
Makan malam di rumah keluarga Zidan.
"Yah, besok aju ijin dulu ngga masuk kantor boleh?" tanya Zidan di sela-sela makan mereka.
Ayah Dimas menelan makanannya kemudian mengangguk, "Mau ngapain?"
"Ada urusan sama Atlansa Yah," jawab Zidan sedikit ragu. Ayahnya tidak terlalu suka ia bergabung dengan geng motor.
"Oke. Potong gaji," jawab Ayah Dimas dengan santainya. Zidan mengangguk, tidak apa gajinya dipotong, asalkan ia bisa membantu teman-temannya mengumpulkan bukti dan saksi dari kasusnya.
Zia sudah tau apa yang akan Zidan dan teman-temannya lakukan besok. Sebenarnya Zia tidak enak merepotkan banyak orang, tapi ini untuk keadilan banyak orang bukan hanya untuknya dan Zidan.
"Oh iya, Zidan sama Zia juga udah sepakat mau adain acara tujuh bulanan di rumah boleh kan, Yah? Bun?" tanya Zidan lagi.
"Boleh dong. Bagus malah, kapan?" seru Ayah yang antusias. Bunda tidak bertanya karena ia tau betul usia kandungan Zia.
"Emm.. kalo tepat tujuh bulannya si sepuluh harian lagi ya Bun?" kini Zidan bertanya pada sang bunda.
Bunda Dian mengangguk ,"Iya."
"Ya udah. Nanti mau gimana...." Ayah Dimas memulai diskusi mereka tentang acara tujuh bulanan nanti. Sembari makan mereka saling mengusulkan pendapatnya.
••••••
"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Zidan saat mereka sudah memasuki kamar.
Zia menggelengkan kepala tapi dengan wajah yang masih tersenyum bahagia itu.
"Kenapa hah?" tanya Zidan lagi yang entah kenapa tertular senyum Zia.
"Seneng aja. Ada orangtua yang bisa bimbing kita, ngga kaya sebelumnya yang apa apa sendiri," jawab Zia kemudian duduk di depan meja riasnya. Saatnya skincare malam.
Zidan menyusul Zia dan berdiri di belakang Zia yang tengah duduk sembari mengaplikasikan sesuatu ke wajahnya, entah apa Zidan tidak tau. Mereka saling tatap lewat cermin dan tersenyum.
"Jangan banyak banyak Zi, nanti pait," kata Zidan saat Zia mengaplikasikan sesuatu ke bagian leher.
"Kok pait? Kan ngga dirasain juga," bingung Zia yang tengah mengoleskan body serum pada bagian leher.
"Aku yang rasain nanti." Zidan menjawab sembari menaik turunkan alisnya. Zia yang sudah paham tersipu malu.
"Emang mau jengukin lagi?" tanya Zia yang akan menggunakan lotion di kaki tapi tidak bisa karena terhalang perut besarnya.
Zidan mengambil lotion di tangan Zia, memutar kursi yang diduduki Zia lalu berjongkok dihadapannya. Dengan perlahan Zidan mengoleskan lotion itu di kaki mulus Zia.
__ADS_1
"Makasih," kata Zia yang juga tengah melihat kakinya yang terlihat lumayan bengkak, "Bengkak ya?"
Zidan mengangguk, sudah biasa kata bundanya. Memang semakin tua usia kehamilan kaki bisa membengkak karena harus menopang berat tubuh calon mama itu.
"Besok selesai homeschooling jangan tungguin aku pulang, mungkin bisa sampe nalem banget pulangnya," kata Zidan sembari berdiri. Zia mengangguk saja, memang sudah biasa dan Zia memakluminya.
"Yuk!" ajak Zidan membuat Zia mengerutkan alisnya karena bingung.
"Kemana?"
Zidan tidak menjawab, calon ayah itu malah membopong tubuh istrinya ala bridal style. membuat Zia reflek mengalungkan tanganya di leher Zidan.
"Jengukin baby," bisik Zidan membuat Zia membenamkan kepalanya di dada bidang Zidan karena malu.
Dengan perlahan Zidan menurunkan tubuh Zia di kasur seakan Zia adalah kaca yang bisa pecah jika tidak hati-hati.
