebih baik daripada cewek mereka ngambek berhari-hari.


"Ya udah bismillah aja," kata Langit dan mereka menaiki kendaraan masing-masing.


Dan benar saja. Sesampainya mereka di Villa. Mereka disambut empat wanita cantik yang tengah memasang wajah garang.


"Abis pulang ke Jakarta lagi ya?" tanya Sherena mewakili semua cewek.


M a m p u s.


Semua cowok hanya bisa nyengir saja dan sudah bisa kalian tebak apa yang terjadi selanjutnya.


¤¤¤¤


Hai hai haiiiii👋👋


Aku update nih. ♥


Maaf ya janji untuk double up belum bisa aku turutin🙏

__ADS_1


Jadi aku sekarang ngga bakalan minta apapun dulu dari kalian... ♥♥


Bye Bye👋👋


__ADS_2