"Coba pake saran dari bunda," kata Zidan sembari memulai acaranya.
*batas dosa*
•••••••
"Udah semua kan?" tanya Galen saat sudah di atas motornya, mereka akan berangkat menuju satu per satu alamat yang terdekat terlebih dahulu.
"Sebelum berangkat ada baiknya kita berdoa dulu, berdoa di mulai," pimpin Galen dan mereka menunduk sembari menundukkan kepalanya.
'Semoga usaha kami kali ini membuahkan hasil, Mudahkanlah jalan kami dalam memperjuangkan keadilan, Ya allah. Aamiin,' batin Zidan lalu membaca Al Fatihah.
Setelah berdoa mereka memulai perjalanan kali ini ke salah satu rumah yang Galen tau alamatnya.
"Maaf Mas, orangnya sudah pindah dari lama." Mendengar kata itu dari sang pemilik rumah yang baru membuat mereka menghela napas.
"Kira-kira pindahnya ke mana ya Bu?" tanya Galen.
"Saya kurang tau Mas," jawab ibu tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf karena telah mengganggu waktunya, Galen dan yang lain pergi ke alamat kedua.
"Pak Arman sudah pindah dua tahun yang lalu Mas."
"Wah, itu sudah lama sekali pindahnya, kalau dicari alamatnya pun bakalan susah."
Begitu seterusnya sampai di alamat ke tujuh. Hari mulai malam membuat mereka memutuskan untuk beristirahat dan makan terlebih dahulu.
"Susah juga ya ternyata," keluh Dyu yang tengah menyeruput jusnya.
__ADS_1
"Namanya juga usaha, yang penting jangan cepet nyerah aja," tanggap Langit. Yang lain menyetujuinya.
"Nanti kemana lagi nih?" tanya Zio.
Galen membuka kertas daftar alamat yang ia lipat di dalam jaketnya, "Ke sini," tunjuk Galen pada alamat nomor sebelas.
"Bismillah alamat yang ini ada orangnya," kata Zidan yang diaminkan semuanya.
"Ngga usah muluk-muluk. Minimal pemilik yang baru tau alamat orang ini aja," kata Langit menambahi di sela-sela makannya.
"Bener sih."
Mereka melanjutkan makannya sebelum nanti akan mekanjutkan pencarian mereka.
Pukul 19.30
"Bener nih alamatnya?" tanya Dyu saat mereka berada di depan sebuah rumah mewah.
"Bener, Nih nomor 04," tunjuk Zio pada nomor rumah yang sesui dengan yang di kertas.
"Permisi." Zidan memencet bel sembari berucap demikian.
"Siapa ya?" tanya sepasang suami istri paruh baya yang keluar dari rumah mewah di hadapan mereka.
"Maaf Om, Tante, kami mengganggu waktu istirahatnya. Kami sedang mencari seseorang, apa benar ini alamat Pak Henry?" tanya Zidan dengan sopan.
"Oh... Keluarga Pak Hendry sudah pindah dari lama. Bahkan Pak Hendry sendiri sudah meninggal dunia, yang masih ada hanya istri dan anak-anaknya saja," jawab sang suami.
"Om tau mereka tinggal dimana?" tanya Galen.
"Untuk tempat tinggalnya saya tidak tau, tapi untuk istrinya Pan Hendry, Bu Intan sering saya lihat sedang memunguti barang bekas di sekitaran jalan Anggrek sana."
Mereka mengangguk dan mengucapkan hamdallah dalam hati, setidaknya ada satu titik terang.
Setelahnya mereka menyusuri jalan Anggrek dengan kecepatan yang lambat. Mereka sesekali juga menengok kanan dan kiri mencoba mencari seorang pemulung wanita.
"Tuh ada pemulung," kata Dyu saat melihat seorang wanita berpenampilan kumuh tengah mengais ngais di setumpukan sampah.
Mereka menghentikan motornya dan turun mendekati wanita tersebut. Dari belakang seperti ini sudah terlihat bahwa dia tengah sesegukan sembari mengais sampah terburu-buru.
Zidan menepuk punggung wanita malang itu, membuat wanita itu terkejut dan membalikkan tubuhnya."
"Ibu!" seru Zidan terkejut saat melihat siapa wanita yang di depannya.
__ADS_1